Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Kesedihan Orang Tua Novia


__ADS_3

Part 45


Mereka bertiga sudah ada di kamar Novia, Bu Ratih mendekati ranjang di pandanginya wajah Novia yang memerah lalu menyentuh dahi Novia.


" Pah, badannya panas sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit " bu Ratih menoleh pada suaminya.


" Mana yang terbaik menurut mama, papa nurut saja."


Novia yang tidur membelakangi, sayup-sayup dia mendengar percakapan orang tuanya. Perlahan dia bergerak berbalik menghadap ke arah ibunya.


" Mah, aku cuma demam nanti juga akan sembuh kalau minum obat, kalau aku di rawat di rumah sakit anak-anakku bagaimana mama tahu sendiri kan Adiba itu tidak bisa jauh dari aku."


Dengan suara yang lemah Novia mencoba meyakinkan ibunya bahwa dia baik-baik saja.


" Mama khawatir melihat keadaanmu, kalau di biarkan akan bertambah parah."


" Percayalah mah, aku hanya capek dan butuh istirahat."


" Baiklah, mama buatkan kamu bubur ya."


Novia mengangguk dan memejamkan kembali matanya, bu Ratih kemudian merapikan selimut Novia yang tersibak lalu melirik ke arah cucunya Adiba yang masih terlelap.


Sementara itu Camillah yang berdiri di samping pak Wahyu mendongak.


" Tata, mama mau tidur di rumah sakit ?"


Pak Wahyu tersenyum lalu menggeleng kemudian meraih tubuh Camillah dan menggendongnya.


Melihat pemandangan itu bu Ratih merasa terharu, dia berusaha menahan air matanya entah mengapa segala sesuatu yang berhubungan dengan anak-anak Novia selalu membuatnya sedih dan khawatir.


" Ayo pah, kita keluar biarkan Novia istirahat dulu."


Mereka keluar kamar dan melakukan tugasnya masing-masing, bu Ratih langsung menuju dapur sedangkan pak Wahyu menemani Camillah nonton TV.


Lain halnya dengan Irwan, pagi ini dia sudah tiba di kantin kampus tempat biasa dia dan teman-temannya berkumpul.


Irwan memarkir mobilnya dan turun kemudian berjalan menghampiri temannya.


" Wah mantap bos, dari mana kemarin tidak muncul di sini ?" sapa salah seorang temannya.


" Biasalah memburu rupiah." Balasnya


" Memburu rupiah atau memburu ayang ?" celetuk yang lainnya.


" Kemarin istrimu datang kesini mencarimu."


Irwan yang sedang minum langsung menyemburkan air dari dalam mulutnya karena terkejut mendengarnya, sungguh di luar dugaan.


" Dan serunya lagi, dia bertemu dengan Sukma yang juga datang mencarimu." Lanjut temannya lagi.


Irwan langsung panik " Eh kamu jangan bercanda ya ini tidak lucu."

__ADS_1


" Siapa yang bercanda ? Coba tanya yang lain." Orang itu menunjuk beberapa orang yang juga melihat pertemuan Novia dan Sukma.


Dan sialnya mereka kompak mengangguk dan jawaban mereka pun sama.


Irwan langsung terduduk lemas.


" Waduh, ini bahaya Novia pasti marah besar hidupku dalam masalah besar sekarang." Gumamnya.


" Kamu mendengar pembicaraan mereka ? Dari mana kamu tahu kalau dia istriku ?" mencoba menolak kebenaran Irwan terus bertanya pada temannya.


" Dari pengakuan temannya, istrimu kesini bersama temannya. Eh tapi istrimu hebat ! Aku suka gayanya Sukma di buat mati kutu."


Irwan diam, memikirkan nasibnya dan langkah apa yang akan di ambil.


" Wan, jangan bermain api kalau kamu sendiri tidak tahu cara memadamkannya, istrimu perempuan baik-baik rasanya kurang adil jika kamu menyakitinya."


" Hanya hiburan, namanya juga laki-laki." Celetuk seorang teman di belakang Irwan.


" Ingat baik-baik ucapanku Wan, jangan sampai kamu menyesal sesuatu yang baik tidak akan datang dua kali." Lelaki yang bernama Fahrul itu pun beranjak pergi.


Irwan lagi-lagi hanya bisa diam, ucapan Fahrul berhasil membuatnya merasa tertampar.


Irwan semakin kacau memikirkan bagaimana cara menghadapi istrinya nanti, di tambah lagi dia masih menghindari Sukma yang terus memburunya.


" Tamatlah hidupku, sudah bisa di pastikan Novia akan membenciku bagaimana kalau mertuaku tahu."


Tanpa berpamitan, Irwan meninggalkan teman-temannya dia pergi mencari tempat yang tenang untuk merenung sekaligus bersembunyi dari Sukma.


Bu Ratih dan pak Wahyu duduk sambil berbincang di ruang tamu diam sejenak saat Camillah datang.


" Inaa mama sakit apa, kenapa lama sembuhnya ?"


Bu Ratih dan suaminya saling pandang, lalu bu Ratih meraih tubuh mungil Camillah dan memeluknya.


" Mama cuma demam, nanti juga sembuh doakan mama ya."


Camillah menengadahkan tangannya " Sembuhkan mamaku Ya Allah."


" Aamiin." Jawab bu Ratih.


Setelah mengucapkan doa Camillah melepaskan diri dari pelukan neneknya lalu berlari masuk kembali ke dalam kamar.


" Pah, bagaimana nanti nasib Novia dan anak-anaknya kalau kita sudah tidak ada di dunia ini ?" Setetes buliran bening jatuh di pipi bu Ratih.


" Berpikirlah dan berdoalah yang baik-baik mah, ada Allah yang akan menjaga anak dan cucu-cucu kita serahkan semua pada pemilikNYA."


Sebenarnya pak Wahyu pun gundah memikirkan nasib Novia, jika suatu saat dia pergi rasanya belum siap meninggalkan anak dan cucunya dalam keadaan seperti ini.


Bu Ratih terisak.


" Ini alasan mama dulu menolaknya, Novia jadi menderita pah mama tidak rela anak mama di perlakukan begini."

__ADS_1


" Sudahlah mah, semua sudah terjadi tidak perlu di sesali. Papa yakin Novia anak kuat dan tangguh dia tidak lemah seperti yang mama kira."


" Allah memilihnya, karena dia mampu." Lanjut pak Wahyu.


Pak Wahyu bangkit dan berdiri


" Papa mau keluar, mungkin Novia ingin makan sesuatu seperti buah atau yang lain, mama mau ikut ?"


" Tidak, mama di sini saja nanti kalau Novia butuh sesuatu bagaimana ?"


" Ya sudah, temani anakmu di kamar, papa pergi dulu."


" Iya hati-hati pah."


Pak Wahyu berjalan keluar, bu Ratih mengikuti suaminya dari belakang. Setelah mobil suaminya menjauh barulah bu Ratih masuk kembali ke dalam rumah.


Camillah begitu setia menemani ibunya di dalam kamar, di usia yang masih sangat muda Camillah seperti sudah memahami keadaan ibunya.


" Mama mau makan ?"


Novia tersenyum tipis " Tidak sayang, mama masih kenyang."


" Sini duduk dekat mama." Novia menepuk ruang kosong di sampingnya.


Camillah naik ke atas ranjang duduk di sebelah ibunya, tangan mungilnya membelai lembut wajah Novia.


" Cepat sembuh mama, kasihan dedek Diba." Ucapnya tak ubahnya orang dewasa.


" Oh Ya Allah, sesakit ini di khianati jaga dan lindungi anak-anakku."


Novia balas membelai rambut Camillah, memandang wajahnya yang polos membuat Novia tak kuat menahan tangisnya.


" Mama kenapa nangis, apa yang sakit ? Millah panggil ina."


Novia menahan tangan Camillah yang akan turun dari ranjang.


" Mama tidak apa-apa, mata mama cuma kelilipan makanya berair."


" Millah di sini saja temani mama ya."


Camillah mengangguk.


Tak lama, pintu kamar Novia terbuka bu Ratih muncul membawa nampan berisi mangkok bubur dan segelas air minum.


Bu Ratih meletakkan nampan tersebut di atas meja samping ranjang Novia.


" Vi, makan dulu kasihan Diba jika air susumu berkurang." Bu Ratih selalu menjadikan Adiba sebagai senjata untuk membujuk Novia makan dan pasti akan berhasil.


" Iya mah, nanti aku makan."


" Nanti buburnya dingin nak."

__ADS_1


Dan akhirnya Novia pun makan dengan lahap, menghabiskan bubur buatan ibunya sesekali dia juga menyuapi Camillah yang duduk di sebelahnya.


__ADS_2