Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Ajari Aku Sekuat Dirimu


__ADS_3

Part 93


Satu Tahun kemudian ....


Adiba dan Emir sudah masuk Sekolah Taman Kanak-kanak, kesibukkan Novia semakin bertambah dengan menjemput kedua anaknya ditambah merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan.


Pagi ini, Novia melihat arloji di lengannya, sudah jam sepuluh artinya dia harus menjemput Diba Dan Emir di sekolah sekaligus dan juga jadwal rutin ibunya minum obat maka dia harus pulang.


Novia masuk ke ruang guru berpamitan pada Pak Rizal, bahwa dia akan menjemput anak-anaknya. Setelah mendapat ijin dia bergegas menuju sekolah anaknya kemudian pulang ke rumah.


Sampai di rumah, Novia mengajak kedua anaknya masuk untuk mengganti seragam mereka.


Saat hendak masuk ke kamar, Novia melihat ibunya sedang menyaksikan tayangan televisi kesukaannya.


"Nonton apa Mah?" tanya Novia


"Tausiah dan dzikir pagi," sahut Bu Ratih tanpa mengalihkan pandangannya.


Setelah selesai mengganti pakaian anaknya, Novia menghampiri ibunya dan bertanya lagi,"di mana mama menyimpan obat?"


"Di atas nakas, dalam kamar mama."


Bu Ratih menoleh pada Novia, wanita paruh baya itu menatap punggung Novia yang menghilang di balik pintu kamarnya.


Novia mendekati ibunya dengan membawa sebuah tas berisi obat-obatan milik ibunya, wanita itu kemudian membuka tas tersebut lalu memilah-milah obat mana yang akan di berikan pada ibunya.


"Vi, mama sudah meminum obatnya, sekarang kamu balik lagi ke sekolah," ucap Bu Ratih


"Iya, mah, aku istirahat dulu sebentar," tawar Novia sambil memijat kaki ibunya.


Sementara itu kedua anak Novia berbaring di atas karpet, beberapa menit kemudian keduanya sudah terlelap.


Novia tersenyum melihat anaknya, sejak masuk sekolah semakin hari Adiba mulai berkurang rewelnya.


"Mah, anak-anak sudah tidur aku berangkat ya." Novia berpamitan pada ibunya untuk kembali ke sekolah.


Bu Ratih mengangguk, Novia pun meninggalkan kediaman orang tuanya.


Sepulang kerja, Novia merasakan tubuhnya begitu lelah dia hendak berbaring di ranjang namun, tiba-tiba Camillah masuk dengan panik.


"Mah, ina terjatuh!" teriaknya


"Astaghfirullah!!" secepat kilat Novia melompat dari ranjangnya dan berlari keluar.


"Millah, ina di mana?" tanya Novia panik karena tidak menemukan ibunya.

__ADS_1


"Itu!" tunjuk Camillah ke ruang tamu.


Novia berlari mendekati ibunya, memegang tubuh ibunya dengan tangan bergetar karena terkejut.


"Mah, apa yang terjadi?" tanya Novia sembari membangunkan ibunya


Bu Ratih diam, wajah wanita paruh baya itu pucat pasi, matanya sayu bahkan hampir terpejam. Novia menggoyang tubuh ibunya agar tak kehilangan kesadaran.


"Mamaa! Dengarkan aku," seru Novia di telinga ibunya.


Sekian detik kemudian, Bu Ratih mengedipkan matanya beberapa kali.


"Mama baik-baik saja? Jawab aku!"


Bu Ratih mengangguk lemah, tapi belum bisa bersuara hanya memberi tanda pada Novia lewat matanya.


Dengan susah payah, Novia memapah tubuh ibunya naik ke atas sofa ruang tamu lalu membaringkannya di sana.


"Millah, temani ina di sini, mama mau mengambil air hangat dulu." Novia bergegas ke dapur mengambilkan segelas air hangat untuk ibunya.


Novia sudah kembali di dekat ibunya, duduk di lantai sambil memegang gelas berisi air. Kemudian dia memasukkan sedikit demi sedikit air tersebut ke mulut ibunya.


"Millah, boleh mama minta tolong? ambilkan madu di dalam kulkas."


Anak itu mengangguk dan berjalan ke dapur menuruti perintah ibunya, sampai di dapur Camilah membuka kulkas dan menemukan botol madu yang diminta ibunya lalu kembali ke ruang tamu.


"Mah, minum dulu madu ini biar mama sedikit bertenaga," bujuknya.


Lima menit menunggu dengan rasa was-was, Novia mengamati wajah ibunya yang tampak mulai memerah.


Novia berucap,"Alhamdulillah, Ya Allah."


Perasaannya sedikit lega melihat perubahan pada ibunya, yang tadinya begitu pucat kini mulai terlihat sedikit lebih segar.


"Kumohon mah, jangan membuatku ketakutan dan panik. Demi apapun aku belum siap."


Rasa trauma Novia kembali muncul, sekujur tubuhnya bergetar mengingat saat-saat terakhir dia kehilangan ayahnya.


Novia menggeser tubuhnya menjauhi ibunya, wanita itu beusaha keras menahan isak tangisnya. Rasa kehilangan kembali mengoyak hatinya.


"Pah, aku rindu. Seandainya papa masih ada mungkin aku tidak sesedih ini melihat keadaan mama," gumam Novia lirih.


Novia menyeka air matanya, kembali mendekat pada ibunya yang masih berbaring sambil memejamkan mata.


Matahari sudah srmakin condong ke barat, Novia belum beranjak sedikitpun dari samping ibunya sebab dia tak ingin hal yang terjadi pada ayahnya akan menimpa ibunya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil Irwan terdengar di luar, anak-anak Novia berlari keluar menyambut ayah mereka.


Irwan masuk sambil menggendong Emir, lelaki itu terkejut melihat Ibu Mertuanya terbaring di sofa dengan lemah.


"Mama kenapa Vi?" tanya Irwan cemas


"Tadi siang mama terjatuh, untung ada Camillah yang memberitahuku," jawab Novia


Irwan menurunkan Emir dari gendongannya,"Lebih baik kita bawa mama ke rumah sakit."


"Ayo, Vi, jangan kelamaan berpikir. Lihat mama begitu lemah." Irwan menunjuk Ibu Mertuanya dengan sudut matanya.


Novia akhirnya menuruti perkataan suaminya, wanita itu berkemas mengisi tas dengan beberapa lembar pakaian dan kebutuhan lainnya.


Irwan mengikuti istrinya ke dalam, memeriksa kembali barang bawaan jangan sampai ada yang tertinggal.


"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Novia.


"Ikut, masa ditinggal di sini," balas Irwan


"Baiklah, aku siapkan pakaian dan kebutuhan mereka," ucap Novia lagi


keduanya sibuk dengan tugas masing-masing, Irwan memeriksa semua pintu dan jendela sedangkan Novia mengisi wadah makanan yang akan di bawa ke rumah sakit.


"Semuanya sudah beres, sekarang kamu kasih tahu mama," ujar Irwan.


Perlahan Novia menghampiri ibunya, menyentuh tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan lembut.


"Mah, kita ke rumah sakit ya?"


Bi Ratih menggeleng pelan, menolak ajakan Novia.


"Ayolah, mama jangan menolak. Kalau di sana mama bisa di rawat dengan intensif," bujuk Novia


"Kalau mama menolak, nanti kak Riska dan yang lainnya akan menyalahkanku jika terjadi sesuatu pada mama."


Mendengar ucapan putri bungsunya, Bu Ratih menjadi luluh dan mau di ajak ke rumah sakit.


Mereka tiba di rumah sakit, Bu Ratih masih menjalani pemeriksaan di ruangan. Satu jam kemudian Bu Ratih dipindahkan ke ruang perawatan sesuai permintaan Novia.


Irwan dan ketiga anaknya untuk sementara ikut menginap di ruang perawatan, esok harinya baru Irwan mengantar mereka ke sekolah.


Malam semakin larut, Novia masih terjaga matanya belum bisa terpejam. Sesekali dia melirik pada ibunya yang tertidur dengan tenang di atas ranjang.


Seperti dejavu, Novia kembali merasakan kerinduan yang mendalam pada ayahnya saat merawat ibunya yang tengah sakit.

__ADS_1


Air matanya menetes tanpa permisi, walaupun ibunya tak pernah mengatakan isi hatinya namun, Novia tahu betul perasaan ibunya akhir-akhir ini yang begitu merindukan sosok ayahnya.


"Tadinya aku kira mama lemah, ternyata aku salah. Mama begitu pandai menyembunyikan perasaan."


__ADS_2