
Part 21
Setiap hari bu Mini selalu marah-marah bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, Novia menjadi bingung sendiri apapun yang dia lakukan pasti salah di mata bu Mini.
Seperti pagi ini Novia harus berlomba dengan waktu, mengurus anak dan suami lalu harus berangkat lebih pagi ke tempat kerjanya.
Tapi ada saja masalah kecil yang terjadi, Camillah rewel dan meminta bekal makanannya di ganti yang tadinya roti isi sekarang maunya nasi goreng.
" Milla sayaangg, mama minta maaf belum bisa bikin nasi goreng karena mama harus berangkat lebih cepat dari biasanya" Novia berusaha membujuk anaknya.
Camillah hanya cemberut lalu pandangannya tertuju pada papanya dan Irwan paham maksudnya.
" Milla, kalau mama yang bikin nasi goreng nanti mama terlambat berangkat kerja, kita beli nasi goreng di warung dekat sekolah Milla mau ?" Irwan mencoba memberi solusi.
Dengan berat hati Camillah mengangguk setuju, Novia lalu menatap suaminya dan tersenyum Irwan pun membalas senyuman istrinya.
Drama pagi ini pun bisa terlewati, Irwan berangkat kerja sementara Novia mengantar Camillah ke sekolah setelah itu dia pun berangkat ke tempat tugasnya.
Lain halnya dengan bu Mini yang diam-diam mengintip dan mencuri dengar pembicaraan dan drama pagi di rumah anaknya lalu mengadukan kepada suaminya.
"Pah, Novia itu benar-benar pemalas untuk bekal anaknya ke sekolah semuanya harus beli lalu tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga apa ?" ucapnya..
Pak Ahmad hanya diam tak merespon ucapan istrinya.
"Pah, kenapa diam ? Papa bela ya menantu kesayanganmu itu" bu Mini mulai kesal dengan suaminya.
" Hmmm, ya biarkan saja lah mah jangan terlalu mencampuri rumah tangga anakmu, Novia juga sibuk pagi dia harus berangkat kerja " balas Pak Ahmad.
" Huufft, papa dan Irwan memang sama makanya Novia manja dan besar kepala "..
"Istighfar mah, ada masalah apa mama dengan Novia sampai menantu sendiri di guncingkan" kali ini pak Ahmad sedikit tegas.
Mendengar ucapan suaminya bu Mini kesal dan melengos pergi meninggalkan suaminya tanpa menjawab sepatah kata pun.
Sementara itu di tempat kerjanya, Novia melirik jam di lengannya " sudah jam 10 siapa yang menjemput Camillah " gumamnya.
Karena terburu-buru dia lupa meminta mertuanya menjemput Camillah di sekolah.
Di sekolah Camillah, anak-anak sudah berhamburan keluar dan menunggu orang tua mereka, Camillah pun keluar melihat ke arah pintu gerbang tempat biasa Novia menjemput tapi ibunya belum ada di sana.
Murid yang lain sudah pulang hanya Camillah yang masih setia menunggu penjemput, seorang guru menghampirinya dan bertanya " siapa yang jemput Millah."
__ADS_1
Mendengar suara gurunya Camillah menoleh " mama " jawabnya.
" Tapi sekarang sudah jam 11, mama Millah belum datang " ucap bu guru.
Camillah hanya menunduk dan terlihat gelisah, guru itu pun berinisiatif ingin mengantarkan Camillah pulang.
" Millah mau ibu guru antar pulang ke rumah "..
Camillah mengangguk setuju dan akhirnya dia pun diantar oleh gurunya.
Tiba di rumah guru itu menitipkan Camillah pada neneknya yaitu bu Mini, sebelum berpamitan pulang mereka berbincang sejenak.
" Mamanya Camillah itu memang tidak becus jadi ibu, masa anak kecil dibiarkan menunggu lama di sekolah dan dia lupa menjemput " ucap bu Mini panjang lebar.
" Mungkin mamanya Camillah belum sempat atau ada sesuatu di perjalanan bu " jawab guru tersebut sambil tersenyum.
" Baiklah bu, saya permisi dulu mau kembali ke sekolah " pamitnya tak ingin memperpanjang obrolan.
Bu Mini hanya mengangguk dan tersenyum kecut karena ocehannya tak ditanggapi.
Setelah guru itu berlalu pergi, bu Mini mengajak Camillah masuk ke dalam rumah.
Di tempat tugasnya Novia gelisah terus memikirkan siapa yang menjemput anaknya, di liriknya lagi jam " sudah jam 11.30 duuh masih di sekolah atau sudah di rumah " gumamnya.
" Mmm..tadi saya lupa meminta ibu mertuaku menjemput Camillah di sekolahnya " jawabnya.
" Ya sudah, ibu pulang duluan biar saya yang selesaikan tugasnya " ucapnya lagi.
Novia langsung tersenyum sumringah " Terima kasih yaa " jawabnya kemudian bergegas keluar dan berjalan menuju pangkalan ojek disekitar sekolah.
Sebelum ke rumah Novia meminta ojeknya mengantarnya ke sekolah Camillah terlebi dahulu, ketika sampai dia pun bertanya pada guru Camillah dan di jawab bahwa Camillah sudah di antar pulang.
Novia lalu mengucapkan terima kasih dan berpamitan pulang di antar tukang ojek.
Setibanya di rumah, baru saja Novia turun dari motor bu Mini langsung menghampiri dan menghardiknya.
" Ibu macam apa kamu ini Novia, masa lupa sama anak sendiri !!!".
Novia terkejut tak menyangka mertuanya akan membentak nya di depan orang seperti ini.
" Maaf mah, Novia tadi lupa meminta mama menjemput Camillah" jawabnya.
__ADS_1
" Alah alasan kamu, memang kamu itu terlalu manja dan selalu meremehkan urusan anak dan suami" ucap bu Mini.
Mendengar ucapan mertuanya kuping Novia seperti panas, dia tak terima disebut pemalas dan manja.
" Mah, kenapa mama seperti begitu benci sama aku apapun yang aku lakukan selalu salah di mata mama " balasnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Dia membayar biaya ojek dan berlalu meninggalkan mertuanya tanpa menunggu jawaban lagi, tukang ojek hanya bisa melongo melihat kejadian itu kemudian diapun pergi.
Novia memanggil Camillah, mendengar suara ibunya Camillah berlari keluar dan menghampiri ibunya.
" Ayo nak, kita masuk makan siang dulu ya " sambil menunduk berusaha menyembunyikan air matanya yang terus mengalir agar tak di lihat oleh anaknya.
Setelah masuk Novia kemudian mengganti pakaiannya dan menyiapkan makan siang mereka.
Di sela makannya Novia tiba-tiba teringat orang tuanya, dia belum sempat mengabari kehamilan keduanya ini dan berniat pulang ke rumah orang tuanya sekaligus ingin menenangkan diri.
Akhir-akhir ini perlakuan mertuanya sudah terlalu sering menyakiti perasaannya dan dia khawatir bisa berpengaruh pada janinnya.
" Kenapa mertuaku sangat membenciku, salahku apa ?" gumamnya sambil terus mengunyah makanannya.
" Mama kenapa ?" dengan polosnya Camillah bertanya.
" Tidak apa-apa, mama cuma ingat Ina ( nenek ) dan tata ( kakek ) " jawabnya.
" Millah rindu ina ( nenek ) " celetuk Camillah.
Seketika Novia tak bisa membendung kesedihannya mendengar celetukan Camillah.
Butiran kristal yang menggenang di matanya langsung meluncur deras, tangisan tanpa suara memang sangat menyakitkan.
Novia lalu bangkit dan memeluk anaknya, di tumpahkannya kesedihan sambil memeluk putri kecilnya yang masih polos.
" Sebentar sore papa pulang, kita ke rumah ina ya nginap disana " ucap Novia sambil mengelus rambut anaknya.
Camillah pun melepaskan pelukan ibunya dan melompat kegirangan.
" Asyiiikk, kita pulang ke rumah ina ( nenek ) " sahutnya sambil tertawa girang.
" Iya, makanya habiskan makanannya dan kita tidur siang " titah Novia.
Dan di balas anggukkan Camillah lalu melanjutkan makannya yang sempat terhenti.
__ADS_1
Sore hari novia dan anaknya sudah selesai mandi mereka tak sabar menunggu Irwan pulang dan mengantar mereka ke rumah pak Wahyu.