Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Wejangan Bu Ratih


__ADS_3

Part 37


Sudah dua hari Novia di rumah orang tuanya, tapi Irwan belum juga muncul hal ini semakin membuat bu Ratih yakin ada sesuatu yang di sembunyikan putrinya.


Pagi ketika sarapan...


" Vi sudah dua hari Camillah tidak masuk sekolah, kamu sudah izin ke sekolahnya ?"


" Hmm aku belum sempat mah."


" Sebaiknya kamu temui gurunya, kasihan nanti pelajarannya tertinggal " ucap bu Ratih.


Sedangkan pak Wahyu hanya menyimak perbincangan kedua wanita di dekatnya sembari menghabiskan makanannya.


" Biar papa yang mengantar Camillah ke sekolah " ternyata pak Wahyu makan sambil memikirkan bagaimana solusi untuk cucunya agar tetap bisa sekolah.


" Horee tata yang antar Millah " sahut Camillah melompat kegirangan.


" Ya sudah, ayo Millah sekarang mandi dan pakai seragammu." Novia bangkit melangkah masuk ke kamar di susul Camillah.


Saat Novia masuk ke kamar, bu Ratih mulai membahas mengenai anaknya.


" Pah Novia itu sudah dua hari di sini tapi suaminya belum juga muncul, apa papa tidak curiga terjadi sesuatu pada Novia ?"


" Sudahlah mah jangan di bahas lagi, mungkin Novia rindu sama orang tua pikiran mama terlalu jauh. Tidak baik mah menantu sendiri di curigai."


Wajah bu Ratih berubah masam " aku ini ibunya, naluriku tidak akan salah " suaranya bergetar kesal dengan jawaban suaminya. Dia pun berdiri lalu berjalan meninggalkan suaminya.


Tak lama Novia keluar kamar bersama Camillah yang sudah berpakaian rapi.


" Tata, Millah sudah siap." Berputar menunjukkan seragam sekolahnya.


" Iya, tata ambil kunci mobil dulu Millah tunggu di luar ." Pak Wahyu masuk ke kamar mengambil kunci mobil lalu menyusul Camillah, kemudian masuk ke mobil dan mengantar cucunya.


Setelah mobil ayahnya pergi, Novia masuk kembali ke dalam rumah.


" Mama mau bicara sebentar " ucap bu Ratih ketika melihat Novia hendak masuk ke kamar.


Langkah Novia terhenti kemudian menghampiri ibunya yang duduk di sofa ruang tengah. Dia pun duduk tepat di sebelah ibunya.


" Iya ada apa mah ?"


" Jangan sampai mama curiga apalagi bertanya tentang Irwan, aduuh aku mau jawab apa " gumamnya dalam hati dan mulai gusar.


Bu Ratih menatap dalam-dalam wajah Novia yang terlihat gugup.


" Kamu kenapa Vi ? mama belum bicara tapi kamu sudah gugup begitu."


" Aku tidak apa-apa mah cuma sedikit pusing, mungkin anemia " jawabnya berusaha menutupi rasa gugupnya.


" Mama mau tanya sama kamu tolong jawab jujur ."


" Kenapa suamimu tidak ikut kesini, apa kalian bertengkar ?"

__ADS_1


" Kami baik-baik saja mah, Irwan sekarang sedang sibuk mobilnya rusak dan harus diperbaiki." Novia mencoba berbohong, dia tak ingin melibatkan orang tua dalam masalah rumah tangganya.


" Maafkan aku mah harus berbohong, aku hanya tidak ingin kalian sedih " batin Novia menangis.


" Baiklah kalau memang kalian baik-baik saja, mama cuma kesal kamu datang sendirian membawa dua orang anak dan barang tanpa di dampingi suami, suatu saat kamu juga akan tahu bagaimana perasaan mama sebagai ibu ."


Novia hanya mengangguk, dia sangat memahami bagaimana sifat ibunya.


" Ya sudah kamu istirahat, mama mau ke belakang dulu " ucap bu Ratih lalu pergi meninggalkan Novia.


Keesokkan harinya...


Ketika mereka semua berkumpul di teras, dan Pak Wahyu bersiap mengantar Camillah ke sekolah, mobil Irwan berhenti di depan rumah.


Pak Wahyu mengurungkan niatnya masuk ke dalam mobil, dan kembali berjalan menuju teras.


Irwan turun dari mobil, melangkah dengan perasaan was-was takut Novia akan mengusirnya.


Dia sudah berdiri di depan teras dan mengucap salam, dan pak Wahyu langsung menjawab salamnya.


" Masuk Wan, Camillah ada di dalam mobil papa mau berangkat sekolah" ucap pak Wahyu.


" Iya, biar aku yang mengantarnya pah " jawabnya.


" Sudah sarapan ?" tanya bu Ratih sambil melirik Novia yang masih diam mematung.


Irwan hanya tersenyum sebagai jawaban.


" Sini bayinya mama gendong, kamu urus sarapan suamimu." Bu Ratih sepertinya paham maksud senyuman Irwan lalu meminta bayi di gendongan Novia.


Akhirnya Novia menyerahkan bayinya, lalu melangkah masuk dan Irwan menyusul di belakang.


Sampai di ruang makan Novia masih diam, namun tetap menyiapkan makanan untuk suaminya. Irwan pun enggan memulai pembicaraan terlebih dia menyadari posisinya yang salah.


Hingga suapan terakhir, keduanya saling diam Novia hanya menyodorkan air minum dan kembali duduk di kursinya.


Selesai makan Irwan bangkit dan berjalan keluar, sedangkan Novia masih membereskan piring kotor lalu mencucinya.


" *Dasarr laki-laki tak tahu diri, datang kesini seperti tak merasa bersalah menyebalkan* " sambil terus mengoceh tak jelas.


Kemudian dia keluar, dan ternyata Irwan masih disana.


Novia duduk di samping ibunya, membuang pandangan ke segala arah. Irwan tahu Novia masih marah, dia akhirnya berpamitan.


Camillah yang tadinya sudah duduk di dalam mobil pak Wahyu meminta turun dan menghampiri ayahnya.


" Aku berangkat dulu, sekalian mengantar Camillah ke sekolah " ucapnya lalu bangkit berdiri.


" Ayo Millah kita berangkat, salim dulu sama tata dan ina jangan lupa mama juga " titahnya melirik kearah Novia.


Ayah dan anak itu pun naik ke dalam mobil dan perlahan bergerak menjauh.


" Novia, sebesar apapun masalah rumah tangga jangan pernah mengabaikan urusan perut suami semoga kamu paham maksud mama."

__ADS_1


Novia tak menjawab dia memilih diam karena apa yang diucapkan ibunya benar adanya, hanya saja sikap egonya masih sangat mendominasi.


Hampir seminggu Novia di rumah orang tuanya, Irwan hanya datang setiap pagi menjemput anaknya dan mengantar ke sekolah. Dan pak Wahyu yang bertugas menjemputnya.


Hingga malam hari, Irwan akhirnya datang dan berniat menginap di rumah mertuanya.


" Assalamualaikum " ucap Irwan saat masuk.


"Waalaikumussalam, masuk Wan " jawab pak Wahyu yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu sedangkan bu Ratih sudah tertidur pulas di kamar.


" Iya, Novia dan anak-anak di mana."


" Ada di kamar, masuklah."


Irwan mengangguk lalu melangkah menuju kamar, sampai di depan pintu kamar dia sedikit ragu tapi tetap memberanikan diri mengetuk pintu.


Tok...tok..tok...


" Siapa " terdengar suara dari dalam.


Irwan diam sejenak. " Buka pintunya Vi "


Novia terperanjat mendengar suara suaminya, dia menarik napas lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


Irwan masuk kemudian duduk di tepi ranjang, kedua anaknya sudah terlelap.


" Boleh aku nginap di sini ?"


" Silahkan " jawab Novia singkat.


" Berapa hari ini rumah sepi, tidak ada suara anak-anak yang menyambutku pulang."


Novia masih diam...


" Bagaimana perkembangan Adiba ?" membahas masalah anak mungkin bisa memancing Novia pikirnya.


" Baik, hanya sedikit rewel " jawaban Novia mampu membuat Irwan tersenyum.


" Akhirnya kutub es mencair " gumamnya dalam hati namun tak mau menampakkan senyuman di bibirnya.


Novia berbalik berjalan ke sudut kamar, mengambil karpet kemudian meletakkan di lantai.


Irwan mengangkat sebelah alisnya heran.


" Kamu tidur di lantai, di ranjang sempit kalau bertiga " Ucap Novia sambil menyerahkan bantal dan selimut pada suaminya.


Irwan hanya bisa pasrah, dari pada di usir lebih baik tidur di lantai beralaskan karpet pikirnya.


Pagi hari, saat bu Ratih keluar dia melihat mobil Irwan terparkir di garasi.


Baru saja akan berbalik, bu Ratih terkejut karena pak Wahyu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


" Ada Irwan pah, jam berapa dia datang ?" sambil menunjuk mobil Irwan.

__ADS_1


" Semalam dia datang, papa belum tidur masih duduk di ruang tamu " jawab pak Wahyu.


" Ya sudah, mama ke dapur dulu menyiapkan sarapan " kemudian berlalu meninggalkan pak Wahyu.


__ADS_2