
Part 30
Sore ini tepat jam empat, Novia merasakan sakit di perutnya " perutku sakit, apa ini kontraksi ? Tapi kan belum waktunya masih dua minggu lagi " sambil terus mengusap lembut perutnya.
Camillah yang duduk di samping ibunya menoleh " mama kenapa sakit perut ?" ikut mengusap perut ibunya.
" Iya perut mama sakit, Millah bisa kan mama minta tolong ambil air minum untuk mama ?"
" Bisa mah, Millah kan sudah besar sebentar lagi mau punya dede bayi " kemudian beranjak ke daput mengambil air minum.
" Ini mah " Camillah menyodorkan gelas berisi air minum lalu diambil Novia.
" Terima kasih sayang, anak mama sekarang semakin pintar ".
Beberapa saat kemudian rasa sakitnya berangsur hilang " oh mungkin kontraksi palsu, sebaiknya aku periksa ke dokter mengingat akhir - akhir ini aku terlalu banyak kegiatan " gumamnya.
" Millah ayo kita mandi, sebentar lagi papa pulang " sambil membereskan mainan Camillah yang berserakan di lantai, setelah itu melangkah masuk dan Camillah mengikuti di belakang.
Selesai mandi mereka kembali duduk di teras rumah, menunggu suaminya pulang. Menjelang maghrib yang di tunggu belum juga muncul, Novia memutuskan masuk kedalam melalukan shalat maghrib lalu di lanjutkan mengaji dan berdzikir menunggu waktu isya.
Selesai shalat, mereka makan malam sembari menunggu suaminya. " Mah Millah ngantuk " terus mengucek matanya.
Novia melirik jam sudah setengah sembilan " ayo nak kita tidur, cuci kaki dan gosok gigi dulu ya."
Mereka masuk ke kamar dan naik ke atas ranjang, Novia ikut berbaring disamping Camillah beberapa saat kemudian sudah terlelap dalam mimpi.
Baru saja Novia ikut terlelap, terdengar deru mesin mobil masuk dia melirik jam tepat pukul sepuluh malam.
Dia bangun lalu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar mengintip dari jendela. Irwan turun dari mobil menutup pintu dan melangkah ke rumah orang tuanya.
Tak lama Novia mendengar suara langkah mendekat dan pintu di ketuk, dia lalu berdiri dan melangkah membuka pintu.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumussalam."
" Mau makan atau mandi dulu ?"
Bukannya masuk ke kamar, Irwan malah duduk di kursi " mau istirahat dulu sebentar, badanku pegal - pegal."
Novia pun ikut duduk di sebelah suaminya. Irwan mengambil posisi berbaring lalu meletakkan kakinya ke paha Novia " tolong Vi, pijat kakiku."
Sambil memijat pelan kaki suaminya, Novia bercerita banyak hal termasuk perutnya siang tadi yang terasa nyeri.
" Wan, tadi perutku sakit terasa nyeri sepertinya kontraksi palsu, rencananya besok aku ingin periksa ke dokter."
" Iya nanti aku antar " jawabnya.
" Gimana rencana kita tentang motor itu, jadi atau di tunda dulu " tangannya terus memijat, tapi tak ada jawaban.
Hening...
__ADS_1
Yang terdengar hanya suara napas Irwan, " rupanya kamu sudah tertidur huuuffh " Novia menggerutu kesal. Pelan - pelan di turunkannya kaki Irwan lalu dia melangkah masuk ke kamar dan tidur di sebelah Camillah.
Tengah malam Novia merasa pergerakan di sampingnya, dia menoleh kesamping ternyata suaminya sudah ikut naik ke tempat tidur lalu dia pun melanjutkan tidurnya.
Paginya Novia bangun, melakukan aktifitas seperti biasa dan hari ini dia berencana tidak masuk kerja karena ingin memeriksakan kandungannya.
Tak lama Irwan juga bangun dan menghampiri Novia di dapur yang menyiapkan sarapan.
" kenapa belum mandi ? Biasanya jam begini sudah rapi " tanya Irwan sambil mengambil sepotong tahu goreng di piring.
" Semalam kan aku sudah cerita, hari ini izin tidak masuk kerja karena mau pergi memeriksa kandungan."
" Oh ya sudah, biar aku antar " jawabnya lalu masuk kekamar mandi.
Irwan keluar dari kamar mandi lalu memakai pakain yang telah di siapkan istrinya. Sementara Novia sibuk mengurus Camillah dan keperluan sekolahnya lalu mereka sarapan.
" Wan, tolong antar Camillah ke sekolah ya, aku mandi biar menghemat waktu."
" Hmm, ayo Millah papa antar sekarang " menuntun Camillah berjalan keluar.
Ketika hendak naik ke dalam mobil, bu Mini muncul dari dalam dan menyapa cucunya " Millah sudah rapi, mau berangkat sekarang ? Bawa bekal apa ?"
" Millah sana salim dulu sama nenek " titah Irwan.
Camillah menghampiri neneknya dan meraih tangan neneknya lalu menciumnya.
Karena belum mendapat jawaban dari cucunya bu Mini kembali bertanya " Millah bawa bekal apa ke sekolah ?"
" Nasi sama tahu tempe nek " sahutnya.
" Ayo Millah nanti kamu terlambat, kami berangkat dulu mah " kemudian menggandeng tangan Camillah lalu mereka naik ke dalam mobil.
Sementara di rumah Novia sudah menunggu suaminya, dia duduk di ruang tamu sambil membaca buku.
Tak lama suara mobil Irwan terdengar, Novia bergegas keluar dan menutup pintu lalu menghampiri mobil suaminya.
" Kita berangkat sekarang ?" menatap suaminya yang masih duduk di belakang kemudi.
" Iya, naiklah " sambil membuka pintu untuk istrinya, dan Novia pun masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan menuju rumah sakit, mereka berbincang mengenai rencana Novia.
" Wan, bagaimana dengan rencana kita membeli motor ? Sepertinya tabunganku sudah cukup "
" Terserah kamu lah bagaimana mengolah keuanganmu, tapi jangan lupa kita juga butuh biaya untuk persalinan nanti "
" Kalau untuk persalinan dan biaya aqiqah semuanya sudah aku siapkan."
" Hmm baguslah kalau begitu, pulang dari rumah sakit kita coba ke dealer motor."
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Irwan memarkir mobilnya lalu turun disusul novia. Mereka berjalan masuk beriringan kemudian Irwan mengambil Nomor antrian sementara Novia menunggu di kursi yang berderet di ruang tunggu.
__ADS_1
" Masih sepi, dan kita dapat nomor antrian tiga jadi bisa pulang lebih cepat " Irwan menyodorkan nomor antrian pada istrinya.
Setelah menunggu beberapa saat, kini tiba giliran Novia yang di panggil " Ny. Novia Andini " panggil seorang petugas.
Mendengar namanya di panggil pasangan itu pun berdiri dan melangkah masukbke dalam ruang pemeriksaan.
" Selamat pagi, silahkan duduk "
" Pagi juga dok, iya terima kasih " Irwan dengan sigap menarik kursi untuk istrinya kemudian dia duduk di kursi tepat di samping Novia.
" Apa keluhannya "
" Semalam perutku nyeri dok " Novia menatap dokter dihadapannya.
" Di periksa dulu ya " sembari menyiapkan alat-alatnya.
" Sus, tolong monitornya " titah si dokter pada asistennya.
" Silahkan naik ke ranjang bu, kita akan melakukan USG "
" Iya dok " Novia naik ke atas tempat tidur lalu mengangangkat bajunya.
Dokter tersebut lalu mengoleskan gel ke perut Novia dan menempelkan alat lalu menggerakkannya.
" Silahkan lihat ke monitor bu, bayinya sehat berat juga seimbang sesuai umurnya "
" Nyeri yang ibu alami itu kontraksi palsu karena bayinya sudah sangat aktif, oh iya jenis kelaminnya perempuannya " lanjutnya lagi sambil tersenyum dan menatap ke arah monitor.
" Kapan perkiraan kelahirannya dok " tanya Irwan sambil terus menatap kearah monitor.
" Dua atau tiga minggu lagi " jawab dokter tersebut.
Setelah selesai pemeriksaan, Novia dan Irwan kembali ke tempat duduknya di susul dokter.
" Ini saya kasih resep Vitamin dan penghilang nyeri, nanti kalau sudah ada tanda segera ke rumah sakit " ucapnya sambil menyerahkan kertas resep kepada Novia.
" Baiklah dok, kami permisi " di jawab anggukkan dokter lalu mereka berpamitan dan meninggalkan ruangan dokter.
" Wan, resepnya di tebus dulu di apotek " Novia menunjuk ke arah apotek yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
" Kamu tunggu disini, biar aku yang antrian disana " Irwan melangkah menuju apotek ikut mengantri dengan beberapa orang disana.
Setelah mendapatkan obat mereka berjalan keluar menuju parkiran.
" Kita kemana lagi setelah dari sini ?"
" Katanya ke dealer mau lihat motor " jawab Irwan .
" Hmm baiklah kita kesana sekarang " lalu Irwan masuk ke dalam mobil dan membuka pintu untuk istrinya kemudian Novia ikut masuk.
Irwan menyalakan mesin dan mobil perlahan bergerak meninggalkan area parkiran rumah sakit ke tempat tujuan selanjutnya.
__ADS_1
Tiba di dealer, Novia dan Irwan malah berdebat karena bingung memilih jenis motor apa yang dibeli.
Setelah perdebatan panjang, mereka memutuskan dan pilihan Irwan akhirnya yang di setujui karena tak membawa uang tunai, Novia meminta suaminya mengantarkan ke ATM terdekat menarik uangnya kemudian membayar lunas.