Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Sayang Cucu


__ADS_3

Part 41


Waktu cuti Novia sudah berakhir, dan dia sudah bersiap-siap kembali bekerja seperti biasa.


Seperti halnya pagi ini, Novia menyiapkan segala kebutuhan bayinya sebelum berangkat karena bayinya akan di titipkan pada orang tuanya.


" Mah susu Adiba sudah aku siapkan, setelah mandi dia sekarang tidur lagi."


" Iya, Camillah ikut kamu atau papanya ?"


" Aku yang mengantarnya ke sekolah, pulangnya papa yang jemput ya." Novia meminta ayahnya yang menjemput Camillah karena dia pulang agak siang banyak yang harus di selesaikan.


"Hmm, iya " jawab pak Wahyu.


" Baiklah kami berangkat, ayo Millah salim sama tata dan ina " Camillah pun menuruti perintah ibunya meraih tangan kakek dan neneknya.


Novia menyalakan mesin motornya, Camillah naik dan duduk di boncengan. Motor perlahan bergerak meninggalkan rumah ke tempat tujuannya.


Novia lebih dulu mengantar anaknya ke sekolah, tiba di sekolahnya Camillah turun dan mencium tangan ibunya.


Novia menahan tangan Camillah yang hendak berbalik " Millah, ingat sayang harus patuh dan menurut kata ibu guru ya." Petuah kecil yang selalu dia ucapkan pada anaknya sebelum masuk ke kelas.


" Iya mama " Camillah memberikan senyum terbaiknya kemudian berlari kecil menuju kelasnya.


Novia memutar balik motornya menuju tempat kerjanya.


Tiba di sekolah, Novia memarkir motornya kemudian berjalan ke ruang guru yang tempatnya terpisah dari gedung lain dan posisinya berada paling depan di area sekolah.


Dia masuk ke dalam, masih tampak sepi hanya ada satu orang petugas yang membersihkan ruangan.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumussalam, eh bu Novia sudah masuk hari ini ?"


" Iya, cutiku berakhir sabtu kemarin."


Novia meletakkan tasnya di atas meja.


" Saya permisi bu, mau membersihkan ruang UKS " pamit petugas tersebut.


" Iya silahkan pak " balas Novia dan petugas itu pun berlalu.


Tak lama, satu per satu guru-guru datang dan mengisi absen.


" Eh Bu guru sudah masuk " sapa seorang teman pada Novia dan dia menjawab dengan senyuman.

__ADS_1


" Sudah lama Vi ?" kali ini sahabatnya Diana yang menyapanya ketika masuk dan melihat Novia duduk. Dia langsung mendekat dan ikut duduk di sebelah Novia.


" Baru sepuluh menit yang lalu."


Diana melirik jam yang ter pasang di dinding ruangan.


" Jam tujuh, waktunya upacara " Dia bangkit kemudian menekan bel, siswa berlarian menuju lapangan guru-guru pun mengikuti dan berbaris rapi untuk melaksanakan upacara.


Hari pertama Novia menjalani tugasnya berjalan lancar setelah dua minggu cuti, tepat jam satu siang mereka semua bubar dan pulang ke rumah masing-masing.


Novia sudah tiba di rumah, dia masuk ke dalam di ruang keluarga pak Wahyu dan cucunya Camillah sedang menonton bu Ratih berbaring di atas sofa tampak kelelahan.


Novia berhenti sejenak, Camillah mendongak " Mamah Millah nonton di temani tata, tadi dedek Diba nangis terus mamah dia lapar " adunya pada Novia.


Novia lalu sedikit membungkuk menyesuaikan dengan tubuh Camillah " apa iya ? Kasihan ina kalau begitu."


" Kan ada kakak mah, jadi dedek berhenti nangis "


" Di kasih susu ya ?" tanya Novia


" Di gendong Ina mah gantian sama tata, Millah mau juga menggendong tapi di larang " jawabnya polos.


" Hehe, kakak masih kecil nak belum bisa gendong dedek " Novia terkekeh geli mendengar pengaduan anaknya.


" Mama ganti baju dulu ya, jangan berisik nanti ina bangun kasihan ina capek "


Pak Wahyu hanya menyimak percakapan ibu dan anak di dekatnya, Novia berdiri dan berjalan masuk ke kamarnya.


Dia menghampiri ayunan, " kamu kalau lagi tidur begini lucu, tapi kalau bangun dan menangis pasti seisi rumah panik." gumamnya sembari mengelus pipi mungil bayinya.


Setelah berganti pakaian, Novia naik ke atas ranjang berbaring melepas penatnya, melemaskan otot yang tegang karena aktifitasnya di sekolah, tadinya dia hanya sekedar berbaring tapi malah jadi terlelap.


Malamnya, setelah selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga berbincang sambil menonton tayangan Televisi.


" Mah kakak ngantuk " Camillah menarik tangan Novia.


" Iya kita ke dalam, Camillah sudah ngantuk kami ke kamar dulu."


Pak Wahyu dan istrinya hanya mengangguk, mereka masih memilih duduk dan bersantai lebih dahulu.


Novia bangkit berjalan masuk dan Camillah mengikuti langkah ibunya.


Tiba di kamar, Novia merapikan tempat tidur mengibas kasur jangan sampai ada semut atau hewan kecil lainnya yang berbahaya.


" Ayo cuci kaki dan sikat gigi dulu nak."

__ADS_1


Masuk ke kamar mandi menyusul Camillah di belakang yang terus mengucak matanya.


Selesai mencuci kaki, dia mengganti baju Camillah dengan piyama yang bersih lalu naik ke atas tempat tidur.


Novia melirik jam di atas nakas " jam sembilan lebih, pantas saja Camillah langsung pulas begitu" dia tersenyum melihat wajah Camillah.


Kemudian dia pun ikut naik ke atas tempat tidur, berbaring di samping anaknya tapi belum bisa terlelap pikirannya masih berkelana.


Selama Novia dan anaknya menginap di rumah orang tuanya, Irwan setiap malam pulang larut dengan alasan singgah dan mengobrol dulu dengan orang tuanya.


Lama pikiran Novia melanglang buana entah kemana, akhirnya rasa kantuk pun datang dan dia akhirnya tertidur.


Hingga pagi, Irwan tak juga muncul sampai Novia bangun dan melirik ruang kosong di sampingnya dan matanya beralih ke arah jam.


" Rupanya dia tidak datang, mungkin tidur di rumah kami."


Novia bangun dan turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi, sebelum anak-anaknya bangun dia selalu mandi lebih awal dan menyiapkan sarapan serta kebutuhan bayinya saat di tinggal bekerja.


Saat Novia keluar kamar hendak ke dapur, dia berpapasan dengan ibunya yang muncul dari luar dan juga menuju dapur.


Merekapun berjalan beriringan masuk kemudian bersama-sama menyiapkan sarapan.


" Vi, suamimu tidak datang ya semalam ?" bu Ratih bertanya untuk memastikan karena di luar dia tidak melihat mobil menantunya.


" Iya mah, mungkin tidur di rumah kami " sahutnya.


Bu Ratih hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O sebagai jawaban. Mereka melanjutkan pekerjaan, bu Ratih menggoreng telur dan Novia menyeduh teh ke dalam teko lalu menyiapkan peralatan makan ke atas meja.


" Aku bangunkan Millah dulu mah, nanti dia terlambat " Novia meletakkan teko berisi teh keatas meja dan berjalan masuk ke kamar untuk membangunkan anaknya.


Novia dan anaknya sudah berpakain rapi, mereka ke ruang makan dan sarapan bersama di sana, setelah selesai sarapan mereka ber empat keluar.


Novia pun berpamitan " mah kami berangkat, susu dan pakain Diba sudah aku siapkan karena dia belum bangun jadi aku tidak sempat memandikannya."


" Iya, semoga tidak rewel lagi seperti kemarin hehe " jawab Bu Ratih sambil terkekeh membayangkan betapa repotnya dia dan suaminya saat bayi kecil itu terus menangis.


" Maaf mah, Adiba sudah merepotkan kalian." Hati kecil Novia sebenarnya tidak tega melihat kedua orang tuanya di usia senja harus kelelahan mengurus bayinya.


Tapi harus bagaimana lagi, dari pada dia menitipkan pada mertuanya dan akhirnya akan jadi masalah lagi pikirnya.


" Mama dan papa tidak keberatan di titipi cucu, malah jadi hiburan buat kami " jawab bu Ratih tulus.


" Doakan aku mah, semoga rizkiku lebih bisa menyewa orang untuk menemani mama sekedar untuk beres-beres dan memasak."


" Aamiin, semoga di ijabah." jawab bu Ratih lagi.

__ADS_1


" Ya sudah, kami berangkat dulu mah."


Novia dan anaknya naik ke atas motor dan berlalu meninggalkan bu Ratih yang berdiri di depan pagar mengantar anak dan cucunya.


__ADS_2