
Part 85
Novia sudah menyampaikan keputusannya, Pak Wahyu, Bu Ratih, dan kakek Irwan yang menjadi saksi serta ikut bertanda dalam surat perjanjian yang dibuat.
"Wan, papa tua berharap dan memohon padamu, rubahlah perilakumu ini kesempatan terakhir yang diberikan istrimu maka jaga baik-baik kepercayaannya," ucap Sang Kakek.
"Baiklah, Pak Wahyu dan Bu Ratih terima kasih sudah menyambut kami dengan baik, saya permisi pulang." Si kakek berpamitan pada keluarga Pak Wahyu.
Mereka saling bersalaman, kemudian Irwan mengantar kakeknya kembali ke rumahnya.
Dalam perjalanan pulang Irwan tak henti-hentinya mendapat nasihat dan peringatan dari kakeknya.
"Wan, ingat baik-baik pesan papa tua, jangan membuat malu keluarga," ucap kakek Irwan
Irwan mendengus ....
"Iya, papa tua jangan khawatir aku pasti mengingatnya," balas Irwan
"Kali ini istrimu tidak main-main Wan, jangan sampai kamu menyesal nanti." Kalimat ancaman keluar dari mulut Si Kakek.
Irwan megerjap, ucapan kakek membuatnya tersadar pada ancaman Novia dalam surat perjanjian.
"Kalau sampai kamu mengulangi perbuatanmu, papa tua tidak akan mau membantumu ini yang terakhir kalinya," lanjutnya.
"Iya," sahut Irwan singkat.
Mereka sudah tiba di rumah kakek Irwan, setelah kakeknya turun Irwan memutar balik mobilnya kembali ke rumah mertuanya.
Sesampainya di rumah, Irwan memarkir mobilnya di dalam garasi kemudian dia turun dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat berjalan menuju kamar, Irwan berpapasan dengan putrinya Camillah yang menggandeng adiknya Emir. Irwan berhenti lalu menghampiri kedua anaknya.
Camillah tertunduk sementara Emir menatap heran pada Irwan layaknya baru bertemu dengan orang asing.
Irwan sedikit menunduk agar tubuhnya sejajar dengan Camillah, perlahan menarik tubuh gadis kecil di hadapannya lebih dekat lagi. Camillah tidak menolak dan akhirnya menghambur ke pelukan ayahnya.
"Maafkan papa," bisik Irwan lirih di telinga Camillah
Camillah mengangguk, bulir kristal menetes di pipinya membuat Irwan semakin terenyuh dan mengeratkan pelukan pada Camillah kemudian meraih Emir dan memeluknya.
"Mama dan Diba dimana?" tanya Irwan mengurai pelukannya.
Camillah menunjuk ke dalam kamar Novia.
"Oh, mama di kamar ayo kita masuk ke dalam," ajak Irwan sembari memegang tangan kedua anaknya.
Ragu-ragu Irwan melangkah masuk, rasa canggung sekaligus takut dicecar oleh Novia
Mendengar suara langkah yang mendekat, Novia menoleh pada sumber suara. Tapi setelah tahu siapa yang datang Novia segera memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Irwan memberanikan diri menyapa istrinya, "Bagaimana kabarmu Vi?"
"Aku tidak butuh basa-basi dari seorang pembohong," balas Novia tanpa menoleh.
Irwan tak lagi melanjutkan perbincangan, sepertinya Novia belum sepernuhnya bisa menerima kehadirannya.
Irwan berbalik dan memilih berbicara pada anaknya, untungnya Camillah sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik.
Satu bulan kemudian ....
Hubungan Novia dan Irwan mulai membaik, namun, Novia tetap bersikap waspada dan belum sepenuhnya percaya pada Irwan.
Irwan tentu sangat memaklumi sebab tidak mudah mengembalikan kepercayaan yang sudah dikhianati.
Minggu pagi, Novia membereskan rumah ditemani Irwan keduanya membersihkan halaman hingga kebun belakang.
Setelah itu Irwan mengumpulkan pakaian kotor dan membawanya ke belakang untuk dicuci. Pasangan suami istri itu sudah membagi tugas masing-masing.
Tak ketinggalan Pak Wahyu yang juga ikut sibuk menjemur kasurnya dan karpet di ruang keluarga. Kemudian Pak Wahyu menyodorkan beberapa lembar pakaian kotornya pada Irwan.
Irwan terkejut, baru kali ini ayah mertuanya bersikap seperti ini bahkan terasa aneh bagi Irwan.
Dengan Tergesa-gesa Irwan mendatangi Istrinya di dapur, memberitahu keanehan sikap ayah mertuanya.
"Vi, tumben papa memintaku mencuci bajunya," ujar Irwan
Novia menoleh dan meletakkan panci yang dipegangnya ke atas meja.
"Papa memintaku mencuci bajunya, bukannya selama ini papa tidak pernah mau bajunya dicuci orang lain kecuali kamu Vi?"
Novia memutar bola matanya, memang benar selama ini ayahnya tidak pernah mau pakaiannya dicuci orang lain kecuali Novia.
"Ah, mungkin karena papa melihatku sibuk hari ini," jawab Novia sekenanya.
"Tapi menurutku aneh," celetuk Irwan dan berlalu meninggalkan Novia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Malam harinya, saat Novia di dapur menyiapkan makan malam, Pak Wahyu datang menghampiri dan menyapa Novia dengan suara yang lembut
"Masak apa malam ini nak?"
Novia menoleh ...,
"Telur dadar pah dan sayur lodeh," jawabnya
"Besok kamu beli ikan ya, papa lagi pengen makan ikan goreng bakar dabu-dabu," ucap Pak Wahyu kemudian berbalik dan melangkah keluar.
Beberapa hari terakhir ini, Pak Wahyu selalu menawari diri mengantar Novia kerja dan dengan senang hati Novia menerimanya.
Hari kelima, tepatnya Jumat pagi Novia meminta ayahnya mengantar tapi ditolak. Bahkan Pak Wahyu tak mau melihat wajah Novia dan malah menyuruh Irwan yang mengantar.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju tempat kerja Novia, keduanya berbincang tentang ayah Novia.
"Vi, aku merasa ada yang aneh dengan papa," ucap Irwan
"Maksudmu?" tanya Novia.
"Sulit dijelaskan Vi, hanya saja firasatku merasakan sesuatu," balas Irwan
Novia terdiam, belum bisa menangkap maksud ucapan suaminya. Sedangkan Irwan sendiri juga sulit untuk menjelaskan apa yang dia rasakan.
Novia sudah tiba di sekolah dan turun dari motor, Irwan lalu kembali ke rumah dan bersiap untuk berangkat kerja seperti biasanya.
Hari ini Novia pulang lebih cepat, mengganti pakaiannya dan memasak untuk makan siang.
Hidangan makan siang sudah siap di atas meja, Novia keluar dan memanggil kedua orang tuanya makan.
Saat Pak Wahyu tiba dan berdiri di dekat meja makan dan melihat menu di atas meja, tiba-tiba saja dia marah.
"Papa kan sudah bilang mau makan ikan bakar dabu-dabu, kenapa malah di suguhi menu ini?"
Novia terkejut, baru kali ini dia melihat ayahnya marah bahkan ketika dia melakukan kesalahan fatal sekalipun. Novia merinding ngeri dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan ayahnya.
"Pah, aku belum sempat ke pasar. Semoga Irwan pulang nanti membawa ikan segar makan yang ini dulu pah," bujuk Novia.
Selesai makan siang, Pak Wahyu bersiap berangkat ke masjid untuk shalat Jumat dengan pakaian serba putih.
Sore harinya Irwan pulang dan membawa ikan segar, Novia menyambut suaminya karena akhirnya keinginan ayahnya terpenuhi.
Setelah menyodorkan ikan, Irwan kembali naik ke dalam mobilnya dan pamit pada Novia kalau dia akan ke rumah ibunya.
Novia masuk ke kamar ibunya untuk menemui ayahnya, tapi orang yang dicarinya tidak ada di kamar.
"Papa kemana?" tanya Novia
"Papamu keluar, setelah shalat jumat tadi pergi ke kebun katanya mau menanam cabe," jawab Bu Ratih.
"Ya, sudah. Aku ke belakang dulu mah mau masak pesanan papa ikan bakar dabu-dabu," ujar Novia dan berlalu pergi.
Hampir dua jam Novia berkutat dengan menu masakannya, sebelum membakar ikan Novia menyempatkan diri mandi.
Novia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan jubah mandi, tergesa-gesa menuju dapur dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
Tak lama Pak Wahyu datang, bergegas mandi karena waktu sudah menjelang maghrib.
Saat membakar ikan, angin kencang bertiup mengitari rumah Pak Wahyu.
"Aneh, kenapa anginnya cuma ada disekitar rumah ini? gumam Novia
Karena merasa takut, Novia mematikan bara ditungku lalu mengangkat ikan dan memindahkan ke piring.
__ADS_1
Saat Novia memasukkan piring yang berisi ikan ke dalam lemari, Pak Wahyu melewati Novia tanpa menoleh sedikitpun dan hanya fokus berwudhu kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya.