Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Akhirnya Novia Jujur


__ADS_3

Part 54


Genap sebulan bu Ratih di Mekkah, Pak Wahyu dan anak-anak tetap bisa berkomunikasi via telepon dengan istrinya. Sepuluh hari lagi seluruh rangkaian ibadah selesai dan bisa pulang ke tanah air.


Novia masih merahasiakan kehamilannya, usia kandungannya sudah enam minggu.


Pagi ini Novia bangun, mual dan muntah menyerangnya dia berlari ke kamar mandi Irwan yang mendengar istrinya muntah terbangun dan menyusulnya ke kamar mandi.


" Obat anti mualnya masih ada ?" tanya Irwan sembari memijat tengkuk istrinya.


" Habis." Sahut Novia kemudian berkumur.


" Kita ke puskemas ya."


" Iya, tapi kamu antar dulu Camillah ke sekolah sekalian minta izin sama pak Rizal."


Irwan mengangguk lalu menuntun istrinya kembali ke kamar dan berbaring di ranjang.


" Millah bangun, sudah pagi nanti kamu terlambat ke sekolah."


Irwan membangunkan putrinya, Camillah membuka matanya.


" Mama belum bangun ?"


" Mama sakit, tidak bisa ke sekolah jadi papa yang mengantarmu."


" Ayo mandi, papa beli makanan dulu untuk sarapan."


Camillah bangkit melangkah masuk ke kamar mandi, sedangkan Irwan keluar membeli makanan.


Di teras pak Wahyu duduk sendirian sambil membaca buku, Irwan menghampiri mertuanya.


" Pah aku mau beli makanan dulu untuk sarapan."


Pak Wahyu mendongak...


" Novia tidak masak ?"


" Tidak pah, Novia sakit."


Pak Wahyu tidak menjawab lagi dan Irwan pun berlalu pergi mengendarai motor.


Tak lama Irwan sudah sampai lagi di rumah, dia membeli beberapa bungkus nasi kuning membawanya masuk ke ruang makan.


Setelah menyiapkan sarapan, Irwan masuk ke kamar tampak Camillah sudah siap menunggu ayahnya.


" Sarapan dulu, oh iya sana panggil tata di luar."


Camillah keluar menemui kakeknya dan mengajaknya sarapan.


" Tata, sarapannya sudah siap."


Pak Wahyu menoleh, " Siapa yang siapkan ?"


" Papa."


" Oh baiklah, kita kesana sekarang."

__ADS_1


Pak Wahyu memegang tangan cucunya masuk, mereka bertiga makan dengan lahap menghabiskan makanan tanpa berbicara.


Setelah selesai Irwan berpamitan mengantar Camillah ke sekolah, Pak Wahyu kembali duduk di teras menghabiskan waktunya dengan membaca buku.


Sampai di sekolah Irwan masuk ke ruang guru, sedangkan Camillah berlari menuju kelasnya.


" Assalamualaikum."


" Waalaikumussalam." Diana menjawab ucapan salam Irwan karena hanya dia yang ada di ruangan tersebut.


" Masuk, mau ketemu siapa ?"


" Pak Rizal ada ?"


" Belum datang, mau menunggu atau ada pesan yang mau di sampaikan ?"


" Hmm sepertinya saya tidak bisa menunggu, cuma menyampaikan pesan Novia tidak bisa datang karena sakit."


" Oh, kenapa ya Novia sering absen dan alasannya selalu sakit ?"


" Memang lagi sakit, tadi pagi mual muntah dan rencananya mau ke puskesmas."


" Jangan-jangan hamil lagi, padahal kan anaknya masih kecil."


" Tajam juga lidahnya perempuan ini, kalau hamil lagi salahnya dimana ?"


Irwan kesal mendengar ucapan Diana yang bernada sinis, dia memilih pamit dan tidak menghiraukan perkataan teman istrinya itu.


Saat tiba di rumah dia langsung menemui istrinya di kamar, dia menceritakan pada Novia tentang perkataan Diana yang menurutnya aneh.


Novia mengernyitkan dahinya, baru kali ini Irwan mengomentari temannya.


" Memangnya kenapa dengan Diana ? Tumben kamu membahas tentang dia."


Irwan naik ke atas ranjang duduk menghadap istrinya, wajahnya tampak serius.


" Tadi kan aku mau menemui pak Rizal, tapi belum datang dan di ruang guru hanya ada Diana yang duduk sendirian."


Novia menyimak dan membiarkan suaminya berbicara, dia fokus mendengar.


" Aku masuk dan bertanya ada pesan untuk pak Rizal ? Aku jawab, Novia hari ini tidak bisa datang."


" Dia langsung menyahuti, kamu jarang hadir dan alasannya selalu sakit kemudian berkata jangan-jangan hamil padahal anaknya masih kecil."


Irwan mengulangi semua perkataan Diana yang membuatnya kesal, menurutnya Diana terlalu sibuk bahkan lancang berkata seperti itu.


Novia menghembuskan napas kasar, kemudian mundur dan bersandar di dinding.


" Aku juga heran Wan sama dia, dulunya dia begitu baik dan ramah tapi akhir-akhir ini dia selalu ketus jika berbicara denganku."


" Apa kamu pernah membuatnya tersinggung Atau mungkin membuat dia kecewa ?"


" Sejauh ini, aku merasa baik-baik saja dan juga kami kan jarang berinteraksi hanya sesekali ketika berada di dalam ruang guru."


" Sudah abaikan saja, jangan di pikirkan dan saranku sebaiknya kamu menjaga jarak dengannya."


" Iya." Sahut Novia.

__ADS_1


" Sekarang kamu mandi, nanti kesiangan ke puskesmas."


Novia turun dari ranjang dan berjalan masuk ke kamar mandi, Irwan membangunkan Adiba yang masih tertidur nyenyak.


Merasa terusik, Adiba bangun menangis dan berteriak memanggil ibunya.


Mendengar suara tangisan anaknya Novia keluar dari kamar mandi, ketika akan meraih tubuh anaknya dan mau menggendongnya Irwan segera menepis tangan Novia.


" Vi jangan, biar aku yang gendong kamu lupa ya nasihat dokter kalau kandunganmu itu lemah."


Novia mundur, tapi tangisan anaknya makin menjadi Irwan berusaha membujuknya dan akhirnya anak itu diam dalam gendongan ayahnya.


" Vi, Diba ikut atau di titip sama papa ?"


" Hmm, lebih baik di titip saja sama papa kita kan hanya sebentar paling juga dua sampai tiga jam."


" Baiklah, kamu suapi dulu Diba di luar dan aku bersiap-siap jangan lupa buatkan susunya."


Irwan keluar sambil menggendong anaknya, kemudian menyuapi Adiba bubur yang dia beli. Pak Wahyu masuk dan berhenti di dekat Irwan yang menyuapi anaknya.


" Diba makan apa ?"


" Makan bubur tata." Sahut Irwan karena Adiba belum begitu fasih berbicara.


Setelah menyuapi Adiba Irwan membawa Adiba masuk lagi ke kamar sekaligus memandikannya, Novia sudah siap menenteng tasnya keluar.


Pak Wahyu sekarang sudah berpindah ke ruamg keluarga, menonton acara TV favoritnya Novia menghampiri ayahnya.


" Pah, titip Diba ya sebentar aku mau ke puskesmas."


" Siapa yang sakit ?"


" Aku pah, tadi pagi mual dan muntah-muntah."


" Mual dan muntah ?"


Pak Wahyu mengulang ucapan Novia yang tanpa sadar memberi tahu keadaannya, pak Wahyu menatap Novia curiga dan Novia langsung menyadari sesuatu lalu dia terdiam.


" Astaga hampir saja, semoga papa tidak curiga dan bertanya macam-macam ?"


" Vi, kamu hamil lagi ?"


" Eh..emm tidak pah, cuma asam lambungku naik lagi."


" Jangan bohong, kehamilan itu tidak bisa di sembunyikan dan juga apa untungnya kamu membohongi papa."


Novia tak bisa berkata-kata lagi, mungkin sebaiknya jujur saja karena berbohongpun percuma nanti juga pasti akan ketahuan.


" Papa tidak marah kalau aku hamil lagi ? Dina kan masih kecil."


" Kenapa harus marah, anak itu anugerah dari Allah dan kamu di percaya untuk di beri amanah."


Novia bernapas lega, ternyata apa yang dia pikirkan salah dia mengira ayahnya akan marah jika tahu dia hamil lagi ternyata jawaban ayahnya sangat bijak.


" Jaga baik-baik amanah dari Allah, jangan menyia-nyiakannya jadilah orang tua yang baik untuk anak-anak kalian."


" Terima kasih petuahmu pah, aku akan menjaga mereka dengan baik layaknya kalian menjaga dan merawat anak-anak kalian."

__ADS_1


__ADS_2