
Part 40
Novia memutuskan pulang dengan mengendarai motornya meninggalkan Irwan sendirian yang masih membereskan rumah.
Beberapa menit kemudian Novia sudah sampai di rumah orang tuanya, memarkir motor di garasi dan masuk ke dalam rumah.
Bu Ratih yang duduk di teras menatap heran melihat Novia masuk berjalan melewatinya dengan langkah malas.
Dia menoleh pada suaminya " kenapa anakmu pah ?" berbicara tanpa mengeluarkan suara hanya dengan gerakan mulutnya.
Pak Wahyu mengangkat kedua bahunya dan menggeleng sebagai isyarat, bu Ratih pun tak melanjutkan pembicaraan.
Novia langsung ke kamar, di dalam ayunan bayinya masih tertidur lelap, sedangkan Camillah menonton kartun kesukaannya.
Novia sengaja menitipkan kedua anaknya pada ayah dan ibunya, dengan begitu dia lebih mudah beralasan agar cepat pulang.
Karena bayinya masih tidur, Novia memilih mandi menyegarkan tubuhnya setelah selesai dia keluar menemui anaknya.
" Millah sudah mandi ?"
" Sudah tadi sama ina " jawab Camillah, tapi matanya tetap fokus pada tontonannya.
" Hmm bagus, anak mama makin pintar sekarang " begitulah Novia, dia selalu memberikan pujian-pujian kecil pada anaknya ketika melakukan sesuatu yang menurutnya baik.
" Mama mau keluar di teras, Millah ikut ?"
" Tidak mah, Millah mau nonton "
" Hehe, dasar anakku kalau lagi nonton pasti betah," gumamnya di selingi kekehan dan berlalu pergi.
Novia sudah duduk di sebelah ibunya dan mengambil sepotong pisang goreng di piring yang ibunya suguhkan.
" Tadi perginya berdua, kenapa pulang sendiri suamimu kemana ?" tanya bu Ratih.
" Masih bereskan rumah yang berantakan kayak kapal pecah " balasnya sembari mengunyah makanan di mulutnya.
" Tapi kalian sudah menemui mertuamu kan, lalu apa komentarnya ?" bu Ratih mulai memancing.
" Jawabannya iya "
" Hah, cuma itu ? Tidak ada komentar yang lain ?"
Novia menggeleng...
" Acaranya sudah pasti minggu depan, atau waktunya di ganti ?"
" Sudah fix mah, tidak akan di rubah karena masa cutiku hampir habis."
" Hmm ya sudah kalau memang waktunya minggu depan, sebaiknya segala sesuatunya harus dipersiapkan mulai sekarang."
" Undangan, menu makanannya, dan jangan lupa kamu juga undang kakak-kakakmu."
" Iya mah, aku sudah punya list nama orang yang akan di undang dan juga menu yang di siapkan."
" Syukurlah, oh iya sudah maghrib kita masuk ke dalam." kemudian bu Ratih bangkit berjalan masuk Novia dan ayahnya menyusul di belakang.
__ADS_1
Jam sepuluh malam Irwan tiba di rumah mertuanya, dia memarkir mobilnya di garasi rumah sudah tampak sepi karena penghuninya sudah tertidur.
Dia mengetuk pintu dan memanggil nama iatrinya, tak lama Novia keluar membuka pintu dan berbalik masuk kembali ke kamar. Irwan mengikuti langkah istrinya.
Sampai di kamar Irwan naik di tempat tidur berbaring di sebelah Camillah, kemudian bangun dan membuka ayunan lalu membelai pipi bayi mungil itu.
Merasa terusik dengan sentuhan ayahnya, bayi Adiba bergerak menggeliat Irwan tersenyum tipis melihatnya.
" Jangan di ganggu tidurnya Wan, dia beda sama kakaknya."
Irwan menoleh kearah Novia " beda apanya ?"
" Dia rewel, apalagi kalau tidurnya terganggu."
" Oh aku baru tahu " Irwan mundur ke belakang lalu ikut duduk di samping istrinya.
" Vi, bagaimana menurutmu kalau namanya di ganti ?"
" Maksudnya ?" mata Novia memicing.
" Iya nama Adiba di ganti "
" Eh, sukma itu artinya apa ?" lanjut Irwan.
" Sukma arti jiwa " jawab Novia.
" Oh artinya bagus, kita ganti ya nama Adiba dengan Sukma."
" Kamu ini kenapa ? Tiba-tiba mau mengganti nama anak "
Novia pun naik ke atas ranjang berbaring hingga terlelap.
Esok paginya setelah suami dan anaknya berangkat, Novia mengurus bayinya memandikan lalu menyusuinya dia kemudian menitipkan lagi bayinya pada ibunya.
" Mah, aku mau ke rumah kak Riska dan kak Randi mau mengundang mereka titip sebentar Adiba ya."
" Iya, sekarang bayinya di mana ?"
" Di kamar mah sudah tidur, aku cuma sebentar."
Kemudian dia keluar berjalan ke garasi, dia menaiki motornya perlahan menuju rumah kakaknya.
Undangan sudah di sebar, caterhing dan yang lainnya semua sudah siap. Dan waktu yang di tetapkan pun tiba.
Novia menyiapkan semua dengan penuh semangat, siang itu tamu undangan mulai berdatangan. Pak Wahyu duduk menemani para undangan, sedangkan bu Ratih sibuk menyiapkan beberapa macam kue yang ikut di hidangkan sebagai makanan penutup.
Tampak Irwan yang berjalan mondar-mandir, pandangannya terus tertuju ke arah pintu gerbang. Rupanya dia sedang menunggu kedatangan orang tua dan keluarganya.
Novia yang melihat suaminya gelisah mendekat.
" Wan, masuklah acaranya akan dimulai." Irwan berbalik.
" Iya masuklah dulu, aku akan menyusul " jawabnya.
" Tega ya kalian semua, Diba cucu kalian darah dagingku anak kandung mama dan papa."
__ADS_1
Dengan langkah gontai dan wajah sedih Irwan berjalan masuk.
Ternyata bu Ratih diam-diam memperhatikan menantunya sejak tadi gelisah dan masuk ke dalam rumah dengan wajah sedih.
Dia menghampiri Novia yang duduk di ruang keluarga yang sedang memangku bayinya, banyak tamu yang memang sengaja masuk ke ruang keluarga menemui Novia untuk memberi ucapan selamat.
Bu Ratih mendekat dan berbisik di telinga Novia " Vi, mertua dan keluarga suamimu belum datang ?"
" Belum mah, sepertinya mereka tidak akan datang " Novia balas berbisik pada ibunya.
Hingga acara selesai dan tamu undangan semuanya pulang, tak seorang pun keluarga Irwan hadir.
Sejak acara di mulai bahkan sampai selesai mata Irwan terus mencari keberadaan keluarganya, dia tak bisa menyembunyikan kesedihan di wajahnya.
Namun berbeda dengan Novia, dia justru berharap sebaliknya mertuanya tak datang meskipun ada sedikit rasa iba dalam hatinya melihat wajah suaminya.
" Maaf, kalau boleh jujur aku justru senang orang tuamu tidak hadir Wan, mungkin jahat tapi hati kecilku tak bisa berbohong aku tak mengharapkan mereka datang " gumamnya dalam hati saat melihat Irwan duduk termenung.
" Mah, tolong gendong Adiba "
" Bu Ratih mengambil bayi dalam gendongan Novia " dia tahu Novia akan menghibur Irwan yang terlihat sedih.
Novia berdiri di samping suaminya, Irwan menoleh " Vi, Adiba juga cucu mereka tapi kenapa tak pernah dianggap."
" Sudahlah jangan sedih, kan ada tata dan inanya yang selalu ada untuk mereka ."
" Beda Vi, bagaimanapun aku juga ingin anakku mendapat kasih sayang dan perhatian dari nenek dan kakeknya yaitu orang tuaku " pandangan Irwan menerawang.
" Mereka tak kekurangan kasih sayang, banyak orang yang menyayangi anak-anakku " Hati Novia menangis mengucapkan kalimat itu.
" Ayolah Wan, lebih baik kamu mandi biar tubuh dan pikiranmu kembali segar " lanjutnya lagi.
" Baiklah, aku mandi dulu " Irwan bangkit dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Sementara mata bu Ratih terus memandang dari jauh, Riska yang duduk di sebelah ibunya pun bicara.
" Kemana orang tua Irwan tak kelihatan mah, apa mereka tidak datang ?"
" Iya, seperti yang kamu lihat kan mereka tidak hadir padahal ini acara aqiqah cucu mereka."
" Hmm keluarga aneh " celetuk Riska.
" Stttts, jangan ngomong seperti itu !!" sambar pak Wahyu.
Riska dan bu Ratih tersenyum masam.
" Hehe habisnya kesal pah, hari spesial cucunya sendiri malah tidak mau datang " jawab Riska
" Biarkan saja, nanti orang lain yang menilai kita cukup diam " balas pak Wahyu lagi.
Novia datang menghampiri orang tua dan saudaranya lalu duduk.
" Vi, mertuamu itu aneh bin ajaib sama cucu sendiri kayak benci."
" Riskaaa !!" suara pak Wahyu meninggi dan Riska langsung terdiam tak bisa melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1