
Part 46
Sudah dua hari Novia sakit tapi sosok Irwan belum juga menampakkan diri, pak Wahyu dan istrinya pun tak mau menanyakan keberadaan menantunya mereka memilih fokus mengurus cucunya.
Sore ini, Novia bangun dan turun dari ranjang tangisan Diba mengusik tidurnya. Dia menyibak kain kelambu ayunan dan mengangkat bayinya.
" Popokmu sudah basah nak, di ganti dulu ya."
Novia mengambil popok kering di rak pakaian bayi lalu menggantinya.
Bu Ratih yang lewat di depan kamar Novia mengintip ke dalam karena pintu kamar memang tidak tertutup rapat.
" Diba kenapa Vi ?"
Novia menoleh ke asal suara " popoknya basah mah, ini baru selesai di ganti."
" Oh, bagaimana keadaanmu sekarang ?"
" Sudah mulai membaik mah."
" Syukurlah, jangan lupa makan."
" Iya mah, oh ya Millah dimana ?"
" Di depan, main sama papa dia juga sudah habis mandi."
" Mama ke depan dulu, istirahatlah."
Bu Ratih menutup pintu kamar dan berjalan keluar menemui suami dan cucunya di teras.
Sampai di teras dia duduk di kursi bersebelahan dengan suaminya, di depan mereka Camillah sedang membuat coretan-coretan di buku gambar.
Bu Ratih mengamati hasil coretab cucunya di kertas, " Millah memggambar apa ?"
" Ini mama, ini papa, ini dedek Diba, dan ini Millah." Dengan antusias dia menunjuk satu per satu gambar orang di kertas tersebut.
" Anak ini, apa kamu merindukan papamu ? Kasihan kamu nak belum memahami apa yang terjadi dengan orang tuamu."
Bu Ratih terus mengamati gambar tersebut, tampak empat orang yang sedang bergandengan. Walaupun gambarnya masih belum sempurna tapi sangat jelas terlihat seperti sebuah keluarga yang utuh dan bahagia.
Hati wanita paruh baya iti terenyuh, Camillah memang selama ini terlihat ceria tapi ternyata jauh di lubuk hatinya dia menyimpan sebuah harapan.
Bu Ratih menoleh pada suaminya, " pah."
" Iya, biarkan saja dia meluapkan isi hatinya lewat gambar." Sahut pak Wahyu.
Mata bu Ratih berkaca-kaca, dia sendiri juga bingung harus berbuat apa sementara orang tua Irwan seperti tak mau peduli bahkan anak dan cucunya tak dianggap ada.
__ADS_1
" Pah, sampai kapan kita diam ? Mama tidak tega melihat mereka."
" Sampai Novia meminta kita menyelesaikan masalahnya, selama dia diam kita cukup mendoakan yang terbaik untuk mereka."
" Pah, Novia itu sekarang sakit karena memendam masalahnya sendirian apa salahnya kita bertanya ?"
" Iya papa paham, tapi sebagai orang tua kita jangan memcampuri rumah tangga anak kecuali kalau suaminya sudah menyakiti fisiknya baru kita bertindak."
" Pah, ingat ya mama tidak mau sesuatu terjadi pada anak kita."
Pak Wahyu hanya tersenyum, dia sangat mengenal tabiat istrinya yang tidak suka jika orang-orang terdekatnya di sakiti dia akan secara frontal melakukan perlawanan.
Karena itu pak Wahyu sangat hati-hati berbicara jika menyangkut anak dan cucunya, sebab dia tak ingin istrinya terpancing emosi.
Sementara itu Irwan hari ini pulang lebih cepat, dia mengurung diri di kamar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, masih ada tas kerja Novia yang tergantung di dinding kamar.
" Aku merindukan kalian, apa kabar kalian di sana ? Maafkan aku yang terus menyakitimu."
Irwan bergumam sendirian, dia ingin menemui anak dan istrinya tapi dia malu bahkan tak memiliki keberanian. Sedangkan orang tuanya, jangankan membantu, bertanya tentang keadaan menantu dan cucunya pun tak pernah.
Irwan mengusap kasar wajahnya, hatinya gusar memikirkan bagaimana cara agar bisa menemui anak dan istrinya.
" Benar kata Fahrul, aku bermain api tapi tak tahu cara memadamkannya, aah siaall. " Umpatnya sambil membuang bantal ke lantai.
Lama merenung Irwan akhirnya memutuskan, malam ini dia akan ke rumah mertuanya apapun yang akan terjadi nanti dia pasrah menerima. Orang tuanya tak bisa di harapkan dia merasa hidup tanpa orang tua.
Irwan membuka mata lalu melirik jam di atas meja kemudian mengumpulkan kesadarannya sedetik kemudian dia menepuk keras keningnya.
" Astagaa, rencanaku gagal mana mungkin aku membangunkan Novia jam empat pagi bisa-bisa aku di sangka maling huuft."
Kantuknya seketika hilang, dia bangun dan turun dari ranjang kemudian melangkah ke dapur mengambil segelas air.
Setelah itu dia keluar ke ruang tamu, rupanya pintu masih terbuka lebar. Semalam dia tidak sempat menutup pintu.
Irwan menutup pintu lalu duduk di ruang tamu, kemudian memgambil sebatang rokok menemaninya di pagi buta. Pikirannya melayang bersama asap rokok yang dia hembuskan.
Dia menghabiskan rokoknya lalu masuk ke kamar, tentu saja melanjutkan tidurnya. Rencananya berubah, bangun pagi dia akan kesana dengan alasan menjemput Camillah dan mengantarnya ke sekolah.
Suara ayam jantan berkokok membangunkan Irwan, dia bergegas bangun dan melirik jam.
" Jam enam pagi, masih ada waktu Camillah berangkat sekolah jam setengah delapan."
Dia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaian. Dengan langkah cepat Irwan keluar dari rumah dan mengunci pintu.
Tanpa memanaskan mesin lebih dulu, dia langsung menyalakan mobil dan melaju menuju rumah mertuanya berpacu dengan waktu, jangan sampai ayah Novia yang mengantar Camillah.
Dia sudah tiba di depan rumah mertuanya, rumah tampak sepi tidak seperti biasanya, sebelum turun dia menarik napas dalam-dalam membuang rasa gugupnya.
__ADS_1
Setelah merasa tenang, dia turun dan perlahan melangkah.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumussalam." Terdengar sahutan dari dalam, tak lama ibu mertuanya muncul. Saat melihat Irwan berdiri di depan pintu wajah bu Ratih langsung berubah menunjukkan ekspresi tak bersahabat.
Keduanya hanya saling pandang untuk beberapa saat tak ada yang mau memulai percakapan, untungnya pak Wahyu keluar dan menyapa.
" Eh Irwan, sudah lama ? Ayo masuk."
" Eehh baru sampai pah."
" Novia mana ?" lanjutnya
" Ada di kamar, sudah tiga hari dia sakit ayo masuk."
" Iya pah." Kaki Irwan rasanya sulit di gerakkan karena gugup, di tambah lagi wajah bu yang masam dan tatapannya seperti ingin menguliti Irwan.
Dalam suasan canggung itu terdengar langkah kaki mendekat.
Irwan melihat sosok anaknya muncul dari kamar, Camillah langsung berlari kearah Irwan dan memeluk kakinya.
" Papa, papa dari mana kenapa baru datang sekarang ?" Kepalanya mendongak sambil terus memeluk kaki ayahnya.
Irwan menunduk, " Papa lagi kerja, makanya baru bisa datang sekarang mama dan dedek mana ?"
" Mama sakit, dedek Diba nangis terus pa."
Irwan diam sesaat " untung kamu muncul nak menyelamatkan papamu " gumamnya dalam hati.
" Ayo pah, kita lihat mama di kamar." Camillah menarik paksa tangan Irwan masuk ke dalam kamar.
Pak Wahyu dan istrinya hanya saling pandang, kemudian pak Wahyu melangkah keluar meninggalkan istrinya namun dengan cepat bu Ratih mengikuti langkah suaminya.
Keduanya duduk, sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Sementara di kamar, Novia terkejut saat melihat suami dan anaknya masuk ke kamar.
Tiba-tiba lidahnya terasa keluh, sekujur tubuhnya dingin dan dadanya sesak " Mill... Milla..aah." Pandangan Novia kabur dan tubuhnya seketika ambruk.
" Mamaaaa." Camillah menjerit sekuat tenaga dan berlari ke arah ibu demikian juga dengan Irwan dengan gerakkan cepat dia menangkap kepala Novia yang hampir terbentur di ranjang.
Mendengar suara jeritan Camillah, tanpa menunggu lama pak Wahyu dan istrinya berlari masuk ke kamar Novia.
" Ada apa ini, kenapa dengan Novia."
Bu Ratih mendekat dan mendorong tubuh Irwan, lalu dia mengambil alih menopang tubuh Novia yang tak sadarkan diri itu.
__ADS_1