
Part 43
Hati Novia berdebar kencang saat melihat mobil Irwan berhenti di parkiran kantin, Irwan turun dan duduk bergabung bersama teman-temannya sesama sopir.
" Vi, itu mobil suamimu ayo kesana sekarang." Rani menarik tangan Novia.
" Sabar Ran, kalau kita menemui dia sekarang sia-sia kita menunggu lama tapi tidak menemukan apa-apa."
Rani mengurungkan niatnya lalu duduk kembali, sambil memantau dari persembunyian mereka.
Tak lama kemudian Irwan masuk ke dalam mobil, lalu perlahan mobil bergerak menjauh. Rani panik dan keluar dari persembunyian.
" Lihat, mobil suamimu sudah pergi lalu apa yang kita tunggu bukannya lebih sia-sia seperti ini ?" dia mulai kesal melihat Novia yang masih tenang.
" Ayo kita kesana sekarang."
Novia bangkit berjalan ke tempat mereka menyembunyikan motor, dengan wajah kesal Rani mengikuti langkah Novia sebab dia belum tahu apa rencana Novia.
" Ayo naik."
" Kita mau kemana ?"
" Kumohon Rani, bersabarlah sedikit."
Rani pun naik ke atas motor, mereka sudah berhenti tepat di depan kantin.
Novia duduk tenang di atas motornya, dua orang pria mendekat ke arah mereka mungkin curiga dengan gelagat Novia dan Rani.
" Halo dek, cari siapa ?" salah seorang dari pria itu menyapa dengan pandangan menelisik.
" Kami mencari seseorang, dan tadi sempat melihat mobilnya di sini."
" Siapa orangnya mungkin ada diantara mereka ?" tunjuknya pada beberapa sopir yang juga sedang menatap ke arah mereka.
Novia menggeleng " dia tidak ada di situ."
" Namanya siapa dek, mungkin kami kenal." Pria yang lain pun ikut menimpali.
" Irwan."
Kedua pria itu saling pandang membuat Novia curiga.
" Mereka pasti tahu sesuatu, aku harus mengorek informasi dari mereka." gumamnya dalam hati, sementara Rani langsung berbisik di telinga Novia.
" Vi, mereka pasti kenal suamimu coba cari tahu sekarang."
" Hmm " Novia hanya mendehem diapun berpikir sama dengan Rani.
Pandangan Novia kembali pada kedua pria di depannya, kali ini tatapan Novia sedikit mengintimidasi.
" Bagaimana pak, apa kenal dengan Irwan."
Orang tersebut terlihat berpikir kemudian menoleh pada teman di sebelahnya, dan temannya mengangguk seolah memberi izin.
" Maaf dek, eh ada hubungan apa dengan Irwan ? Karena tadi sebelum Irwan datang ada seorang Wanita yang juga mencarinya."
" Dia ini istri Irwan." Celetuk Rani di belakang mulai tersulut emosi mendengar keterangan pria itu.
" Oh maaf dek, kami tidak tahu."
__ADS_1
Novia hanya tersenyum, tetap menunjukkan sikap tenang tapi hatinya bergejolak.
" Siapa yang datang mencari Irwan kesini pak, apa bapak kenal orangnya ?"
" Tapi janji dulu, kamu tidak akan membocorkan pada suamimu " mereka tak mau terlibat perseteruan rumah tangga orang, tapi di sisi lain juga tidak tega melihat Novia.
" Iya aku janji tidak akan melibatkan kalian, percayalah." Novia meyakinkan kedua pria tersebut agar membongkar semua kelakuan suaminya.
" Baiklah, yang saya tahu nama wanita itu Sukma, dan dia punya hubungan khusus dengan Irwan."
" Mereka setiap hari bersama, bahkan Sukma selalu ikut kemanapun Irwan pergi." Lanjutnya lagi.
Novia terus menyimak semua pengakuan pria di depannya, dia menyimpan secara detail setiap kata yang keluar dari mulut pria itu ke dalam memorinya.
Merasa keterangan yang dia berikan sudah cukup, pria itu pun diam dan menatap lekat ke wajah Novia.
" Tadi saya melihat mobil Irwan disini, apa mereka sempat bertemu ?"
" Tidak, sepertinya Sukma juga sedang mencari Irwan dan saat dia kesini Irwan belum datang, selang berapa menit setelah Sukma pergi baru Irwan muncul."
Novia menarik napas lalu perlahan menghembuskannya, dadanya sesak setelah mengatahui kenyataan tentang suaminya.
" Seperti ini kelakuanmu di belakangku Wan, apa yang ada di kepalamu mungkinkah isinya kotoran ?"
Saat Novia tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka.
Seorang Wanita turun, kedua pria di depan Novia tampak panik dan itu memancing perhatian Novia. Dia menoleh, seorang Wanita muda berjalan ke arah mereka.
Wajah pria di depannya berubah pias, pasrah jika sesuatu terjadi pada kedua wanita di depan mereka jika saling mengenal.
Novia bingung melihat reaksi kedua pria tersebut " ada apa ? Kenapa kalian panik ?"
" Irwan sudah datang ?" tanpa basa-basi langsung bertanya.
" Eh anu, ee tadi sudah kesini tapi pergi lagi." jawab pria itu.
Novia langsung menyadari sesuatu " Owh nasib mujur, sepertinya aku tak perlu capek mencarimu ."
Novia turun dari motor, Rani tak mau ketinggalan turun dan berdiri di samping Novia. Kedua pria tersebut mundur beberapa langkah.
Sedangkan Sukma belum menyadari situasi yang di hadapinya justru melancarkan pertanyaannya pada pria di hadapannya.
" Pergi kemana ? Bukannya aku sudah berpesan tadi kalau aku akan kesini lagi."
Novia maju mendekati Sukma kemudian berdiri tepat di depan dua pria itu.
" Eh kamu siapa, kenapa berdiri di depan dan menghalangiku ?"
Novia tak menjawab, tatapannya tajam siap menusuk apa pun yang ada di depannya.
" Permisi, aku mau bicara dengan kedua orang di belakangmu jangan menghalangi." Sukma mengulang ucapannya, namun Novia tak bergeming.
" Aku ingin mendengar sekali lagi, tadi kamu mencari siapa ?" Novia buka suara tapi tatapannya masih menghunus lawan bicaranya.
" Apa urusannya dengan kamu ? Dan lagi siapa kamu yang ingin tahu masalahku."
" Aku tanya baik-baik, nama orang yang kamu cari itu siapa dan ada hubungan apa kalian ?"
" Memangnya siapa kamu ingin tahu urusanku ?"
__ADS_1
" Jawaabb !!!" Novia mulai tersulut emosi tubuhnya bergetar serta tangannya mengepal, Rani bergegas maju dan menyentuh bahu Novia.
" Tenang Vi, jangan terpancing."
" Ada apa ini, siapa sebenarnya kalian ?" Sukma masih bingung dan bertanya-tanya siapa wanita di hadapannya.
Novia menoleh pada pria di belakangnya lalu berkata " jelaskan padanya identitasku."
" Hah kami ?" menunjuk ke diri mereka sendiri.
" Iya, kalian kan satu geng " balas Novia ketus.
" Heii kenapa jadi berbelit-belit begini ? Apa susahnya menjawab."
Pria itu pun melangkah maju menghampiri Sukma, dia memandang Novia dan Sukma bergantian lalu menarik napas dalam-dalam.
" Eh Sukma, kamu ingin tahu wanita di depanmu ini yakin kamu tidak menyesal jika mengenalinya ?"
Sukma mengangguk.
" Dia ini istri Irwan, laki-laki yang selama ini dekat denganmu."
Duuaaarrr...
Sukma mundur beberapa langkah, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Kenapa, kamu terkejut ?"
Novia menatap tajam lalu tersenyum sinis ke arah Sukma yang masih kaget mendengar ucapan pria itu.
" Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku, dan kamu sudah tahu siapa saya."
" Sedekat apa hubunganmu dengan suamiku, dan apa tujuanmu mencarinya ?"
Sukma masih gugup, keringat membasahi sekujur tubuhnya lidahnya pun seakan keluh. Dia berusaha menguasai diri jangan sampai terlihat lemah.
" Aku mencari suamimu untuk menagih hutangnya, ponsel dan perhiasanku di jual."
Sukma menceritakan alasan dia mencari Irwan, dia tak mau di salahkan seolah dia adalah korban manipulatif memang.
" Ponsel dan perhiasanmu di jual, lalu uangnya siapa yang pake ?" Novia bukan wanita bodoh yang mudah untuk di hasut.
" Uang itu kami gunakan menyewa penginapan dan membeli minuman."
Mendengar jawaban Sukma, Novia tergelak.
" Hahaha, apa aku harus bersedih atau bahagia ya mendengar pengakuanmu ini ?"
" Uangnya di nikmati bersama, bersenang-senang bersama, mabuk bersama lalu kenapa harus di ganti ? Atau jangan-jangan kamu ketagihan ya sama suamiku ?"
" Apakah kamu menuntut untuk di ganti ?" Novia terus memberondong Sukma dengan pertanyaan yang memojokkan.
Merasa tersudut karena posisinya lemah, Sukma tak lagi menjawab semua pertanyaan Novia dia hanya menunduk.
" Harusnya kamu sebagai wanita berpikir cerdas, jangan mau di manfaatkan mereka hanya menginginkan tubuhmu setelah bosan pasti di tinggalkan, lalu siapa yang harus di salahkan ?" lanjut Novia.
" Wajah cantik yang kamu banggakan saat ini, suatu saat akan pudar."
Sukma diam terpaku, tak bisa berkata-kata lagi semua yang di ucapkan wanita di depannya memang benar adanya, menyesal pun tak ada guna sekarang.
__ADS_1
Sedangkan pria yang mereka cari entah dimana keberadaannya.