
Part 66
" Kalian sudah siap, mau langsung ke rumah mama atau mampir ke sekolah dulu ?" tanya Irwan.
" Langsung ke rumah mama," sahut Novia.
" Pamit dulu sekalian titip anak-anak." Novia keluar kamar sambil menggendong Emir yang akan di titipkan pada ibunya.
Irwan mengikuti langkah istrinya keluar, sampai di teras Novia berpamitan pada kedua orang tuanya.
" Mah ini Emir, kami berangkat dulu ya susu dan buburnya sudah aku siapkan," ucap Novia.
" Ayo Millah kita berangkat, salim sama tata dan ina." Camillah meraih tangan kakek dan neneknya begitupun dengan Novia.
Mereka bertiga berjalan beriringan ke garasi, Irwan naik ke dalam mobil sedangkan Novia dan anaknya menaiki motor.
Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Irwan menjulurkan kepalanya keluar jendela dan bertanya pada Novia, " uangnya sudah di bawa ?" Novia mengangguk.
" Kamu duluan, nanti aku ikuti dari belakang," ucap Novia dan menyalakan mesin motornya.
Mobil Irwan perlahan bergerak dan motor Novia mengikuti di belakang, Novia berhenti di depan sekolah dia melangkah masuk ke ruang guru dan meminta ijin pada pak Rizal.
" Assalamualaikum."
" Wa'alaikumussalam, eh bu Novia silahkan masuk."
" Iya terima kasih pak, saya meminta ijin sebentar ada urusan penting, satu jam lagi saya kembali ke sini," ucap Novia.
" Oh iya silahkan bu."
Novia berbalik dan melangkah meninggalkan ruang guru, dia bergegas menaiki motornya kemudian menyusul suaminya.
Irwan sudah lebih dulu tiba di rumah ibunya, mereka berbincang di teras rumah sembari menunggu Novia datang. Tak lama kemudian Novia muncul memasuki halaman.
Novia memarkir motornya lalu dia turun dan berjalan menuju teras.
" Assalamualaikum, maaf saya terlambat karena mampir dulu di sekolah meminta ijin," ucapnya.
" Duduk Vi, aku juga baru sampai di sini," sahut Irwan.
Novia duduk di kursi kosong tepat di samping Irwan, ketiganya belum ada yang bersuara saling diam untuk beberapa saat.
" Mah, sesuai pembicaraan kita tempo hari aku meminta mama menunggu karena aku bicarakan dulu masalah itu pada istriku dan kami sepakat untuk membeli mobilnya." Irwan memulai perbincangan.
__ADS_1
" Berapa harga jualnya dari mama ?" tanya Irwan
" Rp.25.000.000.00-, sesuai kebutuhan mama," sahut bu Mini datar.
" Apa tidak bisa kurang mah ?" tawar Irwan
Bu Mini menggeleng, dia tetap pada pendiriannya. Novia diam, sedari tadi dia hanya mendengar pembicaraan antara ibu dan anak di depannya.
" Sungguh aneh, mereka tak ubahnya orang lain yang tidak saling kenal yang sedang melakukaan transaksi," gumam Novia dalam hati
" Bagaimana mah, apa harganya bisa kurang ? tawar Irwan lagi.
" Keputusan mama sudah final tidak bisa di tawar lagi."
Irwan menghela napas, " baiklah, kami akan membayar sesuai penawaran mama dan setelah pembayaran aku minta surat-suratnya di serahkan juga."
" **- tapi suratnya masih mama gadai Wan," ucap bu Mini terbata-bata sambil meremas jarinya.
Irwan kembali menghela napas kasar, " kalau begitu, aku hanya menyerahkan setengah saja uangnya nanti setelah suratnya ada di tangan mama baru kami lunasi."
Bu Mini memalingkan wajahnya, dia terlihat gusar perhitungannya salah dan tidak sesuai rencana.
Irwan memicingkan mata, ibunya seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Bu Mini menatap Irwan, dia mengumpulkan kekuatan untuk berkata jujur sejak kematian suaminya banyak yang dia rahasiakan dari Irwan.
" Wan, mama minta maaf mobil itu sebenarnya akan di tarik pihak lising karena mama sudah menunggak lama."
" Kenapa bisa mah ? bukannya selama ini setoranku setiap hari masuk dan juga mama sudah menjual beberapa petak tanah lalu kemana uangnya mah ?!"
" Kami serahkan uangnya sekarang, dan mama lunasi tunggakan di sana. Aku tidak mau mobil itu ada sangkutannya dengan pihak lain sama halnya kami membeli kucing dalam karung mah."
Bu Mini tak bisa berkata-kata, bulir kristal dimatanya akhirnya tumpah dia kecewa pada dirinya sendiri tak bisa menjaga peninggalan suaminya.
Melihat kondisi ibunya yang rapuh, Irwan beranjak mendekati ibunya dan merengkuh lalu memeluk tubuh ibunya. Tangis bu Mini pecah, dia tak menyangka kisahnya hidupnya akan menjadi seperti ini.
Tubuh bu Mini terus bergetar dalam pelukan Irwan, " sudah mah jangan sedih, semuanya sudah terjadi tidak perlu di sesali."
" Selama ini aku diam, ketika mama menyembunyikan semuanya dari aku."
" Wan, biarkan mama istirahat dulu," ujar Novia.
Irwan menoleh pada istrinya, " mana uangnya Vi, kasih ke mama setengahnya."
__ADS_1
Novia mengambil uang dari dalam tasnya, lalu menghitung dan menyimpan setengahnya lagi ke dalam tas.
" Maaf mah, bukannya aku tidak percaya pada mama, tapi aku juga harus menjaga perasaan Novia karena jujur uang itu sepenuhnya milik Novia bukan milikku," ucap Irwan sambil mengelus pundak ibunya.
Bu Mini hanya mengangguk, dia pasrah dan juga menahan malu yang teramat dalam mengingat sikapnya pada Novia selama ini.
Novia beranjak mendekati suami dan mertuanya, sambil memegang uang yang akan dia serahkan.
" Mah, ini uangnya semoga bermanfaat dan bisa menutupi kebutuhan mama dan adik-adik."
Novia menyerahkan uang kepada ibu mertuanya, dengan tangan gemetar bu Mini meraih uang di tangan menantunya kemudian dia menoleh pada anaknya dan Irwan membalas dengan anggukan.
Setelah itu Novia mengeluarkan lembaran kwitansi dari dalam tas, kemudian dia menyodorkan pada ibu mertuanya.
" Tolong mama tanda tangani kwitansi ini mah sebagai bukti dan pegangan kami," ucap Novia.
Bu Mini meraih kwitansi tersebut lalu menanda tanganinya, setelah itu dia menghitung kembali uang yang di serahkan Novia.
" Terima kasih, mama sudah menghitung uangnya dan mama akan mengusahakan melunasi tunggakannya," ujarnya dengan senyum tersungging di bibirnya.
" Baiklah mah, kami tunggu kabar dari mama kalau masalahnya sudah selesai, kami pamit dulu karena Novia juga harus kembali ke sekolah,"
Keduanya beranjak lalu berjalan menuju kendaraan mereka masing-masing, kemudian mereka meninggalkan kediaman bu Mini.
Tiba di sekolah, Novia langsung berjalan menuju kelasnya namun sebelum masuk dia berpapasan dengan Diana.
" Dari mana Vi Kamu sekarang sering datang terlambat ?" sapa Diana
" Ada urusan penting, dan aku juga sudah meminta ijin tadi sama pak Rizal," balasnya.
" Tapi aku tidak melihatmu tadi." Diana terus mencecar Novia dengan pertanyaan.
" Aku hanya meminta ijin pada kepala sekolah bukan pada guru," jawab Novia lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan Diana dan masuk ke dalam kelasnya.
" Heh dasarr, selalu saja sibuk mengurusi urusan orang lain," gerutu Novia.
Entah apa sebabnya, akhir-akhir ini Diana selalu menunjukkan sikap bencinya pada Novia bahkan dengan cara terang-terangan.
Bel pulang berbunyi, Novia melirik jam di tangannya kemudian menyusun buku-buku ke dalam rak setelah itu dia keluar dan menunggu Camillah keluar dari kelasnya.
Camillah sudah di dekat ibunya dan mengajaknya pulang, " ayo mah kita pulang, Millah lapar dan ngantuk."
" Ayo kita pulang, tapi mama pamit dulu sama kepala sekolah," sahut Novia.
__ADS_1
Setelah berpamitan, Novia dan anaknya meninggalkan area sekolah dan kembali ke rumah.