
Part 94
Setahun sejak kepergian suaminya, kesehatan Bu Ratih mulai menurun. Hampir setiap bulan dia harus di rawat di rumah sakit.
Dalam kondisi seperti ini, Novia dituntut untuk pandai membagi waktu antara mengurus keluarga dan pekerjaannya
Beruntungnya Novia memiliki seorang atasan yang mau memahami keadaannya, walau seringkali mendapat sindiran keras dari teman kerjanya karena dia sendiri belum bisa maksimal dalam melaksanakan tugasnya.
Seperti halnya hari ini, Novia harus pulang lebih cepat karena menerima laporan ibunya kembali drop.
"Assalmualaikum," ucap Novia ketika masuk ke dalam ruangan Pak Rizal untuk meminta ijin pulang.
"Wa'alaikumussalam, ada apa Bu Novia?" tanya Pak Rizal
"Maaf pak, hari ini aku ijin pulang ibuku drop lagi di rumah," ujarnya memberi alasan.
"Oh, silahkan. Siapa yang menggantikan Bu Novia di kelas?"
"Aku meminta tolong pada Pak Putra, untuk mengisi kekosongan di kelasku," jawab Novia
"Baiklah, semoga beliau lekas sembuh, rawat ibumu dengan baik," pesan Pak Rizal
"Terima kasih pak, saya permisi." Novia membungkukkan badan sebagai tanda hormat dan rasa terima kasihnya.
Novia keluar dari ruangan Pak Rizal dengan terburu-berburu, Diana yang berada di depan pintu menatap sinis pada Novia tapi dia tak mau menanggapi, baginya memikirkan keadaan ibunya jauh lebih penting dari pada melayani sikap Diana itu.
Novia membonceng Camillah dan memacu motornya pulang ke rumah, setelah menurunkan Camillah Novia bergegas lagi menuju sekolah Adiba dan Emir untuk menjemput mereka.
Tiba di rumah, Novia masuk ke dalam rumah di ruang keluarga dua orang tetangga sedang menunggui Bu Ratih.
Novia meletakkan tasnya, berjalan cepat mendekati ibunya yang tampak lemah.
"Mah, kita ke rumah sakit ya," ucap Novia pelan.
Bu Ratih menggeleng beberapa kali, menolak permintaan Novia.
"Mama mau di sini saja Vi, mama sudah bosan keluar masuk rumah sakit tapi belum ada perubahan."
Novia menggeser tubuhnya lebih dekat lagi pada ibunya, kali ini ibunya tampak pasrah dan berputus asa maka dengan hati-hati Novia membujuknya.
"Mah, kalau mama pasrah seperti ini pasti papa sedih melihatnya. Mama ingat kan apa pesan dokter?"
__ADS_1
"Iya, mama ingat, tapi mama sudah capek Vi tak henti-hentinya melakukan pemeriksaan."
Wajah Bu Ratih begitu memelas, menolak keras saat Novia mengajaknya ke rumah sakit.
Salah seorang tetangga akhirnya berucap, "sudahlah nak, kalau mamamu menolak jangan di paksa mungkin mamamu merasa lebih nyaman di rumah."
Novia terdiam, ibunya sudah menolak keras dan dia tak bisa lagi berbuat apa-apa selain menuruti kemauan ibunya.
Novia duduk bersandar sembari merenung, hatinya bimbang. Ada keinginan mengabari kakaknya Riska tapi dia juga ragu karena pastinya Riska akan memaksa ibunya ke rumah sakit.
Lain sisi, jika dia tak mengabari tentang keadaan ibunya psati saudara-saudaranya akan marah padanya.
"Aku bingung Ya Allah, mama menolak dirawat di rumah sakit tapi kalau kak Riska tahu dia pasti akan memaksa mama." Novia membantin
Entah siapa yang mengabari Riska, Tiba-tiba dia datang dengan tergesa-gesa lalu menghampiri Novia.
"Kenapa tidak mengabari kakak Vi? Mama sakit kamu malah membiarkannya seperti ini," ucap Riska kesal
Novia tertegun, baru saja dia berencana ternyata sudah ada orang yang mendahului mengabari kakaknya.
"Lain kali jangan diulang lagi Vi, kami menitipkan dan percayakan mama padamu tapi malah begini," cecar Riska.
Bu Ratih menoleh dan berucap, "bukan salah Novia, mama yang tidak mau diajak kesana."
Riska berbalik menghadap ibunya, wajahnya menunjukkan kekesalan karena merasa ibunya justru membela Novia.
"Mah, aku kesal kenapa dia tidak mengabariku dan membiarkan mama seperti ini." Riska menunjuk ke arah Novia.
Novia tertunduk sedih, andai saja ibunya dalam kondisi sehat pasti Novia membantah semua tuduhan kakaknya itu.
"Novia tadi sudah memaksa ibu ke rumah sakit, tapi ibu kalian menolak keras." ucap seorang tetangga yang masih ada di situ
"Sebaiknya kalian jangan bertengkar, fokus saja merawat ibu kalian. Tante sendiri tadi yang melihat ibumu menolak ajakan Novia
Kalimat barusan menampar keegoisan Riska, selama ini memang Novia yang merawat ibu mereka karena dia lebih mementingkan pekerjaannya.
Riska terduduk lemas, menyadari kekhilafannya memarahi Novia di depan orang lain.
Sementara itu, Novia bangkit dari tempatnya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Hatinya bergemuruh menahan kesal dan kecewa.
"Kalian selalu merasa benar, begitu saja terus. Aku selalu ikhlas mengurus dan merawat mama tapi kalian tak pernah menghargai itu semua, apa karena aku masih hidup menumpang di rumah ini?" gumam Novia lirih.
__ADS_1
Bulir bening menetes di pipi Novia, wanita itu meraih bantal dan memeluknya. Bayangan ayahnya hadir kembali dalam benaknya membuat tangisnya semakin menjadi.
Camillah masuk ke dalam kamar dan menghampiri ibunya, anak itu membelai punggung ibunya dan bertanya, "mama kenapa menangis?"
"Tidak apa-apa, mama baik-baik saja hanya sedikit capek," jawab Novia lalu mengusap air matanya.
"Millah, temani adik-adikmu main mama mau istirahat dulu ya," ujar Novia
Camillah mengangguk, kemudian berjalan keluar dari kamar dan mengajak kedua adiknya ke kebun belakang.
Riska masih termangu di tempatnya, harus dia akui Novia jauh lebih handal dan cekatan mengurus ibunya. Tapi ego dalam diri Riska menolak untuk mengakui itu.
Riska beranjak dan melangkah ke dapur, mengambil makanan kemudian menyuapi ibunya.
"Dimana obat mama?" tanya Riska disela-sela dia menyuapi ibunya.
"Dalam kamar, di atas nakas biasanya Novia menyimpan," jawab Bu Ratih.
Selesai menyuapi ibunya, Riska masuk ke dalam kamar mengambil obat lalu dia kembali ke dekat ibunya.
"Aturan minumnya sudah ada tertera di bungkusannya, kamu baca saja," ujar Bu Ratih
Setelah membereskan semua piring kotor dan obat ibunya, Riska berpamitan pulang dan menjemput anaknya di sekolah.
"Aku pulang dulu mah, anak-anak juga harus dijemput di sekolah," pamit Riska sambil menyalami ibunya.
Bu Ratih hanya mengangguk, jauh di lubuk hatinya merasa sedih atas sikap Riska pada Novia.
Bagaimanapun, seorang ibu akan merasakan mana anaknya yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sekedar melakukan kewajiban sebagai anak.
"Kalau papa masih ada, anak-anak tidak akan bertengkar seperti ini karena harus merawat mama," batin Bu Ratih
Novia keluar dari kamarnya setelah mengetahui kakaknya sudah pulang, dengan langkah pelan dia menghampiri ibunya.
"Mah, sudah makan?" tanya Novia
"Sudah, kakakmu yang mengambilkan," sahut Bu Ratih.
"Maafkan aku mah, belum bisa melakukan yang terbaik untuk mama sehingga membuat kak Riska marah."
Bu Ratih menggeleng dan berkata, "kamu tidak bersalah, mama hanya ingin di rumah dan lebih merasa nyaman di sini."
__ADS_1