
Part 73
"Ayo, anak-anak semuanya berkumpul." Novia mengumpulkan semua murid untuk mengadakan seleksi.
Diana memandang dari kejauhan, enggan mendekat entah apa alasannya sehingga tidak mau ikut bergabung bersama Novia dan Putra.
"Diana itu kenapa? Padahal Pak Rizal sudah memyuruh kita latihan hari ini," ucap Novia.
"Sudah, biarkan saja. Yang penting sekarang kita sudah melaksanakan tugas kita," sahut Putra.
"Sana, panggil dia ke sini." Novia meminta Putra memanggil Diana, "huuuft, merepotkan." Meski menggerutu Putra tetap berjalan menghampiri Diana.
"Ayo, Bu Guru, anak-anak sudah berkumpul untuk ikut seleksi kita ke sana sekarang," ajak Putra.
Diana beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah Putra, mereka sudah bergabung bersama Novia dan murid-murid yang mengikuti seleksi.
Sudah ada 5 orang murid yang terpilih, Novia menyarankan pada Diana untuk menentukan tema tari serta musik pengiringnya.
Putra bertugas menyiapkan properti yang dipakai pada saat tampil nanti, Novia dan Diana membuat tema sekaligus melatih anak-anak ketiganya bekerja sesuai tugas masing-masing.
"Vi, baju penarinya sudah ada?" tanya Putra saat mereka selesai melakukan latihan.
"Belum, baru mau dibicarakan sama Pak Rizal," sahut Novia.
"Ya, sudah, mumpung Pak Rizal ada di ruangannya sana temui," ucap Putra.
"Ajak Diana, jangan sampai jadi masalah nanti." Novia meminta Putra untuk mengajak Diana, karena dia tidak mau dituduh menyabotase semua tugas.
"Oke, kamu tunggu di sini aku panggil dia di kelasnya." Putra beranjak lalu berjalan menuju kelas Diana.
Putra sudah di depan pintu kelas Diana....
Tok ... Tok
Diana menoleh saat pintu kelas diketuk, Putra berdiri di pintu dan berkata, "Kita temui Pak Rizal sekarang membicarakan masalah kostum."
"Kita?" Diana mengerutkan keningnya.
"Bukannya kamu hanya mengurus properti?" kata Diana ketus.
"Terserahlah, Novia menunggumu." Putra berbalik berjalan meninggalkan Diana dengan perasaan kesal.
Putra mendatangi Novia yang sedang duduk menunggunya, wajahnya masam karena menahan kekesalan.
"Kenapa denganmu?" tanya Novia saat melihat raut wajah Putra.
__ADS_1
"Perempuan satu itu memang menyebalkan!" sungut Putra.
"Memangnya apa yang terjadi? tadi kamu baik-baik saja dari sini," selidik Novia.
"Diana benar-benar membuatku kesal, aku mengajaknya baik-baik dia malah berkata seolah aku tidak dibutuhkan."
"Berkata apa? bicara yang jelas," ucap Novia semakin penasaran.
"Waktu masuk ke kelasnya aku bilang, ayo, kita temui Pak Rizal, jawabannya malah membuat sakit hati."
"Seperti apa jawabannya?"sambar Novia mulai kesal.
"Kita? Bukannya kamu hanya mengurus properti, seperti itu," lanjut Putra.
"Oh, rupanya dia merasa kamu hanya pelengkap. Abaikan saja, yang pasti kita ditunjuk langsung oleh Pak Rizal dan bukan keinginan sendiri," jawab Novia.
"Ayo, kita temui Pak Rizal sekarang, terserah dia mau datang atau tidak biarkan saja." Novia beranjak melangkah menuju ruang guru menyusul Putra di belakangnya.
Keduanya sudah tiba di ruang guru, Putra mengintip ke dalam ruangan Pak Rizal lalu menoleh pada Novia.
"Pak Rizal ada di dalam kita masuk."
Tok ... Tok
Pak Rizal mendongak, "Oh, iya, silahkan."
Putra dan Novia masuk lalu menarik kursi di depan meja kerja Pak Rizal, keduanya tampak canggung dan ragu memulai pembicaraan.
"Bu Novia dan Pak Putra, ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Pak Rizal.
"Iya pak, kami ke sini ingin membicarakan mengenai kostum untuk peserta tari pak," jawab Putra dan Novia ikut mengangguk.
"Ada saran dari kalian?" Balas Pak Rizal.
"Sekolah kita belum memiliki kostum tari, Kalau kita memesan atau membuat sendiri akan memakan waktu pak." Novia menjelaskan pada Pak Rizal tentang pengadaan kostum tersebut.
Pak Rizal mengetuk-ketuk mejanya, berpikir sejenak kemudian muncul ide di pikirannya.
"Kalau begitu, kita menyewa saja Bu Novia bisa kan mencari tempat penyewaan kostum tari?"
"Insyaa Allah bisa pak, nanti saya coba hubungi saudara saya." Novia langsung teringat kakaknya Riska yang punya banyak kenalan.
Saat mereka sedang berbincang, Diana tiba-tiba masuk.
"Maaf, saya terlambat, Bagaimana dengan kostumnya apa sudah siap?" tanya Diana.
__ADS_1
Putra menunduk, " dasaarr perempuan bermuka dua, tadi kamu marah-marah sekarang berpura-pura baik," gumam Putra dalam hati.
"Duduk dulu Bu Diana itu kursinya, tadi kami sudah membicarakan," ucap Pak Rizal.
Diana tersenyum masam, ucapan Pak Rizal membuatnya tersindir kemudian dia menarik kursi di samping Putra dan ikut duduk berjejer bersama kedua temannya.
"Baiklah, saya akan menyampaikan kembali kepada Bu Diana hasil pembicaraan tadi, karena sekolah ini belum memiliki kostum maka untuk kali ini kita akan menyewa."
"Bu Novia akan menghubungi kakaknya dan meminta tolong, Bu Diana juga bisa ikut dengan Bu Novia.," lanjut Pak Rizal lagi.
Diana hanya mengangguk, dalam hatinya mengumpat tidak terima tugas itu diberikan pada Novia.
"Baiklah, kita akhiri pembicaraan kita satu jam lagi waktunya pulang silahkan kembali ke kelas masing-masing." Pak Rizal menyudahi perbincangan mereka.
Ketiga guru tersebut meninggalkan ruangan Pak Rizal, Diana melewati Novia dan Putra raut kesal tampak dari wajahnya.
Novia dan Putra saling pandang, keduanya hanya tersenyum kemudian berlalu keluar.
Sembari menunggu bel pulang, kedua sahabat itu duduk di bawah pohon di pekarangan sekolah.
"Putra, akhir-akhir ini Diana semakin aneh atau hanya perasaanku saja?" ucap Novia.
"Hehe, jangan diambil hati Vi dia hanya iri," sahut Putra
"Sebagai teman aku merasa tidak enak hati, terlebih lagi kita bekerja di tempat yang sama rasanya aneh kalau harus bermusuhan." Novia membuka bungkusan camilan di tangannya lalu menyodorkan pada Putra.
"Sama, aku juga bingung melihat sikapnya tapi kita juga tidak bisa memaksa orang lain menyukai kita," ucap Putra sambil mengunyah camilan di mulutnya.
"Iya, benar katamu tapi membuatku jadi tidak nyaman dan aku bertanya-tanya sebabnya apa?" sahut Novia.
"Seperti ucapanku tadi, Diana iri padamu apalagi selama ini Pak Rizal selalu bersikap baik padamu. Siapapun pasti akan iri melihatnya."
"Pak Rizal baik pada semua orang, jangan berburuk sangka pada beliau." Novia membantah pernyataan Putra yang mengatakan Pak Rizal hanya baik padanya.
"Putra, dulu hubunganku dengan Diana sangat dekat tapi sekarang dia berubah, jujur sebagai teman aku sayang sama dia dan berharap hubungan kami kembali seperti dulu."
"Coba kamu ingat-ingat, mungkin kamu pernah menyakiti dia entah itu sengaja atau tidak?"
"Seingatku tidak pernah, harusnya pertanyaan itu kamu tujuan pada dia. Putra kamu ini aneh." Novia menepuk punggung tangan Putra.
"Hehe, sakit Vi. Jangan-jangan kamu juga kasar sama suamimu?" kekeh Putra sambil tersenyum jahil.
"Sembarangan kamu, Novia Andini itu wanita penyayang. Tahu kamuu??" Novia mengangkat wajahnya lalu tergelak.
Tak lama kemudian bel pulang berbunyi, Novia beranjak menjemput Camillah di kelasnya lalu mereka pulang, demikian pula dengan Putra.
__ADS_1