
Part 27.
Irwan akhirnya menemukan ruangan tempat ayahnya dirawat, dia mengetuk pintu beberapa saat kemudian pintu terbuka tampak Romi yang berdiri di depan pintu, sedangkan ibunya, dan Nanda adik perempuannya sedang duduk di lantai beralaskan karpet.
Irwan masuk dan ikut bergabung bersama mereka, pandangannya beralih ke arah ranjang tempat ayahnya, pak Ahmad tertidur lelap.
" Bagaimana keadaan papa ?" tanya Irwan.
" Masih sama, belum ada perubahan " sahut bu Mini lemah.
" Mama takut, jangan - jangan papa lumpuh " sambungnya lagi.
" Jangan menyerah dulu mah, baru juga berapa jam di sini semua butuh proses " Irwan mencoba menguatkan ibunya.
" Iya kita berdoa semoga kesehatan papa cepat membaik " lanjutnya.
" Kalian sudah makan ?" tanya Irwan lagi.
" Belum." jawab bu Mini singkat.
Sejenak Irwan terdiam, uang di sakunya tersisa 20 ribu mana cukup membeli makanan untuk mereka bertiga.
" Apa aku ke rumah ina tua ya, mungkin mereka punya simpanan uang dan bisa di pinjam dulu " gumamnya dalam hati.
" Tunggu sebentar aku mau keluar dulu " Irwan pamit pada ibunya tanpa memberitahu kemana tujuannya dan di jawab anggukkan bu Mini.
Irwan berjalan ke parkiran rumah sakit, masuk ke mobil lalu menyalakan mesin dan mobil perlahan bergerak menuju rumah neneknya.
Tiba di rumah neneknya Irwan memarkir mobil lalu turun, dengan langkah pasti dia menghampiri nenek dan kakeknya yang sedang bercengkerama di sebuah gazebo mini yang terletak di depan rumah.
Irwan mendekat dan duduk tepat di samping kakeknya.
"Tumben kesini, mana anak dan istrimu sudah lama kami tidak bertemu " tanya neneknya.
" Di rumah ina ( nek ), aku dari rumah sakit " balasnya.
" Siapa yang sakit " sahut kakeknya.
" Papa, tadi pagi tiba - tiba pingsan dan hasil pemeriksaan sementara stroke " jawab Irwan panjang lebar.
Mata kakeknya membelalak karena terkejut mendengar kabar dari Irwan, selama ini hubungan mereka tidak begitu baik karena perlakuan pak Ahmad kepada anak mereka.
Hati orang tua mana yang tega jika anaknya di sakiti.
Melihat reaksi nenek dan kakeknya Irwan ragu mengutarakan niatnya, untungnya kedua orang tua itu jeli dengan situasi.
Si kakek lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus.
" Ini untuk pegangan mamamu di rumah sakit " ucapnya sambil menyodorkan lembaran uang itu.
Irwan pun mengambil uang dari tangan kakeknya dengan perasaan lega karena sesuai apa yang dia harapkan.
" Oh iya, di dapur ada makanan untuk makan siang disana jadi bisa sedikit menghemat biaya " ucap neneknya yang beranjak melangkah ke masuk ke dapur dan di ikuti Irwan di belakang.
Setelah menerima uang dan makanan, Irwan lalu pamit dan bergegas kembali ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit Irwan langsung menyerahkan uang dan makanan pada ibunya kemudian pamit pulang.
Sementara itu dirumah, Novia dan Camillah sudah selesai mandi karena hari menjelang magrib mereka bersiap - siap menunggu adzan maghrib.
__ADS_1
Tak lama suara mobil terdengar masuk ke halaman depan, Camillah langsung beranjak keluar menyambut ayahnya.
" Papaa " teriaknya dari depan pintu.
Irwan melambaikan tangan ke arah Camillah, kemudian turun dari mobil dan berjalan menghampiri anaknya.
" Hmm anak papa sudah wangi, mau kemana ?" tanya Irwan sembari menggendong Camillah masuk ke dalam.
" Millah mau shalat sama mama " sahutnya.
Novia masih diam seribu bahasa, tak ingin memulai percakapan baginya Irwanlah yang harus meminta maaf lebih dulu.
Irwan masuk ke dalam kamar, dia melihat Novia sudah rapi dengan mukenahnya bersiap shalat maghrib. Dia menghampiri istrinya kemudian duduk tepat di depan Novia.
Irwan menatap dalam ke arah istrinya, Novia menunduk dan tanpa aba - aba Irwan langsung memeluknya.
" Maafkan aku Vi, aku salah " ucapnya sambil terus memeluk erat tubuh Novia.
Novia tak menjawab, hanya manganggukkan kepala tanda dia sudah memaafkan.
Kemudian Novia menggeliat melepaskan diri.
" Lepas, aku mau shalat dan harus wudhu lagi " ucapnya sambil melepas mukenahnya dan berlalu melangkah ke tempat wudhu.
Irwan memang pandai meredam kemarahan istrinya, dan malam ini mereka kembali berkomunikasi seperti biasa.
" Tadi kamu pamit mau ke rumah sakit, siapa yang sakit ?" Novia mengungkapkan rasa penasarannya yang tertunda.
" Papa, tadi pagi kena serangan store dan harus di larikan ke rumah sakit " jawab Irwan.
" Apa kami boleh menjenguk papa ?" tanya Novia.
Keesokkan pagi nya Novia bangun, belum sempat dia beranjak tiba - tiba pandangannya kabur kepalanya terasa berat, perlahan dia kembali berbaring.
Irwan yang berada di sampingnya menoleh dan menyadari istrinya sedang tidak baik - baik saja.
" Kamu kenapa ?" sembari menyentuh kening Novia.
Novia menggeleng " kepalaku pusing " jawabnya sambil menutup rapat kedua matanya.
" Kita ke rumah sakit sekarang ?"
" Tidak usah, mungkin hanya pusing biasanya ibu hamil akan mengalami hal seperti ini " jawab Novia.
" Hari ini kamu masuk kerja ?" tanya Irwan.
" Sepertinya hari ini aku izin tidak masuk " jawabnya.
" Tolong kamu antar Camillah ke sekolah ya, biar aku yang jemput sebentar " pinta Novia.
" Iya " balas Irwan lalu beranjak menuju kamar mandi.
" Apa aku terlalu capek ya, atau kurang asupan gizi " gumam Novia dalam hati.
Selama ini Novia memang kurang memperhatikan kesehatannya, bahkan lebih sering makan makanan instant.
Sore hari, tepat pukul empat sore, mereka pun berkunjung ke rumah sakit.
Seperti dugaan Novia, reaksi bu Mini menampakkan wajah tak suka padanya. Namun Novia tak mau mengambil hati, kali ini Novia memilih berpikir positif mungkin ibu mertuanya sedang banyak beban pikiran.
__ADS_1
Setelah beberapa hari mendapat perawatan intensif akhirnya kesehatan pak Ahmad mulai membaik, tubuhnya sudah bisa digerakkan walaupun masih lemah.
" Wan, kamu urus dulu administrasinya tadi mama sudah konsultasi sama dokter dan papa di izinkan pulang " ucap bu Mini sambil menyodorkan kartu Jamkesmas pada Irwan.
Hari ini mereka memutuskan untuk pulang setelah mengurus semua administrasi.
Sementara itu di sekolah Novia kembali beraktifitas seperti biasa.
" Vi, berapa hari yang lalu kamu kemana tidak masuk " tanya Diana ketika mereka di ruang guru.
" Di rumah, tiba - tiba kepalaku pusing pandanganku berkunang - kunang mungkin karena kehamilanku " jawab Novia.
" Oh " sahut Diana.
" Eh aku pulang duluan ya ada yang harus aku selesaikan " Ucap Diana sambil berlalu pergi.
Tak lama pak Rizal datang, di susul guru yang lain.
" Sudah waktunya pulang " ucapnya.
" Kalian boleh pulang duluan, aku mau menyelesaikan laporan bulanan " lalu masuk ke dalam ruangannya.
Novia mengambil tasnya kemudian berdiri di depan pintu ruangan pak Rizal.
" Saya pamit pulang pak " sahutnya.
Pak Rizal mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Novia lalu mengangguk. Novia lalu berbalik dan melangkah keluar.
Tiba di rumah, Novia melihat Camillah yang asyik bermain dengan gurunya.
Dia bergegas menghampiri mereka " Assalamu'alaikum " ucap Novia dan di balas oleh guru tersebut " Wa'alaikumussalam."
" Maaf bu sudah merepotkan karena mengantar dan menemani Camillah menunggu saya pulang " ucap Novia dengan rasa sungkan.
" Oh tidak apa - apa bu, kasihan kalau Camillah di tinggalkan sendirian " jawab guru tersebut.
" Terima kasih bu sudah mau menemani Camillah ."
" Iya sama - sama, kalau begitu saya permisi dulu bu, Millah bu guru pulang dulu ya sekarang mama sudah datang " ucapnya kemudian membelai rambit Camillah dan melangkah pergi.
Novia mengajak Camillah masuk ke dalam dan memintanya mengganti pakaian.
Tak lama berselang suara mesin mobil terdengar, Novia mengintip di balik jendela.
" Tumben cepat pulang " gumamnya.
Saat mobil berhenti, tampak Irwan turun dan di susul bu Mini lalu Irwan naik lagi kemudian memapah pak Ahmad di bantu bu Mini berjalan masuk ke dalam rumah.
" Papa sudah pulang rupanya " gumamnya lagi.
" Kakek sudah pulang mah ?" tanya Camillah yang mendengar gumaman ibunya.
" Iya barusan, kita kesana tapi mama ganti baju dulu ya " balas Novia.
Baru saja Novia akan keluar tiba - tiba terdengar keributan dan dia melihat Irwan yang setengah berlari mengejar seseorang keluar dari pintu gerbang.
Novia bergegas keluar, sekilas dia melihat sosok wanita yang berjalan dengan langkah cepat menjauh di susul Irwan di belakang.
Novia terus berjalan sampai ke pintu gerbang, pandangannya terus tertuju ke arah suaminya yang dengan gerakkan cepat menarik bahu wanita tersebut.
__ADS_1
" Siapa orang itu, kenapa Irwan menariknya dengan kasar ?" seribu tanda tanya dalam pikirannya.