Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Penolakan Novia


__ADS_3

Part 47


Irwan mundur dua langkah, dia tak menyangka reaksi Novia akan begini saat bertemu dengannya.


" Vi, Via, Noviaa banguun."


Bu Ratih terus berusaha membangunkan Novia, dia menggoyang tubuh anaknya menepuk wajah Novia namun belum juga siuman.


" Pah, jangan cuma bengong usaha dong."


" Tenang mah jangan panik, kasihan cucumu."


Lalu pak Wahyu mendekati meja rias, dia melihat sebotol minyak kayu putih mengambilnya dan menyerahkan pada istrinya.


" Coba pakai ini, baluri ke hidung dan bagian tubuhnya yang lain."


Bu Ratih membaluri hidung, kening dan dada Novia dengan minyak kayu putih. Berapa saat kemudian Novia mulai membuka matanya.


Irwan yang sedari tadi hanya berdiri mematung, melihat Novia mulai siuman akhirnya bisa bernapas lega.


" Mah, Novia baik-baik saja tadi cuma mendadak pusing jangan panik." Dia mendongak melihat wajah ibunya yang khawatir.


" Jelas mama panik, kamu tiba-tiba pingsan dan Camillah menjerit."


" Vi, janji sama mama kamu akan baik-baik saja lihat anakmu masih kecil-kecil." Bu Ratih menoleh ke arah Camillah yang ketakutan dan memeluk ayahnya.


" Iya mah aku janji, mama jangan panik ya." Novia mengelus tangan ibunya.


" Ya sudah, kamu istirahat dulu dan jangan banyak pikiran mama mau ke dapur."


Bu Ratih bangkit lalu berjalan keluar, pak Wahyu pun mengikuti langkah istrinya keluar.


Setelah kedua orang tuanya keluar, Novia memalingkan wajah dan membelakangi Irwan yang masih tetap berdiri menatap Novia.


Melihat wajah suaminya, bayangan Sukma seperti menari-nari di pelupuk matanya. Novia berada dalam kebimbangan antara benci dan cinta, dia benci situasi ini.


Sama halnya dengan Irwan, dia di selimuti rasa takut dan rasa bersalah tapi tak berani mendekat apalagi mulai menyapa.


Namun tiba-tiba Camillah menarik tangan Irwan dengan paksa.


" Ayo papa lihat mama sakit, ayooo." Camillah terus saja menarik tangan ayahnya.


Dengan langkah berat, Irwan maju mendekati ranjang, Novia masih diam tak bergeming.


" Vi, bisakah kita bicara sebentar ?"


" Selesaikan dulu urusanmu dengan wanita itu." Jawabnya tanpa mau memalingkan wajah menatap Irwan.


Suara Irwan tercekat di tenggorokan, semua kata yang dia susun dengan rapi hilang seketika. Kesalahannya kali ini mungkin tak termaafkan.

__ADS_1


Irwan pun menoleh pada anaknya Camillah yang masih setia berdiri di sampingnya.


" Millah mau berangkat sekolah ? Papa antar ya ayo mandi dulu."


" Millah sudah mandi pah."


" Oh papa bantu pakai seragamnya ya."


Camillah mengangguk, lalu mengambil seragam sekolahnya dan menyerahkan pada Irwan.


Selesai memakaikan Camillah seragam, Irwan kembali mencoba berkomunikasi dengan Novia tapi hasilnya masih sama Novia tetap keras dengan pendiriannya.


" Baiklah Vi, kalau kamu belum mau memaafkanku aku terima dengan ikhlas. Tapi aku minta jangan menutup hatimu."


" Aku berangkat dulu nanti Camillah terlambat."


Irwan lalu berbalik kemudian memegang tangan anaknya dan keluar dari kamar. Mendengar suara pintu di tutup Novia sesegukan, tangis yang dia tahan sejak tadi akhirnya pecah.


Irwan dan Camillah terus berjalan dan berhenti ketika melihat kedua mertuanya duduk di teras.


Dia menghampiri mertuanya yang saat itu juga sedang menatap ke arahnya.


" Mah pah, aku pamit berangkat kerja dan mengantar Camillah ke sekolah."


" Iya hati-hati, pulangnya nanti papa yang jemput dia."


" Iya, terima kasih pah Millah salim dulu sama ina dan tata."


Sementara itu, pak Wahyu dan istrinya terus memperhatikan cucu dan menantunya di dalam mobil hingga mobil itu bergerak menjauh dan hilang dari pandangan.


" Mah, kita ke kebun belakang tanaman papa sudah mulai layu."


" Bagaimana dengan Novia pah, kalau Adiba bangun dia pasti butuh bantuan mama."


" Ya sudah, mama temani Novia."


Pak Wahyu pun bangkit dan masuk ke kamar, mengganti bajunya yang biasa di pakai ketika di kebun. Sedangkan bu Ratih memilih ke dapur memasak untuk makan siang nanti.


Sepanjang perjalanan mengantar, Irwan terus saja melamun penolakan Novia membuatnya berpikir jika Novia benar-benar tidak mau lagi memaafkannya.


Setelah Camillah tiba di sekolah dan turun dari mobil, Irwan bukannya melanjutkan perjalanannya dia justru berbalik arah menuju rumahnya.


Dia memarkir mobil sembarang tempat lalu turun dan masuk ke dalam rumahnya, ibunya yang berdiri di halaman dia lewati begitu saja.


" Kenapa lagi anak itu, bukannya berangkat kerja malah masuk lagi ke dalam rumah."


Bu Mini bergumam sambil memandangi punggung anaknya yang masuk ke dalam rumah.


Karena penasaran, bu Mini menyusul anaknya masuk.

__ADS_1


" Wan, buka pintu mama mau bicara."


" Masuk saja mah, pintunya tidak di kunci." Sahut Irwan dari dalam, dia duduk di ruang tamu.


Bu Mini membuka pintu lalu masuk, dia mendapati Irwan duduk sendirian seperti orang yang kebingungan.


" Kamu kenapa lagi Wan ? Bukannya kerja malah bermalas-malasan begini."


" Ingat Wan, papamu butuh biaya untuk berobat." Sambungnya lagi.


" Mah, bisakah mama itu tidak membahas, uang, uang, dan uaang aku sudah muaakk mah !!"


Bu Mini terperanjat mendengar suara Irwan yang sedikit membentak, seketika Bu Mini terdiam tak melanjutkan kata-katanya.


" Tadinya aku kesini mau istirahat mah, pikiranku sedang kalut aku ingin ketenangan tapi mama malah membahas masalah uang." Irwan hilang kendali, meluapkan semua isi hatinya.


Selama ini Irwan tak ubahnya mesin pencari uang, tenaganya terus di peras dengan alasan biaya pengobatan ayahnya. Padahal yang terjadi uang yang terkumpul habis hanya untuk membayar utang.


Untungnya selama menikah, Novia tak pernah menuntut apapun darinya.


" Aaachhh..."


Irwan menggebrak meja di depannya, dan lagi-lagi membuat bu Mini terkejut.


" Mah, aku ingin istirahat tolong tinggalkan aku sendirian."


Tanpa berkata-kata lagi, bu Mini bergegas pergi meninggalkan Irwan sendirian di dalam rumahnya.


Sepeninggal ibunya, Irwan meremas kuat rambutnya kepalanya terasa mau pecah.


" Maafkan aku mah, bukan maksudku ingin membentak dan kasar tapi mama juga sudah keterlaluan. Aku juga punya masalah sendiri yang belum terselesaikan."


Bu Mini berjalan gontai kembali ke rumahnya, sungguh di luar dugaannya Irwan sampai berkata kasar seperti tadi.


Dia masuk ke dalam kamar, menghampiri suaminya yang terbaring di ranjang pak Ahmad menatap istrinya penuh tanya.


" Ada apa mah, kenapa murung begitu ?"


" Mama baru saja dari rumah Irwan."


" Dia tidak kerja hari ini ?"


" Tidak, itu sebabnya mama mengikutinya masuk ke dalam dan bertanya tapi dia malah emosi dan membentak mama."


" Alasannya apa sampai membentak mama ?"


" Katanya dia capek dan ingin istirahat, tapi mama selalu membahas soal uang padanya."


" Lalu apa yang di bahas ? Memang kenyataannya kita memang butuh uang kan pah." Lanjut bu Mini yang tidak merasa bersalah.

__ADS_1


Ternyata watak Irwan dominan turun dari ibunya yang tidak ingin di salahkan meskipun berbuat salah.


__ADS_2