
Part 91
Jam lima pagi, Novia bangun dan shalat subuh dilanjutkan dengan membangunkan anak dan suaminya.
Adiba merengek karena dipaksa bangun, sedangkan Emir masih mengucak matanya.
"Vi, tega sekali kamu memaksa anak-anak bangun."
"Petugas kebersihan sebentar lagi datang Wan, dari pada kalian diusir kan lebih kasihan lagi," sahut Novia
Dengan langkah malas, Irwan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri. Tak lama kemudian dia keluar dan mengajak ketiga anaknya pulang ke rumah.
Novia menemani anak dan suaminya ke parkiran rumah sakit, Irwan menggendong Adiba dan Novia menggendong Emir sambil memegang tangan Camillah.
Sampai di parkiran, sebelum masuk ke dalam mobil Novia memberi pesan pada Camillah sebagai anak tertuanya.
"Millah temani adik-adik di rumah ya, mama sementara waktu menginap di sini sampai ina sembuh."
"Ayo, sini, anak-anak mama salim dulu," ucap Novia sembari menyodorkan tangan pada ketiga anaknya.
Ketika Adiba dan Emir menyalami, Novia juga memberi pesan pada kedua anak tersebut.
"Diba dan Emir nurut ya sama kakak, jangan bandel dan rewel."
Kedua bocah itu pun hanya mengangguk menuruti ucapan ibunya, Novia tersenyum geli melihat tingkah mereka yang terlihat lucu.
"Kami pulang dulu, besok kami ke sini lagi," pamit Irwan.
Mobil perlahan bergerak, Novia melambaikan tangan dan dibalas pula oleh ketiga anaknya dari dalam mobil.
Novia menatap mobil suaminya sampai hilang dari pandangan, kemudian dia masuk kembali ke dalam ruangan ibunya.
Sampai di dalam, ternyata Bu Ratih sudah terbangun duduk bersandar di kepala ranjang.
"Dari mana?" tanya Bu Ratih
"Mengantar anak-anak ke parkiran mah," jawab Novia
"Semalam mereka tidur di sini?"
"Iya, mama tertidur sangat pulas efek obat," sahut Novia.
"Iya, makanya pagi ini mama merasa lebih segar dari biasanya."
__ADS_1
"Mama jangan terlalu banyak pikiran, akan berpengaruh pada kesehatan mama nanti."
"Oh, iya, sarapan mama sudah siap rupanya, aku suap ya," tawar Novia ketika melihat nampan berisi sepiring bubur hangat dan sepotong buah pepaya yang diletakkan di atas nakas.
Bu Ratih menganggukkan kepalanya tanda setuju, melihat tingkah ibunya Novia merasa bagaikan merawat seorang balita yang menuruti perkataannya.
"Semoga mama cepat sembuh, bisa ceria kembali seperti dulu dan bermain bersama cucu," batin Novia saat menyuapi ibunya.
Tak lama kemudian, dokter datang untuk melakukan pemeriksaan. Bu Ratih menyampaikan keluhan-keluhan yang dia alami.
"Untuk sementara ibu istirahat di sini, kalau gula darahnya sudah normal kembali ibu boleh pulang," kata dokter.
"Makanan apa yang tidak boleh ibu konsumsi dok?" tanya Novia.
"Tidak perlu berpantangan, makan sesuatu secukupnya saja jangan sampai berlebihan itu tidak baik untuk kesehatan."
"Porsi makannya dikurangi, usahakan lebih banyak makan buah dan sayur. Poin pentingnya jangan stres," jawab dokter panjang lebar memberi penjelasan pada Novia.
Dokter tersebut menyodorkan secarik kertas pada Novia, "ini resepnya, nanti ibu tebus di apotek."
"Terima kasih dok."
Novia mengambil kertas tersebut dari tangan dokter, berisi coretan-coretan yang sulit dimengerti.
"Mah, aku tinggal sebentar mau ke apotek. Kalau mama butuh sesuatu pencet tombol ini nanti perawat akan datang membantu mama," ucap Novia sambil menunjuk tombol yang ada di samping ranjang ibunya.
Bu Ratih mengangguk
Novia berlalu meninggalkan ibunya di kamar, wanita itu bergegas menuju apotek karena sudah bisa dipastikan di sana akan ramai dan antriannya panjang.
Lama menunggu, akhirnya giliran no antrian Novia yang dipanggil untuk mengambil obat. Setelah mendapatkan obatnya Novia kembali ke ruangan ibunya.
Novia membuka pintu dan masuk, dalam ruangan sudah ada Riska yang menemani ibunya. Novia meletakkan obat ke atas nakas lalu duduk beristirahat.
"Sudah lama kak?" tanya Novia.
"Kurang lebih satu jam," sahut Riska.
"Siapa yang mengabari kakak?"
"Suamimu, tadi pagi dia mampir ke rumah kakak dan bilang kalau mama di rawat di sini."
"Padahal aku tidak menyuruhnya, bahkan tadi pagi aku lupa mengatakan padanya," batin Novia
__ADS_1
"Oh, syukurlah," jawab Novia.
Mereka pun berbincang banyak hal, membahas mengenai penyakit ibunya juga masalah pekerjaan mereka.
"Vi, maaf ya, kakak belum bisa menemanimu di sini kalau malam. Akhir-akhir ini kesehatan kakak juga kurang baik," kata Riska.
"Iya, kakak sebaiknya jaga kesehatan biar aku saja yang mengurus mama di sini."
Sore harinya ....
Riska berpamitan pulang, tinggallah Novia dan ibunya di dalam ruangan.
"Vi, mama ingin pulang," ucap Bu Ratih
"Mama kan baru sehari di sini, kenapa minta pulang?"
"Mama tidak betah, lagi pula mama rasa kesehatan mama sudah pulih." Bu Ratih memasang wajah memelas agar Novia mengabulkan keinginannya.
"Kita tunggu hasil pemeriksaan besok, kalau dokter memberi ijin kita pulang, tapi kalau hasilnya masih sama kita bertahan dulu di sini," jawab Novia
Bu Ratih memalingkan wajah, jauh di lubuk hatinya merasa iba melihat Novia yang kelelahan mengurus dan merawarnya seorang diri.
Novia mendekat lalu mengusap tangan ibunya, sepertinya ibunya sedang memikirkan sesuatu dan Novia berusaha untuk menghiburnya.
"Mah, ingat kata dokter, mama harus menhindari stres. Jangan terlalu banyak pikiran mah supaya penyakit mama cepat sembuh dan kita bisa pulang ke rumah," bujuk Novia.
"Vi, kamu pulang saja, di sini banyak perawat yang akan mengurus mama. Kasihan anak-anakmu di rumah." ujar Bu Ratih tanpa melihat pada Novia.
"Astaghfirullah, rupanya itu yang mama pikirkan, aku kan sudah bilang mah ada Irwan yang mengurus anak-anak mama jangan khawatirkan mereka," ucap Novia.
Bu Ratih merenung sejenak, ucapan Novia memang benar tapi dia juga tidak tega melihat Novia sendirian mengurusnya.
"Mah, kapan lagi aku bisa merawat orang tua. Sudah cukup aku kehilangan papa yang pergi dengan cara tiba-tiba, aku tidak mau menjadi anak durhaka yang menyia-nyiakan orang tua."
Mata Novia berkaca-kaca, terbayang kembali detik-detik kepergian ayahnya yang begitu mendadak bahkan tanpa meninggalkan pesan apapun.
Novia berjalan masuk ke dalam kamar mandi, memutar keran air agar ibunya tak mendengar isak tangisnya di dalam.
Novia sesegukan, air matanya mengalir deras tak tertahankan. Kerinduan pada ayahnya tiba-tiba membuncah membuatnya menagis pilu di dalam kamar mandi.
Puas menumpahkan kesedihannya, Novia mencuci mukanya sebab dia tidak mau sampai ibunya tahu apa yang terjadi dengannya.
Novia keluar dari kamar mandi, sengaja mencari kesibukkan dengan membereskan kamar. Sesekali dia melirik ke arah ibunya yang berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
Bu Ratih memejamkan mata, menyimpan kerinduan yang mendalam pada suaminya. Saat seperti ini sosok suaminya lah yang dia butuhkan untuk mendampinginya.