
Part 29
Beberapa hari berlalu sejak kejadian itu Novia tetap menjalani hari-harinya seperti biasa, berbeda dengan Irwan yang masih enggan menginjakkan kaki ke rumah orang tuanya.
Dia masih menyimpan kekecawaan pada ayahnya yang dengan mudah meminta selingkuhannya datang tanpa peduli perasaan ibunya.
Hari ini tepat jam setengah sepuluh, waktunya anak-anak beristirahat. Novia memilih duduk di kelas karena kelelahan, sebab usia kandungannya sudah berjalan 34 minggu.
" Akhir - akhir ini aku sering kelelahan, setiap hari pulang telat karena menunggu angkutan umum, apa sebaiknya aku membeli motor ya.?
" Kamu tidak ke ruang guru Vi ?" suara Diana yang tiba-tiba berdiri di depan pintu membuyarkan lamunan Novia.
" Aku istirahat disini saja, bolak-balik dari ruang guru membuatku capek."
" Memangnya berapa usia kandunganmu sekarang ?"
" 34 minggu, tapi kehamilanku kali ini sedikit berbeda lebih cepat capek dan sering sesak " jawabnya.
" Ya sudah, kamu istirahat saja aku ke ruang guru dulu ya " ucap Diana sambil berlalu pergi.
Tiba di ruang guru, semua sudah berkumpul dan ternyata ada rapat dan penyampaian penting dari kepala sekolah.
" Mana bu Novia ?" Pak Rizal mengedarkan pandangan mencari Novia karena hanya dia yang tidak hadir di ruang guru.
" Bu Novia ada di kelasnya pak, mau istirahat katanya."
" Tolong di panggil dulu kesini bu Diana, ada hal penting yang akan saya samapaikan."
" Iya pak." jawabnya lalu beranjak melangkah menuju kelas Novia.
" Huuft merepotkan sekali, apa di pikir hanya kamu yang capek ? Tadi juga sudah diajak malah banyak alasan !" gerutunya sambil terus berjalan.
" Vi, dipanggil pak Rizal katanya ada rapat penting " ucapnya dan langsung berbalik membelakangi Novia lalu berjalan kembali ke ruang guru.
Novia menoleh belum sempat menjawab tapi Diana sudah pergi. Lalu dia beranjak dan melangkah menuju ruang guru.
"Assalamualaikum " Novia masuk ke ruang guru.
" Waalaikumussalam " pak Rizal dan guru lainnya menjawab.
Novia lalu mencari kursi yang kosong dan duduk, tampak di sudut ruangan, Diana sedang sibuk dengan ponselnya raut wajahnya terlihat kesal ketika Novia datang.
" Baiklah, bapak dan ibu guru kita mulai rapat hari ini, ada penyampaian penting dari Dinas memgenai pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah. Karena itu saya meminta kerja sama yang baik dari bapak ibu sekalian terutama untuk guru kelas VI."
__ADS_1
Setelah penjelasan panjang yang di sampaikan pak Rizal dan di sanggah oleh beberapa guru, akhirnya rapatpun selesai.
Semua guru kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Sama halnya dengan Novia, karena siswa kelas dua jadwalnya lebih cepat dari kelas lain maka muridnya pulang lebih cepat. Kemudian dia menyelesaikan beberapa tugas dan persiapan bahan ajar untuk esok harinya menunggu waktu pulang. Novia melirik jam di tangannya.
" Sudah jam satu, Camillah pasti sudah pulang." gumamnya dalam hati.
Tak lama bel pulang berbunyi, Novia membereskan kelasnya dan mengambil tas lalu bergegas keluar berjalan menuju pintu gerbang.
Jam dua siang Novia sampai di rumah. Wajahnya sangat lelah, Irwan yang sedari tadi duduk menatap ke arah istrinya yang duduk di lantai meregangkan otot kakinya.
" Setiap hari kamu pulang jam begini Vi ?"
" Seperinya iya, makanya aku selalu kerepotan menjemput Camillah, untungnya setiap hari ada gurunya yang mau mengantar dan menemaninya di rumah sebelum aku pulang."
" Wan aku punya sedikit tabungan, gimana kalau kita beli motor ?" lanjutnya lagi.
" Terserah, itu kan uang dari penghasilanmu kamu mau pergunakan untuk apa silahkan."
" Hmm baiklah, eh Millah mana ?"
" Sudah tidur, pulang sekolah dia makan main sebentar dan tertidur."
"Wan, sampai kapan kamu bertahan seperti ini ? Mobil sudah berhari - hari parkir di depan."
" Eh kenapa jadi tersinggung ?" gumamnya dalam hati.
" Bukan begitu maksudku Wan, aku hanya kasihan sama mama dan papa, mereka kan butuh biaya untuk berobat."
Irwan menarik napas " Aku juga sudah memikirkan itu, tapi aku masih kecewa sama papa terlebih mama yang malah membela wanita itu."
" Sudah Wan jangan diambil hati, kapan lagi kamu bisa berbakti pada orang tua."
" Iya kita lihat nanti, mungkin besok aku mulai kerja."
Novia tersenyum tipis, hatinya mulai lega akhirnya Irwan bisa luluh hatinya.
" Vi, sana ganti baju dan makan jangan lupa istirahat, lihat kakimu bengkak " Irwan menunjuk kaki Novia yang memang sedikit membengkak.
Novia hanya mengangguk dan beranjak masuk ke kamar untuk mengganti bajunya lalu makan siang.
Selesai makan, Novia tak lupa shalat dzuhur. Saat keluar kamar, dia hanya bisa tersenyum melihat Irwan yang tertidur pulas di kursi lalu dia masuk kembali ke kamar dan naik ke tempat tidur berbaring di samping Camillah yang masih terlelap.
Keesokkan harinya, Pagi-pagi sekali Irwan terbangun tidak seperti biasanya. Novia yang baru saja bangun heran melihatnya.
__ADS_1
" Tumben cepat bangun, ada apa ?"
Dia lalu turun dari tempat tidur dan menghampiri Irwan yang masih asyik dengan lamunannya.
" Tumben bangunnya lebih cepat ?" sembari menyentuh pundak suaminya.
Irwan tersentak dari lamunannya. " Seperti rencana kemarin, hari ini aku mulai kerja." sambil mendongak ke arah Novia yang berdiri di sampingnya.
" Ayo, kita shalat subuh dulu. Sudah lama kan meninggalkan shalat subuh ?" sambil tersenyum tipis menatap suaminya.
Di balas anggukkan dari Irwan, lalu Novia berbalik berjalan masuk di ikuti Irwan dan mereka bersiap - siap shalat subuh.
Setelah shalat subuh Irwan keluar ke halaman, tampak rumah orang tuanya masih sepi pintu rumahpun masih tertutup rapat.
Dia lalu berinisiatif untuk membersihkan mobil sembari menunggu orang tuanya bangun dan keluar.
Tak lama, terdengar suara pintu dibuka Irwan menoleh ke belakang, Bu Mini keluar membawa sapu lidi. Irwanpun menghampiri " Mah, mana kunci mobil ?"
" Di tempat biasa kamu menyimpannya " jawab bu Mini yang menatap heran kearah Irwan yang melangkah masuk.
Irwan keluar membawa kunci mobil kemudian memanaskan mesin dan berjalan masuk kembali ke rumahnya.
" Vi, kamu sudah selesai mandi ? Camillah sudah bangun ?"
Novia yang sedang bersiap-siap pun berbalik, " Camillah sudah siap, aku sebentar lagi juga selesai " jawabnya.
" Iya aku tunggu, biar aku antar kamu dan Camillah ke sekolah."
" Eh bagaimana ceritanya, kan berlawanan arah ?"
" Kamu duluan yang diantar Vi, setelah itu Camillah."
" Sudah selesai, ayo kita sarapan dulu" Novia bergegas keluar kamar menuju dapur Irwan dan Camiilah mengikutinya dari belakang.
Selesai sarapan mereka keluar rumah dan melangkah beriringan kearah mobil.
Sementara bu Mini yang duduk di teras mulai menampakkan gelagat tidak suka dan wajah kesal kearah Novia.
Melihat itu Novia hanya menunduk, sementara Irwan menghampiri ibunya dan berpamitan.
" Kami berangkat dulu mah," namun tak ada jawaban dari bu Mini.
Irwan lalu beranjak meninggalkan ibunya dan berjalan kearah mobil.
__ADS_1
" Ayo Millah naik di depan." Novia membuka pintu dan mengangkat Camillah lalu dia menyusul masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Irwan dia masuk lalu menutup pintu dan mobil perlahan melaju menuju tempat Novia bekerja.