
Part 7.
Novia hanya bisa menatap punggung Irwan, banyak tanda tanya dalam pikirannya tapi tak bisa diutarakan.
Selesai mandi Irwan keluar dari kamar mandi lalu bersiap berangkat kerja, kali ini dia tak mau sarapan tapi langsung berpamitan kepada Novia.
"Aku berangkat dulu" ucapnya
"Iya" hanya itu yang bisa Novia ucapkan.
Irwan pun berangkat kerja seperti biasa, berbeda dengan Novia yang hanya bermalas-malasan dan lebih memilih berbaring diranjang seharian.
Malam ini, Novia melirik jam di nakas sudah jam dua pagi tapi belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang Novia gelisah tapi tetap mencoba berpikir positif, sayang sekali hati kecil tak bisa berbohong Novia mulai curiga ada sesuatu yang disembunyikan suaminya.
Karena terlalu lama menunggu Novia ketiduran, hingga pagi dia terbangun ternyata suaminya tidak pulang semalam.
Sampai terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok..tok..."Vi, bangun sarapan dulu" ternyata bu Ratih yang mengetuk pintu, Novia sedikit kecewa berharap itu suaminya.
"Iya mah..mama sama papa duluan saja, aku mau mandi dulu" jawabnya.
Setelah mandi Novia keluar kamar dan duduk diters rumah, dia tak ingin sarapan perasaannya masih gelisah karena suaminya tak pulang sampai ini.
"Kemana dia, kenapa tidak pulang semalam ? apa yang terjadi sama Irwan, Ya Allah jangan sampai mama dan papa tahu, kalau mereka bertanya apa jawabanku pasti mama akan khawatir, apa sebaiknya aku ke rumah mertuaku ? mungkin Irwan nginap disana."
"Vi, ada apa ?" bu Ratih menepuk bahu anaknya.
"Eh astaghfirullah mah bikin kaget" Novia tersentak tersadar dari lamunannya.
"Masih pagi sudah melamun pamali, sana sarapan dulu" ucap bu Ratih.
"Iya mah sebentar, aku belum lapar tadi habis minum susu" jawab Novia.
"Mah, aku mau ke rumah mertua ada yang ingin ditanyakan" ucapnya lagi.
"Biar papa yang antar" jawab bu Ratih.
"Tidak usah mah, aku bisa naik angkot dekat juga biar papa istirahat." tolak Novia.
"Ya sudah tapi hati-hati, mau pergi sekarang ?" tanya bu Ratih.
"Iya mah, aku berangkat dulu ya" ucapnya sambil berpamitan pada ibunya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Novia sampai dirumah mertuanya, tapi dia tidak melihat mobil suaminya. Dia bergegas masuk dan memberi salam.
"Assalamualakum"
"Wa'alaikumussalam" bu Mini keluar.
"Eh Novia, sendiri ? mana suamimu ?" tanya bu Mini.
"Sendiri mah, Irwan semalam nginap disini ?" tanya Novia.
"Apa Irwan tidak pulang semalam ?" bukannya menjawab bu Mini malah balik bertanya.
Perasaan Novia semakin tak karuan setelah tahu suaminya tidak pulang ke rumah mertuanya.
"Irwan tidak pulang semalam mah, kemarin dia pulang mabuk, jadi aku kira dia nginap disini tadi malam."
Bu Mini terdiam bingung harus menjawab apa kepada menantunya.
"Hmm, apa kalian bertengkar ?" tanya bu Mini mencoba mancari tahu.
"Tidak mah" jawab Novia.
"Ya sudah, biar mama yang tanya kalau dia pulang, kamu jangan banyak pikiran kasian kandunganmu" bu Ratih berusaha menenangkan menantunya.
"Iya hati-hati ya" jawab bu Mini.
Setelah Novia pulang, bu Mini bergegas masuk ke kamar menghampiri suaminya.
"Pah, Novia barusan pulang, katanya Irwan tidak pulang semalam dan kemarin dia pulang mabuk" ucap bu Mini.
"kemana anakmu itu mah, jangan sampai dia bikin ulah dan mempermalukan kita" jawab pak Ahmad.
Malam berikutnya, lagi-lagi Irwan belum pulang bahkan Novia sampai larut duduk diteras sengaja menunggu suaminya.
Sementara Pak Wahyu dan istrinya belum tahu apa yang terjadi dengan anaknya,mereka mengira Irwan sudah pulang seperti biasa.
Karena dirasa cuaca sudah mulai dingin, Novia memilih masuk ke kamar dan menunggu suaminya.
Paginya Novia sudah bersiap berangkat ke kampus, "Vi sarapan dulu nak" titah bu Ratih.
"Nanti di kampus mah, hari ini jadwalnya lebih pagi aku takut terlambat" jawabnya.
"memangnya kamu berangkat sendiri tidak di antar Irwan ?" tanya bu Ratih.
__ADS_1
"Tadi sebelum subuh Irwan sudah berangkat mah ada yang diantar kepelabuhan katanya" Novia masih merahasiakan keadaan suaminya.
"Ya sudah, hati-hati nak ingat kamu itu sedang hamil tetap jaga kesehatan" ucap bu Ratih ada kekhawatiran dari nada suaranya.
"Iya mah" hati Novia tersentuh mendengar ucapan ibunya, hati kecilnya berkata " seandainya mama tahu, Irwan belum pulang sejak dua hari yang lalu."
Tak lama Novia menunggu, ada sebuah angkot yang berhenti didepannya. Dan Novia penumpang satu-satunya, tiba-tiba sopir angkot itu berkata "kamu istrinya Irwan ya" tanya sopirnya.
"Iya kenapa ?" Novia balik bertanya.
"Gimana suamimu apa sudah keluar dari tahanan ?" tanyanya lagi seprti tanpa dosa.
Duaaaarrrr...jantung Novia rasanya terhenti sesaat. Lalu dia mencoba bertanya lagi untuk meyakinkan.
"Maksudnya tahanan apa ya ? saya belum paham maksud bapak" tanya Novia.
"Eh bukannya suamimu di tahan bersama temannya dan dua orang perempuan ? jawab sopir itu.
"Astaghfirullah" jawab Novia, dadanya terasa sesak mendengar penuturan sopir itu, bagai disambar petir seakan tak percaya dengan penuturan sopir itu.
Tangan Novia gemetar air matanya tak bisa di bendung, sepanjang perjalanan Novia tak bisa berpikir dengan jernih tak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Mereka terkena razia dua pasangan mabuk dan tanpa busana di kompleks pertokoan lalu di angkut mobil patroli ke kantor Polsek terdekat" lanjut si sopir.
Novia tak menjawab hatinya remuk, ingin menjerit sekuat tenaga, untungnya tak ada satupun penumpang yang naik dan mendengar percakapan mereka.
"Dari mana bapak tahu ? apa bapak ada ditempat kejadian ?" Novia mencoba menggali informasi dari si sopir.
"Lah, apa kamu tidak di kabari mertuamu ? tanya sopir itu.
Oh apalagi ini Novia semakin pusing, jadi mertuanya tahu, lalu kenapa tak mengabarinya dan seolah-olah merahasiakan.
"Tidak pak, saya tidak di kabari" Novia tersenyum pilu, sakiitt rasanya.
Tiba di kampus, Novia tak mau masuk ke kelas, dia malah berjalan mencari tempat yang sepi dan itu di taman kampus, setelah yakin tak ada orang yang melihat Novia menangis menumpahkan semua sesak di dalam dadanya sungguh ini di luar dugaannya.
Tiba-tiba terbayang wajah kedua orang tuanya, tangis Novia semakin menjadi...
"Maafkan aku mah pah aku banyak salah pada kalian" tangisan pilu karena rasa bersalah kepada kedua orang tuanya.
Setelah puas menumpahkan kesedihannya, Novia akhirnya pulang perjalanan dari kampus ke rumah yang cukup jauh, ditambah kabar buruk tentang suaminya membuat tubuh Novia terasa sangat lelah.
Dia ingin melihat wajah suaminya yang sudah dua hari ini tak di lihatnya dan menanyakan masalahnya, siapa perempuan yang bersamanya malam itu, tapi dia sendiri tidak tahu keberadaan suaminya.
__ADS_1
Tiba dirumah, Novia langsung masuk ke kamar air matanya kembali tumpah ini terlalu sakit untuknya.