
Part 68
Malam hari ....
Selesai shalat isya, Irwan dan istrinya berkunjung ke rumah Bu Mini. Anak-anak mereka titipkan pada orang tua Novia di rumah.
Novia pamit pada ibunya, "mah, kami mau ke rumah ibu mertua, anak-anak aku titip ya."
"Iya, tapi kamu jangan lama Vi, takutnya Diba rewel papa juga lagi tidak enak badan," jawab Bu Ratih.
Novia mengangguk lalu melangkah keluar mengikuti suaminya, Irwan naik ke dalam mobil disusul Novia kemudian dia menyalakan mesin mobil dan perlahan bergerak menuju rumah Bu Mini.
"Vi, kamu sudah menghitung kembali uangnya?"
"Iya, sudah," sahut Novia.
Lima belas menit mereka sampai, pasangan itu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke ruang tamu, tampak Romi dan Nanda berbincang Irwan berhenti, "Rom, mama mana?"
"Ada, di kamar masuklah." setelah menjawab pertanyaan Irwan dia kembali melanjutkan perbincangan bersama adiknya Nanda tidak menghiraukan kehadiran Novia yang berdiri di samping Irwan.
Irwan meraih tangan Novia, menariknya agar ikut masuk ke dalam kamar. Novia mengikuti langkah suaminya dan berhenti di depan pintu kamar.
Tok ... Tok ... Tok
"Siapa?" sahut Bu Mini dari dalam.
"Irwan mah, aku mau bicara sama mama boleh kami masuk?"
"Masuklah, pintu tidak di kunci."
Irwan membuka pintu lalu mengajak istrinya masuk ke dalam, Bu Mini bangkit dari ranjang lalu mengambil tikar kemudian menggelarnya di lantai.
"Ayo, duduk di sini." Bu Mini mengajak anak dan menantunya duduk di atas tikar mereka bertiga duduk berhadapan.
"Mah, kami ke sini mau menyerahkan sisa uang mama." Irwan memulai percakapan.
"Oh, iya, mama panggil dulu adik-adikmu biar mereka tahu kalau mobil itu sekarang sudah menjadi milik kalian," ujar Bu Mini. Kemudian dia keluar memanggil dua anaknya.
Romi dan Nanda sudah ada di kamar bersama mereka, Bu Mini menyuruh kedua anaknya duduk, "Kalian duduklah di sini, kakakmu akan menyerahkan sisa uang pembelian mobil."
__ADS_1
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul di sini, kami akan menyerahkan uangnya." Irwan menyentuh tangan istrinya memberi instruksi agar Novia menyerahkan uang tersebut.
Novia mengambil amplop coklat dari dalam tasnya, kemudian meletakkan di depan ibu mertua dan kedua iparnya.
"Ini uangnya, silahkan mama hitung kembali," ucap Novia.
Dengan gerakan cepat Romi langsung menyambar amplop tersebut, Irwan dan Novia saling pandang melihat tingkah Romi yang begitu lancang.
"Romii, biarkan mama yang menghitungnya!" kata Irwan tegas.
Romi menyerahkan kembali amplop tersebut pada ibunya, namun wajahnya terlihat masam dan sorot matanya tajam menatap Irwan.
Bu Mini menghitung uang dari amplop kemudian dia memasukkan lagi uang tersebut ke dalam amplop lalu menoleh pada kedua anaknya.
"Uangnya sudah cukup, sesuai kesepakatan awal maka malam ini mama akan menyerahkan surat-surat mobil pada kalian," ucapnya.
"Romi, Nanda, dengar baik-baik mobil itu sekarang sudah menjadi milik kakak kalian." Bu Mini bangkit lalu melangkah ke arah lemari mengambil surat mobil.
Setelah surat mobil berada di tangannya, Bu Mini menyimpan amplop berisi uang itu ke dalam lemari lalu dia kembali duduk bersama anak-anaknya.
"Wan, ini suratnya." Bu Mini menyerahkan surat pada Irwan namun Irwan menolaknya.
Bu Mini bergeser, kemudian menyerahkan surat tersebut pada Novia.
Baru saja Novia memasukkan Surat mobil ke dalam tasnya, Romi tiba-tiba membuka suara "bagi saja uangnya sekarang mah."
Seketika mata Novia membola, "astaga, ternyata kamu serakah juga Romi," Novia membatin
Irwan mengepalkan tangan, ucapan adiknya membuat telinga panas dia benar-benar merasa tidak dihargai sebagai seorang kakak.
"Jaga ucapanmu Romii!! Di sini masih ada istriku, seharusnya kamu juga menghargai mama." Nada suara Irwan mulai tinggi adiknya memang keterlaluan.
Novia terdiam, tak berani berkata-kata melihat situasi yang mulai memanas.
Romi bangkit sambil berkacak pinggang, lagaknya seperti seolah menantang Irwan.
Sebagai seorang kakak, Irwan tak mau mengalah dia mulai tersulut emosi dan ikut berdiri, keduanya saling berhadapan.
Adu mulut antara kakak beradik itu tak bisa dihindari, Irwan maju lalu menggenggam kerah baju Romi.
"Selama ini aku selalu mengalah, jangan kira aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakangku!!"
__ADS_1
Romi berusaha melepas genggaman Irwan namun tak bisa, tangan Irwan terlalu kuat hingga dia mundur selangkah.
Novia panik saat melihat suaminya akan melayangkan pukulan, Novia bergegas bangkit melerai. Bu Mini tidak tinggal diam, dia berteriak histeris menghentikan aksi kedua putranya.
"Hentikaaann!! Jangan membuat keributan di sini, mama capek." Tubuh Bu Mini terhuyung ke belekang dengan sigap Novia menangkap tubuh ibu mertuanya dan memeluk tubuh lemah itu.
"Novia, bawa pergi suamimu sekarang hiks ... Hiks ...," ucapnya sambil terisak.
Perlahan Irwan melepas genggamannya di baju Romi, napasnya naik turun menahan emosi. Irwan mundur dan berbalik menghampiri ibunya.
"Mah, aku tahu mama tidak pernah menganggapku ada, tapi bagaimanapun juga aku tetaplah anak mama," ujarnya
"Aku tak pernah menuntut apapun dari mama, tapi tolong hargai aku mah dan didik adik-adikku agar bisa menghargaiku sebagai kakaknya."
Bu Mini sesegukan, kesedihan yang dia simpan akhirnya tumpah berat rasanya ditinggalkan suami dan harus berjuang mendidik anak.
Romi diam mematung di tempat, raut wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan bahkan tak berniat untuk meminta maaf pada ibu dan kakaknya.
"Seharusnya mama membagi secara adil uang dari hasil penjualan tanah dan mobil, aku juga punya hak di situ mah."
Setelah puas menyampaikan semua isi hatinya, Irwan berbalik dan menoleh pada istrinya, "ayo Vi, kita pulang anak-anak menunggu di rumah."
Irwan menarik tangan istrinya keluar, pasangan itu melangkah menuju halaman dan naik ke dalam mobil lalu meninggalkan rumah orang tua Irwan.
Di perjalanan pulang, Irwan memukul keras kemudi mobil melampiaskan kemarahannya. Novia mengelus lembut tangan suaminya untuk menenangkan.
"Sabar Wan, istighfar jangan terbawa emosi."
"Kamu lihat sendiri kan? Bagaimana kelakuan adikku dan reaksi mama," sekilas Irwan menoleh pada Novia di sampingnya.
"Iya, aku mengerti perasaanmu, ikhlaskan saja Allah akan mengganti dengan yang lebih baik." Novia terus mengusap tangan suaminya.
"Buktinya mobil ini sekarang menjadi milik kita, kamu tidak perlu lagi mengemis pada mereka tunjukkan bahwa kamu juga bisa hidup meski tanpa warisan."
Irwan menghela napasnya, mengurai emosi yang membuncah dalam dadanya.
"Kamu benar Vi, aku minta maaf ya tidak seharusnya kamu menyaksikan kejadian tadi." Irwan membalas usapan tangan istrinya.
"Ya, sudah, kita pulang kasihan mama nanti kecapean mengurus anak-anak," sahut Novia.
Mobilpun melaju membelah jalanan menuju rumah orang tua Novia.
__ADS_1