
Part 52
Bangun pagi Novia bergegas keluar kamar menyiapkan sarapan, sebelum suami dan anak-anaknya bangun dia sudah harus selesai dengan urusan di dapur.
Bu Ratih muncul di dapur dan menghampiri Novia yang sedang membuat nasi goreng.
" Vi, hari ini jadwal mama manasik Diba ikut kamu ya."
Novia menoleh, " Iya mah, makanya aku bangun lebih pagi karena memang rencananya hari ini Diba aku bawa."
" Ya sudah, mama mandi dulu."
Novia melanjutkan lagi pekerjaannya, setelah semuanya beres dia masuk ke kamar dan membangunkan anak dan suaminya.
Setelah suami dan anak-anak Novia mandi dan berpakaian rapi, Novia membuka lemari mengambil uang yang akan di berikan pada mertuanya.
" Wan, uang ini jumlahnya Rp.3000.000.00- dan kamu tahu nanti akan aku gunakan untuk apa, jadi tolong ya kamu yang bertanggung jawab."
Irwan menatap wajah Novia, wanita di depannya ini memang memiliki hati yang bersih walaupun sering kecewa dengan sikap ibunya tapi masih saja mau membantu pikir Irwan.
" Emm kamu ikut ya, kamu yang serahkan pada mama."
" Tapi akau kan harus kerja, nanti terlambat lagi kalau ikut kamu."
" Sekali ini saja Vi, biar mama yakin itu uangmu."
Novia akhirnya menyerah dan menyetujui permintaan suaminya, kemudian mereka keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan, Novia pamit pada orang tuanya, tapi dia merahasiakan tentang uang yang akan di pinjam mertuanya.
" Mah pah, kami berangkat sudah hampir jam tujuh nanti Millah terlambat."
" Iya hati-hati," Sahut bu Ratih sambil terus menyantap makanannya.
Mereka sudah ada di dalam mobil, Irwan meminta anak dan istrinya ikut dengannya naik mobil.
" Millah ikut ke rumah mama atau di antar ke sekolah ?"
" Ya di antar ke sekolah Vi, nanti anakmu terlambat."
" Ya sudah terserah bagaimana baiknya."
Novia memeriksa kembali tasnya, memastikan uangnya sudah ada di dalam tas, setelah yakin semuanya sudah siap mereka pun berangkat.
Irwan berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolah, agar mereka lebih mudah memantau Camillàh.
" Millah duluan ya, mama masih ada urusan penting." Anak itu pun mengangguk dan turun dari mobil lalu melambaikan tangannya dan berlari kecil masuk ke halaman sekolah.
Mobil perlahan bergerak melaju menuju rumah orang tua Irwan.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, perasaan Novia mulai was-was dan sedikit gelisah. Irwan melirik istrinya dan tahu apa yang di rasakan istrinya.
Mereka sudah tiba di rumah bu Mini, Irwan berhenti di halaman dan memarkirkan mobilnya lalu turun, namun Novia belum bergerak sama sekali.
Irwan berbalik, ternyata Novia masih di dalam mobil dia berjalan kembali meendekati mobil lalu mengetuk kaca jendela.
" Turun Vi."
__ADS_1
Novia membuka pintu lalu turun sambil menggendong Adiba, mereka berjalan beriringan masuk. Baru saja Irwan mau mengucapkan salam bu Mini muncul dari dalam rumah.
Novia merasa asing di rumah mertuanya, mereka memutuskan duduk di ruang tamu Novia duduk sambil memeluk Adiba di pangkuannya.
" Kami sudah membawa uangnya, silahkan mama hitung kembali."
Irwan mengambil alih menggendong Adiba dan meminta Novia menyerahkan uang tersebut.
Novia membuka tasnya mengeluarkan uang dan meletakkan di atas meja, dengan sigap bu Mini mengambil lalu menghitungnya.
" Genap Rp.3000.000.00- ."
Bu Mini menatap Novia kemudian menarik napas.
" Novia, suaminya sudah bicara sama mama dan mama meminta waktu enam bulan untuk mengembalikannya."
" Iya mah."
" Lalu kapan papa akan di bawa ke rumah sakit ?"
Irwan sengaja mengingatkan ibunya, dia khawatir uang tersebut malah di gunakan untuk hal yang lain.
Wajah bu Mini berubah masam, menatap tajam ke arah anaknya sementara Irwan yang di tatap sinis sontak berdiri dan berpura-berpura tidak melihat.
" Aduuh sepertinya aku salah bicara, mode sensinya mama keluar lagi ini bahaya."
" Emm, Vi kamu masuk pagi kan hari ini ?"
" Haah ?" Novia hanya menampakkan wajah bingungnya.
" Apa-apaan Irwan ini, bikin bingung saja kelakuannya." Gumam Novia dalam hati
Tanpa berkomentar Novia pun mengangguk, lalu bangkit.
" Kami pamit mah."
Irwan melangkah keluar dan Novia menyusul di belakang, tapi dia masih bingung kenapa suaminya tiba-tiba mengajaknya pergi.
Irwan bergegas masuk ke dalam mobil, Novia pun tak mau ketinggalan dia masuk dan mengambil Adiba yang duduk di jok mobil kemudian memangkunya.
" Wan kamu ini kenapa ? Tak ada angin tak ada hujan main kabur saja."
" Hehe, Vi mama tadi lagi masuk mode ganas." Ucapnya sambil terkekeh.
" Oow." Novia hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O.
" Kita mau kemana lagi setelah ini ?"
" Antar kami pulang, tiba-tiba aku merasa pusing."
" Lalu bagaimana dengan Camillah ?"
" Nanti papa yang jemput."
Irwan pun menyalakan mesin, mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah orang tuanya dan mengantar istrinya pulang.
Sampai di rumah, Novia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Perutnya serasa di aduk dan memuntahkan semua makanan dalam perutnya.
__ADS_1
Irwan menyusul istrinya masuk sambil memegang tangan Adiba, melihat kondisi istrinya dia meminta Adiba duduk di lantai lalu dia masuk ke kamar mandi dan memijat tengkuk Novia.
" Kenapa, apa yang kamu rasakan ?"
Novia hanya menggeleng tak bisa menjawab, tubuhnya tiba-tiba lemas untungnya Irwan dengan cepat menagkap tubuh Novia yang hampir tumbang.
Irwan menggendong Istrinya lalu membaringkan di atas ranjang, Novia memejamkan matanya.
" Kita ke rumah sakit sekarang."
Novia menolak sembari menggeleng beberapa kali, dia memikirkan betapa repotnya nanti kedua orang tuanya mengurus dua anaknya kalau dia di rawat di rumah sakit.
Irwan menghembuskan napas kasar, tidak tahu harus berbuat apa.
" Kalau kamu menolak ke rumah sakit, bagaimana aku tahu apa yang kamu alami sekarang ?"
Novia masih kekeh menolak, akhirnya Irwan memutuskan mengajak Novia ke puskesmas terdekat dan Novia setuju.
Irwan kembali menggendong Novia ke dalam mobil, sedangkan si kecil Adiba terus mengekori di belakang.
Irwan mengemudikan mobilnya sambil memangku Adiba, dia memacu mobilnya dengan pelan mengingat kondisi istrinya dan juga anak di pangkuannya.
Saat tiba di puskesmas, Irwan memarkir mobilnya dan meminta tolong pada salah seorang perawat untuk menggendong anaknya, sementara dia menggendong istrinya masuk ke ruang perawatan.
Dokter jaga dan seorang perawat datang menghampiri Novia yang terbaring di ranjang.
" Apa yang terjadi dengan istrinya ?"
" Tadi di rumah beberapa kali muntah dan hampir pingsan sampai tubuhnya lemas begini dok."
" Silahkan bapak tunggu di luar, kami akan periksa sebentar."
Irwan keluar, kemudian dia menghampiri perawat yang menggendong anaknya dan mengambil Adiba dari gendongan perawat tersebut.
" Terima kasih sus."
" Iya sama-sama pak, saya permisi mau masuk ke dalam."
Irwan mengangguk.
Saat Irwan gelisah sambil terus berjalan kesana-kemari, dokter keluar dari ruangan dan mendekat ke arah Irwan.
" Permisi pak, bisa bicara sebentar."
" Oh iya silahkan dok."
" Istri bapak sedang hamil muda, tapi kandungannya lemah sebaiknya banyak istrirahat."
Irwan diam, berapa detik kemudian barulah dia tersadar.
" Istriku hamil dok ?"
" Iya pak, dan tolong di jaga baik-baik karena kondisi kandungannya lemah."
" Kalau bapak ingin bertemu istrinya, silahkan masuk dan saya permisi pak."
Dokter tersebut meninggalkan Irwan yang masih termangu tak percaya, antara terkejut dan bahagia bercampur menjadi satu.
__ADS_1