Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Patah Sayap 2


__ADS_3

Part 86


Mama ... mama ... mama


Adiba dan Emir berlarian sambil memanggil ibunya yang sedang berada di dapur, mendengar teriakan anaknya Novia bergegas keluar.


"Ada apa nak?"


"Itu ... ituuu, tata bobo di bawah kursi," tunjuk Adiba kearah kamar Pak Wahyu yang pintunya terbuka lebar


Tanpa berpikir panjang, Novia membuang serbet di tangannya ke sembarang arah lalu berlari masuk ke kamar ayahnya.


Sampai di dalam kamar, Novia mendapati ayahnya terbaring di atas sajadah dengan posisi kaki bersila dan kepalanya di bawah kursi.


Perlahan Novia meraba seluruh tubuh ayahnya yang masih basah karena air wudhu bahkan tubuhnya pun masih hangat.


"Pah ... papa bangun."


Novia mencoba menggerakkan tubuh ayahnya, Pak Wahyu masih diam tak bergerak.


Berulang kali Novia membangunkan ayahnya namun, hasilnya nihil lalu dia meraba tangan ayahnya untuk memastikan denyut nadi dan Novia pun tersadar bahwa ayahnya sudah pergi untuk selamanya.


Novia bangkit lalu mundur selangkah, menatap jasad ayahnya sambil meremas rambutnya


Sedetik kemudian Novia langsung mengingat ibunya.


"Mah ..., mamaa sinii!!" teriak Novia


Teriakan berikutnya Bu Ratih belum juga muncul, rupanya dia sedang shalat di ruang shalat.


Setelah melepas mukenahnya, Bu Ratih tergopoh-gopoh mendatangi asal suara teriakan dari dalam kamarnya.


"Ada apa Novia?" tanya Bu Ratih yang belum menyadari situasi dalam kamar.


"Mah." Novia menunjuk jasad ayahnya yang terbaring di lantai.


Saat melihat kearah telunjuk Novia, tubuh Bu Ratih seketika luruh ke lantai lalu dia merangkak mendekati suaminya.


"Pah, kenapa jadi begini? apa yang terjadi Vi?"


Bu Ratih mengangkat kepala dan menatap Novia meminta jawaban, tapi Novia hanya menggeleng sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.


Bu Ratih terus berusaha mengguncang tubuh suaminya, berharap suaminya hanya pingsan atau mungkin hanya tertidur.


Melihat reaksi ibunya, Novia mendekat dan berbisik pada ibunya.


"Mah, papa sudah pergi. Mama baik-baik saja kan?"

__ADS_1


Bu Ratih sepertinya belum percaya dengan apa yang disaksikannya, bahkan tak mau melepas tangan suaminya.


"Pah, kenapa papa pergi tanpa pamit? mama sendirian sekarang."


Mendengar ucapan ibunya yang begitu pilu, Novia menghambur memeluk ibunya.


"Mah, mama tidak sendiri masih ada aku dan anak-anak mama yang lain," hibur Novia sembari mengelus lembut punggung ibunya.


Sekuat tenaga Novia menghibur dan menenangkan ibunya, padahal dia sendiri begitu hancur meskipun tak ada air mata yang menetes namun, hati Novia terasa remuk tak berbentuk.


Novia menuntun ibunya keluar dari kamar, membawanya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Kemudian Novia keluar mencari bantuan untuk mengangangkat jasad ayahnya.


Mendengar berita kematian Pak Wahyu yang mengejutkan, tetangga berbondong-bondong datang memenuhi rumah Pak Wahyu.


Beberapa orang mengangkat dan memindahkan jasad Pak Wahyu ke ruang keluarga, sedangkan yang lain mengangkat kursi lalu menggelar tikar.


Dari kejauhan Irwan melihat rumah mertuanya tampak ramai, jantungnya berdebar kencang penuh tanda tanya.


"Apa yang terjadi, kenapa orang ramai disana?" gumam Irwan lalu memacu mobilnya lebih kencang.


Irwan memarkir mobilnya sembarang, kemudian turun dari mobil lalu berlari menerobos kerumunan orang.


"Ada apa ini, apa yang terjadi?" tanya Irwan panik


"Ayah mertuamu meninggal dunia," ujar salah seorang tetangga.


Irwan langsung merangsek masuk menembus kerumunan, hingga akhirnya dia menyaksikan pemandangan yang menyesakkan dadanya.


Entah kenapa, kali ini Irwan merasakan kesedihan yang lebih mendalam dibanding kematian ayahnya sendiri.


Sosok tenang, bersahaja, perhatin, dan penuh kasih yang ada dalam kepribadian ayah mertuanya tak pernah dia temukan pada keluarganya.


Novia tak dapat berkata-kata saat Irwan datang menghampiri dan memeluknya, hatinya hancur berkeping-keping jerit tangisnya tertahan di dalam hati.


"Ya Allah, jika boleh aku meminta padamu jangan ambil papa dari kami aku belum siap," batin Novia


"Vi, sabar ya, kalau ingin menangis menangislah jangan ditahan," bisik Irwan lirih ditelinga istrinya


Novia hanya melirik sekilas lalu pandangannya kembali lurus menatap jasad ayahnya yang terbaring kaku.


Irwan mengajak ketiga anaknya keluar, agar Novia sedikit merasa nyaman dan bisa beristirahat.


"Millah dan adik-adik sudah makan?" tanya Irwan


"Belum pah?" sahut Camillah.


"Tata kenapa pah?" tanya Camillah yang belum memahami keadaan yang terjadi.

__ADS_1


"Tata sudah meninggal dunia, kita tidak bisa lagi bertemu tata," ujar Irwan memberi penjelasan pada anaknya.


"Kalau tata meninggal, yang jaga adik Diba sama Emir siapa kalau mama kerja?" pertanyaan Camillah sungguh menyayat hati dia bahkan sudah memikirkan nasib kedua adiknya.


Irwan terdiam, belum menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan anak sulungnya itu.


"Ayo, kita makan dulu kasihan adik-adikmu kelaparan," ujar Irwan mengalihkan perhatian Camillah.


Irwan menuntun anak-anaknya ke dapur melewati kerumunan orang, makanan masih tersimpan di lemari penyimpanan sebab belum ada satupun penghuni rumah yang makan.


"Mama tadi masak ikan bakar kesukaan tata," ucap Irwan pelan pada Camillah.


Irwan mengambil makanan untuk ketiga anaknya, kemudian menyuapi Adiba dan Emir.


"Dedek Diba dan Emir jangan rewel ya, mama lagi sedih. Nanti bobo sama papa di kamar," ucap Irwan pada anaknya sambil menyuapi keduanya hingga makanan di piring tandas.


Setelah selesai menyuapi anaknya, Irwan meminta Camillah mengajak kedua adiknya bermain di dalam kamar lalu dia menghampiri Novia.


"Vi, ajak mama makan nanti mama lemas," bisiknya pada Novia.


Novia mengangguk dan menuruti ucapan suaminya, Novia bangkit melangkah mendekati ibunya dan berbisik.


"Mah, aku ambilkan makanan, mama harus makan."


Bu Ratih hanya mengangguk.


Novia bergegas melangkah ke dapur untuk mengambil makanan, saat membuka lemari Novia melihat penampakan ikan bakar permintaan ayahnya. Hatinya teriris bagai disayat sembilu.


"Maafkan aku pah, tidak bisa memenuhi permintaan terakhir papa," gumamnya lirih


Novia kemudian mengambil makanan untuk ibunya dan masuk kembali ke dalam dan menyodorkan piring berisi makanan tersebut pada ibunya.


Novia tidak mau menampakkan kesedihan di depan ibunya, biarlah kesedihan dan air matanya dia simpan sendiri.


Sambil mengunyah, Bu Ratih menyuruh Novia makan karena tahu Novia juga belum makan apapun malam ini.


"Kamu juga harus makan nak," ucap Bu Ratih


"Nanti saja mah, aku belum lapar," balas Novia


"Anak-anakmu sudah makan?"


Novia menoleh pada suaminya, Irwan berbicara tanpa suara mengatakan,"sudah."


"kata Irwan, mereka sudah makan mah," jawab Novia


"Mama tidak memikirkan yang lain, biar kami saja yang mengurus semuanya," lanjut Novia

__ADS_1


Bu Ratih mengangguk lalu menghabiskan makanannya di piring, kemudian menyodorkan piring kosong tersebut pada Novia.


Novia membawa piring kotor tersebut ke dapur, Irwan mengikutinya dari belakang dan mengajak istrinya bicara tentang kronologi kejadian yang menimpa ayah mertuanya.


__ADS_2