Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Menggantikan Peran Ayah


__ADS_3

Part 89


Dua bulan kemudian ....


Novia kembali beraktifitas seperti biasa, bedanya dia harus membawa serta Adiba dan Emir ke tempat kerja karena tidak mungkin menitipkan kedua anaknya tersebut pada ibunya di rumah.


Bu Ratih semakin kesepian saat anak dan cucunya tidak ada di rumah, satu-satunya yang bisa menemani hari-harinya dikala sepi adalah tasbih peninggalan suaminya.


Siang harinya ....


"Mama kenapa?" Novia panik saat melihat wajah ibunya pucat pasi.


"Kepala pusing Vi."


Bu Ratih duduk bersandar di kursi, raut lelah terpancar dari wajah pucatnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!"


Novia masih sangat trauma kehilangan ayahnya, kali ini dia tak mau hal yang sama terjadi pada ibunya.


Bu Ratih menggeleng menolak ajakan Novia, "Mama di sini saja nak, mama merasa kurang nyaman di rumah sakit."


"Bukan masalah nyaman atau tidaknya mah, tapi penanganan di rumah sakit jauh lebih baik."


"Aku bukan dokter yang bisa mendiagnosa keluhan mama, kita kesana sekarang ya," bujuk Novia lembut.


"Mama tidak kuat kalau naik angkot dan berdesakan di dalam," sahut Bu Ratih


"Kita tunggu Irwan pulang, mama masih bertahan kan?" tanya Novia pada ibunya


"Iya, tapi mama mau berbaring di kamar menunggu suamimu pulang."


Novia memapah ibunya masuk ke kamar, tubuh Bu Ratih begitu lemah hingga Novia sedikit kesulitan.


Saat di kamar, Novia tak mau beranjak dari samping ibunya bahkan takut meninggalkan ibunya sendirian di kamar.


"Anak-anak kemana Vi?"


"Tidur mah, habis makan siang tadi Diba merengek minta dikeloni," jawab Novia.


"Tolong ambilkan mama air hangat, tenggorokan mama terasa kering," pinta Bu Ratih.


"Mama tidak apa-apa aku tinggal sendirian?"


Novia ragu meninggalkan ibunya sendirian, tapi dia juga harus mengambilkan air minum untuk ibunya. Dengan berat hati Novia keluar dan bergegas ke dapur.


Sampai di kamar, Novia menyodorkan segelas air putih hangat pada ibunya Bu Ratih meraih gelas di tangan Novia kemudian meminum air tersebut.


"Mama istirahat saja, aku mau menyiapkan pakaian dan kebutuhan di rumah sakit."

__ADS_1


Novia membuka lemari pakaian, wanita itu tertegun menatap sepasang baju milik ayahnya yang tergantung rapi.


"Papa, lihatlah sekarang aku menggantikan peranmu menemani mama yang sedang sakit. Jangan khawatir pah, aku janji akan merawat mama dengan baik," gumam Novia dalam hati.


Bulir bening menetes di pipi Novia, wajah teduh ayahnya terbayang kembali semua kenangan tentang ayahnya masih terekam sempurna.


Novia segera mengusap air matanya, jangan sampai ibunya melihat dan membuat ibunya kembali bersedih.


Beberapa lembar pakaian milik ibunya Novia masukkan ke dalam tas, tak lupa juga sarung dan dalaman ibunya.


"Vi, masukkan juga buku yang sering papa baca itu." Bu Ratih menunjuk kearah nakas yang di atas tersusun beberapa buah buku bacaan milik Pak Wahyu.


"Buku yang mana mah?"


"Majmu Syarif, sampulnya berwarna perak."


Novia lalu mengambil buku yang disebutkan ibunya, buku kumpulan doa yang selalu ayahnya baca di waktu senggang dulu semasa hidupnya.


"Mama merindukan papa? Aku juga sama seperti mama," batin Novia saat memegang buku tersebut.


"Yang ini mah?" Novia menunjukkan buku tersebut pada ibunya dan dijawab anggukan Bu Ratih.


Setelah semuanya siap, Novia mendekati ibunya untuk memastikan kondisi ibunya yang terbaring di atas ranjang.


Bu Ratih tampak memejamkan mata, meredam kesedihan saat mengingat suaminya. Novia mengira ibunya sudah terlelap dia keluar kamar untuk mengurus keperluan lainnya.


Sore harinya ....


Novia keluar menyambut suaminya, berdiri di teras menunggu Irwan turun dari mobil setelah memarkirnya di garasi


Irwan berjalan sambil menenteng sebuah kresek hitam di tangannya, langkah Irwan terhenti persis di samping istrinya.


"Apa yang kamu bawa itu?"


"Ikan, tadi aku sengaja mampir ke pasar," jawab Irwan sembari menyodorkan tas bawaannya.


Novia meraih tas tersebut lalu berbalik mengikuti langkah suaminya, keduanya berjalan masuk. Novia menuju ke dapur sedangkan Irwan masuk ke dalam kamar.


Setelah menyimpan ikan ke dalam kulkas, Novia kembali ke kamar menemui suaminya.


"Ayo, mandilah kita akan mengantar mama ke rumah sakit," ujar Novia.


Irwan tersentak kaget, "Mama kenapa? Tadi pagi masih baik-baik saja aku tinggalkan."


"Katanya pusing, tapi aku lihat mama pucat dan sangat lemas aku takut terjadi apa-apa sama mama," jawab Novia


"Bagaimana dengan anak-anak Vi?"


"Itu yang aku pikirkan Wan, tapi mau bagaimana lagi? Kesehatan mama juga penting."

__ADS_1


"Ya, sudah, biar aku saja yang menemani anak-anak di rumah kamu fokus saja merawat mama," ucap Irwan.


"Baiklah, aku mandi dulu. Kalian bersiap-siaplah sembari menunggu aku selesai mandi."


Novia bergegas mengganti pakaiannya, kemudian memgurus Emir dan Adiba sedangkan Camillah sudah selesai mengganti sendiri bajunya.


Setelah selesai mengurus anaknya, Novia masuk ke kamar ibunya dan meminta Bu Ratih bersiap-siap.


"Ayo, mah, Irwan sudah datang," ucap Novia.


"Anak-anak ikut Vi?" tanya Bu Ratih


"Iya, tapi nanti pulang lagi ke rumah. Ada Irwan yang akan mengurus mereka," sahut Novia.


"Emir masih kecil Vi, kasihan kalau harus jauh dari kamu." Bu Ratih malah memikirkan cucunya.


"Jangan khawatir mah, Irwan pasti bisa mengatasinya."


Novia meyakinkan ibunya, karena dia tak mau ibunya menolak ke rumah sakit.


Irwan sudah selesai mandi, kemudian memeriksa kembali semua pintu dan jendela jangan sampai ada yang belum terkunci setelah itu menyusul Novia, Bu Ratih, dan ketiga anaknya keluar.


"Sudah siap? Kita berangkat sekarang," ujar Irwan kemudian mengangkat tas yang berisi pakaian dan keperluan Ibu Mertuanya lalu memasukkan ke dalam mobil.


"Ayo, anak-anak, naiklah ke dalam mobil mama akan memapah ina." Irwan meminta ketiga anaknya naik lebih dulu.


Novia memapah ibunya naik ke dalam mobil di bantu Irwan, keduanya agak kesulitan karena tubuh Bu Ratih memang besar dan lebih tinggi dari Novia.


Bu Ratih sudah ada di dalam mobil dengan posisi bersandar pada Novia, sedangkan Camillah dan kedua adiknya duduk di depan bersama Irwan.


Irwan menyalakan mesin, mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah melaju di jalanan menuju rumah sakit.


Sepanjang perjalanan Bu Ratih diam, hanya ocehan anak-anak Novia yang terdengar saling bersahutan kadang diselingi tawa dan canda khas anak kecil.


Irwan fokus pada kemudinya, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Ibu Mertuanya.


"Sstt, jangan berisik, ina sedang sakit." Irwan mengingatkan anak-anaknya agar mengecilkan suara mereka.


"Ina mau diantar kemana pah?" tanya Adiba


"Ke rumah sakit, ina mau dirawat disana," jawab Irwan


"Kami ikut menginap juga pah?"


"Tidak, kalian pulang bersama papa."


"Diba dan Emir?"


"Ikut pulang juga, anak kecil dilarang menginap di rumah sakit," ujar Irwan lagi memberi penjelasan.

__ADS_1


Camilah menganggukkan kepala, anak seusianya sudah bisa memahami ucapan yang disampaikan ayahnya.


__ADS_2