
Part 103
Keesokkan harinya ....
Sesuai permintaan Camillah yang ingin tidur di kamar kakek dan neneknya, Novia membereskan kamar tersebut. Lemari dan ranjang di pindahkan serta merubah warna cat agar terlihat lebih segar.
Buku-buku bacaan milik ayahnya, Novia masukkan ke dalam kotak kardus digantikan dengan buku pelajaran dan buku tulis Camillah disusun rapi di atas rak.
"Bagaimana, Millah suka warna catnya?" tanya Novia
"Iya, jadi lebih terang," sahut Camillah
Novia tersenyum, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.
Karena hari libur, Novia menghabiskan waktu dengan membereskan rumah dan kamar untuk Camillah. Sengaja dia merubah total tampilan kamar tersebut sehingga memudahkan dirinya melepas sedikit demi sedikit kesan dan bayangan tentang kedua orang tuanya.
Tak ketinggalan Irwan juga mendapat tugas membersihkan bagian luar rumah, serta mencuci mobil dan motor milik istrinya.
Novia keluar menghampiri suaminya yang sedang mencuci motor miliknya, wanita itu meminta suaminya membeli makanan karena sudah waktunya makan siang.
"Wan, tolong, beli sayur dan lauk untuk makan siang kita," kata Novia
Irwan menoleh, kemudian menghentikan pekerjaannya lalu masuk ke dalam rumah mengambil kunci motor Novia.
"Aku pakai motormu Vi, biar lebih mudah dibersihkan kembali," ujar Irwan.
"Memangnya belum selesai dicuci?"
"Belum, baru mobil yang selesai," jawab Irwan lalu masuk ke dalam mengambil kunci motor.
Setelah itu, Irwan naik ke atas motor dan menyalakan mesin kemudian berlalu meninggalkan rumah.
Tak lama kemudian, Irwan kembali membawa bungkusan berisi sayur dan beberapa macam lauk. Lelaki itu menyodorkan bungkusan pada istrinya.
Novia mengambil bungkusan tersebut dan membawanya masuk, dengan hati-hati dia memindahkan makanan tersebut ke dalam wadah untuk disajikan di atas meja.
"Ayo, makan siang dulu, nanti dilanjutkan lagi pekerjaannya." Novia mengajak suami dan ketiga anaknya makan.
Novia menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pada Emir dan Adiba, kedua bocah itu berebut mengambil piring mereka
"Eh, jangan rebutan begitu nanti nasinya tumpah," ucap Novia mengingatkan kedua bocah tersebut
__ADS_1
"Makan yang tenang ya," tambahnya lagi
Selesai makan, mereka kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing. Sore hari barulah semuanya rapi.
Novia mengajak ketiga anaknya mandi, karena tubuh mereka sangat kotor dan berpeluh. Irwan menyusul masuk ke dalam menunggu giliran bergantian dengan anak dan istrinya.
Malam hari, usai makan malam keluarga kecil tersebut berkumpul bersama menikmati cara televisi kesukaan Emir dan Adiba diselingi obrolan ringan antara Novia dan Irwan
"Vi, sebentar lagi Emir dan Diba masuk SD, mereka akan masuk ke sekolah mana?" tanya Irwan membuka obrolan
"Tentu saja ikut denganku, biar lebih mudah dan aku tidak lagi repot menjemput mereka pulang sekolah," jawab Novia
"Tapi, usia mereka selisih satu tahun Vi, memangnya bisa bersamaan mendaftarnya?"
"Bisa, semua bisa diatur. Nanti kenaikan kelas, Emir tetap di kelas satu biar Adiba yang naik ke tingkat selanjutnya."
Novia menjelaskan secara detail mengenai rencananya, Irwan juga menyetujui hal tersebut karena menurutnya itu ide yang bagus.
Kalau kedua anak tersebut masuk sekolah dan melanjutkan jenjang yang sama, itu akan membuat Novia dan Irwan kesulitan nantinya.
Novia sudah memikirkan semuanya secara matang, bahkan dia juga sudah mulai menabung sedikit demi sedikit untuk biaya pendidikan ketiga anaknya kelak.
"Lantas, bagaiman dengan kalian bertiga?"
"Kami bisa jalan kaki, jarak rumah dan sekolah kan tidak terlalu jauh," jawab Novia
Irwan terdiam, harapan Novia begitu besar bahkan dia sudah menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan anak-anaknya.
"Mah, aku sudah ngantuk." Camillah memgucak matanya yang terlihat mulai memerah.
"Ya, sudah, sana masuk ke kamar. Nanti mama menyusul," ucap Novia
"Tidak usah mah, aku bisa tidur sendiri tak perlu ditemani," balas Camillah
"Hmmm, baiklah kalau begitu. Pintunya jangan dikunci," ucap Novia lagi mengingatkan Camillah.
"Iya ,mah."
Tak lama, Emir dan Adiba juga sudah tampak mengantuk. Keduanya tampak beberapa kali menguap dan Diba pun merengek minta ditemani ke dalam kamar.
"Wan, kami duluan masuk ke kamar. Anak-anak sudah ngantuk," pamit Novia lalu beranjak dari tempatnya dan melangkah masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
Irwan masih betah di tempatnya, mengganti chanel televisi mencari tayangan yang menarik untuk di tonton.
Satu jam berlalu, lelaki tersebut bangkit lalu mematikan televisi. Kemudian dia berjalan memeriksa seluruh pintu dan jendela memastika semuanya sudah terkunci.
Irwan masuk ke dalam kamar, menyusul anak dan istrinya. Di dalam kamar, Novia dan keduanya anaknya sudah tidur dengan nyenyaknya.
Dengkuran halus Novia terdengar, saat Irwan mendekat dan berbaring di sebelah istrinya. Novia tampak begitu kelelahan, terlihat dari raut wajahnya ketika tidur.
"Kamu tidak lagi seceriah dulu Vi, aku seperti kehilangan sosokmu yang dulu," gumam Irwan lirih ketika menatap dalam wajah Novia yang terlelap di sampingnya
Cukup lama Irwan mengamati wajah istrinya, akhirnya dia pun ikut tertidur sambil memeluk tubuh Novia.
Pagi-pagi sekali Novia terbangun, membersihkan diri sekaligus mandi lalu menunaikan shalat subuh. Kemudian dia bergegas menuju dapur.
Senin pagi, Novia memang selalu berpacu dengan waktu karena takut terlambat tiba di sekolah.
Sarapan ala kadarnya sudah Novia hidangkan di atas meja makan, tak lupa bekal ketiga anaknya juga sudah dia siapkan. Sekarang waktunya mengganti pakaian dengan seragam kerja.
"Diba, Emir, ayo, buruan nak nanti kita terlambat. Kakak Millah sudah menunggu sejak tadi!" seru Novia
Kedua bocah itu pun menurut, satu per satu Novia memakaikan mereka seragam sekolah lalu membangunkan suaminya untuk mengantar kedua anaknya itu.
"Wan, bangun. Diba dan Emir sudah siap berangkat ke sekolah," ucapnya
Dengan langkah gontai Irwan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, kemudian keluar kamar sambil membawa kunci mobil di tangannya.
"Ayo, nak. Kita berangkat," ajak Irwan pada kedua anaknya
Giliran Novia yang bergegas naik ke atas motornya bersama Camillah, mesin motor sudah dinyalakan dan perlahan bergerak melaju menuju sekolah.
Dari jauh, pandangan Novia tertuju pada pintu gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat. Wanita itu memacu motornya lebih kencang agar segera tiba. Namun usahanya tetap sia-sia karena penjaga pintu sudah tidak ada di pos penjagaan.
Novia melirik arloji di tangannya lalu berucap,"sekarang baru jam tujuh, kenapa gerbangnya sudah dikunci."
"kenapa mah?" tanya Camillah polos saat motor ibunya berhenti di depan gerbang.
"Pintunya sudah dikunci, kita tidak bisa masuk," jawab Novia kesal.
"Millah bisa memanjat pagar sebelahnya mah, nanti Millah panggil penjaganya kesini," ucap Camillah penuh percaya diri.
Novia tercengang, sungguh tidak menyangka anak perempuannya bisa memanjat tembok pagar dan dengan entengnya mengucapkan itu di depannya.
__ADS_1