
Part 105
Novia duduk di depan Pak Rizal dibatasi sebuah meja, menunggu apa yang akan disampaikan atasannya itu padanya.
"Apa kabar Bu Novia?" tanya Pak Rizal berbasa-basi
"Alhamdulillah, baik pak," sahut Novia tersenyum tipis tapi, hatinya berdebar menanti pernyataan Pak Rizal.
"Bu Novia, dengan berat hati saya harus menyampaikan keluhan teman-teman. Mereka mengadukan perihal ibu yang belum bisa bekerja dengan maksimal dan lebih sibuk dengan urusan pribadi."
Novia tertegun sesaat, rupanya sudah sejauh ini langkah Diana dan teman yang lain ingin menyingkirkannya.
"Sebagai orang yang bertanggung jawab di sini, saya harus melakukan tugas dan kewajiban menyampaikan peringatan kepada ibu," lanjut Pak Rizal lagi.
Pak Rizal menyodorkan selembar kertas kepada Novia, di dalamnya tertulis sebuah kalimat teguran dan peringatan yang harus Novia tanda tangani.
Novia meraih kertas tersebut, membaca isinya dengan teliti sebelum membubuhi tanda tangannya.
"Pak, bolehkah saya mengajukan protes dan keberatan pada isi surat ini?" tanya Novia sambil mengangkat wajahnya menatap sosok di depannya.
"Iya, silahkan. Saya akan mendengar dan mempertimbangkan," balas Pak Rizal.
Novia menghela napas, kemudian mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan keberatannya.
"Setelah membaca isi surat ini, rasanya ada hal yang tidak masuk akal menurut pandangan saya."
"Pertama, di sini dikatakan saya banyak melakukan pelanggaran. Kedua, dalam surat ini tidak disebutkan aturan mana yang saya langgar."
"Bisa bapak jelaskan kepada saya? Agar saya tahu di mana letak kesalahan saya," ujar Novia dengan suara bergetar.
Pak Rizal tertegun sejenak, pertanyaan Novia cukup pelik untuk dijawab. Sebab dia sendiri juga juga belum menemukan secara detail pelanggaran apa yang dibuat Novia.
"Maafkan keputusan saya. Tapi, ini semua desakan dari teman-teman dan akan menjadi bumerang untuk saya," ujar Pak Rizal
"Baiklah, saya akan menanda tangani surat ini sebagai bentuk loyalitas sebagai bawahan," balas Novia.
Dengan tangan bergetar, Novia membubuhi tanda tangannya. Alasan Novia cukup kuat, dia tak ingin Pak Rizal terbebani karena dianggap memihak padanya.
Sangat sulit memang berada di posisi Pak Rizal, satu sisi dia paham betul bagaimana sosok Novia, sedangkan di sisi yang lain dia juga tertekan tuntutan anak buahnya.
"Maafkan saya Bu Novia, saya harap Bu Novia tidak membenci saya," ucap Pak Rizal dengan wajah penuh penyesalan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak, saya ikhlas. Dengan begini, saya bisa memperbaiki diri dan bapak juga tidak lagi mendapat tekanan dari teman-teman yang lain," jawab Novia tersenyum getir
"Baiklah, saya permisi kembali ke kelas," pamit Novia
Wanita itu bangkit dari kursi, berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan dengan langkah lesu.
Putra berlari menghampiri Novia yang berjalan menuju kelasnya, lelaki itu bergegas mengikuti langkah Novia.
"Vi, tunggu," seru Putra
Novia berbalik dan berhenti, menunggu Putra sampai di depannya yang datang dengan napas terengah-engah.
"Vi, apa yang Pak Bos katakan padamu?" tanya Putra sambil mengatur napasnya
"Ayo, kita ke kelasku, nanti aku cerita di sana," sahut Novia
Keduanya berjalan beriringan masuk ke kelas, Novia menarik sebuah kursi dan menyuruh Putra duduk.
Novia pun duduk di kursinya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya yang sedang kalut
"Ayo, cerita Vi, aku jadi penasaran ingin mendengar," desak Putra
"Aku dikasih surat peringatan dari Pak Rizal," ucapnya tertunduk.
"Bukannya surat peringatan itu untuk orang yang melakukan pelanggaran, apa yang sudah kamu lakukan?"
"Pak Rizal juga tidak menjelaskan apa-apa, hanya saja dia bilang itu desakan dari teman-teman yang lain," ujar Novia
Putra menghela napas kasar, dia sudah bisa menduga siapa orang di balik ini semua.
"Pasti Diana orangnya!" Putra mengepalkan tangannya geram
"Jangan menuduh sembarangan, kita tidak punya bukti dan bisa dituntut balik nanti," ucap Novia
"Tapi, aku yakin dia orangnya. Siapa lagi yang bisa berbuat seperti itu selain dia hah?"
Putra emosi, dia menyesalkan tindakan Pak Rizal yang berlaku tidak adil pada Novia. Hanya karena mendengar pengaduan sepihak lantas dengan cepat memutuskan sesuatu, begitu pikir Putra
"Sudahlah, Pak Rizal juga tentunya merasa dilema dengan posisinya sekarang dan aku cukup memahami itu," jawab Novia dengan nada rendah
"Maaf Vi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, nanti kalau tiba waktunya pasti aku bongkar semua kebusukan mereka," ujar Putra
__ADS_1
"Iya, terima kasih. Hanya kamu satu-satunya orang yang mengerti keadaanku sekarang, aku akan mengingat setiap kebaikanmu padaku."
Tanpa sadar, Novia menitikkan air mata. Terharu mengingat sikap Putra selama ini padanya yang selalu peduli dan mau menjadi pendengarnya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Tetap semangat dan lanjutkan tugasmu," pamit Putra dan berlalu meninggalkan Novia di kelasnya
Semakin menumpuk kekecewaan yang Novia pendam, sikap keluarga suami dan sikap teman kerjanya menambah daftar luka dalam hatinya.
Bel berbunyi, Novia dan ketiga anaknya pulang tanpa berpamitan lagi dengan atasan dan teman-temannya. Baginya, bersikap baik pun akan sia-sia lebih baik membatasi diri berinteraksi dengan mereka.
"Ayo, nak, kita pulang," ajak Novia sambil berjalan cepat menuju parkiran motor.
Setelah mereka naik di atas motor, Novia memacu kendaraannya agar bisa segera tiba di rumah untuk beristirahat.
Novia dan anaknya sudah ada di rumah, dia bergegas mengganti baju dan juga menyuruh ketiga anaknya mengganti pakaian mereka, setelah itu makan siang dan beristirahat.
Perilaku Novia masih tetap seperti biasa, aktifitasnya pun masih sama. Namun, siapa yang tahu, mentalnya sedang tidak aman suasana hatinya kadang buruk dan naik turun layaknya roller coaster.
Selepas tidur siang, Novia bangun dan membereskan rumah kemudian mengajak ketiga anaknya mandi. Matahari sudah condong ke arah barat, sembari menunggu maghrib dia menghabiskan waktu dengan bercengkerama bersama anaknya.
"Kakak Millah, ada PR dari sekolah?" tanya Novia
"Tidak ada mah," jawab Camillah
"Pelajaran apa yang menurut Millah sulit?" pancing Novia untuk mengetahui kemampuan anaknya menyerap pelajaran
"Matematika mah, Millah sering lambat mengerjakan tugas."
Novia merenung sejenak, kemudian muncul ide di dalam pikirannya untuk memasukkan Camillah ke dalam kelas tambahan di luar jam sekolah.
"Millah mau ikut les matematika?"
"Iya, mau mah," jawab Camillah tersenyum sumringah
"Baiklah, nanti mama akan cari kelas les di luar dan mendaftarkanmu ke sana," ucap Novia lagi.
Apapun akan Novia lakukan demi kesuksesan anaknya, Wanita itu tidak ingin anaknya mengalami hal serupa dengannya kelak.
Melihat senyum dan tawa ketiga anaknya, menjadi salah satu obat penawar rasa kecewanya pada keadaan dan bisa membuatnya sedikit lebih semangat.
Tak lama kemudian, mobil Irwan muncul dan masuk ke dalam garasi.
__ADS_1
Emir dan Adiba berlari menyambut kedatangan ayahnya dengan gembira, kedua bocah itu bergantungan di lengan Irwan yang berjalan menuju teras rumah.
Namun, kegembiraan Irwan berubah menghilang ketika melihat wajah Novia yang datar dan dingin tanpa ekspresi.