Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Warisan 1


__ADS_3

Part 62


Sore hari tepat jam empat, pak Ahmad akan di makamkan semua keluarga berkumpul melepas jenazah tangis histeris bu Mini mengantar kepergian suaminya.


Irwan menopang tubuh ibunya yang hampir ambruk, bu Mini terus meraung-raung sampai akhirnya tak sadarkan diri. Irwan membopong ibunya masuk lalu membaringkannya di atas kasur.


Selesai pemakaman orang-orang sudah kembali ke rumah masing-masing, begitu juga dengan pak Wahyu dan istrinya. Yang tinggal hanya keluarga dekat dari pihak bu Mini dan pak Ahmad.


Saat semua orang berkumpul di ruang keluarga, Novia memilih di dalam kamar bersama ketiga anaknya hari ini sangat melelahkan untuknya setelah semalaman begadang mengurus Adiba yang rewel.


Mata Irwan mencari keberadaan istrinya karena tak menemukan dia pun menyenggol tante Lili di sebelahnya.


" Tante lihat Novia ?" Bisiknya.


" Tadi masuk ke kamar bersama anak-anak." Sahut tante Lili.


" Dari semalam dia belum tidur, Diba rewel terus Emir juga baru sembuh."


" Ya sudah, biarkan dia istirahat." Balas tante Lili.


Ketika Irwan dan tantenya sedang berbincang, mereka di kejutkan teriakan bu Mini yang mengusir saudara iparnya kakak perempuan pak Ahmad.


" Pergi dari sinii !!" teriak bu Mini sambil menunjuk ke arah pintu


Irwan bergegas bangkit dan menghampiri ibunya, bu Mini begitu murka wajahnya merah padam.


" Ada apa mah ? Kita masih dalam suasana duka."


" Kalian tidak berhak mengaturku, rumah ini milikku, mobil itu hasil kerja keras suamiku." Ucap bu Mini lagi tapi tatapannya tajam ke arah iparnya yang duduk di depannya.


" Mah tenang, semuanya bisa di bicarakan baik-baik bukan dengan dengan cara emosi seperti ini." Irwan coba menenangkan ibunya.


" Ada apa ini tante, tolong tante jelaskan apa yang terjadi aku tidak mau ada keributan." Pandangan Irwan beralih pada tantenya.


" Wan, tante minta maaf bukan berarti tante lancang, tadi tante hanya mengatakan pada mamamu untuk menjaga harta peninggalan papamu. Tapi mamamu salah paham dengan maksud tante."


Ipar bu Mini menjelaskan semuanya sesuai fakta yang terjadi, dia hanya memberi saran tapi bu Mini menanggapinya dengan emosi.


Semua orang yang hadir di tempat itu terdiam, mereka tidak menyangka reaksi bu Mini yang langsung emosi dan berteriak.


" Sepertinya mama capek, ayo aku antar mama ke kamar." Irwan merangkul ibunya dan menuntunnya masuk ke kamar.


Keduanya sudah ada di kamar, bu Mini duduk di atas ranjang lalu menatap Irwan.


" Mama tidak suka tantemu menuduh mama akan menjual harta papamu, dia pikir mama ini apa ?"

__ADS_1


" Mah, papa baru saja di makamkan dua jam yang lalu harusnya kita jangan dulu membahas masalah harta atau apapun."


" Tantemu yang memulai Wan, dia yang menuduh mama."


" Hmm kalian berdua sama, tak ada yang berbeda." Gumam Irwan dalam hati


"Iya mah, tak usah di tanggapi mama istirahat saja di sini biar aku yang selesaikan." Ucap Irwan kemudian berbalik dan melangkah keluar meninggalkan ibunya.


Irwan kembali ke ruang keluarga menemui tantenya, dia ingin menyelesaikan masalah yang terjadi dan membicarakannya baik-baik dengan semua anggota keluarga.


" Tante, bisa kita bicara sebentar."


" Ah iya, bicaralah tante akan mendengarkan."


Irwan diam sejenak, kemudian memulai pembicaraan dengan mimik wajah yang serius.


" Tante, papa baru saja di makamkan alangkah baiknya jika kita belum membahas mengenai harta warisan, aku rasa ini belum waktunya untuk di bahas tante." Irwan memberi tekanan dalam setiap kalimatnya walaupun dengan nada lembut.


" Tante minta maaf, maksud tante tadi cuma mengingatkan agar kalian menjaga harta papamu tidak lebih."


" Iya, aku paham maksud tante tapi waktunya tidak tepat. Aku harap tante bisa memahaminya."


" Iya, sekali lagi tante minta maaf, oh iya tante juga mau pamit pulang."


" Kenapa terburu-buru tante ?"


" Oh baiklah, aku antar ya."


" Tidak usah, tante bisa naik angkutan umum."


Setelah berpamitan dengan Irwan, diapun meninggalkan kediaman adiknya dengan perasaan sedih sungguh di luar dugaan adik iparnya menyerangnya seperti itu.


Irwan menatap punggung tantenya yang berjalan meninggalkan rumah orang tuanya, jika boleh jujur dia ingin semuanya berkumpul mendoakan kepergian ayahnya tapi keadaan justru sebaliknya malah pertengkaran yang terjadi.


Irwan menghembuskan napas kasar dan memilih masuk ke kamar menemui anak dan istrinya, saat masuk Novia bangkit dan menyambut suaminya yang berjalan gontai menghampirinya.


" Wan, istirahat dulu dari semalam kamu belum tidur." Novia menepuk ruang kosong di sampingnya.


Irwan berbaring sambil memeluk pinggang istrinya, dia mencoba mencari ketenangan dengan mencurahkan semua isi hati pada istrinya.


" Vi, apa kamu mendengarnya tadi ?" Novia paham maksud pertanyaan suaminya dan dia mengangguk.


" Aku sedih Vi, rasanya aku belum siap." Ucap Irwan lirih.


Novia membelai lembut rambut suaminya memberi ketenangan, kepada siapa lagi suaminya mengadu kalau bukan padanya.

__ADS_1


" Sabar Wan, kita hanya manusia yang lemah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini Allah yang mengatur kita hanya menjalani."


" Jujur Vi, aku iri pada keluargamu, orang tuamu, saudara-saudaramu. Kalian selalu terlihat tenang menghadapi situasi apapun."


" Setiap orang berbeda cara menyikapi masalah, orang tuaku juga pernah mengalami masalah, hanya saja mereka lebih memilih menyerahkan semuanya pada Allah tepatnya berserah diri."


Entah karena kelelahan atau terlalu nyaman dengan posisinya, Irwan terlelap sambil memeluk istrinya.


Novia melirik suaminya...,


" Astaga, sudah panjang kali lebar aku bicara rupanya kamu sudah tertidur."


Novia menurunkan tangan suaminya, kemudian dia berbalik menghadap pada anaknya Emir yang juga terlelap di sampingnya, tak lama diapun ikut tertidur.


Novia terbangun dari tidurnya saat mendengar rengekan Adiba meminta susu, dia melirik jam di tangannya.


" Sudah jam sebelas rupanya, anak-anakku belum makan malam." Gumamnya.


" Diba sayang, sabar yaa mama bikin susu dulu."


" Wan bangun, temani aku ke dapur Diba minta susu dan Millah juga belum makan."


Irwan menggeliat dan membuka matanya.


" Jam berapa sekarang ?"


" Jam sebelas malam Wan, kita melewati makan malam."


" Hah, ayo aku temani ke dapur."


Irwan bangkit dan berjalan keluar, Novia menyusul suaminya sambil menggendong Adiba.


Selesai membuatkan susu untuk anaknya, Novia meminta Irwan mengambilkan makanan untuk Camillah dan menyuapinya.


" Kamu tidak ikut makan Vi ?"


" Aku belum lapar."


" Vi, Emir itu menyusu kalau kamu tidak makan bagaimana dengan anakmu, makanlah sedikit walau belum lapar jangan egois Vi."


" Iya, nanti kalau anak-anak sudah tidur lagi." Jawabnya.


" Aku keluar sebentar, di teras masih banyak orang ngobrol nanti kalau kamu butuh panggil aku ya."


Novia mengangguk, Irwan pun berjalan keluar meninggalkan Novia di kamar bersama anak-anaknya dan bergabung dengan beberapa orang sepupunya yang duduk di teras.

__ADS_1


Setelah ketiga anaknya tertidur kembali, Novia keluar memanggil suaminya untuk menemaninya makan.


__ADS_2