
Part 16
Waktu terus berlalu usia Camillah sekarang genap tiga tahun, Novia menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga mengurus anak dan suami serta oorang tuanya yang mulai menua sembari terus mencari pekerjaan sesuai disiplin ilmunya, tapi belum juga menemukan yang cocok.
Hingga suatu hari teman masa kecilnya teman sepermainan yang sudah Novia anggap seperti saudara sendiri dan juga kuliah di jurusan sama datang ke rumah Novia.
"Assalamualaikum" ucap Wahida.
"Wa'alaikumussalam, heii Ida sinii masuuk" balas Novia girang.
"Vi, kabar gembira ada info loker sedang membuka penerimaan dan sesuai jurusan kita, ini persyaratan yang harus dilampirkan" ucapnya sembari menyerahkan selembar kertas pada Novia.
Novia mengambil kertas itu lalu membaca lebih detail isinya.
"Hmm pendaftarannya di tutup minggu depan yaa, singkat sekali waktunya" ucap Novia.
"Iya makanya kamu jangan kelamaan mikir kita harus segera mendaftar karena pendaftarnya banyak Vi."
"Ok, sebentar malam aku siapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan" balas Novia
"Siip, makasih yaa infonya" ucap Novia penuh semangat.
"Baiklah Vi, aku pulang dulu mau mengabari teman yang lain" Wahida pun berpamitan pulang dan dibalas anggukan Novia.
Setelah mengantar Wahida ke pintu gerbang, Novia bergegas menemui ibunya di dalam yang asyik bermain bersama cucunya Camillah.
"Mah, barusan Wahida dari sini dan mengabari Novia kalau ada lowongan pekerjaan, ini persyaratannya mah" Novia menyerahkan kertas itu pada ibunya.
Bu Ratih membaca isi lembaran itu lalu tersenyum menatap cucunya.
"Alhamdulillah Vi selalu diberi kemudahan" pikiran bu Ratih sedikit tenang, mengingat Camillah sudah mulai tumbuh besar tentu akan butuh biaya pendidikan dan lain-lainnya.
"Iya mah, semoga nanti Novia lulus ya mah" balas Novia.
Malam harinya, ketika Irwan sudah pulang kerja dan mereka smua sudah berkumpul dimeja makan.
"Pah, Wan, aku mau tes penerimaan pegawai dan pendaftaran dibuka secara besar-besaran" ucapnya
Pak Wahyu menghentikan gerakannya lalu menatap bergantian ke arah anak, menantu, dan cucunya.
"Alhamdulillah ini kabar baik papa bahagia mendengarnya, semoga masa depan kalian cerah" ucapan penuh harapan dari seorang ayah.
"Aamiin" balas Irwan dan Novia bersamaan.
__ADS_1
Sebagai orang tua, tentunya Pak Wahyu dan bu Ratih menaruh harapan besar pada anaknya dan Novia pun memahami itu,sehingga membuatnya lebih semangat lagi untuk terus berjuang.
Selesai makan malam, seperti biasa mereka beristirahat Irwan menyempatkan waktunya bermain dengan gadis kecilnya sementara Novia disibukkan dengan lembaran-lembaran kertas untuk kelengkapan berkasnya.
Setelah dirasa semuanya sudah beres,Novia mengajak suami dan anaknya tidur karena besok dia harus bangun lebih pagi dari biasanya.
Paginya setelah selesai dengan aktifitasnya menyiapkan sarapan dan kebutuhan Camillah, memandikan anaknya lalu Novia bergegas mandi serta berpakaian rapi.
"Wan, bisa kan kamu mengantarku ke kantor ini ?" Novia menunjukkan alamat kantor pada suaminya.
"Hmm iya" balas Irwan.
Selesai sarapan mereka langsung berpamitan pada Camillah dan kedua orang tuanya.
"Sayaangg, mama tinggal sebentar yaa sama ina jangan rewel atau bikin ina capek ya" ucapnya pada putrinya.
Camillah hanya mengangguk sambil memeluk boneka kesayangannya.
"Mah, pah titip Camillah sebentar yaa kami berangkat dulu" pamitnya sembari mencium tangan kedua orang tuanya.
"Iya hati-hati, semoga semuanya lancar" jawab bu Ratih.
Mereka pun keluar dan berjalan kearah mobil, Irwan naik dan menghidupkan mesin lalu mobil melaju ke tempat yang dituju.
Tiba di tempat tujuan, Novia bertemu dengan beberapa orang teman semasa kuliahnya dulu dan serasa mereka reunian lagi saling menanyakan kabar, bercanda dan tertawa girang.
Antrian yang cukup panjang, Irwan terlihat mulai gelisah lalu Novia menghampirinya.
"Wan, kamu pergi kerja saja dulu giliranku mungkin masih lama, dua jam lagi baru kembali kesini" Novia paham apa pikiran Irwan.
Dan Irwan pun mengiyakan lalu meninggalkan Novia.
Novia kembali lagi ke tempat antrian, dan benar perkiraannya dua jam kemudian baru tiba gilirannya menyerahkan berkas.
Setelah menyerahkan berkas dan mendapat nomor sesuai antrian berkasnya, Novia lalu berjalan ke arah parkiran menunggu suaminya datang.
Beberapa saat kemudian mobil Irwan mendekat ke arah Novia dan berhenti tepat di depannya. Lalu Novia naik dan mobil mereka melaju pulang karena hari sudah sore.
Sementara itu dirumah, Camillah yang bermain bersama kakek dan neneknya mulai merasa jenuh.
"Ina ( nenek ), mama kenapa lama" rengeknya
"Sebentar lagi mama pulang, Millah mau jalan-jalan sama tata ( kakek ) ?" bujuk bu Ratih.
__ADS_1
"Tidak mauu, Millah mau mama" jawabnya.
Tak lama suara mobil terdengar, dan Camillah mendongak lalu bangkit dan berlari keluar menuju suara mobil.
"Awass nakk tunggu diam disitu" Novia panik dan berteriak takut anaknya mendekat kearah mobil yang belum terparkir dengan baik.
Setelah mobil benar-benar berhenti Novia turun dan menghampiri anaknya lalu menggendongnya masuk.
Bu Ratih tergopoh-gopoh menyusul cucunya dan berpapasan dengan Novia yang sudah menggendong Camillah.
"Milla, lain kali jangan seperti itu nak, ina ( Nenek ) tidak kuat mengejar" ucapnya sambil mengelus rambut cucunya di gendongan Novia.
Camillah hanya memasang wajah cemberutnya tapi terlihat sangat lucu.
"Papa mana" tanya Novia.
"Di belakang, memperbaiki pagar kebunnya" jawab bu Ratih.
Novia menarik tangan ibunya lalu mengajaknya duduk lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar kertas.
"Ini nomor berkas Novia mah, di situ tertera tanggal ujiannya" sambil menunjukkan isi kertas tersebut pada ibunya.
Bu Ratih hanya mengangguk.
"Jangan lupa belajar Vi, dan simpan baik-baik kertasnya jangan sampai tercecer" balas bu Ratih sebab dia tahu Novia kadang jadi pelupa.
"Mungkin sebaiknya kertas itu dilaminating supaya aman" saran bu Ratih lagi.
"Oh iya mah, tadi Novia lupa hmm besok aku minta tolong Irwan yang laminating".
"Hmm aku mau mandi dulu mah sudah sore" Novia bangkit dan berjalan menuju kamarnya sambil menggendong Camillah.
Setelah memandikan Camillah dia pun mandi dan keluar menghampiri suaminya yang membersihkan mobil, rutinitas Irwan setiap hari ketika pulang kerja pasti akan membersihkan mobil kemudian mengecek mesin dan alat-alat lainnya.
"Wan, kalau sudah selesai sana mandi sebentar lagi maghrib" ucapnya.
"Iya tanggung ini kalau di tinggal lima menit lagi selesai" jawab Irwan.
Setelah mengingatkan suaminya, Novia kembali masuk ke dalam rumah lalu menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Adzan maghrib sudah berkumandang,Irwan bergegas masuk ke dalam lalu mandi dan bersiap-siap untuk shalat.
Sepertinya dia tak bisa berjamaah dengan yang lain dan memilih shalat sendiri dikamar, sementara Novia dan Camillah ikut berjamaah dengan orang tuanya.
__ADS_1
Novia tetap mengajak Camillah berjamaah untuk mengenalkan dan melatih putrinya shalat sejak dini, meskipun kadang belum bisa berkonsentrasi dengan baik minimal dia sudah tahu bahwa shalat itu adalah ibadah yang rutin dikerjakan lima kali sehari.
Camillah pun selalu semangat tiap kali di ajak shalat dan Novia sangat bersyukur Camillah tipe anak yang mudah beradaptasi dengan sesuatu yang baru dan diajarkan kepada dia.