
Part 65
Malam hari saat pulang, rumah tampak sepi anak-anak Irwan sudah tidur begitupun mertuanya hanya Novia yang masih terjaga menunggu suaminya pulang.
Novia menyambut kedatangan suaminya di pintu, Irwan melangkah masuk di susul Novia yang berjalan di belakang.
" Mau makan ?"
" Aku belum lapar, tolong buatkan kopi untukku."
Kening Novia mengernyit, tidak biasanya suaminya meminta kopi tapi tetap dia penuhi permintaan suaminya.
Novia masuk membawa secangkir kopi lalu meletakkan di depan suaminya, kemudian Novia duduk di depan suaminya.
Irwan duduk bersandar sambil memijat pelipisnya, tidak mungkin dia terus diam sementara waktu akan terus berjalan dan dia harus menyelesaikan masalah ini.
" Vi, mama mau jual mobil." Satu kalimat terlontar dari Irwan.
Novia terkejut, matanya terbelalak mendengar ucapan suaminya.
" Kalau mobil di jual bagaimana dengan nasibmu ?" Ujar Novia.
" Tadi pagi aku ketemu mama, katanya sudah ada yang menawar mobil itu karena mama butuh uang dan modal usaha untuk Romi."
" Lalu apa jawabanmu ?"
" Aku meminta waktu pada mama, padahal aku sendiri belum punya solusi aku pusing Vi."
" Bagaimana kalau mobil itu kita beli dan jadi milik kita, kamu juga bisa tetap bekerja ?" Usul Novia.
" Uangnya dari mana Vi ? Kamu jangan mengada-ngada."
" Aku akan mengajukan pinjaman ke Bank dengan jaminan SK." Balas Novia tanpa pikir panjang.
" Besok pagi aku akan bicarakan sama mama dan papa dan semoga mereka setuju, sekarang istirahatlah."
Seperti menemukan air ditengah padang pasir perasaan Irwan lega mendengar ucapan Novia, istrinya memang selalu punya cara dan pandai mencari solusi ketika pikirannya buntu seperti saat ini.
" Habiskan kopinya dan tidurlah."
" Iya, kamu duluan aku belum ngantuk." Balas Irwan.
Novia bangkit dan melangkah menuju ranjang, kemudian dia naik dan merebahkan tubuhnya disamping anak-anaknya.
Setelah menghabiskan kopinya, Irwan keluar membawa cangkir kotor ke dapur kemudian dia kembali ke kamar dan menyusul istrinya tidur.
Besok paginya ...
Selesai sarapan, Novia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.
" Pah, aku ingin bicara."
" Hmm."
" Kemarin Irwan menemui ibunya karena dia mendengar kabar ibunya akan menjual mobil."
__ADS_1
" Kenapa di jual lalu suamimu kerja apa ?" sambar bu Ratih.
" Karanya mertuaku butuh uang dan modal usaha mah."
" Apa tidak ada cara lain misalnya mencari pinjaman ? Dari pada menjual mobil timbul lagi masalah baru."
" Mungkin mereka tidak punya cara lain lagi mah, dan aku berniat membelinya bagaimana menurut mama dan papa ?"
" Ide bagus, dengan begitu mobil itu akan menjadi milik kalian seutuhnya dan suamimu tetap bisa bekerja." Ucap pak Wahyu setuju dengan keinginan Novia.
" Tapi Novia kan belum punya uang pah ?" Ucap bu Mini.
" Aku akan mengajukan pinjaman ke Bank dengan menjaminkan SK mah, prosesnya juga cepat."
" Berapa lama dan berapa pinjaman yang kamu ajukan ?" Cecar bu Ratih, sebenarnya dia kurang setuju dengan rencana Novia karena dia tak mau anaknya punya hutang.
" Dua hari mah, hari pertama pengajuan dan hari berikutnya pencairan. Mertuaku butuh Rp.25.000.000.00-, dan sejumlah itu juga aku ajukan pinjamanku."
" Hmm, terserah kamu saja mana yang terbaik menurutmu." Ucap bu Ratih pasrah.
" Bagaimana menurut papa ?" tanya Novia pandangannya beralih pada ayahnya.
" Papa setuju, ajukan sesuai kebutuhanmu dan gunakan dengan sebaik-baiknya."
Novia tersenyum sumringah mendengar jawaban kedua orang tuanya, akhirnya dia bisa bernapas lega dan tentunya suaminya bisa tetap bekerja.
" Mah, aku ke kamar dulu."
Kedua orang tua tersebut mengangguk, lalu Novia bergegas masuk ke kamarnya tak sabar untuk menyampaikan hasil pembicaraan mereka pada suaminya yang menunggu di kamar.
" Wan, mama dan papa setuju dengan rencanaku dan aku segera mengurus pengajuannya."
" Kapan kamu mengajukan pinjaman ?"
" Hari ini." Sahut Novia
" Cepat sekali."
" Iya, biar masalahnya cepat selesai dan kita bisa fokus bekerja."
" Hmmm, baiklah aku antar Camillah ke sekolah dia sudah lama menunggu." Ucap Irwan kemudian bangkit dan melangkah keluar.
" Oh iya, sekalian sampaikan pada pak Rizal hari ini aku tidak bisa masuk kerja."
" Iya." Irwan menoleh dan melanjutkan langkahnya keluar.
Setelah suaminya pergi, Novia menyiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Hari ini dia sengaja tidak masuj kerja karena ingin menyelesaikan masalah suaminya.
Irwan sudah kembali ke rumah, sedangkan Novia sudah selesai mengurus kedua anaknya. Novia keluar kamar sambil menggendong putranya menyusul Asiba di belakangnya yang terus merengek.
" Diba kenapa ?" tanya Irwan.
" Mau ikut katanya." Sahut Novia.
Mendengar suara rengekan cucunya, pak Wahyu keluar dari kamarnya dan menghampiri cucunya.
__ADS_1
" Diba ikut tata yaa beli ice cream." Bujuk pak Wahyu dan anak itupun diam dan berjalan masuk ke pelukan kakeknya.
Tak lama bu Ratih juga keluar dan mengambil Emir dari gendongan Novia, lalu membawa masuk ke kamar mereka.
Novia berdiri di depan pintu kamar ibunya kemudian pamit, bu Ratih hanya mengangguk lalu melambaikan tangan memberi isyarat pada Novia segera pergi.
Sepasang suami istri itupun pergi, mereka langsung mendatangi tempat yang menjadi tujuan mereka hari ini.
Setelah semua persyaratan lengkap dan paengajuan audah masuk, mereka di minta untuk datang lagi besok hari.
Keesokkan harinya, Novia kembali meminta izin tidak hadir dia dan suaminya ke Bank. Setelah hampir dua jam menunggu, beberapa saat kemudian Novia di panggil untuk menanda tangani surat perjanjian kredit begitupun dengan Irwan.
Pencairan sudah di lakukan dan uangnya ada di tangan Novia, merekapun memutuskan pulang di perjalanan keduanya membicarakan rencana mereka.
" Uangnya sudah ada, kapan kita menemui mama ?" ucap Novia.
" Besok pagi saja Vi, hari ini aku mau istirahat." Jawab Irwan tanpa menoleh pada istrinya karena fokus pada jalan di depannya.
" Hhmm baiklah, kita langsung pulang saja."
Irwan memacu mobilnya menuju rumah, sesampainya di rumah ketiga anak mereka ada di teras bersama kakek dan neneknya. Camillah berlari menyambut kedatangan orang tuanya, si kecil Adiba juga tak ketinggalan.
Novia menggendong Adiba dan memegang tangan Camillah masuk.
" Assalamualaikum."
" Wa'alaikumussalam."
Novia langsung mengambil posisi duduk di dekat ibunya.
" Bagaimana urusannya sudah selesai ?"
" Iya, sudah mah uangnya ada di sini." Ujarnya sambil menepuk tas yang ada di meja.
" Hati-hati menyimpan uang, jangan sembrono."
" Iya mah, besok pagi kami akan menemui mertuaku untuk melakukan pembayaran biar masalahnya cepat selesai mah."
" Baguslah, biar suamimu juga bisa tenang bekerja dan fokus pada keluarga kalian."
" Kalian sudah makan ?"
" Sudah mah, tadi waktu di jalan pulang mampir ke rumah makan."
" Ya sudah, sana masuk dan istirahatlah Emir juga belum tidur itu."
Novia beranjak dari duduknya lalu berjalan masuk ke kamar, tak lupa dia memasukkan tas berisi uang itu ke dalam lemari dan menguncinya.
Besok paginya ...
Irwan bangun lebih cepat dari biasanya, dia melirik ruang kosong di sebelahnya. Istrinya sudah bangun dan meninggalkan kamar.
Dia bangun dan masuk ke kamar mandi, selesai mandi kemudian dia memakai pakaian yang bersih dari dalam lemari.
Novia muncul di pintu lalu menyapa suaminya yang terlihat sudah rapi.
__ADS_1
" Sudah mandi dan rapi mau kemana ?"
" Hehehe, antar bu boss." Selorohnya dan di sambut tawa renyah Novia.