Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Eshal Camilla


__ADS_3

Part 13.


Sejak kehadiran bayi Camilla, hari-hari Novia dipenuhi kebahagiaan ditambah lagi posisi bayi Camilla dikeluarga Irwan adalah cucu pertama sudah pasti menduduki tahta tertinggi.


Irwan pun kembali bekerja karena tanggung jawab bertambah, sementara Novia disibukkan mengurus bayi kecilnya menghabiskan masa cuti kuliahnya.


Pagi hari ketika sarapan...


"Wan, papa mau bicara sebentar" ucap pak Wahyu.


"Kalian belum punya rencana untuk aqiqahan Camilla ?".


"Hmm, ada pah tapi saya masih nabung dulu" jawab Irwan.


"Papa sudah siapkan satu ekor kambing kalian tinggal menyiapkan yang lain seperti beras dan yang lainnya" ternyata pada saat kehamilan Novia pak wahyu sudah menyiapkan kambing itu.


"Kalau kambingnya sudah ada berarti biayanya jadi berkurang pah" sahut Irwan lagi.


"Iya, makanya papa dan mama berencana minggu depan acaranya tepat dua minggu usia Camilla, bagaimana menurutmu ?" meminta tanggapan Irwan.


"Saya bicarakan dulu rencana ini pada orang tuaku pah" sembari memasukkan suapan terakhirnya.


Setelah selesai sarapan, Irwan berpamitan pada mertuanya lalu masuk ke kamar berpamitan pada istri dan bayinya.


"Nak, papa berangkat kerja dulu yaa, jangan bikin mama kelelahan dirumah" ucapnya sambil mencium pipi gembul Camilla.


Lalu beralih mengusap rambut istrinya,"Vi, aku berangkat dulu yaa" pamitnya.


"Iya hati-hati papa Milaa" Novia sengaja meniru suara bayi yang terdengar manja. Lalu beranjak berjalan keluar sambil menggendong bayinya disusul Irwan dibelakang.


Sorenya setelah pulang kerja, Irwan sengaja mampir ke rumah orang tuanya untuk membicarakan rencana acara aqiqah.


Irwan memarkirkan mobinya, lalu turun dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum"...


"Waalaikumussalam" jawab bu Mini dan pak Ahmad yang kebetulan sedang duduk santai diteras rumah.


Irwan menghampiri keduanya lalu duduk di kursi kosong depan pak Ahmad.


"Bagaimana kabar cucu kami ?" tanya bu Mini, benar kata orang ketika orang tua memiliki cucu mereka akan lebih perhatian dan sayang pada cucu dibandingkan pada anak.


"Kenapa bukan kabar ku yang ditanya" gerutunya.


Bu Mini terkekeh melihat tingkah anaknya."Kamu ini aneh Wan, cemburu sama anak sendiri lah kamu sudah setua ini pikiranmu masih kekanak-kanakan.


Irwan mendengus "baik maahh kabarnya, malah dia titip salam ke neneknya".


Buukk...bu Mini menepuk keras paha Irwan.


"Aaiiissh..sakit mah Irwan meringis menahan sakit.


" Aku kesini mau cerita sesuatu" ucap Irwan dengan nada serius.


"Hmm ada apa" sela pak Ahmad.

__ADS_1


"Tadi pagi waktu sarapan papanya Novia membicarakan rencana Aqiqahan Camilla"


"Lalu ?" tanya pak Ahmad.


"Rencananya acara aqiqah minggu depan, dan mertuaku sudah menyiapkan satu ekor kambing" jawabnya.


"Artinya kita diminta menambahkan yang lainnya, kamu sudah punya uang ?" kali ini pak Ahmad sedikit sinis.


"Apa tidak bisa menunggu anaknya satu tahun dulu" kenapa harus terburu-buru.


"Kebiasaan dikeluarga mereka seperti itu pah,aqiqah dilakukan biasanya di hari ke tujuh, ke empat belas, ke duapuluh satu" jawab Irwan.


"Sudah pah, seharusnya memang itu tanggung jawab kita sebagai orang tua Irwan" bu Mini berusaha menengahi.


"Ya sudah pah, nanti aku usahakan bagaimana pun caranya, dan aku kesini berniat membicarakan itu kalau memang papa dan mama belum bisa bantu tidak apa-apa.


Setelah diam sejenak, Irwan pun berpamitan dan pulang dengan rasa kecewa berharap orang tuanya bisa sedikit membantu tapi ternyata dugaannya salah.


"Irwan pulang dulu, capek mau istirahat" pamitnya


Pak Ahmada dan bu Mini hanya mengangguk.


15 menit kemudian Irwan tiba di rumah lalu memarkirkan mobilnya. Mendengar suara mobil Novia keluar dari kamar menyambut suaminya.


"Assalamualaikum".


"Wa'alaikumussalam" jawab Novia.


"Sepi, mama sama papa kemana ?" tanya Irwan.


Irwan pun masuk kekamar di ikuti Novia. Pandangan Irwan langsung tertuju kearah ranjang dan bayi mungilnya sedang tertidur pulas.


Irwan bergegas menghampirinya, namun dicegah Novia.


"Eh mandi dulu, baru pulang kerja banyak kuman,bakteri dan kotoran nempel di badanmu".


"Oh iya lupa" Irwan tersadar dan langsung berbalik.


"Padahal mau peluk cium dia, ya sudah sekarang mamanya saja yaa" godanya sambil menaok turunkan kedua alisnya.


Novia tersipu " masih masa nifas wan,jangan aneh-aneh".


"Hahaha...kamu yang sensi vi cuma peluk cium tapi pikiranmu kemana-mana" Irwan terbahak-bahak membuat Novia semakin tersipu malu.


"Vi, sini duduk dulu aku mau ngobrol sebentar" Irwan menarik lengan Novia lalu menyuruhnya duduk.


"Tadi pagi papa tanya kapan acara aqiqah Mila, papa sudah menyiapkan kambingnya dan kita tinggal menyiapkan yang lainnya.


"Trus kamu jawab apa wan ?" Novia memandang serius kearah suaminya.


"belum jawab apa-apa"..


"Tadi pulang kerja sengaja mampir ke rumah mama trus membicarakan rencana itu sama mereka tapi nihil Vi hasilnya"


Novia tahu betul keadaan suaminya, penghasilan menjadi sopir tidaklah seberapa, tentu Irwan akan meminta bantuan orang tuanya.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti aku coba bicarakan ke papa mungkin bisa ditunda waktunya" Novia mengusap punggung suaminya memberi ketenangan.


"Hmm iya, aku mandi dulu gerah ini" jawab Irwan lalu beranjak ke kamar mandi.


Selesai makan malam, Novia menghampiri orang tuanya yang sedang nonton lalu duduk didekat ibunya.


"Mah..pah eee Novia boleh ngomong sesuatu".


Bu Ratih mengernyit, dalam hatinya tumben anak ini.


"Pah,bisakah acara aqiqah waktunya ditunda dulu, kami belum punya uang pah" ucapnya sambil tertunduk.


"Tadi juga Irwan sudah temui orang tuanya dan hasinya nihil pah" lanjut Novia lagi.


Mendengar ucapan Novia, kedua orang tua itu saling memandang dan tersenyum.


"Jauh hari sebenarnya papa dan mama sudah menyiapkan semuanya karena tahu bagaimana keadaan suamimu" jawab pak Wahyu.


"Bukan berarti meremehkan suamimu, atau mau menyusahkan, tapi sebagai orang tua mama dan papa ingin yang terbaik buat kalian terutama cucu kami" bu Ratih mengusap lembut bahu anaknya.


"Panggil suamimu kesini kita bahas pelaksanaan acaranya biar lebih matang" titah bu Ratih.


Novia pun beranjak melangkah menuju kamarnya, dan mengajak suaminya menemui orang tuanya.


Mereka pun berkumpul di ruang tengah sambil mengobrol santai.


"Wan, papa sudah bicara sama Novia dan papa juga sudah mendengar dari Novia bahwa kalian meminta waktu aqiqah ditunda".


"Ii..iiya pah kami belum punya uang" jawabnya terbata-bata takut mertuanya kecewa.


"Begini nak, sebenarnya jauh hari sejak Novia hamil papa dan mama sudah menyiapkan semuanya tapi kami tak mau mengatakan takut nanti kamu tersinggung" ucap bu Ratih.


"Kami minta maaf sebelumnya, bukan bermaksud meremehkan kalian, ini semua bentuk rasa sayang kami pada cucu Novia pasti tahu betul itu." ucap bu Ratih lagi.


Dan dibalas anggukan Novia. Sebab Novia tahu betul bagaimana sifat dan tabiat orang tuanya, bahkan kakak-kakak Novia yang lainnya sekalipun hidup mereka sudah mapan tapi selalu mendapat perlakuan yang sama ketika anak mereka akan aqiqah.


Pak Wahyu dan istrinya adalah sosok yang sangat dermawan bahkan tak segan-segan memberi bantuan kepada tetangga ketika kesusahan terlebih lagi pada keluarganya dan Novia sangat memahami itu sehingga anak-anak pak Wahyu pun menuruni sifat itu.


"Lalu kesimpulannya pa bagaimana ?" tanya Novia.


"Acaranya tetap minggu depan dilaksanakan karena semuanya sudah disiapkan" jawab pak Wahyu.


"Wan, nanti kabari orang tuamu yaa, katakan kalau acaranya dilaksanakan minggu depan." Pak Wahyu menepuk bahu menantunya.


"Sudah tak usah dipikirkan apalagi kamu sampai tidak enak hati, selagi masih dikasih umur kapan lagi bisa membantu anak" ucapnya lagi.


Irwan tersenyum kikuk "sungguh, terbuat dari apa hati orang tuamu Novia" gumamnya dalam hati.


"Ya sudah sana kalian istirahat" titah bu Ratih, karena mereka pun ingin beristirahat.


Novia dan Irwan beranjak ke kamar meninggalkan kedua orang tua paruh baya itu.


Di dalam kamar "Vi, jujur aku iri dengan kalian terlahir dari orang tua yang baik dan penuh kasih sayang" ucap Irwan lalu berbaring di samping Novia.


Novia hanya tersenyum, dalam hatinya dia sangat beruntung memiliki orang tua dan saudara-saudara yang penyayang dan punya kepedulian yang tinggi.

__ADS_1


__ADS_2