Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Tamu Dadakan


__ADS_3

Part 70


Satu tahun kemudian ....


Hari minggu pagi, Novia mencuci pakaian tak ketinggalan pakaian kedua orang tuanya juga. Sejak Novia tinggal bersama orang tuanya Bu Ratih tak pernah lagi mencuci pakaian sendiri semua sudah diambil alih Novia.


Saat menjemur pakaian di belakang rumah, Bu Ratih muncul memanggil Novia.


"Vi, ada yang mencari suamimu di luar."


"Siapa mah?" tanya Novia.


"Mama tidak tahu, mungkin temannya sesama sopir sana temui dulu." Bu Ratih mengambil alih pekerjaan Novia melanjutkan menjemur pakaian.


Novia beranjak melangkah masuk untuk menemui tamu suaminya, sebelum menemui tamu Novia mengintip orang yang ada di ruang tamu Novia memutar bola matanya mengingat-ingat sepertinya dia pernah bertemu pria yang duduk di ruang tamu itu.


Novia perlahan berjalan keluar menghampiri sang tamu, orang itu belum menyadari kehadiran Novia karena sibuk dengan ponselnya.


"Bapak siapa?" sapa Novia.


Pria itu terperanjat mendengar suara Novia, Novia mendekat pria itupun berdiri lalu menyalami Novia.


"Saya Fahrul, teman Irwan," ucapnya memperkenalkan diri.


"Oh, teman suamiku ada yang bisa dibantu pak?" tawar Novia


"Saya ke sini mencari Irwan, apa dia ada di rumah?"


Novia duduk tepat di kursi tepat di hadapan tamunya, tatapannya tajam menelisik kemudian dia menjawab pertanyaan orang tersebut.


"Irwan tidak ada, sudah berangkat kerja." Novia tak bisa lagi menahan rasa penasarannya hingga diapun bertanya pada Fahrul.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Sebelum menjawab pertanyaan Novia, Fahrul tersenyum tipis, "seingatku, dulu kita pernah bertemu di kantin kampus."


Novia terdiam, memorinya memutar kembali peristiwa beberapa tahun silam dan menari-nari di ingatannya.


"Oh, iya, aku sudah mengingatnya." Novia tidak melanjutkan kata-katanya karena akan menyakiti dirinya sendiri, kecurigaan Novia tiba-tiba muncul.


"Kenapa mencari suamiku?" suara Novia mulai terdengar dingin dan datar.


"Maaf, sebenarnya saya ingin bertemu langsung dengan suamimu," sahut Fahrul.


"Sampaikan saja keperluanmu jangan membuatku berpikir macam-macam," desak Novia kesal.


"Baiklah, karena kamu yang memaksaku maka akan aku katakan sekarang. Irwan meminjam uang padaku dan aku ke sini mau menagih."


"Hutang apa, kapan, berapa?" cecar Novia.

__ADS_1


"Tenang, jangan emosi biar aku jelaskan." Fahrul melihat jelas kepanikan Novia yang menoleh kanan dan kiri seperti takut ada yang mendengar.


"Irwan meminjam uang padaku saat papanya dirawat di rumah sakit," ucap Fahrul.


"Irwan tidak mengatakan padaku,"


"Waktu itu Irwan terdesak, papanya butuh biaya pengobatan lalu dia datang padaku meminta bantuan," jelas Fahrul.


"Berapa hutang suamiku?" tanya Novia


"Satu juta,"


"Baiklah, besok kita ketemu dan kumohon jangan datang lagi ke sini aku tak mau orang tuaku sampai tahu masalah ini." Novia meminta Fahrul bertemu di tempat lain dan Fahrul menyetujuinya.


"Pergilah, besok tunggu kami di kantin kampus." Novia mengusir Fahrul karena takut ayah dan ibunya mendengar percakapan mereka.


Fahrul pamit, berlalu meninggalkan kediaman orang tua Novia dan menunggu esok hari bertemu dengan pasangan suami istri itu.


Novia sudah tidak sabar menunggu suaminya pulang, ingin menanyakan kebenaran cerita yang dia dengar.


Malam hari, anak-anak Novia sudah tidur Bovia melirik jam weker sudah hampir jam sepuluh belum ada tanda-tanda suaminya pulang.


Novia keluar kamar, kedua orang tuanya sudah tidur rumah. Untuk menghilangkan sepi dia menyalakan TV tapi pikirannya tertuju pada Irwan.


Tak lama kemudian, deru mesin terdengar di luar Novia mematikan TV lalu keluar menyambut suaminya.


Irwan turun dari mobilnya, berjalan menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam," sahut Novia menyusul suaminya masuk.


Pasangan suami istri itu sudah ada di dalam kamar, Irwan melepas bajunya dan memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.


"Mau mandi dulu atau mau langsung makan?" tanya Novia.


"Aku mandi, tadi sudah makan sama teman," balas Irwan kemudian masuk ke kamar mandi.


Novia menyiapkan pakaian bersih untuk suaminya, keinginan bertanya dia tahan dulu sembari menunggu suaminya mandi.


Irwan sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Novia menyodorkan pakaian bersih lalu duduk di atas karpet.


Selesai berpakaian, Irwan menghampiri istrinya kemudian berbaring menggunakan paha Novia sebagai bantal.


"Wan, tadi pagi ada temanmu datang kesini." Novia memulai perbincangan.


Sontak Irwan bangun lalu duduk menghadap istrinya, wajahnya berubah pias dan juga terlihat gusar.


"Kamu kenal?" tanya Irwan


"Tidak, tapi dia menyebutkan namanya Fahrul." Novia memiringkan kepala dan menatap tajam suaminya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba berbohong padaku Wan, aku akan marah besar kalau itu terjadi," batin Novia.


"Apa yang dia katakan padamu Vi?"


"Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya datang mencarimu," pancing Novia berharap suaminya mau berkata jujur.


"Oh, mungkin dia merindukanku," seloroh Irwan namun disambut tatapan sinis Novia.


Novia memicingkan mata, "Kamu tidak sedang berbohong kan Irwan?"


Irwan semakin gusar dan memalingkan wajahnya, tatapan Novia mengintimidasi dan meminta penjelasan.


"Jangan membuatku marah, aku tidak sedang bercanda Wan." Novia menekan ucapannya.


"Aku akan berkata jujur, tapi kamu harus berjanji dulu tidak akan marah padaku," bujuk Irwan.


Novia mengangguk, "bicaralah, aku akan mendengarkan."


Irwan membetulkan duduknya lalu meraih tangan Novia menggenggamnya erat, mengumpulkan kekuatan dengan menghela napasnya.


"Aku minta maaf, Fahrul memang teman seprofesiku. Dulu aku pernah meminjam uang darinya untuk biaya perawatan papa."


"Salahnya aku tidak meminta ijin dulu padamu, karena kondisi saat itu memang mendesak Vi."


Novia masih diam, memberi kesempatan suaminya menjelaskan permasalahan yang terjadi.


"Waktu itu Emir juga di rumah sakit bersamaan dengan papa, kamu ingat kan Vi? Tak lama dari situ papa meninggal." Irwan tertunduk memgenang kembali peristiwa saat dia berusah mencari pinjaman.


"Satu-satunya orang yang sudi menolongku saat itu hanya Fahrul, aku berhasil pulang membawa uang dan berjanji akan mengembalikan satu minggu saja." Irwan menerawang, mengingat bagaimana dia berjuang agar bisa menyembuhkan penyakit ayahnya.


Novia menghela napasnya, "ya, sudah, tadi aku bicara pada Fahrul dan besok akan menemui dia di kantin kampus."


"Maksudnya?" Irwan belum menangkap arah pembicaraan Novia.


"Iya, aku akan membayar hutang itu dan kami janjian di kantin kampus besok siang," ujar Novia


"Kita kan punya tabungan sama papa, pakai uang itu saja Vi," tawar Irwan.


"Aku punya sedikit simpanan, kalau meminta dari papa nanti akan di tanya untuk apa." Novia sangat mengenali watak ayahnya sehingga dia tak mau mengambil resiko.


"Berapa hutangmu pada Fahrul?" tanya Novia.


"Seingatku dulu tujuh ratus lima puluh ribu Vi," balasnya.


"Tadi kata Fahrul hutangmu satu juta."


"Mungkin karena lama baru di bayar jadinya berbunga Vi," Sahut Irwan sambil menggaruk tengkuknya.


"Ya, sudah, kita bayar sesuai jumlah yang dia minta."

__ADS_1


"Aku yang akan mengantarmu besok, jangan pergi sendirian," ucap Irwan.


"Baiklah, sekarang kita tidur aku capek seharian banyak kerjaan." Novia beranjak berjalan ke arah ranjang lalu naik dan berbaring di samping anaknya.


__ADS_2