
Part 92
Seminggu lamanya Bu Ratih dirawat, kesehatannya sudah kembali pulih dan mendapat ijin dari dokter untuk pulang.
Novia mendampingi ibunya sembari menunggu suaminya datang menjemput, semua barang dan pakaian yang akan dibawa pulang sudah tersusun rapi.
Irwan sudah muncul dan berdiri di pintu, bibir Bu Ratih menyunggingkan senyum menyambut menantunya.
"Sudah siap?" tanya Irwan sambil berjalan masuk.
"Iya, tolong angkat tasnya, aku akan meminjam kursi roda untuk mama," ucap Novia
Setelah mendapatkan kursi roda, Novia menuntun ibunya naik ke atas kursi roda dan mendorongnya keluar menuju parkiran.
Sampai di parkiran, Novia membantu ibunya naik ke dalam mobil kemudian mengembalikan kursi roda yang dipinjamnya sedangkan Irwan memasukkan tas dan barang-barang lainnya.
Novia kembali lagi ke parkiran lalu naik ke dalam mobil dan duduk di samping ibunya, begitu juga dengan Irwan yang ikut naik kemudian duduk di belakang kemudinya.
Irwan memyalakan mesin, mobil bergerak memecah jalanan menuju rumah keluarga Bu Ratih.
Sepanjang perjalanan Bu Ratih diam namun, senyum tak pernah luntur dari bibirnya menampakkan kegembiraan hatinya.
Mobil hampir sampai, ketika melihat pagar rumahnya senyum Bu Ratih makin mengembang. Tapi sedetik kemudian senyuman itu hilang begitu saja saat mobil masuk ke dalam garasi.
Bu Ratih tertegun, bayangan suaminya yang menyambut kedatangannya sirna saat tersadar pada kenyataan yang sebenarnya jika suaminya sudah meninggal dunia.
"Mah, kita sudah sampai," kata Novia membiyarkan lamunan ibunya.
"Ah, iya, bantu mama turun," pinta Bi Ratih.
Novia membantu ibunya turun lalu memapahnya masuk ke dalam rumah, saat di dalam rumah mata Bu Ratih mencari sesuatu.
"Mana cucu-cucu mama, kenapa tidak menyambut?" tanya Bu Ratih.
Novia menoleh pada suaminya di belakang, benar saja Novia juga mencari keberadaan ketiga anaknya.
"Kemana anak-anak?"
"Aku titip di rumah mama tadi," jawab Irwan.
"Jemput sekarang," kata Novia.
"Istirahat sajalah dulu Vi, sore baru aku jemput mereka," balas Irwan
__ADS_1
"Mereka aman di sana," ucap Irwan lagi untuk meyakinkan istrinya.
Novia kesal, sebab selama ibunya di rumah sakit tak pernah sekalipun Ibu Mertunya datang menjenguk hal ini membuat rasa hormatnya semakin hilang pada mertuanya itu.
Irwan tentunya juga menyadari, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa sikap ibunya seakan terlalu meremehkan orang lain bahkan terhadap besannya sendiri.
"Sekarang saja Wan, mama ingin bertemu mereka." Novia memelas pada suaminya agar mau menjemput ketiga anaknya.
Irwan pasrah dan menuruti permintaan istrinya, memjemput Camillah dan adiknya padahal baru dua jam yang lalu dia titip pada ibunya.
Tiga puluh menit kemudian, Irwan datang bersama ketiga anaknya. Camillah langsung berlari masuk menemui ibu dan neneknya di susul kedua adiknya Adiba dan Emir.
Bi Ratih begitu antusias memyambut cucunya, seminggu tak bertemu membuatnya sangat merindukan mereka.
"Ya Allah, cucu ina sayang sini peluk," ucap Bu Ratih sembari merentangkan tangannya.
Ketiga anak tersebut menghambur ke dalam pelukan Bu Ratih, Novia terharu menyaksikan ibu dan anaknya berpelukan layaknya orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Ina sudah sembuh?" Camillah melepaskan diri dari pelukan neneknya.
"Iya, ina sudah sembuh makanya Ina sudah diperbolehkan pulang. Ina rindu sama kalian."
Bu Ratih menarik kembali tubuh Camillah, anak sulung Novia itu memang menjadi kesayangan neneknya karena dia yang menemani Bu Ratih tidur selama ini.
"Vi, biar Camillah yang menemani mama tidur di sini," kata Bu Ratih saat Novia masuk ke kamar ibunya.
"Kenapa mah? Aku cuma mau menemani mama," ujar Novia
"Kamu itu sudah berkeluarga, tidak mungkin kamu tidur terpisah dari suamimu."
"Tapi mah ...." kalimat Novia terputus karena Bu Ratih langsung memotongnya.
"Jangan membantah nak, ini semua demi kebaikanmu kan ada Camillah yang menemani mama."
Novia pun akhirnya menurut, Bu Ratih tak ingin bakti Novia akan mengurangi interaksi Novia dengan suami dan anak-anaknya
Kehidupan mereka kembali seperti biasa, meski tanpa sosok Pak Wahyu Bu Ratih tetap harus melanjutkan hidup di dampingi anak dan cucunya
Novia tetap melaksanakan tugas dan pekerjaannya di sekolah, walaupun setiap jam sepuluh pagi dia harus pulang dulu ke rumah untuk menyiapkan makanan untuk ibunya setelah itu kembali lagi ke sekolah.
"Vi, apa kamu tidak capek setiap hari begini?" ujar Bu Ratih saat Novia mengambilkan makanan untuknya.
"Tidak mah, memang sudah kewajibanku mengurus dan merawat mama," ucap Novia.
__ADS_1
"Mama khawatir akan mengganggu pekerjaanmu, setiap jam istirahat kamu harus pulang ke sini."
"Tidak sama sekali mah, aku sudah bicara sama Pak Rizal dan beliau mengijinkan," sahut Novia
"Mama cuma tidak mau ada kecemburuan dari teman kerjamu, biasanya orang yang tidak menyukai kita akan memanfaatkan situasi seperti ini."
Bu Ratih mengingatkan Novia, sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungan pekerjaan selalu ada yang tidak menyukai kita.
"Diba dan Emir dimana?" tanya Bu Ratih
"Masih di sekolah, tadi aku titipkan pada Putra untuk menemani mereka dan juga ada Camillah."
"Sebentar lagi mereka akan masuk sekolah, kamu akan semakin sibuk nantinya."
"Iya, mah, tapi kan ada Irwan yang akan membantu kami akan berbagi tugas."
Novia sudah memikirkan matang-matang rencananya mengenai Emir dan Adiba, Irwan yang akan mengantarkan mereka ke sekolah dan pulangnya Novia yang menjemput.
Selesai mengurus ibunya, Novia kembali ke sekolah karena waktu istirahat sudah habis dan dia harus kembali bekerja.
Keluarga tersebut melewati hari-hari mereka dengan tenang, sebisa mungkin Novia menjaga kesehatan ibunya walaupun kadang dia sendiri juga merasa kelelahan.
Sore harinya
Novia menyempatkan diri mengobrol bersama suaminya, membahas masalah kesehatan ibunya juga persiapan Diba dan Emir masuk sekolah.
"Wan, dua bulan lagi Diba dan Emir mau daftar sekolah," ucap Novia.
"Oh, ya, hehe lucu ya kalau mereka pakai seragam." Irwan terkekeh membayangkan penampakan dua anaknya saat memakai seragam sekolah.
"Iya, tapi aku meminta tolong padamu, kita berbagi tugas ya setiap hari."
"Tugas apa?"
"Kamu yang mengantar mereka setiap pagi, pulangnya aku yang menjemput."
Novia meminta persetujuan dari suaminya, mengingatkan kembali pembicaraan mereka tempo hari dan harus memastikan lagi.
"Iya, sebelum berangkat kerja aku akan mengantar mereka berdua, kalau menjeput aku memang tidak bisa Vi," ujar Irwan
"Ya sudah, sekarang pergilah mandi, sudah hampir maghrib ini." Novia mengakhiri perbincangan mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Irwan berjalan menyusul istrinya, membersihkan diri sembari menunggu adzan maghrib.
__ADS_1