
Part 35
" Oh, rupanya suamiku ini termakan fitnah bahkan di telannya mentah-mentah."
Novia mulai menyadari situasi yang terjadi, dan menguatkan diri untuk memberi penjelasan pada suaminya yang dia sendiri juga belum mengetahui kronologi kejadian tadi.
" Apa sudah puas memaki-makiku ? Sekarang dengar penjelasanku baik-baik." Novia mengambil alih pembicaraan.
" Duduk dan dengarkan penjelesanku " dia meminta suaminya duduk, dan diapun ikut duduk di samping suaminya.
" Tadi saat menyusui Diba, tiba-tiba aku mendengar teriakan di luar dan aku segera keluar karena ingin tahu apa yang terjadi. Dan ternyata mama yang pingsan di bopong adikmu dan beberapa orang."
" Akupun segera menyusul mereka dan bertanya apa yang terjadi dengan mama, tapi adikmu Nanda justru memaki dan menuduhku di depan orang-orang kalau aku yang jadi penyebab mama jatuh pingsan " Lanjutnya.
Irwan terus mendengarkan penjelasan istrinya, dalam hati menyesali perbuatannya yang langsung tersulut emosi namun gengsi mengakui.
" Wan selama ini aku selalu diam dan mengalah ketika mama bersikap kasar sama aku, tak mau mengadukan semua kepadamu tapi kali ini sungguh keterlaluan, adikmu pun juga sudah lancang membuat fitnah."
Sebisa mungkin Novia menahan tangisnya, dia tak ingin terlihat lemah saat ini. Dan Irwan hanya bisa diam tak tahu lagi harus berkata apa.
Setelah merasa cukup memberi penjelasan, Novia masuk ke kamar melirik jam di atas meja.
" Sudah jam sepuluh, sebentar lagi Camillah pulang." Dia melihat ke arah ayunan, bayinya masih tertidur pulas.
Dia keluar dari kamar berhenti di depan Irwan yang masih dengan posisi duduk sambil memijat pelipisnya.
" Titip Adiba sebentar, aku mau jemput Camillah di sekolahnya." Kemudian dia berlalu meninggalkan Irwan.
Tak lama Novia sudah sampai lagi di rumah, " ayo Millah ganti bajumu."
Karena istrinya sudah datang, Irwan keluar dari kamar " aku berangkat " kemudian melangkah menuju mobilnya.
Novia mendengus " tempat ini seperti neraka, aku benar-benar tidak betah tinggal di sini."
Dia masuk ke dapur, masih ada sisa makanan tadi pagi tak cukup untuknya Camillah siang ini pikirnya.
" Millah sini sayang, kita makan."
Camillah melepas bonekanya dan berlari ke arah ibunya, mereka menghabiskan sisa makanan tersebut.
Selesai makan, Camillah mendekati ayunan dan mengintip adiknya di dalam " mamah dedek Diba bangun " teriaknya.
" Iya sebentar, mama mau cuci piring dulu " sahut Novia dari dapur.
Setelah membereskan semuanya, Novia masuk ke kamar dan menyuruh Camillah tidur sedangkan dia menyusui bayinya sambil berbaring hingga ketiganya tertidur.
Sore harinya, Novia memandikan kedua anaknya tentunya Camillah lebih dulu kemudian bayinya lalu dia pun ikut mandi.
" Jam berapa papa pulang ?" tanya Camillah.
__ADS_1
" Mama belum tahu nak, mungkin sebentar lagi " sahutnya.
"Sudah maghrib mah, papa belum pulang."
" Sepertinya papa pulang malam "
" Camillah sekarang sudah mulai mengerti, dan selalu bertanya kalau papanya pulang terlambat."
Kini Novia menyadari, dia sekarang harus lebih berhati-hati dalam bersikap terlebih jika bertengkar dengan suaminya. Dia khawatir akan membawa pengaruh buruk pada perkembangan anaknya.
Hingga malam tiba Irwan belum juga pulang, Camillah terus bertanya tentang ayahnya beruntung Novia pandai membujuknya dan memintanya tidur setelah selesai makan malam.
Sementara di rumah bu Mini banyak saudara yang berkunjung, karena mendengar berita bu Mini sakit.
Tak ketinggalan tante Lili juga datang menjenguk kakaknya, orang tua bu Mini juga hadir di sana mereka berkumpul dan berbincang membicarakan banyak hal.
" Kalau belum ada perubahan, sebaiknya dia di rawat di rumah sakit " Lili memulai pembicaraan.
" Ini semua gara-gara istrinya kak Irwan, mama sampai jatuh pingsan."
Lili menatap wajah ponakannya " dari mana kamu tahu Novia penyebabnya ?" nada bicaranya seolah tak percaya.
" Mama jatuh pingsan di samping rumahnya tante, dan dia tak peduli membiarkan mama seperti itu untung aku cepat datang dan meminta tolong lalu kami membopong mama kesini "
Lili memicingkan matanya " jadi karena alasan mamamu terjatuh tepat di samping rumahnya lalu kamu menuduh Novia jadi penyebabnya, dimana logikamu ??"
" Lalu misalnya kamu sakit perut di pasar, apakah kamu juga akan menyalahkan para pedagang yang ada di situ ? Cecarnya lagi membuat Nanda terdiam.
" Aku akan menemui Novia, pasti dia sedih di tuduh seperti ini Nanda memang keterlaluan."
Dia terus berjalan ke rumah Irwan. Sampai di depan pintu dia mengetuk dan memanggil nama Novia.
" Suara tante Lili diluar, kenapa dia kesini apa mau menyalahkanku juga seperti yang lain ?" gumam Novia.
Dia berjalan keluar mendekat ke arah pintu.
" Novia buka pintunya, ini tante Lili."
" Iya tante sebentar " dia membuka pintu dan mempersilahkan Lili masuk.
Lili masuk ke dalam dan langsung duduk di kursi kemudian menepuk kursi kosong di sampingnya.
Novia pun duduk di samping Lili, dia diam menunggu apa yang akan di katakan Lili nanti.
" Ehemm " Lili mendehem kemudian mengatur posisi duduknya menghadap kearah Novia.
Jantung Novia tiba-tiba berdebar melihat sikap tante Lili yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
" Tenang Vi, tante cuma ingin menanyakan sesuatu " Novia langsung menghembuskan napas lega.
__ADS_1
" Iya, apa yang ingin tante tanyakan ?"
" Vi, apa benar mama mertuamu tadi terjatuh dan kamu mengabaikannya ?"
Seperti dugaan Novia, Nanda akan menghasut orang-orang dengan fitnahannya termasuk tante Lili.
Novia menarik napas dalam-dalam kemudian menjelaskan sama persis seperti penjelasannya pada Irwan tadi tak ada yang di kurangi atau di tambahkan.
Lili hanya menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan pemikiran ponanakannya itu.
" Nanda, masih kecil kamu sudah pandai mengarang cerita" gumamnya dalam hati sambil terus mendengar penjelasan Novia secara detail.
" Novia, tante harap bahkan memohon padamu jangan masukkan ke hati semua ucapan mereka."
" Iya tante, tante jangan khawatir aku baik-baik saja ." Balasnya walaupun sebenarnya hatinya sakit di fitnah seperti itu.
Karena sudah mendapat jawaban langsung dari Novia, Lili akhirnya berpamitan pulang.
Tinggallah Novia sendirian di ruang tamu dengan segala macam pikiran dalam benaknya.
" Jam sebelas, kemana lagi dia jam begini ?" gumamnya ketika melihat jam di dinding.
" Aahh terserah, kamu mau pulang jam berapa, mau nginap dimana itu urusanmu bikin pusing " kemudian mengunci pintu mematikan lampu, masuk ke kamar berbaring di samping anaknya dan terlelap.
Paginya saat Novia bangun, dia meraba ke sampingnya tempat biasa suaminya tidur. Kosong, sosok yang di carinya tak ada.
Dia bangkit dan bangun dari tempat tidur, masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Lalu menyiapkan air hangat untuk bayinya kemudian memandikannya.
Selesai mengurus bayinya, dia membangunkan Camillah menyuruhnya mandi.
" Millah hari libur ya, kita ke rumah Ina " ucapnya.
" Dedek bayi ikut mah ?" pertanyaan polos Camillah sedikit menghibur perasaan Novia.
" Iya, masa dedek di tinggal sendirian disini, kalau dia haus dan lapar bagaimana ?"
Camillah tersenyum mendengar jawaban ibunya.
Tak lama, suara pintu di ketuk...
Novia diam sejenak, ketukan berikutnya baru bangkit dan berjalan keluar membuka pintu.
Saat membuka pintu, Novia sangat terkejut tubuhnya yang terdorong ke belakang oleh suaminya. Sementara tubuh Irwan tumbang di lantai setelah menubruk Novia.
Untungnya Novia sempat menghindar sehingga tubuhnya tidak tertindih tubuh suaminya.
" Astaghfirullah kelakuanmu Irwaan " jeritnya dalam hati.
Dengan cepat Novia masuk ke kamar meninggalkan Irwan yang terbaring dengan posisinya telungkup di lantai, sepertinya dia mabuk berat.
__ADS_1
Novia mengemasi semua pakaiannya dan juga pakaian anak-anaknya. Emosinya memuncak melihat pemandangan di depannya setelah suaminya tidak pulang semalam.