Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Pertengkaran 1


__ADS_3

Part 8.


Waktu sudah menunjukkan jam 15.30 Novia terbangun dari tidur karena kelelahan menangis di kamar. Dia beranjak ke kamar mandi membersihkan diri lalu shalat ashar,dia menumpahkan segala keluh kesahnya pada penciptaNYA.


Tok...tok "Vi, kamu sudah pulang ?" tanya bu Ratih dibalik pintu.


Novia mengakhiri doanya lalu membuka pintu kamar, " iya mah, aku sudah sampai sejak jam sebelas tadi " jawab Novia.


Novia berusaha menyembunyikan kesedihannya, ingin rasanya menangis dalam pelukan ibunya tapi Novia tak ingin orang tuanya ikut sedih dan khawatir.


" Sudah makan siang ?" tanya bu Ratih lagi.


"Sudah mah dikantin kampus " jawab Novia.


" Ya sudah, kamu istirahatlah dulu "


" Iya mah, mah maghrib aku shalat dikamar yaa soalnya lagi kurang enak badan mungkin capek" ucap Novia.


" Iya, tapi jangan lupa makan malam ya " jawab bu Ratih lalu melangkah keluar kamar.


Novia melepas mukenahnya lalu berbaring diranjang, dia mengelus perutnya yang semakin membesar, hatinya seperti tertusuk ribuan jarum rasanya tak kuat menghadapi tapi Novia sadar, ada satu nyawa yang harus dia jaga yaa itu anaknya buah cintanya dengan Irwan lelaki pilihannya yang detik ini belum tahu dimana keberadaannya.


Maghrib pun tiba, Novia bangkit dari ranjang lalu shalat maghrib.


" *Y*a Allah ampuni hamba yang sudah menyakiti dan melukai hati orang tua hamba, ini sudah malam yang ke tiga dia belum juga pulang , di mana dia sekarang ? "


Novia menangis dalam sujudnya menumpahkan segala keluh kesah pada pencipta-NYA.


Selesai shalat Novia keluar kamar, dia berniat mengambil makanan dan dibawa ke kamar kalau makan bersama orang tuanya pasti mereka bertanya tentang suaminya, apalagi mata Novia begitu sembab akan menimbulkan kecurigaan.


Ketika berjalan ke dapur, Novia berpapasan dengan bu Ratih yang juga menuju ke dapur.


"Mau kemana Vi?" tanya bu Ratih.


" Ke dapur mah, mau ambil makanan Novia makan di kamar sambil ngerjain tugas mah" jawab Novia.


Bu Ratih hanya mengangguk, kemudian menyiapkan makan malam untuk suaminya.


Setelah Novia masuk ke kamar, bu Ratih memanggil suaminya makan.


Di meja makan," pah, sudah berapa hari ini mama tidak melihat Irwan, apa ada masalah yaa ? Novia juga tidak seperti biasanya lebih betah dikamar " ucap bu Ratih pada suaminya.


" Iya mah, papa juga perhatikan beberapa hari ini Novia sedikit murung mungkin memang ada masalah, biarkan saja dulu mereka menyelesaikan masalah rumah tangganya sebagai pendewasaan, kita sebagai orang tua jangan ikut campur " jawaban bijak Pak Wahyu pada istrinya.

__ADS_1


" Tapi pah, mama khawatir Novia kan lagi hamil mama takut bisa berpengaruh pada kandungannya"


" Doakan saja anakmu, semoga semuanya baik-baik ya mah " ucap pak Wahyu lagi.


Selesai makan malam mereka langsung maduk kekamar.


Sementara itu dikamar, Novia berharap malam ini suaminya pulang dia terus merenung pikirannya kacau.


Sebaliknya di rumah Pak Ahmad, Irwan tak henti-hentinya diomeli bu Mini bahkan sempat berapa kali mendapat tamparan dari pak Ahmad.


" Wan, kamu betul-betul anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung " ucap bu Mini.


" Apa kamu tidak sadar perbuatanmu sudah mengkhianati istrimu, kamu itu sangat beruntung diperlakukan baik sama mertuamu tapi kamu tega " bu Min geram melihat anaknya.


" Bagaimana kalau sampai mereka tahu perbuatanmu, kami mau ngomong apa pada mereka apalagi ke istrimu haah mereka pasti mengira kalau kami mendukung perbuatanmu, Novia lagi hamil Wan sadaar kamuu !" bu Mini mengguncang bahu anaknya.


" Pah, besok kita jemput Novia kesini " ucap bu Mini tanpa meminta persetujuan dari Irwan.


Irwan hanya tertunduk lesu tak bisa berkata-kata dengan keputusan orang tuanya.


Malam makin larut, penantian Novia sia-sia suaminya tidak juga pulang dan Novia pun tertidur dalam kesedihan.


Pagi pun menjelang, Novia terbangun dan bergegas mandi lalu shalat subuh, hari ini dia memutuskan untuk tetap masuk kuliah.


Dia tak ingin orang tuanya kecewa lagi karena kuliahnya gagal.


" Mah, selesai sarapan Novia langsung berangkat ke kampus" ucap Novia.


" Hmmm, jangan terlalu capek nak, perutmu sudah semakin membesar mama khawatir "wajah bu Ratih tampak khawatir.


"Jangan khawatir mah, kalau capek Novia pasti istirahat dan tidak terlalu banyak aktifitas" jawabnya.


" Sengaja Novia program beberapa mata kuliah karena mungkin setelah ini Novia mau cuti dulu mah satu semester, bolehkan ?" tanya Novia.


" Iya, mama setuju sebaiknya semester depan kamu cuti dulu" jawab bu Ratih.


" Ya sudah Novia berangkat dulu mah pah" pamit Novia.


" Iya..hati-hati " jawab pak Wahyu dan bu Ratih bersamaan.


Hari-hari Novia lalui dengan beraktifitas seperti biasa,sedikitpun dia tak berniat berkunjung ke rumah mertuanya untuk bertanya tentang suaminya apalagi sampai mencari kemana-mana.


Hari ini genap tujuh hari Irwan tak pulang ke rumah mertuanya Pak Wahyu.

__ADS_1


Jam 16.00 ketika Novia pulang kuliah, hatinya berdesir melihat mobil Irwan terparkir di depan rumahnya.


Lalu Novia melangkah masuk dan mengucapkan salam.


" Assalamualaikum "


" Waalaikumussalam " mereka yang berada di ruang tamu langsung menoleh kearah pintu lalu Novia masuk dan ingin ke kamar tapi dicegah ayahnya.


Diantara mereka, Novia tak melihat ada suaminya hanya mertuanya Pah Ahmad dan bu Mini, dalam hatinya bertanya kemana Irwan.


Lalu Pak wahyu meminta Novia ikut bergabung.


" Ayo sini Vi, ada yang ingin kita bicarakan" ucap pak Wahyu.


Tanpa berkata-kata Novia menuruti perkataan ayahnya dan diduduk di sebelah ibunya.


"Vi, sebelum kamu sampai tadi mama sama papa sudah bicara sama mertuamu,mereka kesini mau menjemput kamu" ucap pak wahyu.


Novia masih diam...


" Iya Novia, kami kesini mau menjemput kamu untuk sementara tinggal di rumah mama ya" kali ini bu Mini yang bicara.


" Apa harus hari ini ?" tanya Novia.


" Iya " jawab bu Mini


" Bagaiman Novia mau kan ikut mama sama papa sekarang ?" tanya bu Mini lagi.


Novia menoleh kearah ibunya meminta persetujuan, dan bu Ratih hanya tersenyum dan mengangguk.


Sebagai seorang ibu, bu Ratih sangat paham apa yang dirasakan anaknya,dalam hati hanya berdoa berharap yang terbaik untuk anaknya.


Novia berpikir sejenak lalu, " hmm baiklah Novia ikut."


" Novia siapkan pakaian dulu " lalu masuk kekamarnya.


Setelah semuanya siap, Novia menghampiri orang tuanya " mah pah aku pergi dulu, mama sama papa jaga diri baik-baik ya di rumah " ucap Novia air matanya tiba-tiba jatuh dia memeluk ibunya berat hati meninggalkan orang tuanya tapi satu sisi dia ingin menemui suaminya.


Bu Ratih pun sama merasakan kesedihan seperti anaknya, Pak wahyu mengelus punggung istrinya memberikan ketenangan.


" Sudah siap Novia?" tanya bu Mini.


" Iya " jawab Novia.

__ADS_1


" Baiklah Pak Wahyu, bu Ratih kami pamit dulu " bu Mini berpamitan dan mereka bertiga berjalan menuju mobil.


Bu Ratih hanya memandang kepergian anaknya dengan perasaan sedih.


__ADS_2