
Part 95
Seminggu berlalu, kesehatan Bu Ratih memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit.
Irwan mendatangi semua saudara-saudara Novia dan meminta mereka datang ke rumah sakit, Anak-anak Bu Ratih sudah berkumpul bersama ibu mereka.
Mereka duduk di ruang tunggu IGD, Novia tak dapat duduk dengan tenang dia berjalan kesana-kemari berputar tak tentu arah.
"Duduklah Vi, kakak pusing melihatmu," ujar Randi kakak tertua Novia
"Aku takut kak," balas Novia dengan wajah cemas
"Kamu membuat kakak semakin tegang, lebih baik kamu duduk dan berdoa."
Kakak beradik tersebut tampak gelisah, sebab sudah hampir dua jam Bu Ratih di dalam menjalani pemeriksaan.
Saat dokter keluar, mereka berempat saling berebut mendekat.
Dengan napas memburu Novia bertanya,"Dok, bagaimana keadaan ibu kami?"
"Beliau drop, gula darahnya kurang dari 100 untung saja cepat dibawa ke sini," ujar dokter
"Penyebabnya?" celetuk Riska
"Pasien yang memiliki riwayat diabetes, biasanya akan mengalami kondisi seperti ini karena asupan makanan yang berkurang."
"Memang serba salah bu, kalau makan berlebih gula darah bisa naik sebaliknya juga begitu. Makanya dibutuhkan makanan pengganti seperti buah dan sayur," ujar dokter panjang lebar
Riska menganggukkan kepala tanda mengerti, hampir saja dia mengomeli Novia karena mengira Novia tidak becus mengurus ibunya.
"Baiklah, saya permisi. Satu jam lagi ibu akan kami pindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter
"Terima kasih penjelasannya Dok," balas Riska
Dengan langkah lemah Novia kembali ke tempat duduknya, terbersit rasa bersalah dalam hatinya yang selalu melarang ibunya meminta makanan yang disukai ibunya.
"Ada apa lagi denganmu Vi?" tanya Irwan saat Novia duduk di sampingnya.
"Apa aku salah ya? Selama ini selalu melarang mama meminta makanan kesukaannya, malah hanya menyuguhkan bubur dan sedikit lauk pada mama."
Novia tertunduk lesu, ucapan kakaknya Riska tempo hari membuatnya lebih hati-hati memberi makanan pada ibunya.
"Sudahlah, Vi, ini bukan salahmu. Kamu sudah melakukan yang terbaik sesuai kemampuanmu itu sudah cukup untuk mama."
__ADS_1
Irwan menyemangati istrinya, menurutnya Novia sudah merawat ibunya dengan sepenuh hati bahkan anak dan suaminya sendiri sering kali terabaikan asalkan ibunya bisa terurus dengan baik.
Novia menoleh pada suaminya, terkadang ada rasa iba terselip dalam hatinya saat melihat suaminya harus mengurus ketiga anaknya. sementara dia disibukkan dengan merawat ibunya.
"Maafkan aku Wan, sering kali melalaikan tugasku sebagai istri," ucap Novia
"Aku tidak keberatan Vi, bahkan aku ridha kalau kamu mengurus mama kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini," balas Irwan.
Sesuai perkataan dokter, satu jam kemudian Bu Ratih keluar dari ruangan menggunakan brankar didorong oleh perawat dan berhenti di depan mereka.
"Ny. Ratih akan diantar ke ruangan," ucap salah seorang perawat.
"Iya, kami akan ikut ke sana," sahut Novia kemudian beranjak dari tempatnya.
Mereka sekeluarga berjalan beriringan, mengikuti langkah perawat yang mendorong brankar menuju ruang perawatan Bu Ratih.
Sampai di dalam ruangan, Randi membantu perawat memindahkan ibunya ke ranjang inap lalu perawat keluar mendorong kembali brankar yang membawa Bu Ratih.
"Gelar karpetnya Vi, biar anak-anak bisa leluasa beristirahat," ujar Riska sembari meletakkan tas bawaannya
Setelah karpet digelar, cucu-cucu Bu Ratih berebut tempat untuk beristirahat tentu saja disertai suara cekikikan mereka.
"Sssttt, jangan berisik nanti ina terganggu," ucap Novia hampir berbisik dan menempelkan jari di bibirnya.
Novia tersenyum geli, pola tingkah anak dan ponakannya sedikit membuatnya terhibur dari ketegangan.
Riska menghampiri Novia lalu berkata,"Vi, maaf kakak tidak bisa menemanimu di sini menjaga mama, tahu sendiri kan kakak kalau malam tidak bisa tidur di tempat seperti ini."
Novia hanya menganggukkan kepalanya, Seperti prediksinya pasti kakaknya lebih memilih pulang dari pada menginap di rumah sakit. Padahal kondisi mereka sama Novia juga memiliki tiga orang anak yang masih butuh perhatian darinya.
"Aku sudah menduganya kak, kalian memang tidak akan bisa menemani dan merawat mama dengan maksimal," gumam Novia dalam hati
"Kamu tidak keberatan kan dek?" tanya Riska lagi
"Tidak," sahut Novia singkat
Tak lama kemudian, ketiga saudara Novia berpamitan pulang meninggalkan Novia, Irwan, dan ketiga anaknya di ruang perawatan Bu Ratih.
"Wan, kalian belum makan, tolong beli makanan di luar." Novia meminta suaminya membeli makanan untuk mereka berempat.
Novia mengambil selembar uang kertas dari dompetnya, kemudian menyerahkan pada suaminya.
Malam ini Novia dan keluarga kecilnya berkumpul dalam satu ruangan, seperti inilah yang terjadi setiap kali Bu Ratih dirawat. Novia rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani dan mengurus ibunya.
__ADS_1
Sementara saudara-saudaranya yang lain, hanya sesekali datang menjenguk.
Seminggu mendapat penanganan secara intensif di rumah sakit, akhirnya kesehatan Bu Ratih pulih dan Novia meminta ijin pulang pada dokter.
Setelah mengurus semua administrasi, Novia mengemasi barang dan pakaian mereka untuk dibawa pulang.
Belum juga mereka keluar dari kamar, Riska datang dan bicara pada ibunya tapi Novia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Riska memghampiri Novia yang sedang berdiri di dekat pintu, memgajaknya duduk untuk membicarakan hal penting.
"Vi, mama pulang ke rumah kakak saja," ujar Riska
Novia memicingkan mata heran sekaligus kaget, tanpa ada pembicaraan sebelumnya tiba-tiba kakaknya berkata seperti itu.
"Memangnya ada apa kak? Kenapa pula mama pulang ke rumah kakak bukan ikut kami?"
"Rumah kakak kan jaraknya dekat dari sini, jadi mama bisa lebih mudah dibawa untuk chek up."
Perasaan Novia jadi tidak enak, mungkin dia dianggap tidak mampu mengurus ibunya. Novia tak mau menunjukkan rasa kecewanya dan hanya memilih diam.
"Terserah mama, kalau lebih merasa nyaman di rumah kakak aku tidak masalah," jawab Novia
Lain halnya dengan Irwan, tampak tidak suka dan tidak terima dengan keputusan sepihak saudara iparnya.
Irwan merasa saudara iparnya menganggap remeh istrinya, padahal dia tahu betul bagaimana perjuangan Novia selama ini merawat Ibu Mertuanya.
Tak mau berlama-lama, mereka pun keluar dari rumah sakit. Irwan mengantar Ibu Mertuanya ke rumah Riska walau dalam hatinya mendongkol tapi demi menjaga perasaan Novia dia tetap mau menggendong mertunya masuk ke dalam rumah.
Setelah semua barang diturunkan, Irwan mengajak istrinya pulang dengan rasa kesal.
"Ayo, Vi, kita pulang. Anak-anak sudah ngantuk," ucap Irwan dengan nada datar.
"Kalian tidak istirahat dulu di sini?" tawar Riska.
"Tidak kak, nanti kami akan ke sini lagi besok atau lusa," jawab Novia.
Novia berpamitan pada ibunya, setelah itu mengajak ketiga anaknya naik ke dalam mobil.
Irwan memacu mobilnya di jalanan menuju rumah, sepanjang perjalanan dia meluapkan kekesalan dan mengomel tak karuan.
"Vi, jujur aku tersinggung dengan sikap kakakmu yang seakan meremehkan dan menganggapmu seperti tak bisa apa-apa."
"Padahal selama ini kamu yang merawat mama, sekarang malah seenaknya seperti itu," ucap Irwan kesal
__ADS_1
Novia diam, tak menanggapi omelan suaminya karena menghindari perdebatan. Hati dan tubuhnya terlalu lelah dia ingin beristirahat meskipun sebenarnya dia jauh lebih kecewa dengan sikap kakaknya.