Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Over Dosis


__ADS_3

Part 97


Novia tetap berkeras meminta ibunya turun dari mobil, tapi Bu Ratih tak bergeming malah menyuruh Irwan mengantarnya kembali ke rumah Riska.


Irwan pasrah, menuruti keinginan Ibu Mertuanya walaupun hatinya menolak tapi dia juga tidak berdaya


Novia berdiri mematung di tempatnya, wajah sendu ibunya masih terbayang di pelupuk matanya.


"Maafkan akun mah, seharian ini aku benar-benat sibuk," gumamnya


Novia membalikkan tubuh dan berjalan menuju teras setelah mobil suaminya hilang dari pandangan.


"Ayo, anak-anak, kita masuk," ajak Novia pada ketiga anaknya


Satu jam kemudian, suara mobil Irwan sudah terdengar, Novia bergegas keluar menyambut suaminya.


Irwan turun dari mobil setelah memarkir mobilnya di garasi, lelaki itu melangkah kearah istrinya yang berdiri di ambang pintu.


"Ayo, kita bicara di dalam." Irwan mengajak istrinya masuk, keduanya melangkah menuju ruang tamu.


"Mana anak-anak?" tanya Irwan ketika sudah duduk di sofa


"Lagi nonton," sahut Novia.


"Vi, besok kamu harus ke rumah kak Riska. Sesibuk apapun tetap luangkan waktumu kesana."


Novia mengernyitkan keningnya, ucapan suaminya seperti titah yang tak bisa dibantah.


"Kenapa dengan mama?"


"Sudahlah, Vi, nanti juga kamu akan tahu." Irwan tak ingin membuat resah istrinya, hanya saja firasatnya kali ini mengatakan sesuatu akan terjadi.


Irwan beranjak untuk menutup dan mengunci pintu serta jendela, kemudian mengajak istri dan anaknya beristirahat.


"Lebih baik kita istirahat, jangan lupa besok kita ke rumah Riska," ucapnya lagi mengingatkan Novia.


Mereka kini ada di dalam kamar, ketiga anak Novia sudah terlelap tapi wanita itu belum juga bisa memejamkan matanya.


"Apa maksud ucapan Irwan? Kenapa aku jadi cemas begini memikirkan mama," gumamnya lirih


"Tidurlah Vi, jangan begadang," ujar Irwan karena melihat istrinya gelisah


"Aku tidak bisa tidur, kepikiran mama," balas Novia


Irwan bergeser mendekati istrinya lalu mendekapnya, sepertinya Novia butuh ketenangan setelah mendengar ucapannya tadi.


Irwan sendiri juga bingung, kenapa tiba-tiba dia berkata seperti tadi pada Novia tapi dia juga tak bisa berbohong dengan apa yang dirasakannya.


Malam semakin larut, Novia akhirnya terlelap dalam pelukan suaminya hingga pagi.

__ADS_1


Kesesokkan paginya, Novia terbangun lalu bergegas bangkit dan membersihkan diri. Seperti kebiasaannya sehari-hari dia menyiapkan sarapan lalu membereskan rumah.


Sebelum suami dan anaknya bangun, Novia sudah menyiapkan segala kebutuhan yang akan dibawa ke rumah kakaknya. Seperti bubur untuk ibunya, pakaian cadangan anaknya, dan camilan kecil lainnya.


Irwan keluar dari kamar setelah selesai mandi, lelaki itu menghampiri istrinya di dapur.


"Sedang apa Vi?" tanya Irwan.


"Mengisi bubur ke dalam kotak makanan, mudah-mudahan mama suka," jawab Novia.


"Mama pasti senang kamu bawakan makanan kesukaannya," sahut Irwan.


"Anak-anak sudah bangun Wan?"


"Iya, Camillah sudah selesai mandi. Emir dan Diba masih berbaring di kasur," jawab Irwan.


"Baiklah, aku akan memandikan mereka." Novia meletakkan kotak nasi ke atas meja lalu berbalik dan melangkah masuk ke kamar.


Irwanpun mengikuti langkah istrinya, akan tetapi dia berjalan keluar menuju garasi untuk memanaskan mesin mobilnya.


"Ayo, anak-anak mandi dulu, kita ke rumah tante Risma menengok ina," ajak Novia.


"Horee! kita mau jenguk inaa!" seru kedua bocah tersebut.


Lain halnya dengan Camillah, anak itu justru menunjukkan wajah heran lalu bertanya pada ibunya.


"Mah, Millah ikut?"


"Millah, hari ini kita ijin saja ya, mama harus menengok ina karena kemarin batal kesana."


"Ayo, ganti bajumu," ucap Novia karena Camillah sudah rapi menggunakan seragam sekolahnya.


Dengan langkah malas, Camillah mengikuti perintah ibunya lalu mengganti pakaiannya


Adiba dan Emir sudah selesai mandi dan berpakaian, Novia kemudian mengajak ketiga anaknya keluar dari kamar lalu menyuruh mereka menunggu sejenak di ruang tamu.


Irwan masuk kembali untuk melihat kalau anak dan istrinya sudah siap, lelaki itu mengecek semua ruangan, pintu dan jendela memastikan semuanya aman ketika mereka pergi.


"Sudah siap?" tanya Irwan pada Novia yang berdiri menenteng tas.


"Iya, kami sudah siap," sahut Novia.


"Baiklah, kita berangkat sekarang," ujar Irwan.


Mereka keluar dari rumah lalu naik ke dalam mobil, Irwan duduk di belakang kemudi dan Novia duduk di sampingnya sedangkan ketiga anak mereka duduk di kursi belakang.


Irwan menyalakan mesin, perlahan mobil bergerak meninggalkan rumah mereka menuju rumah Riska.


Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan antara pasangan suami istri itu, hanya sesekali terdengar suara cekikikan anak-anak mereka di belakang yang sedang bercanda satu sama lain.

__ADS_1


Mereka sudah tiba di rumah Riska, tampak suami kakaknya itu sibuk mengerjakan sesuatu dan Riska keluar dari dalam rumah dalam keadaan panik.


Gleeek


Jantung Novia langsung berdegub kencang, tiba-tiba muncul kecemasan dalam hatinya melihat kepanikan kakaknya.


Tanpa memperdulikan anak dan suaminya, Novia turun dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Tujuan utama Novia adalah kamar yang di tempati ibunya.


Benar saja, dugaan Novia tepat. Novia mendapati ibunya terbaring lemah tak berdaya, bahkan terlihat tak sadarkan diri.


Novia yang masih berdiri di pintu, bergerak maju mendekati tubuh ibunya.


"Astaghfirullah, mah!"


Novia menoleh pada Art yang bertugas merawat ibunya, menatap tajam meminta jawaban. Namun, Art itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi pada mama?" desak Novia.


Riska masuk ke dalam kamar ibunya, mendekati Novia dan memberi penjelasan.


"Tadi pagi, aku memberi obat pada mama, selang dua jam aku kasih lagi satu macam tapi tak lama kemudian mama jadi begini," jelas Riska.


Pandangan Novia masih tertuju pada ibunya, penjelasan Riska seperti angin lalu di telinganya.


"Vi, kamu dengar apa yang barusan kakak bilang?" tanya Riska kesal.


Novia tak bergeming, tangannya mengelus lembut rambut ibunya lalu dia menunduk dan berbisik di telinga ibunya.


"Mah, aku sudah datang, mama masih bisa mendengarku?" bisik Novia lirih.


Bu Ratih memberikan respon dengan mengedipkan mata, padahal sebelumnya Bu Ratih hanya diam lemah tak bergerak.


Mendapat respon dari ibunya, Novia menoleh pada kakaknya di belakang.


"Mama koma." ucapnya singkat


"Tadi masih baik-baik saja Vi," bantah Riska


"Kak, dosis obat yang kakak berikan pada mama terlalu tinggi. Harusnya kakak lebih hati-hati dan jangan menyerahkan urusan mama pada orang lain," ujar Novia lagi.


"Kakak tidak mengerti maksudmu," balas Riska


"Selama ini, siapa yang memberi mama obat?" tanya Novia.


Riska gelagapan menjawab, pertanyaan Novia tak ubahnya seorang penyidik yang sedang menginterogasi.


Riska tergagap sembari menunjuk Artnya,"di .. dia."


Novia tersenyum sinis dan berucap,"pantas saja!"

__ADS_1


Riska merasa tersudutkan, Novia seakan menyalahkan dirinya dengan kondisi ibu mereka.


__ADS_2