
Part 100
Novia turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit, Irwan dan ketiga anaknya menyusul setelah memarkir mobilnya.
Dengan napas terengah-engah Novia menerobos masuk, tampak saudara-saudaranya sudah ada disana berdiri mengitari ranjang ibunya.
Salah seorang perawat datang menghampirinya dan menyodorkan baju protektif, Novia mengambil dan memakainya.
Perlahan Novia berjalan, kakinya terasa berat sekuat tenaga dia menyeret langkahnya mendekat ke arah ranjang.
"Mama kenapa? bukannya tadi siang sudah baik-baik saja," ucapnya ketika sudah berdiri di samping ranjang ibunya
Randi menoleh, ucapan Novia memang benar tapi kenyataannya berbeda sekarang kesehatan ibunya justru semakin menurun
"Kak, aku belum siap kehilangan mama," ujar Novia lirih
"Vi, kita semua tentu tidak ingin terjadi sesuatu pada mama jadi kita berdoa sama-sama ya," ucap Randi kemudian merangkul adiknya.
Sepanjang malam tak satupun dari mereka tidur, rasa cemas memyelimuti perasaan anak-anak Bi Ratih terlebih Novia yang tak mau jauh dari ibunya.
Menjelang subuh, Randi dan Riska tak bisa lagi menahan kantuknya mereka mencoba berbaring di kursi tunggu di luar ruangan sedangkan Novia di dalam menemani ibunya.
Novia menyandarkan kepalanya di samping ranjang, baru saja matanya terpenjam terdengar bunyi alat rekam jantung ibunya menjadi cepat.
Sontak Novia terbelalak, menatap layar monitor dengan perasaan was-was. Mata Novia tak lepas mengamati garis gelombang di layar yang mulai melemah.
"Mah, kalau mama masih bisa mendengarku ikuti ucapanku meski dalam hati," bisik Novia
Novia berbisik lirih di telinga ibunya, mengucapkan kalimat tauhid berulang kali dengan suara bergetar menahan tangis
Novia tak lagi membangunkan kedua kakaknya, melainkan dia hanya fokus menuntun ibunya berdzikir.
Suara adzan subuh terdengar dari kejauhan, Bu Ratih mengangkat kedua tangannya layaknya orang yang hendak melakukan takbiratul ihram.
Tangan Bu Ratih bertakbir sampai berhenti di dada, seiring pula dengan hembusan napas terakhirnya. Sungguh kematian yang indah disaksikan oleh Novia.
Novia mematung seakan tak percaya apa yang baru saja dia lihat, bibirnya seakan terkunci rapat tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Sedetik kemudian Novia tersadar, memandang layar di depannya yang menampakkan garis lurus dan suara lengkingan panjang dari alat monitor membuatnya panik dan berteriak memanggil perawat.
"Susteerr! Cepat kesini!!"
Dua orang perawat berlari mendekat lalu melakukan pemeriksaan, mereka meminta Novia mundur agar mereka lebih leluasa bergerak
Riska dan Randi terbangun dan saling tatap, mereka terkejut karena belum lama tertidur lalu segera berlari masuk ke dalam ruangan saat mendengar teriakan Novia.
Ketiganya berdiri mematung, menyaksikan perawat yang sibuk melakukan tindakan penyelamatan pada ibunya.
Pijakan Novia melemah, Randi sigap merangkul adiknya agar tidak sampai terkapar pingsan.
"Vi, kumohon bertahan," bisik Randi.
Perawat kemudian berbalik menghadap ketiga anak Bu Ratih, setelah melakukan berbagai upaya namun gagal.
"Maaf, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain, beliau sudah tiada dan kami berharap semoga keluarga bersabar menghadapinya," ucap perawat dengan wajah lesu
Saat itu juga tubuh Novia terkulai lemas dan tak sadarkan diri, bisa dibayangkan bagaimana hancurnya dia ketika ditinggal ibunya
Randi menggendong tubuh Novia dan membaringkan di kursi panjang, kemudian dia memanggil Irwan yang berada di Mushollah tidak jauh dari ruangan ICU bersama ketiga anaknya.
"Wan, mama sudah pergi untuk selamanya," ucap Randi pelan sambil tertunduk
Irwan langsung bangkit dan bertanya,"dimana Novia?"
"Novia pingsan, tolong temani dia aku akan mengurus jenazah mama untuk dibawa pulang," kata Randi lagi
Mereka pun bergegas kembali ke ruang ICU, Irwan menggendong Emir agar lebih cepat sampai sementara Camillah berjalan sambil memegangi tangan adiknya.
Novia sudah sadarkan diri, wanita itu memeluk ketiga anaknya sambil terisak.
"Vi, kamu harus kuat yaa, lihat anak-anak juga ikut sedih," ucap Irwan mengelus punggung istrinya
"Mama sudah pergi, aku tidak punya siapa-siapa lagi," ucap Novia di tengah isaknya
"Jangan berkata seperti itu Vi, masih ada aku dan anak-anak yang selalu menemanimu."
__ADS_1
Hampir satu jam Randi mengurus segala sesuatu, akhirnya jenazah Bu Ratih dibawa pulang menggunakan mobil ambulance diikuti iring-iringan mobil Novia dan Randi di belakang.
Mobil jenazah sudah tiba di rumah, para tetangga menyambut kedatangan mereka karena terkejut mendengar bunyi suara sirene mobil.
Novia turun dari mobil dengan langkah lemah menuju rumah, suara tangis keluarga yang lain memekakkan telinga Novia dan dia memilih masuk ke dalam kamar lalu menjerit sekuat tenaga.
Hari ini, menjadi hari yang sangat kelam bagi Novia, dunianya seakan runtuh karena untuk kedua kalinya dia kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Dari hasil kesepakatan keluarga, Bu Ratih akan dimakamkan sore hari.
Novia meminta ikut memandikan ibunya untuk yang terakhir kali, berulang kali Riska bertanya tentang kesiapan adiknya, jangan sampai Novia tidak kuat dan malah menghambat proses memandikan ibunya nanti.
Novia meyakinkan Riska bahwa dia kuat, sebisa mungkin akan berusaha menahan diri sampai proses memandikan jenazah selesai.
Setelah seluruh rangkaian proses selesai, jenazah Bu Ratih siap diantar ke kuburan keluarga dan dimakamkan di samping suaminya seperti pesannya dulu saat suaminya meninggal.
Novia ingin ikut rombongan mengantar jenazah ibunya, tapi dicegah Irwan karena takut akan terjadi sesuatu pada Novia disana.
"Sudahlah Vi, kamu jangan ikut lebih baik menunggu disini bersama anak-anak," bujuk Irwan
Novia akhirnya pasrah dan mengalah menuruti perintah suaminya, menunggu di rumah sampai rombongan kembali dan lanjut melaksankan tahlilan yang pertama.
Satu hal yang membuat Novia kecewa dan semakin sedih, tak satupun keluarga Irwan yang hadir melayat ibunya.
Novia tidak akan bertanya pada suaminya namun, akan menyimpannya rapi di dalam hati selamanya perlakuan dan sikap mertuanya itu.
Untuk kesekian kalinya, Novia diperlakukan tidak adil oleh keluarga suaminya dan itu membuat kebencian Novia semakin dalam.
Berbeda halnya dengan Irwan, lelaki itu belum menyadari ketidak hadiran keluarganya. Sebab dia juga terlalu sibuk membantu saudara iparnya mengurus pemakaman sehingga dia tidak begitu memperhatikan secara detil para pelayat yang datang.
Selesai acara tahlilan, Irwan menghampiri Novia yang sedang duduk menyendiri atau mungkin sengaja menghindari keramaian.
"Vi, ayo, istirahat dulu di kamar," ajak Irwan
Novia menggeleng lalu berkata,"tidak, nanti saja aku masih ingin disini."
"Kamu sudah terlalu lelah Vi, sudah dua malam tidak tidur nanti sakit." Irwan berusaha membujuk istrinya agar mau beristirahat.
__ADS_1
"Aku masih nyaman disini Wan, di tempat ini mama setiap hari duduk menyambut kedatanganku dan anak-anak pulang sekolah," ucapnya sambil terisak.
Irwan terdiam, tak berani lagi memaksa dan akhirnya menuruti keinginan istrinya.