Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Trauma Novia


__ADS_3

Part 48


Seharian Irwan menghabiskan waktunya di rumah, bahkan untuk keluar mencari makan pun dia malas.


" Besok aku coba lagi kesana menemui Novia."


Dia masih tak habis pikir dengan reaksi Novia saat melihatnya.


" Hmm mungkin bertemu dan ngobrol dengan teman bisa mengurangi rasa suntukku."


Sore hari, dia memutuskan keluar menemui teman-temannya. Irwan mengendarai mobil tanpa tujuan yang jelas, tempat biasa mereka berkumpul tampak sepi.


Irwan memarkir mobil di pinggir pantai, dia mengambil sebatang rokok untuk menemaninya.


Matanya menatap gulungan ombak yang saling berkejaran, saat dia sedang asyik menikmati suasana terdengar deru mesin mobil berhenti di dekat mobilnya.


Irwan menoleh kesamping asal suara tersebut, dia mengenali mobil itu dan sosok yang turun dari mobil.


" Siaall, dia menemukanku di sini apa dia punya mesin telepati ? Selalu saja seperti hantu."


Irwan membuang puntung rokoknya, tapi dia tetap pada posisi duduk dan diam menunggu di dalam mobil.


" Dunia ini memang sempit, tanpa harus capek mencarimu akhirnya aku menemukanmu di sini."


Tanpa meminta izin Sukma langsung naik ke dalam mobil dan duduk di sebelah Irwan.


" Mau apa lagi kamu Suk, bukannya urusan kita sudah selesai ?"


" Heii, kamu pikir akan semudah itu lepas dariku ? Mana perhiasan dan ponselku kembalikan sekarang juga !"


" Sukma, jangan permalukan dirimu kamu tahu kan barang-barang itu sudah di jual dan uangnya di gunakan untuk apa ?"


" Aku tidak mau tahu, orang tuaku menanyakan kemana barangku dan kamu harus menggantinya."


Sukma mulai mengeluarkan jurus ancamannya, sayangnya Irwan juga punya tameng untuk membela diri. Perdebatan terus berlangsung di dalam mobil sampai Sukma tak bisa menahan emosi dan menampar Irwan.


" Sukma jaga sikapmu, aku tidak akan pertaruhkan rumah tanggaku demi wanita sepertimu ingat itu !!, sekarang turun dari mobilku sebelum aku kalap."


Irwan mendurung tubuh Sukma menjauh dan memintanya turun, wanita di depannya sudah memancing kemarahannya.


" Turun katakuu !! Jangan membuatku makin emosi." Irwan berusaha mendorong Sukma tapi wanita itu tak menunjukkan rasa takutnya.


Irwan turun lalu menarik kasar tangan Sukma supaya ikut turun, Dia menyeret Sukma kemudian membuka mobil yang di tumpangi Sukma.


Pria yang ada di dalam mobil Sukma mencoba melerai, namun Irwan menatapnya sinis.


" Jangan ikut campur ini urusanku dan Sukma, sebaiknya bawa dia pergi dari sini dan jangan pernah mencariku !!"

__ADS_1


Irwan mendorong kasar tubuh Sukma masuk ke dalam mobil lalu menutup pintunya, setelah itu dia berbalik dan meninggalkan mobil tersebut.


" Aaahh dasaar buayaa penipu, aku tak akan memaafkanmu." Sukma menjerit sekuat tenaga di dalam mobil, namun sia-sia sebab Irwan tak mendengarnya karena dia sudah berlalu pergi memacu kencang mobilnya meninggalkan Sukma di tempat itu.


Setelah merasa aman dari Sukma, Irwan menurunkan laju kendaraannya sambil berpikir kemana tujuan selanjutnya.


Hari sudah mulai gelap, Irwan terus saja mengendarai mobilnya tanpa tujuan yang jelas hingga akhirnya dari jauh dia melihat beberapa temannya berkumpul di tempat biasa mereka menghabiskan waktu selain di kantin kampus.


" Wah kebetulan, kalian semua lagi kumpul di sini rupanya." Gumamnya.


Irwan berhenti dan memarkir mobilnya lalu turun, melangkah pasti menghampiri teman-temannya.


" Nah, ini dia orangnya yang kita tunggu." Sapa seorang pria saat Irwan muncul di hadapan mereka.


" Ah iya, sini Wan gabung." Sahut seseorang yang duduk, tampak di atas meja berjejer beberapa botol minuman beralkohol.


Tanpa banyak bicara Irwan pun ikut bergabung, malam itu mereka habiskan dengan berpesta minuman keras hingga semuanya mabuk.


Jam sepuluh pagi, Irwan membuka mata kepalanya terasa pusing dan pandangannya masih kabur, perlahan dia memijat keningnya.


Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


" Ini kan kamarku, kenapa bisa aku ada disini bukannya semalam aku di warung mas Tri ?"


Irwan mencoba bangun, namun tubuhnya masi lemas dan malah memuntahkan isi perutnya ke lantai yang hanya berupa cairan.


Irwan merasa sekujur tubuhnya begitu berat dan susah digerakkan, semalam dia minum terlalu banyak bahkan menghabiskan beberapa botol minuman sendirian.


Sore hari Irwan bangun setelah tertidur cukup lama, kesadarannya mulai normal dia menggerakkan tubuhnya dan bangkit.


" Astagaa huuft gagal lagi rencanaku menemui Novia, dan harus mengurus kekacauan di kamar ini."


Dengan langkah gontai dia berjalan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaian lalu membereskan kamarnya.


Bau minuman sangat menyengat, Irwan harus mengulang-ulang membersihkan dengan cara di pel menggunakan cairan pembersih lantai.


Setelah semua pekerjaannya beres, Irwan duduk beristirahat di ruang tamu dan menyadari sesuatu.


" Perutku lapar sejak kemarin belum makan, semoga di dapur ada yang bisa di makan."


Irwan bangkit lalu berjalan masuk ke dapur, dia membuka rak penyimpanan tempat Novia biasa menyimpan bahan makanan kering.


Dia menemukan satu bungkus mi instant dan telur, bisa mengganjal perutnya untuk sementara pikirnya.


Tanpa pikir panjang Irwan lalu memasak mi dan telur kemudian makan dengan lahap sambil memikirkan bagaimana cara menemui istrinya


" Novia kan istriku, kenapa pula harus bingung menemuinya tapi bagaimana kalau dia menolakku lagi seperti kemarin ?"

__ADS_1


Pikiran Irwan kini berperang, satu sisi dia ingin menemui Novia namun sisi yang lain dia takut Novia menolak kedatangannya.


" Sebaiknya aku coba dulu, dan semoga Novia mau menemuiku dengan senang hati."


Irwan memutuskan malam ini dia harus ke rumah mertuanya untuk bertemu anak dan istrinya. Dia bergegas menghabiskan makanannya lalu mengambil kunci mobil kemudian keluar dari rumah.


Irwan naik ke dalam mobil, menyalakan mesin dan perlahan bergerak menuju rumah mertuanya. Dalam perjalanan dia mulai menyusun kata-kata apa nanti yang akan di ucapkan bertemu Novia.


Tak lama dia sudah sampai di depan rumah mertuanya, rasa gugup tiba-tiba datang.


" Semangat Irwan, jangan gugup semua pasti bisa diatasi."


Dia mencoba menenangkan diri sebelum turun, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Irwan menoleh kearah rumah, tampak kedua mertuanya sedang berbincang di teras rumah. Dia memberanikan diri turun dan melangkah masuk.


" Assalamualaikum."


Kedua orang tua paruh baya yang sedang berbincang itu menoleh secara bersamaan ke arah Irwan.


" Waalaikumussalam."


" Eh Irwan, masuk." Pak Wahyu membalas salam menantunya dan menyuruhnya masuk.


" Iya pah terima kasih." Balasnya


" Novia di dalam masuklah, Camillah juga belum tidur." Lanjut pak Wahyu lagi.


" Iya, saya masuk dulu."


Irwan melangkah sambil sedikit membungkuk melewati mertuanya, saat masuk ke dalam dia mendengar suara gelak tawa Camillah.


Tiba di depan pintu kamar, Irwan mengetuk pintu dan memanggil nama Camillah.


" Millah."


Novia yang asyik bercengkrama dengan anaknya mendadak terdiam, tubuhnya terasa kaku jantungnya berdetak lebih kencang.


Untuk kedua kalinya Irwan memanggil anaknya, karena panggilan pertama tidak mendapat jawaban.


Sesaat kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekat dan pintu pun terbuka.


Irwan masih diam mematung di depan pintu, sementara Novia juga masih diam di tempatnya. Keringat Novia bercucuran wajahnya gelisah.


Camillah menarik tangan Irwan masuk dan menutup kembali pintu kamar.


Sambil melangkah, Irwan mengamati perubahan wajah istrinya yang terlihat pucat dan tubuh gemetar.

__ADS_1


" Novia, ada apa denganmu ? Kuharap kamu tidak membenciku begitu dalam."


Irwan berhenti di depan ranjang, tangannya masih menggenggam erat Camillah ruangan mendadak sepi tak ada satupun yang bersuara.


__ADS_2