Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Panutan


__ADS_3

Part 22


Sembari menunggu suaminya pulang, Novia memasukkan beberapa lembar pakaiannya dan pakaian Camillah juga kebutuhan lainnya dia berencana menginap dua sampai tiga hari di rumah orang tuanya.


Tak lama deru mesin mobil Irwan terdengar, Camillah yang sedang asyik bermain dengan bonekanya bergegas keluar dan menghampiri.


Irwan mematikan mesin lalu keluar mobil dan berjalan kearah Camillah.


" Assalamu'alaikum cantik " sapa Irwan.


" Wa'alaikumussalam " jawab Camillah.


" Mama, papa pulang kita berangkat sekarang " ucapnya lagi.


Mendengar ucapan Camillah dahi Irwan mengernyit.


" Mau kemana hmm ?" tanya Irwan sambil berjalan masuk di ikuti Camillah di belakang.


" Mau ke rumah ina ( nenek ) nginap di sana pah " jawab Camillah.


Irwan lalu duduk dan di tepuknya kursi kosong di sebelahnya sebagai isyarat meminta Camillah duduk di sampingnya.


" Mama mana ?" tanya Irwan pada putrinya.


" Di kamar pah " sahutnya.


Setelah semua barang bawaan nya siap Novia keluar dan menghampiri suaminya.


" Mandi dulu sayang " titahnya pada Irwan.


" Kata Millah kita mau ke rumah ina ( nenek ) ?" tanya Irwan memastikan ucapan Camillah.


" Iya, sudah lama kita tidak main kesana " jawab Novia.


" Hmm baiklah, aku mandi dulu " ucap Irwan lalu beranjak masuk ke kamar, Novia pun mengikuti suaminya dan menyiapkan handuk dan pakaian bersih untuk suaminya.


Mereka pun berangkat ke rumah Pak Wahyu, setelah beberapa menit perjalanan mereka tiba.


Tampak bu Ratih dan pak Wahyu sedang duduk di teras di temani minuman hangat dan cemilan, mendengar suara mobil mata mereka kompak memandang kearah pekarangan.


Irwan memasukan mobil di garasi dan mematikan mesin, Novia lalu meraih dua buah tas beisi pakaian dan perlengkapan anaknya,sementara Camillah langsung turun dan berlari ke arah kakek dan nenek nya.


Melihat cucunya yang berlari ke arah mereka,bu Ratih berdiri menyambut dan memeluk cucunya.


" Cucuku apa kabar, lama baru bisa ketemu " ucapnya sambil mengelus lembut kepala Camillah dan hanya di jawab senyuman manis dari Camillah.


Novia pun turun dan berjalan masuk di susul Irwan sambil membawa barang-barang Novia.


" Assalamu'alaikum " ucap Novia dan Irwan bersamaan.

__ADS_1


" Wa'alaikumussalam " jawab bu Ratih dan Pak Wahyu.


Novia menghampiri ke dua orang tuanya lalu meraih tangan keduanya dan menciumnya.


" Bagaimana kabar mama dan papa ?" tanya Novia.


" Alhamdulillah baik dan sehat " jawab keduanya.


Irwan pun melakukan hal yang sama, meraih tangan mertuanya lalu menciumnya.


" Wan, tas bawa ke dalam " titah bu Ratih.


" Iya mah " jawabnya.


Novia memilih duduk di samping bu Ratih, sedangkan Camillah duduk di pangkuan pak Wahyu.


Ketika mereka asyik mengobrol adzan maghrib berkumandang mereka lalu bersiap untuk melaksanakan shalat.


" Vi, ayo kita berjamaah " ucap Bu Ratih.


" Iya mah, aku siapkan dulu mukena Camillah dan pakaian Irwan " jawabnya.


Bu Ratih hanya mengangguk kemudian berjalan ke ruang shalat di sana Pak Wahyu sudah menunggu.


Tak lama Novia, Camillah dan Irwan pun menyusul kesana lalu mereka shalat berjamaah.


Selesai shalat bu Ratih berbisik pada Novia "Vi, tadi mama masaknya cuma sedikit cukup untuk berdua sama papa".


" Tidak usah repot memikirkan kami mah, kan bisa makan seadanya dulu " jawabnya.


Novia dan ibunya pun beranjak menuju dapur menyiapkan makan malam.


" Mah, aku mau masak mie rebus saja dulu kalau Camillah bisa makan telur dadar " ucapnya.


" Hmm iya, lain kali kalau mau kesini kabari dulu ya kasian suamimu jadinya makan mie instant" jawab bu Ratih.


" Iya, tadi juga mendadak mah tanpa rencana " ucap Novia lagi memberi penjelasan jangan sampai ibunya merasa bersalah.


" Ya sudah, panggil mereka makan " titah bu Ratih karena makanan sudah siap.


Novia pun kembali ke ruang shalat karena ayah, suami, dan anaknya masih bercengkerama disana.


Makan malam kali ini terasa nikmat karena di temani anak dan cucu mereka setelah lama Pak Wahyu dan bu Ratih selalu makan berdua.


Di usia yang mulai senja, pak Wahyu dan istrinya sekarang hidup berdua, sebab anak-anak mereka semuanya sudah berkeluarga dan telah memiliki rumah hanya sesekali mereka datang berkunjung.


Setelah makan, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tayangan televisi.


"Mah, Camillah sekarang mau punya adik" ucap Irwan sambil melirik ke arah Novia.

__ADS_1


Mendengar itu bu Ratih langsung tersenyum dan berucap "Alhamdulillah, semoga diberi kesehatan, kelancaran sampai lahiran".


" Aamiin yaa Rabb " serentak mereka dalam ruangan menjawab doa bu Ratih.


" Vi, bagaimana dengan pekerjaanmu ?" kali ini pak Wahyu yang bertanya.


" Alhamdulillah sejauh ini masih lancar dan baik pah " jawabnya.


" Hmm, kamu kan sekarang sedang hamil muda apa tidak beresiko menempuh perjalanan kesana ?" tanya pak Wahyu lagi sedikit khawatir.


Sesuatu yang terlupakan bagi Irwan tentang resiko yang akan di alami istrinya.


" Insyaa Allah semuanya akan baik-baik saja pah, mohon doa dari kalian " jawab Novia.


" Papa akan coba hubungi teman papa mungkin bisa membantu pengajuan mutasi."


" Mana yang terbaik menurut papa lah,aku serahkan sepenuhnya sama papa " jawab Novia.


" Besok papa ke rumah nya dan semoga di mudahkan dan di lancarkan " ucap pak Wahyu lagi.


Tak terasa malam pun mulai larut, Camillah yang tadinya asyik bermain dengan neneknya kini tertidur pulas.


Mereka pun mengakhiri obrolan panjang itu dan masuk ke kamar masing-masing, Irwan langsung menggendong Camillah dan meletakkannya di tempat tidur lalu dia dan Novia ikut terlelap hingga pagi.


Keesokkan harinya, Novia bangun dan melaksanakan shalat subuh kemudian menyiapkan sarapan karena hari ini libur Novia dan Camillah tidak beraktifitas seperti biasa.


Selesai sarapan, Irwan berangkat kerja dan Pak Wahyu bersiap menuju rumah temannya sesuai rencana semalam dan tinggal lah mereka bertiga di rumah Novia, bu Ratih dan Camillah.


Selesai dengan segala pekerjaan rumah, mereka pun duduk di kebun belakang rumah berbincang sambil menemani Camillah bermain.


" Vi, semoga perjalanan papa membuahkan hasil ya, semalam sebelum tidur mama dan papa sempat ngobrol lagi" ucap bu Ratih.


" Iya mah, semoga berhasil " jawab Novia.


" Papa khawatir dengan keadaanmu yang hamil harus kerja di tempat yang jauh dan kondisi jalannya juga belum bagus " ucap bu Ratih lagi.


" Iya mah aku paham, cuma ya namanya juga tugas dan tanggung jawab harus di jalani mah bagaimanapun keadaannya " jawab Novia.


" Karena itu papa mencoba mencari solusi agar tugasmu tetap berjalan kondisimu juga tetap terjaga."


" Lalu bagaimana tanggapan mertuamu dengan keadaanmu sekarang ?" tanya bu Ratih.


"Biasa saja mah, beliau juga kan belum tahu seperti apa kondisi tempatku bekerja" jawabnya.


" Tapi suamimu tahu kan ?"


" Iya mah dia tahu, tapi ya mau gimana lagi namanya juga tugas " jawab Novia.


" Itulah sebabnya papa secepatnya menemui temannya biar cepat ketemu solusinya " Ucap bu Ratih.

__ADS_1


" Papa memang ayah, suami, dan kakek terbaik di dunia " jawab Novia.


Dalam hatinya berharap, suaminya juga bersikap sama seperti ayahnya yang selalu bisa di andalkan dalam situasi apapun.


__ADS_2