
Part 31
Siang itu, setelah selesai melakukan transaksi pembayaran Novia memberikan alamat rumah mereka dan meminta mengantarkan motor itu langsung ke alamat.
" Sebelum pulang, kita mampir dulu ke toko pakaian bayi."
" Bukannya punya Camillah masih ada, kan bisa dipakai adiknya." sambil berjalan menuju parkiran.
" Iya, tapi punya Camillah cuma ada beberapa pasang, itupun sudah usang rencananya aku mau beli yang baru dua atau tiga pasang lagi."
Irwan hanya mengangguk, mereka sampai di parkiran mereka naik ke dalam mobil lalu Irwan menyalakan mesin mobil dan perlahan melaju meninggalkan dealer tersebut.
Di perjalanan...
" Kita makan dulu, sudah hampir jam dua belas." Irwan mengarahkan mobilnya ke sebuah rumah makan.
" Astaghfirullah Millah belum di jemput." Novia gusar mengingat anaknya yang belum sempat di jemput, dia menatap suaminya meminta jawaban.
" Ada mama di rumah, pasti gurunya yang mengantar pulang." Dengan santainya Irwan menjawab sambil menghentikan mobil dan mematikan mesin.
" Ayo turun " kemudian membuka pintu lalu turun dan menunggu istrinya yang juga ikut turun.
Mereka beriringan masuk, mencari kursi yang kosong karena pengunjung yang lumayan ramai di waktu istirahat makan siang.
" Itu di sana kursi kosong " Novia menunjuk ke arah meja di sudut ruangan. Mereka pun melangkah ke tempat yang di tunjuk Novia lalu duduk berhadapan.
Tak lama seorang pelayan datang membawa daftar menu dan menyerahkannya. Novia mengambil daftar tersebut, membacanya sejenak kemudian menatap suaminya.
" Mau makan apa ? Di sini menu yang tersedia ayam bakar rica-rica, nasi sate, dan nasi campur." sambil menyodorkan daftar menu pada suaminya.
Irwan lalu membacanya, " aku mau pesan nasi sate." menyodorkan kembali daftar menu pada pelayan.
" Ayam bakar satu, nasi sate satu, dan es teh manis dua ya mba." sahut Novia menyebutkan kembali pesanan mereka.
" Baik bu di tunggu ya " jawab pelayan itu lalu beranjak pergi.
Selesai makan, mereka pun melanjutkan perjalanan tak lupa memesan satu menu yang di bawa pulang untuk Camillah.
Tiba di toko pakaian bayi, Novia memilih - milih beberapa pasang pakaian dan kain sarung serta pernak-pernik bayi lainnya seperti kaos kaki, botol minum, topi, dan jaket rajut.
" Iiih yang ini mungil lucu." tersenyum gemas membayangkan bayinya yang memakai jaket itu.
" Kalau suka ambil lah pasti lucu kalau nanti di pakai anakmu." Celetuk Irwan yang juga ikut tersenyum.
Puas berkeliling dan memilih berbagai macam kebutuhan mereka akhirnya memutuskan pulang mengingat sebelumnya sudah ada janji dengan pihak dealer.
__ADS_1
" Sudah Vi kita pulang, kita kan sudah janji sama pihak dealer."
" Iya, kamu tunggu di mobil aku ke kasir." Novia melangkah sambil membawa tas tentengan ke arah kasir, sedangkan Irwan berjalan keluar menuju parkiran mobil.
Sesaat kemudian Novia keluar dari toko dan menyusul suaminya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Setengah jam kemudian mereka tiba di rumah, Irwan memarkirkan mobilnya lalu turun, sedangkan Novia juga ikut turun dan langsung melangkah masuk ke rumahnya.
" Millah di mana ya ? Apa jangan-jangan karena lama menunggu dia ikut sama gurunya " gumamnya karena tak melihat anaknya ketika tiba di rumah.
Irwan yang masih asyik mengutak-atik mobilnya belum menyadari Novia yang sudah mulai gelisah.
Novia bergegas menghampiri suaminya, " Wan Camillah di mana, apa jangan-jangan ikut gurunya pulang ?"
Irwan menoleh ke asal suara " Coba kamu tanya mama mungkin di sana " sekilas menoleh ke rumah orang tuanya.
Novia pun memberanikan diri dengan langkah gontai dia memasuki rumah mertuanya.
" Assalamualaikum, apa Camillah ada disini mah ?" tanya Novia yang melihat mertuanya berjalan mendekat.
" Ada lagi tidur, sudah tahu anak masih TK bukannya cepat pulang malah keluyuran !!" jawabnya sinis.
Novia hanya diam tak mau menjawab, dia kemudian masuk memastikan keadaan anaknya setelah melihat Camillah yang tidur pulas dia pun berbalik melangkah melewati ibu mertuanya yang menatapnya tajam.
Novia keluar dari rumah mertuanya dan berjalan menunduk, pandangan Irwan menangkap tingkah istrinya.
Mendengar pertanyaan suaminya, langkah Novia terhenti " iya ada, lagi tidur " balasnya.
Ketika Novia hendak melangkah lagi, terdengar suara klakson mobil dari jalan.
Pasangan itu spontan menoleh, tampak mobil yang membawa motor mereka sudah di depan gerbang.
Sopirnya turun dan menanyakan kebenaran alamat pengiriman yang ada di tangannya.
" Apa benar ini alamat rumah ibu Novia Andini dan pak Irwansyah ?" sambil menyodorkan secarik kertas di tangannya.
Irwan bergegas mendekat dan mengambil kertas tersebut. " Iya benar, saya Irwansyah " jawabnya.
Kemudian dia memberi aba- aba kepada sopir membawa mobil itu masuk ke halaman.
" Siapa yang memesan motor, kenapa Irwan menyuruh masuk ke halaman ?" Bu Mini yang melihat mobil mengangkut motor masuk ke halaman rumahnya keluar dan berdiri di teras.
Karena penasaran, dia pun menghampiri mobil tersebut, sementara Irwan dan seorang pengantar menurunkan motor.
" Ini motor siapa dek ?" tanpa basa-basi dia bertanya pada pengantar itu.
__ADS_1
" Pemilik motor atas nama bu Novia." Sahutnya.
" Oh jadi ini jawabannya, tadi pagi pergi tanpa pamit " gumamnya dengan wajah kesal dan menatap sinis pada Novia.
Novia yang menerima tatapan tajam dari mertuanya sedikit meringis.
" Kenapa mukanya seperti benang kusut buu " gumamnya dalam hati.
" Bu Novia, tolong tanda tangani dulu surat tanda terima ini."
Novia mendekat dan menandatangani surat tersebut. " Baiklah, barangnya sudah di terima kami pamit pulang bu " pamitnya.
" Terima kasih ya." sahut Novia.
Baru saja mobil pengantar itu melaju pergi, tiba-tiba bu Mini berbalik ke arah Novia. Dia berjalan beberapa langkah mendekat.
" Kamu yaa ! Sudah tahu suami penghasilannya kecil, bukannya menabung malah menyuruh suami berutang " sambil menunjuk ke wajah Novia.
Refleks Novia mundur selangkah, dia mengepalkan tangan geram. Tapi dia berusaha menguasai diri menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan, emosinya menguap bersama helaan napasnya.
" Itu dibeli dari hasil tabunganku mah, gajiku yang berapa tahun ini sebagian aku simpan." Jawabnya sambil berbalik melangkah meninggalkan mertuanya.
Sementara Irwan bingung dan diam mematung melihat pemandangan di depannya.
" Kenapa dengan mama, selalu sinis jika di depan Novia " gumamnya.
" Ada apa mah, mama sepertinya kurang suka kami membeli motor ini " tanya Irwan lalu menghampiri ibunya.
" Istrimu itu terlalu boros dan berlagak kaya, padahal dia tahu penghasilanmu pas-pasan."
" Mah, motor itu Novia beli dari penghasilannya sendiri bukan uang dari aku. Dan juga dia butuh mah untuk dipakai kerja " jawab Irwan panjang lebar.
" Aah kamu, selalu saja membela perempuan itu mama makin benci sama dia !! Bu Mini menghentakkan kakinya kemudian pergi meninggalkan Irwan.
" Mama ini aneh ya, dulu Novia di bela mati-matian sekarang berubah jadi benci. Aah entahlah pusiing."
Irwan akhirnya masuk ke dalam rumahnya, di dapatinya Novia yang sedang menangis. Perlahan dia menghampiri mendengar suara langkah Novia berbalik.
" Wan, kenapa aku selalu salah di mata mamamu ? Padahal aku tak pernah sekalipun menuntut apa-apa darimu apalagi dari orang tuamu " tangisan Novia pecah ketika mengungkapkan semua isi hatinya.
Irwan tak bisa berkata-kata, dia sendiri juga bingung dengan sikap ibunya tapi tak bisa berbuat apa-apa berdiri mematung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tak lama Suara Camillah terdengar memanggil, Novia buru-buru menghapus air matanya. Irwan keluar menemui anaknya yang sudah berdiri di teras. " Millah sudah bangun ? Papa dan mama tadi beli makanan untuk Millah ".
Bukannya menjawab, Camillah malah balik bertanya " itu motor siapa pah " sambil menunjuk motor yang terparkir di depan rumah mereka.
__ADS_1
" Itu motor mama, ayo masuk dulu mama sudah menunggu dari tadi " kemudian menuntun Camillah masuk ke dalam.