
Part 108
Irwan meremas rambutnya frustasi, kelakuan Romi kali ini sudah membuatnya berada di ujung tanduk. Parahnya lagi, Irwan bingung harus berkata apa pada istrinya nanti.
"Haaah, siaall!!
Buuggh ... Buughh
Pintu rumah Bu Mini menjadi sasaran amukan Irwan, emosinya tak bisa lagi tertahan akibat perlakuan keluarganya.
Bu Mini meringkuk di sudut ruangan sambil menutup kedua telinganya, wanita paruh baya itu tak berani mendekat pada anak sulungnya yang sedang tersulut emosi.
Sementara itu, sang pembuat masalah belum juga menampakkan batang hidungnya. Bagaimana mungkin Irwan bisa pulang tanpa membawa motor istrinya.
"Kalian sudah keterlaluaann!" teriak Irwan
"Tega kalian padaku, bahkan sampai rumah tanggaku yang jadi taruhannya!"
Tubuh Irwan luruh ke lantai, pupus sudah harapannya saat ini hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Tak lama kemudian, Romi muncul dalam keadaan mabuk berat. Sontak Irwan berdiri dan melayangkan tinju beberapa kali ke wajah adiknya hingga Romi terhuyung dan ambruk ke lantai.
"Tolooongg hentikaann!! Teriak Bu Mini histeris
Bu Mini berlari mendekati tubuh Romi yang tergeletak tak berdaya, tangisnya pecah saat melihat darah segar mengucur dari hidung dan bibir Romi.
Bu Mini menoleh pada Irwan dengan tatapan tajam, seakan ingin mengiris apapun yang ada di depannya.
"Jahat kamu Wan!"
"Kalian yang lebih jahat," balas Irwan geram.
"Bahkan, kalian tidak memikirkan nasibku setelah ini," lanjut Irwan lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Satu hal yang membuat Irwan tak bisa lagi menahan kemarahannya, dengan santai ibunya mengatakan padanya bahwa motor Novia telah dijual.
Irwan tak habis pikir, setega itu ibu dan adiknya melakukan persekongkolan hingga sengaja menipunya juga Novia.
"Aku tanya sekali lagi mah, jawab dengan jujur jangan berbelit-belit. Dimana kalian menjual motor Novia?" tanya Irwan dengan suara bergetar.
Dengan terbata-bata Bu Mini menjawab pertanyaan Irwan, wanita itu meremas jari-jarinya ketakutan.
"Di, di .. di, bengkel depan pasar," sahut Bu Mini
__ADS_1
"Berani sekali kalian melakukan itu!"
Irwan tak lagi melanjutkan ucapannya, dia memutar tubuhnya dan berlalu pergi ke tempat yang disebutkan ibunya.
Satu-satunya yang ada dalam benak Irwan saat ini, bagaimana caranya agar dia bisa menebus kembali motor milik Novia tersebut.
Alangkah kecewanya Irwan, ketika bertemu dengan Si Pembeli motor yang menolak untuk ditebus kembali.
Irwan berusaha keras membujuknya. Namun, hasilnya nihil orang itu tetap pada pendiriannya. Bahkan Irwan sempat mengancam akan melapor pada pihak berwajib tetap saja gagal.
Irwan pasrah dan memilih pulang ke rumah, di sana Novia sudah menunggu dengan rasa was-was. Tapi, tetap bersikap tenang.
Irwan sudah ada di rumah, ayah tiga anak itu masuk dan langsung menemui istrinya yang sudah lama menunggu.
"Mana motorku Wan?" tanya Novia
Irwan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengurai rasa gugupnya dan menjawab pertanyaan Novia.
"Aku belum bertemu Romi, mama bilang dia menginap di rumah istri mudanya dan aku tidak tahu dimana alamatnya," ucap Irwan berbohong.
"Oh, begitu? Baiklah aku tunggu dua hari lagi," balas Novia sambil tersenyum sinis
"Aku tidak bodoh Wan, hanya saja aku sedang ikut masuk dalam permainan keluargamu," batin Novia
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Irwan berlalu meninggalkan Novia dan melangkah masuk ke dalam kamar.
Keesokkan harinya, Novia keluar lebih pagi meninggalkan ketiga anaknya di rumah bersama Irwan.
Tentu saja tujuannya akan mencari tahu sendiri tentang motor yang dipakai iparnya, lewat bantuan seseorang, akhirnya Novia bisa mendapatkan informasi.
Wanita itu pun pergi menemui orang yang telah membeli motornya, sebisa mungkin Novia menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya dan tetap bersikap tenang saat berhadapan dengan Si Pembeli.
"Aku ingin menebus kembali motor itu," ucap Novia tegas.
"Maaf bu, saya tidak bisa menyerahkannya karena sudah membayar lunas dengan mertua dan ipar ibu," jawab orang itu
"Motor itu milikku, surat-suratnya pun atas namaku. Tentu saja bapak tidak bisa menahannya."
"Jelas-jelas bapak sudah menjadi penadah!" tekan Novia
Orang itu tak bergeming sedikitpun dengan ancaman Novia, malah dia tetap pada pendiriannya dengan alasan motor tersebut telah dijual kembali pada orang lain.
Novia mengepalkan tangannya, air matanya menetes dan tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Sebaiknya ibu berurusan dengan mertua dan ipar ibu, karena mereka yang datang dan menawarkan motor tersebut padaku," ucap Si Pembeli.
"Percuma aku datang pada mereka, malah akan membuatku semakin sakit hati. Lihat saja nanti apa yang akan kalian terima dariku," gumam Novia geram
Wanita itu pun kembali ke rumah, karena tidak mendapatkan hasil dari pertemuannya dengan pembeli motornya.
Ketika Novia masuk, dia berpapasan dengan Irwan di ruang keluarga.
"Wan, aku mau bicara." suara Novia begitu dingin dan terdengar mengerikan di telinga Irwan
Ragu-ragu Irwan menghampiri istrinya, kemudian duduk di sebelah Novia.
"Bicaralah Vi, aku akan mendengarkan," ujar Irwan diselingi helaan napas panjangnya
"Kalau kamu menjawab jujur, maka aku akan memaafkan kesalahanmu. Tapi, jika sebakiknya, jangan salahkan sikapku!"
"Sekarang aku tanya baik-baik, dimana Romi menjual motorku?" tanya Novia dengan tatapan tajamnya
Irwan tersentak dengan pertanyaan istrinya, bagaimana bisa Novia tahu yang sebenarnya sedangkan dia belum mengatakan apa-apa pada istrinya.
"Maksudnya apa? aku tidak paham Vi." Irwan pura-pura tidak tahu
"Sekali lagi aku tanya, dimana Romi menjual motor itu!? Nada suara Novia mulai meninggi.
"Sumpah! aku tidak tahu Vi," elak Irwan sambil meraih tangan Novia tapi, langsung ditepis dengan keras oleh Novia
"Maafkan aku Vi, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sungguh, posisiku saat ini sangat dilema. Aku hanya menjaga semuanya agar tetap baik-baik saja," gumam Irwan dalam hati
Novia menarik napas lalu perlahan menghembuskannya, mencoba menguatkan diri dalam situasi yang sangat sulit.
Wanita itu sudah berpikir matang-matang dan mengambil sebuah keputusan, yang akan menentukan nasib dirinya dan juga anak-anaknya nanti.
Keputusan yang sangat berat. Tapi, harus dia lakukan demi ketenangan batinnya yang sudah terkoyak.
"Irwan, kumohon saat ini juga tinggalkan rumah ini," ucap Novia dengan suara bergetar.
Seketika tubuh Irwan merosot ke bawah dan memeluk kaki Novia, memohon dengan sangat agar Novia menarik kata-kata yang baru saja dia ucapkan.
"Demi Allah Vi, tarik kata-katamu. Kumohon beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini."
Irwan memohon dan merengek di kaki Novia. Namun, sekuat tenaga Novia menahan diri agar tidak goyah. Kemarahannya kali ini benar-benar sudah memuncak.
Novia menatap lurus ke depan, dadanya bergemuruh hebat antara benci dan iba berperang dalam hatinya saat ini.
__ADS_1