Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
ICU


__ADS_3

Part 98


Riska seperti tak peduli apapun perkataan Novia, tanpa diskusi dan meminta pendapat dia memutuskan sendiri dan membawa Bu Ratih ke rumah sakit.


Kondisi Bu Ratih saat dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma dan tak sadarkan diri, Novia menyarankan pada Riska untuk mengabari saudaranya yang lain tapi diabaikan.


Riska seolah mengambil kendali semua keadaan, dalam situasi seperti itu Riska tak mau melibatkan Novia bahkan saudara-saudara yang lain, justru dia malah menghubungi keluarga suaminya dan hal inilah yang membuat Novia marah.


Novia menjerit di dalam hati, karena kekecewaannya Novia menolak di ajak pergi mengantar ibunya dan memilih pulang bersama anak dan suaminya.


Berderai air mata, Novia naik ke dalam mobilnya disusul anak dan suaminya.


"Ayo, kita pulang. Tak ada gunanya kita disini," ucap Novia dalam isaknya


Irwan menuruti keinginan istrinya, sejujurnya dia juga sedih dan kecewa dengan sikap kakak Iparnya itu.


Dalam perjalanan pulang, air mata Novia terus mengalir, hingga tiba di rumahpun dia masih terisak.


Irwan memegang tangan kedua anaknya masuk menyusul Camillah di belakang, sedangkan Novia lebih dulu masuk ke kamarnya.


"Kalian disini dulu ya, jangan ganggu mama di dalam karena mama lagi sedih."


Irwan menyetel televisi untuk kedua bocah tersebut, kemudian dia masuk ke dapur mengambil segelas air dan membawanya ke dalam kamar


"Vi, minum dulu biar tenang," ucap Irwan menyodorkan gelas minuman


Novia mengambil gelas di tangan Irwan, meminum air dalam gelas hingga tandas. Tangisnya mulai reda dan perlahan menghela napas.


"Kak Riska terlalu egois," ujar Novia geram


"Kami juga anak-anak mama dan berhak mengambil keputusan, kenapa dia justru melibatkan orang lain?" sambungnya


Irwan diam, mendengar dan menyimak keluh kesah istrinya yang sedari tadi ingin meluapkan kemarahannya.


"Lebih baik kamu istirahat Vi, biar aku mengurus anak-anak."


Irwan mengalihkan pembicaraan, agar Novia bisa beristirahat dengan tenang dan emosinya mereda.


Malam harinya, Randi datang menemui Novia setelah mendengar kabar bahwa ibu mereka di rawat lagi di rumah sakit.


Novia terkejut saat kakaknya tiba-tiba muncul, berdiri di depannya dengan wajah datar dan dingin.


"Kenapa tidak mengabari kakak kalau mama di rumah sakit?" tanya Randi

__ADS_1


Sejenak Novia tertegun lalu berucap,"tadi aku sudah menyarankan pada kak Riska, tapi dia mengabaikanku."


"Sebaiknya kakak ke rumah sakit, lihat kondisi mama," ujar Novia


Tanpa berkomentar lagi, Randi langsung berbalik meninggalkan Novia dan bergegas menuju rumah sakit.


"Vi, kita ikut kak Randi kesana, perasaanku tidak enak," ajak Irwan setelah kakak Iparnya berlalu pergi.


Novia diam, hatinya tergerak untuk menyusul kakaknya tapi dia juga bingung memikirkan ketiga anaknya.


"Aku saja yang kesana Wan, kamu temani anak-anak di rumah," ucap Novia


"Mana mungkin aku membiarkanmu sendirian kesana malam-malam begini?"


Irwan protes dan tidak mengijinkan Novia pergi, apalagi jarak antara rumah mereka dan rumah sakit cukup jauh.


"Kumohon Wan, ijinkan aku pergi. Kalau anak-anak ikut nanti kasihan mereka," bujuk Novia


Lama Irwan diam dan berpikir, banyak hal yang menjadi pertimbangan jika anak mereka ikut lalu akhirnya Irwan pun mengalah dan mengijinkan Novia pergi menyusul kakaknya.


Novia bergegas mengganti pakaiannya, tak lupa dia berpamitan pada ketiga anaknya, tentu saja Emir dan Adiba harus dibujuk terlebih dahulu karena mereka belum mengerti situasi yang terjadi.


"Pakai jaket Vi, perjalanan jauh dan cuaca dingin kalau malam begini," ujar Irwan mengingatkan istrinya.


"Iya, aku berangkat ya," pamit Novia.


"Hati-hati di jalan jangan ngebut." Irwan mengingatkan kembali saat Novia menyalakan mesin motornya.


Novia mengangguk, kemudian memacu motornya membela jalanan menuju rumah sakit.


Hampir satu jam Novia menempuh perjalanan, akhirnya dia tiba di rumah sakit. Wanita itu memarkir motornya lalu bergegas masuk mencari ruangan tempat ibunya di rawat.


Baru saja Novia hendak menemui seorang perawat, dari jauh dia melihat Randi berjalan menuju ke arahnya.


"Dengan siapa kesini?" tanya Randi dengan kepala yang mengenok kekiri dan kanan.


"Sendirian kak," sahut Novia


"Suamimu?"


"Menemani anak-anak, tadinya dia mau ikut tapi aku bilang tidak usah," jawab Novia.


"Dimana ruangan mama?" tanya Novia kemudian.

__ADS_1


"Mama di ruang ICU," balas Randi tertunduk lesu


Suara Novia tercekat di leher, napasnya terasa berat dan tubuhnya seakan-akan tak bisa dia gerakkan.


Dengan sigap Randi memegangi tubuh adiknya, menuntun langkah Novia mencari tempat untuk duduk.


"Tenang Vi, mama akan baik-baik saja," hibur Randi.


"Jangan berbohong padaku kak, mama kesini dalam keadaan koma dan tidak sadarkan diri!"


Setengah menjerit Novia mengatakan pada Randi keadaan ibunya saat dibawa ke rumah sakit, wanita tersebut seperti kehilangan kesadarannya dan ingin berteriak sekuat tenaga.


"Vi, tenang ingat kita ada dimana sekarang? Bisa-bisa kamu diusir keamanan kalau kalap begini."


Randi meraih tubuh adiknya ke dalam pelukannya, mengelus punggung Novia memberi rasa nyaman.


"Ayo, kita lihat mama. Tapi kamu harus tenang," ajak Randi.


Kedua kakak beradik itupun berjalan menuju ruang ICU tempat Bu Ratih di rawat, Randi memegangi tangan adiknya sampai di depan pintu ruangan.


Seorang petugas datang menghampiri dan bertanya,"ada yang bisa saya bantu pak?"


"Adik saya baru datang, bisakah dia menemui ibu di dalam?"


"Oh, silahkan tapi harus memakai baju protektif sebelum masuk ke dalam," ujar perawat kemudian mengambil baju tersebut dan menyerahkan pada Novia.


Tangan Novia bergetar saat mengenakan baju tersebut, untuk pertama kalinya Novia memakainya dan menginjakkan kaki di ruangan yang namanya begitu mengerikan bagi Novia.


Novia membuka pintu, perlahan masuk dan berjalan menuju ranjang tempat ibunya terbaring.


"Mamaaa, kenapa mama jadi seperti ini? Ucapnya lirih.


Langkah Novia terasa begitu berat, terlebih saat melihat penampakan tubuh ibunya yang terpasang berbagai macam alat kesehatan.


Bu Ratih belum sadarkan diri sejak diantar ke rumah sakit hingga berada di ruangan ICU, alat rekam jantung dan alat bantu pernapasan membuatnya benar-benar terlihat tak berdaya.


Novia mendekat, memeluk kaki ibunya sambil terisak pilu tak menyangka wanita yang disayanginya akan mengalami hal seperti ini.


"Maafkan aku mah, harusnya aku tidak membiarkan orang lain yang mengurus mama," ucapnya disertai isak tangis


Novia bergeser, berpindah ke samping kepala ibunya lalu berbisik.


"Mah, mama bisa mendengarku? Aku disini menemani mama."

__ADS_1


"Beri tanda untukku kalau mama mendengar, jangan diam maah," ucapnya lagi


Tubuh Bu Ratih tak memberi respon, masih diam tak bergerak hanya suara detak mesin rekam jantung yang terdengar nyaring di telinga Novia.


__ADS_2