
Part 63
Esok paginya, Novia bangun untuk shalat subuh rumah sepi semua penghuninya masih tidur, dia membangunkan Irwan dan menyuruhnya shalat.
" Papa butuh doa dari anak-anaknya, sia-sia tangisan kalian kalau pada akhirnya tak satupun anaknya yang mengirim doa."
Masih setengah sadar Irwan mengikuti langkah istrinya membersihkan diri dan berwudhu, setelah mencuci muka barulah kantuknya hilang.
Pasangan itu shalat berjama'ah di kamar, selesai salam Irwan berdoa menyelipkan nama ayahnya dan sedihnya justru saat sang ayah sudah tiada. Tubuhnya bergetar menahan isak.
Novia yang melihat tubuh suaminya bergetar, dia maju dan merangkul suaminya mengusap lembut punggung lelaki yang sudah tujuh tahun ini menemani hidupnya. Irwan menoleh saat merasakan usapan tangan istrinya.
" Vi, aku banyak salah sama papa bagaimana caranya meminta maaf ?"
" Doakan, dan dan jadilah anak yang baik untuk papa."
" Aku merasa belum puas berbakti, bahkan lebih sering membuat papa kecewa."
" Sudah, jangan bersedih kan masih ada mama yang akan menjadi tanggung jawabmu sebagai anak laki-laki tertua." Ucap Novia dan dibalas anggukan Irwan.
Novia lalu melepas mukenahnya dan meminta Irwan menemaninya ke dapur, sebelum berangkat kerja Novia menyiapkan sarapan terlebih dahulu seperti kebiasaan di rumah orang tuanya.
" Wan, kalau anak-anak bangun tolong bantu aku ya mengurus mereka, Camillah sudah bisa mandi sendiri kalau Diba harus dimandikan Emir biar aku sendiri yang mengurusnya."
" Kamu masuk kerja hari ini ? Anak-anak bagaimana ?"
" Emir aku titip sama mama, kalau Diba ikut aku ke sekolah tidak mungkin kan aku titip mereka di sini ? Mama masih berduka Wan."
" Aku ikut saja, mana yang terbaik menurutmu asal tidak merepotkan mama dan papa di rumah."
" Insyaa Allah mama dan papa akan senang kalau Emir dititip sama mereka." Sahut Novia.
Sarapan sudah siap, anak-anak Novia juga sudah bangun mereka berbagi tugas mengurus anak sesuai permintaan Novia.
Bu Mini masih betah mengurung diri di kamarnya, meskipun dia sudah bangun tapi belum mau keluar dari kamar.
Setelah selesai melakukan tugasnya Irwan membawa anak-anaknya ke ruang tamu karena Novia masih membereskan dapur yang berantakan dan mencuci piring kotor bekas sarapan.
" Millah, temani dedek Diba di sini ya mama masih mencuci piring di dapur." Ucapnya sambil menggendong Emir.
Tak lama Novia muncul dari dapur dan menghampiri anak dan suaminya.
" Mama belum keluar dari kamar Wan ?"
" Iya, aku belum melihat mama keluar."
" Dari semalam mama belum makan, coba kamu bujuk dulu."
__ADS_1
Irwan menyerahkan Emir pada Novia, lalu dia berjalan menuju kamar ibunya.
Tok ... Tok ... Tokk
" Mah, boleh aku masuk ?"
Hening
Tak ada jawaban dari dalam, Irwan mengetuk kembali pintu untuk kedua kalinya barulah terdengar suara.
" Ya masuklah."
Irwan membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam, tampak bu Mini berbaring dan menghadap ke arah dinding kamar membelakangi Irwan.
Irwan mendekat kemudian duduk di sisi ranjang, dia mengelus tangan ibunya.
" Mah, sarapan dulu nanti mama sakit."
" Mama belum lapar Wan."
" Tapi sejak semalam mama belum makan."
Bu Mini tak menjawab, jangankan untuk makan berbicarapun dia enggan separuh jiwanya serasa ikut bersama suaminya. Meskipun dulu semasa hidup suaminya selalu menyakiti tapi kebersamaan mereka selama puluhan tahun membuatnya tetap merasa kehilangan.
" Mah, makan dulu aku temani mama ya atau aku bawa ke sini makanannya ?"
" Jangan menyiksa diri seperti ini mah, papa sudah tenang sekarang setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit yang menyiksanya. Kalau mama seperti ini papa akan sedih, kumohon mah."
Bu Mini berbalik dan menatap Irwan, permohonan anaknya membuat hatinya sedikit tersentuh dan luluh.
" Mama mau makan di sini." Ucapnya.
Irwan tersenyum lalu bangkit dan berjalan keluar menuju dapur mengambil makanan, dia tak mau menunda takut ibunya berubah pikiran.
Irwan bergegas kembali, sebelum masuk ke kamar ibunya dia ke ruang tamu menemui istrinya yang menunggu di sana.
" Vi, tunggu sebentar aku bawa makanan untuk mama."
Novia mengangguk, kemudian Irwan masuk ke dalam kamar dan meletakkan nampan berisi piring dan segelas air di atas meja.
" Mah bangun, makanannya sudah aku bawa ke sini."
Bu Ratih pun duduk, sudut matanya melirik ke arah piring meminta Irwan untuk mengambilkan makanan tersebut.
" Aku suap ?" tawar Irwan.
" Tidak, mama mau makan sendiri." Balas Bu Mini sambil menggeleng.
__ADS_1
" Mah, hari ini aku dan Novia masuk kerja anak-anak akan dititip pada mertuaku. Ada Romi dan Nanda yang akan menemani mama di sini."
" Hmm." Sahut Bu Mini sambil terus mengunyah makanannya.
Setelah ibunya selesai makan, Irwan membawa kembali piring kotor bekas ibunya makan ke dapur lalu dia berpamitan mengantar anak dan istrinya.
Sebelum berangkat, tak lupa dia menitip pesan pada kedua adiknya untuk menemani ibu mereka.
Seminggu berlalu...,
Bu Mini sudah kembali beraktifitas seperti biasa, kesedihannya berangsur hilang hanya saja sekarang dia lebih banyak diam.
Irwan dan istrinya juga sudah kembali ke rumah mertuanya, alasan mereka tak bisa berlama-lama tinggal di rumah orang tua Irwan karena Novia kerepotan setiap pagi harus menitip anaknya terlebih dahulu baru berangkat kerja dan dia selalu terlambat masuk kerja.
Sore ini Irwan pulang lebih cepat, wajahnya terlihat kesal. Novia tak mau bertanya dan lebih memilih menunggu suaminya sendiri yang menceritakan apa yang membuatnya kesal.
Irwan masuk ke dalam kamar, Novia menyusul suaminya sambil menggendong Emir.
Irwan duduk di ranjang, dia merebahkan tubuhnya yang lelah di tambah lagi beban pikiran setelah mendapat kabar dari tantenya Lili.
Novia mendekati suaminya, berharap suaminya mau menceritakan masalah yang dialaminya.
" Vi, tadi aku ketemu tante Lili."
Dia diam sejenak lalu melanjutkan perkataannya.
" Mama sudah menjual tanah dan rumah yang kita tempati."
Mata Novia membelalak, namun dia menahan diri untuk berkomentar membiarkan suaminya melanjutkan ceritanya.
" Aku kecewa sama mama, walaupun bukan aku yang membangun rumah itu tapi aku juga punya hak atas warisan yang di tinggalkan papa."
" Seharusnya mama membicarakan dulu padaku, aku merasa tak dianggap dan tak di hargai sebagai anak yang tertua." Lanjutnya lagi.
" Mungkin mama butuh uang." Balas Novia mencoba berpikir positif dan bersikap netral.
" Vi, uang hasil penjualan tanah itu di bagi tiga mama, Romi, dan Nanda lalu aku dianggap apa ?"
" Wan, jangan dulu mengambil kesimpulan sebaiknya tanyakan langsung pada mama."
" Sebelum kesini aku sudah menemui mama, dan jawabannya bikin aku sakit hati Vi."
" Kata mama, adik-adikku lebih membutuhkan tapi kan aku juga berhak Vi aku ini anak kandung mereka yang juga punya hak atas warisan itu."
" Sabar Wan, nanti Allah akan menggantikan lebih dari itu semua tidak usah meributkan masalah harta kasihan papa."
Novia tak ingin suaminya ribut berebut harta, walaupun jauh di dasar hatinya dia juga kecewa dengan sikap bu Mini yang berbuat tidak adil pada anaknya sendiri.
__ADS_1