Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Kamu Di Mana?


__ADS_3

Part 75


Semakin jelas kebencian Diana pada Novia ketika tahu Novia mengembalikan uang sewa baju pada Pak Rizal, Novia sampai bingung harus bagaimana menyikapi Diana.


Hari ini Novia pulang, wajahnya terlihat lesu karena lelah ditambah lagi beban sakit hati terhadap sikap Diana padanya.


Tiba di rumah, Novia berjalan masuk melewati kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tamu sementara Camillah menyusul di belakangnya sambil menenteng tasnya.


Bu Ratih dan suaminya saling pandang, merasa aneh melihat Novia pulang berbeda dari biasanya.


"Kenapa lagi dengan Novia?" tanya Bu Ratih berbicara tanpa mengeluarkan suara.


Pak Wahyu hanya mengangkat kedua bahunya, sebagai tanda bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi pada Novia.


"Mungkin ada masalah di tempat kerjanya pah." Karena tidak mendapat jawaban dari suaminya, Bu Ratih akhirnya menyimpulkan sendiri tentang keadaan anaknya.


"Bisa jadi, kita juga belum tahu apa yang terjadi nanti Novia pasti akan cerita," ucap Pak Wahyu.


"Sana, panggil cucumu makan siang," ujar Pak Wahyu lagi pada istrinya.


Bu Ratih bangkit dan melangkah menuju kamar anaknya, tiba di depan pintu dia mengetuk dan memanggil nama cucunya.


"Vi, Millah, makan dulu,"


"Iya mah, nanti kami kesana," jawab Novia di balik pintu.


Novia membuka pintu lalu keluar kamar bersama anak sulungnya, Adiba dan Emir masih tertidur lelap di atas ranjang.


Novia berjalan ke dapur, mengambilkan makanan untuknya dan juga Camillah. Keduanya makan dengan lahap sampai makanan di piring tandas Bu Ratih ikut duduk di meja makan hanya menatap Novia tanpa berbicara.


Selesai makan, Novia bersama anaknya kembali masuk ke kamar sedangkan Bu Ratih menyusul suaminya di kebun belakang rumah.


Sore hari, ketika Novia bangun dia memnawa kedua anaknya yang masih balita keluar menyusul orang tuanya di kebun belakang. Bu Ratih dan suaminya selalu betah jika sudah ada di kebun mereka.


"Diba, sini duduk sama ina," panggil Bu Ratih. Bocah perempuan itupun mendekat dan ke gazebo tempat neneknya duduk.


Sama halnya dengan Novia ikut naik dan menempati ruang kosong di dalam gazebo tersebut.


"Vi, sepertinya Diba dan Emir sudah bisa ikut kelas taman bermain." Bu Ratih memulai percakapan.


"Iya, mah. Rencananya tahun ini Diba memang akan aku daftarkan ke kelas Taman Bermain kalau Emir umurnya belum cukup," ujar Novia.

__ADS_1


"Bisalah dia ikut kakaknya, tapi belum terdaftar sebagai murid," lanjutnya lagi.


"Kelas mereka kan masuknya jam delapan pagi mah, bagaimana denganku dan Camillah?"


"Papa kan bisa mengantar mereka, kamu tetap berangkat pagi seperti biasa asalkan kebutuhan mereka sudah kamu siapkan," jawab Bu Ratih.


Matahari semakin condong ke barat, mereka menyudahi perbincangan dan masuk ke dalam rumah bersiap-siap untuk shalat maghrib.


Seperti biasa, selesai shalat maghrib dan isya mereka makan malam kemudian berkumpul dan berbincang di ruang keluarga sambil menonton TV.


Malam semakin larut, Pak Wahyu dan istrinya sudah masuk ke kamar sebelumnya mereka membujuk Camillah ikut tidur bersama mereka dan Camillah juga bersedia tidur bersama kakek dan neneknya.


Novia masih bertahan menunggu suaminya, meskipun kedua anaknya sudah tertidur beralaskan karpet di ruang keluarga.


Detik demi detik berlalu, sosok yang ditunggu belum muncul pandangan Novia menerawang menatap langit-langit ruangan bayangan masa lalu suaminya terlintas dipikirannya.


"Ya Allah, jaga dan lindungi suamiku di manapun dia berada." bait doa Novia lantunkan dalam batinnya.


Lelah menunggu dalam kegelisahan akhirnya Novia tertidur di samping anaknya.


Adzan subuh berkumandang, Pak Wahyu dan istrinya bergegas menyiapkan diri melaksanakan ibadah. Selesai shalat Bu Ratih keluar kamar.


Saat keluar Bu Ratih tertegun melihat Novia dan kedua anaknya tidur beralaskan karpet di ruang keluarga.


"Bangun Vi, shalat dulu," ucap Bu Ratih sembari menepuk punggung Novia.


Novia menggeliat membuka pelan matanya, tampak sosok ibunya duduk di sampingnya.


"Jam berapa sekarang mah?" tanya Novia


"Jam lima pagi, bangunlah!" sahut Bu Ratih kemudian bangkit meninggalkan Novia.


Novia beranjak bangun lalu melangkah masuk ke kamarnya, tiba di kamar dia melirik ke atas ranjang.


"Kosong, rupanya dia tidak pulang," gumam Novia.


Hatinya mulai gundah, sekelebat bayangan masa lalu itu muncul lagi Novia menggelengkan kepala mengusir pikiran buruk di kepalanya.


Novia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri, lima menit kemudian dia keluar dan bersiap-siap melaksanakan shalat subuh.


Sebelum mengakhiri ibadahnya, Novia menengadahkan tangannya dan bergumam lirih.

__ADS_1


"Aku pasrahkan padamu taqdirku Ya Allah namun, bisakah hamba meminta jaga pernikahanku, jaga hati suamiku, dan lindungi rumah tangga kami."


Tanpa terasa air mata Novia tumpah, kalimat pengharapan yang begitu khusyu' dia ucapkan luruh bersama doa-doanya.


Beberapa saat Novia larut dalam kesedihan, tubuhnya bergetar sesegukan menahan tangisnya. Merasa puas menumpahkan isi hatinya dia beranjak dari atas sajadah dan melepas mukenahnya.


Novia keluar dari kamar, tampak Camilah duduk sambil menonton TV di sampingnya Adiba dan Emir masih lelap dan tidak terusik dengan suara TV.


"Sudah shalat subuh nak?" tanya Novia.


"Sudah, shalat berjamah sama tata dan ina di kamar," jawabnya.


"Alhamdulillah, mama ke dapur dulu ya, menyiapkan sarapan," pamit Novia dan dijawab anggukan Camillah.


Novia sudah ada di dapur, membuat sarapan nasi goreng dan telur dadar.


Setelah semuanya masak, Novia menghidangkan makanan tersebut ke atas meja kemudian dia masuk ke kamar mengganti pakaiannya dan juga Camillah.


"Millah, panggil tata dan ina di kamar mama tunggu di meja makan," ucap Camillah.


Mereka sudah ada di ruang makan, tidak ada perbincangan atau apapun yang mereka bahas. Masing-masing sibuk dengan makanan di depan mereka.


Hingga Camillah memecah kesunyian. "makanan Millah sudah habis mah, Milah duluan mau menunggu mama di teras."


Novia mengdongak, lamunannya buyar seketika saat anaknya pamit keluar.


"Ah, iya, tunggu mama di luar," ujarnya lalu bergegas menghabiskan sarapannya.


Bu Ratih menatap anaknya, Novia terlihat gelisah dan kehilangan konsentrasi namun, Bu Ratih tidak berani bertanya karena tak mau Novia salah paham.


"Mah, aku berangkat titip anak-anak ya," ujarnya sembari beranjak dari kursinya kemudian menyalami kedua orang tuanya.


Novia berjalan cepat menuju teras, Camillah duduk di kursi menunggu ibunya keluar.


Saat Novia muncul, Camillah berdiri lalu menahan langkah ibunya.


"Mah, mobil papa tidak ada. Papa kemana?" tanya Camillah dengan polosnya.


Tenggorokan Novia terasa tercekat, pertanyaan yang terdengar mudah tapi dia tidak punya jawabannya.


"Hmmm, papa lagi antar penumpang makanya keluar lebih pagi," jawab Novia sekenanya.

__ADS_1


"Ayo, jangan banyak tanya nanti kita terlambat." Novia memutus komunikasi agar anaknya tidak bertanya lebih jauh lagi dan membuatnya kesulitan menjawab.


__ADS_2