Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Bukan Mertua Idaman 1


__ADS_3

Part 39


Malam ke dua Irwan tidur di rumah mertuanya, terlintas di pikirannya mengajak istrinya pulang tapi belum berani mengungkapkan.


Paginya saat mereka bangun...


" Sepertinya kamu masih betah di sini, kapan rencananya balik ke rumah ?" hati-hati Irwan mengajukan pertanyaan tersebut.


" Setelah acara aqiqahan Diba."


" Hmm, jadi rencananya akan di laksanakan di sini ?"


" Iya, aku minta tolong sama kamu menyampaikan sama orang tua dan keluarga besarmu."


"Alangkah baiknya jika kamu juga ikut Vi, nanti malah di sangka cuma keinginanku sendiri yang mengundang mereka " Irwan tak mau orang tuanya tersinggung karena tak di libatkan dalam menentukan hari pelaksanaan acara tersebut.


Sebelum timbul masalah, Irwan mengantisipasi terlebih dahulu apalagi dia tahu hubungan ibu dan istrinya sedang tidak baik.


Itu sebabnya dia sengaja mengajak Novia ikut agar tidak timbul lagi fitnahan.


" Baiklah aku akan ikut, kapan kamu punya waktu ?" Novia pun menyetujui rencana suaminya.


" Besok sore pulang kerja aku jemput." Dan di jawab anggukan Novia.


" Aku ke dapur ya, kasihan mama sendirian menyiapkan sarapan " lalu bangkit dan berjalan keluar menuju dapur.


Novia sudah di dapur, dia mengambil piring, gelas, dan sendok di rak lalu meletakkan di atas meja.


" Panggil mereka sarapan " titah bu Ratih yang membawa teko berisi teh ke atas meja.


" Iya mah " Novia berbalik kemudian berjalan masuk ke kamar ayahnya lalu memanggil suaminya.


Mereka bertiga berjalan beriringan ke meja makan.


Saat tiba di ruang makan, bu Ratih menatap mereka satu per satu " Millah mana kenapa tidak ikut sarapan ?"


" Belum bangun mah, sepertinya Camillah kurang enak badan " balas Novia sembari menarik kursi untuk suaminya.


" Kamu harus jeli memilih makanan untuk anakmu Vi, beri dia makanan yang sehat."


Bu Ratih menyendok makanan ke piring suaminya, kemudian menyodorkan sendok tersebut pada Novia sebagai isyarat agar Novia juga melakukan hal yang sama pada Irwan.


" Iya mah, aku selalu menjaga pola makan Camillah, mungkin di sekolah dia jajan sembarangan." Sahutnya, dan menyodorkan piring berisi makanan pada Irwan.


Mereka pun makan dengan lahap tanpa bersuara atau berbincang, masing-masing fokus menghabiskan makanannya.


Selesai makan, mereka keluar dan duduk di teras sedangkan Irwan bersiap-siap berangkat kerja.


Untuk menghindari pembahasan yang lebih panjang, Novia masuk ke dalam dengan alasan bayinya bangun. Jika dia bertahan tentu akan lebih banyak pertanyaan yang akan di lontarkan ibunya dan pasti dia akan kesulitan menjawabnya.

__ADS_1


" Aku berangkat dulu " pamitnya kemudian berjalan kearah mobil, Novia mengikuti di belakang mengantar suaminya sampai di dekat mobil.


Irwan membuka pintu masuk ke dalam dan menutup kembali pintu mobil menyalakan mesin, dia melambaikan tangan. Novia membalas lambaian suaminya, mobilpun bergerak menjauh kemudian Novia berbalik melangkah ke teras dan duduk di sebelah ibunya.


" Vi, kamu sudah menyampaikan niatmu tentang masalah aqiqah pada suamimu ?"


" Sudah mah tadi sebelum sarapan."


" Lalu apa tanggapannya, dia setuju caranya di sini ?"


" Iya mah, dan besok rencananya kami akan ke rumah orang tuanya dan beberpa keluarga dekatnya." Sahut Novia.


" Baguslah, jangan sampai mereka mengira papa dan mama yang mengintervesi semua urusan rumah tanggamu."


Bu Ratih seolah tahu apa yang selama ini di alami Novia.


Novia menatap sendu ibunya " kenapa mama bicara seperti itu ?"


" Tidak apa-apa Vi, mama hanya asal menebak semoga tebakan mama salah."


Jleebb...


Jawaban bu Ratih menusuk tepat di jantung Novia, selama ini Novia selalu menyembunyikan keadaan yang sebenarnya tentang perilaku ibu mertuanya terutama perilaku Irwan yang suka mabuk-mabukkan.


" Maakan aku, sebaiknya mama tidak tahu apa yang terjadi aku tak mau mama sedih memikirkannya " gumamnya dalam hati.


Novia masuk ke kamarnya, menutup pintu dan naik keatas tempat tidur berbaring di antara dua anaknya yang masih nyenyak hingga dia pun ikut terlelap.


Sebelum ke rumah mertuanya, terlebih dahulu dia masuk ke rumahnya. Dan alangkah terkejutnya dia melihat penampakan isi rumahnya tak ubahnya seperti kapal pecah.


Dia berjalan pelan menyusuri setiap ruangan, mulai dari ruang tamu botol minuman berhamburan, masuk ke kamar tidur pakaian Irwan berserakan di lantai.


Sungguh pemandangan yang membuat kepalanya pusing dan matanya perih.


" Apa ini ? Perasaan waktu aku tinggalkan rumah dalam keadaan rapi dan bersih kenapa jadi begini Ya Allah."


Novia kemudian masuk ke dapur dan hal yang sama juga terjadi, perabotan masak, piring dan gelas kotor berantakan di mana-mana.


Novia memijat pelipisnya lalu membalikkan tubuh menghadap Irwan yang terus setia mengekorinya dari belakang.


" Aduuh Wan, kenapa rumah bentuknya jadi begini ?"


" Sudah...sudah nanti aku bereskan Vi, tujuan kita kesini mau mengundang orang tua dan keluargaku kan ? Jadi tunda dulu marahnya kita ke rumah mama sekarang."


Irwan lalu menarik tangan istrinya keluar, berjalan ke rumah orang tuanya.


Sementara Novia terus mengomel tanpa henti melampiaskan kekesalannya.


Mereka sudah berada di teras rumah pak Ahmad, Novia tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu menoleh pada suaminya. Untungnya Irwan menyadari maksud istrinya.

__ADS_1


" Iya aku paham maksudmu, nanti aku yang bicara sama mama."


" Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam " bu Mini muncul dengan tergesa-gesa, senyumnya seketika hilang saat melihat Novia.


" Masuk "...


Irwan menarik tangan istrinya masuk dan mengajaknya duduk, Novia melepaskan genggaman Irwan.


Mereka duduk berhadapan, ketiganya diam Novia merasakan udara yang di hirupnya seakan menghilang dia meremas jari-jarinya menenangkan diri.


" Ehemm...emm kami mau bicara mah." Irwan membuka pembicaraan sedikit terbata.


" Silahkan."


" Kami kesini mau mengundang mama dan papa juga yang lainnya ke acara aqiqahan Adiba."


" Kapan acaranya " masih dengan nada ketus bu Mini menjawab.


" Minggu depan " sahut Irwan.


" Wan, bukannya kamu punya rumah sendiri kenapa malah buat acaranya di rumah orang lain ?"


Tangan Novia mengepal " heii, itu orang tuaku bukan orang lain astaga ingin ku remas bibir itu."


Baru saja Novia ingin berbicara, Irwan langsung menginjak kakinya kata-kata yang ingin di lontarkan Novia menguap begitu saja.


" Baiklah, kami pamit dulu " Tak menunggu jawaban ibunya Irwan bangkit berjalan keluar di ikuti Novia.


Ketika sudah sampai di dalam rumahnya, Novia membanting tasnya ke lantai emosi yang di tahannya kini dia lampiaskan pada suaminya.


" Kenapa kamu menahanku berbicara, asal kamu tahu orang tuaku sudah banyak berkorban selama ini, dan dengan seenaknya ibumu mengatakan mereka orang laiin !!"


Irwan hanya diam membisu, ibunya memang sedikit keterlaluan menurutnya.


" Irwansyah dengar ! Aku selalu diam ketika ibumu, saudaramu memaki bahkan memfitnahku, tapi aku akan berontak jika itu menyangkut anak dan orang tuaku ingat baik-baik !!"


Novia hilang kendali, dia tak terima orang tuanya di anggap orang lain oleh mertuanya.


" Aku minta maaf atas nama orang tuaku Vi, aku juga bingung dengan sikap mama."


Irwan mencoba meredam kemarahan Novia dengan meminta maaf.


Novia menarik napas lalu membuangnya perlahan hingga mengulanginya beberapa kali untuk menahan emosinya.


Dia duduk bersandar, sesaat kemudian memejamkan matanya namun bukan tertidur melainkan menahan tangisannya.


" Sebenci inikah kalian padaku dan juga orang tuaku ? Aku tak meminta apa-apa dari kalian bahkan tanggung jawab sekalipun untuk anak-anakku tak pernah aku tuntut."

__ADS_1


Batin Novia menjerit, seandainya waktu bisa di putar kembali rasanya tak ingin mengenal keluarga ini.


__ADS_2