Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Selamat Jalan Papa


__ADS_3

Part 87


Semalam suntuk Novia tidak bisa tidur, bahkan dia tidak mau jauh dari jasad ayahnya dan terus mendampingi ibunya.


"Mah, tidurlah nanti mama sakit." Novia membujuk ibunya yang terlihat mulai lelah dan mengantuk.


"Mama tidak bisa tidur nak," sahut Bu Ratih.


Sepanjang malam Bu Ratih Dan Novia berada di dekat jasad Pak Wahyu yang terbujur kaku, Novia masih belum percaya dengan apa yang terjadi.


Dalam hatinya terus berharap, ayahnya terbangun dan kembali seperti semula berkumpul bersama mereka.


Irwan keluar dari kamar lalu menghampiri istrinya, rasa iba muncul melihat istri dan ibu mertuanya.


"Vi, kamu belum makan dan malah begadang lagi. Aku ambilkan makanan ya," bujuk Irwan


"Aku tidak lapar juga tidak bisa tidur, aku ingin menemani papa di sini," Jawab Novia menahan isak tangisnya.


"Sayaang, kalau kamu seperti ini nanti sakit, siapa yang akan mengurus mama," ujar Irwan masih berusaha membujuk Novia.


"Iya, nanti saja Wan, saat ini aku belum berselera makan," sahut Novia lagi.


Irwan akhirnya mengalah, meninggalkan Novia dan bergabung bersama sanak saudara yang berkumpul di luar.


Novia berbaring di samping jasad ayahnya, melemaskan otot-ototnya yang tegang. Pandangannya menerawang membayangkan kehidupan mereka nanti setelah kepergian ayahnya.


"Bagaimana nanti kami melanjutkan hidup tanpa papa, mama begitu rapuh. Rasanya ini hanya mimpi, aku belum siap Ya Allah."


Novia bangun kembali, menoleh pada ibunya yang meringkuk kedinginan.


Novia bangkit melangkah masuk ke dalam kamar ibunya, memgambilkan selimut lalu menutupi tubuh ibunya.


Esok paginya ....


Orang-orang mulai berdatangan, tetangga dan kerabat mulai ramai melayat.


Novia menatap tubuh kaku di hadapannya dengan pandangan kosong, tiba-tiba kesedihan menyeruak dalam hatinya. Novia tak lagi bisa menahan isak tangisnya tubuhnya bergetar sesegukan.


Ternyata ini bukanlah mimpi, Novia benar-benar telah kehilangan sosok cinta pertamanya. Lelaki tangguh yang selama ini melindungi dan menyayanginya telah pergi untuk selamanya.


Novia berlari masuk ke dalam kamar ayahnya, membanting tubuhnya ke kasur lalu menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


Melihat adiknya berlari, Riska mengikutinya masuk dan mendekat pada Novia.

__ADS_1


"Vi, kalau kamu ingin menjerit dan menangis, keluarkan saja tangisanmu jangan menahannya seperti itu," ujar Riska membelai rambut adiknya.


Novia tak menjawab, tangisannya terasa tercekat di tenggorokan. Hanya air matanya yang mengalir deras tanpa bisa dicegah.


"Ayo, kakak temani kamu ke kamar ganti baju. Orang-orang sudah ramai di luar," bujuk Riska


"Aku belum mau keluar kak, aku di sini saja," tolak Novia.


Riska akhirnya keluar mencari Irwan, memintanya membujuk dan menenangkan Novia.


"Wan, Novia sedang menangis di kamar papa, tolong kamu bujuk dia dan suruh membersihkan diri," pinta Riska.


Irwan mengangguk dan berlalu masuk ke kamar menemui istrinya, ketika masuk pandangan Irwan langsung tertuju pada sosok istrinya yang berbaring sambil memeluk bantal.


Irwan naik ke atas ranjang mendekati istrinya, tangannya terulur lalu membelai lembut kepala Novia.


"Vi, aku tahu kamu lagi sedih dan terpukul, tapi jangan lupa ada orang-orang yang juga butuh perhatianmu, mama dan juga anak-anak."


Novia tak bergeming sedikitpun, air matanya kembali tumpah.


"Sejak semalam kamu belum makan, aku takut kamu kenapa-napa Vi," ucap Irwan


Irwan menggeser tubuhnya lebih dekat lagi, menarik tubuh isyrinya lalu memeluknya. Novia tak menolak sebab saat ini dia hanya butuh pelukan.


Irwan mengurai pelukannya, menangkup wajah istrinya lalu berkata,"Vi, kamu wanita kuat. Papa akan bersedih melihatmu terpuruk seperti ini, ayo kita ke kamar bersihkan diri dan ganti bajumu."


"Mandilah dan ganti bajumu, kamu tunggu di sini aku ke dapur sebentar membuatkanmu susu."


Setelah mandi Novia memakai stelan gamis lalu berdiri di depan cermin, mengamati wajahnya yang terlihat sayu dan matanya sembab.


Irwan masuk membawa segelas susu hangat untuk istrinya, dengan hati-hati dia menyodorkan gelas berisi susu pada Novia.


"Minum dulu Vi, mumpung masih hangat biar kamu terlihat lebih segar."


Novia mengambil gelas tersebut, kemudian meminumnya hinhga tandas lalu meletakkan gelas kosong di atas meja riasnya.


"Anak-anak di mana Wan?" tanya Novia saat tidak melihat kehadiran ketiga anaknya.


"Mereka di luar Vi, kak Riska sudah mengurus mereka tadi saat aku menemani kak Randi di belakang," jawab Irwan


"Diba sama Emir tidak rewel kan?"


"Tidak, kamu jangan khawatir banyak yang menemani mereka. Papa tua juga ada bersama mereka di luar," jelas Irwan menenangkan Novia.

__ADS_1


Pasangan itu pun keluar kamar, Irwan berjalan keluar sementara Novia kembali mendekat dwngan ibunya.


"Mama sudah makan?" tanya Novia berbisik


"Sudah," sahut Bu Ratih


Saatnya jenazah Pak Wahyu dikafani setelah selesai di mandikan, semua keluarga berkumpul menyaksikan prosesnya.


Novia duduk tepat di dekat kepala ayahnya, tak kuasa menahan tangisnya. Satu persatu mereka mencium jenazah Pak Wahyu.


Sampai pada giliran Novia, sambil sesegukan Novia mencium seluruh wajah ayahnya dan berbisik di telinganya.


"Papa, bagaimana nasib kami setelah ini? Jangan tinggalkan kami pah."


Tangis yang ditahannya semalam tak bisa lagi terbendung, tiba-tiba Novia memeluk erat tubuh ayahnya dan tak mau melelpasnya.


Riska secepatnya menarik tubuh adiknya, berusaha sekuat tenaga melepas dekapan Novia dari tubuh ayahnya.


"Astaghfirullah, Novia, jangan seperti ini kumohon lepaskan pelukanmu,"


Novia tak bergeming, tubuhnya bergetar disela isak tangisnya.


"Novia! Jangan bebani papa dengan urusan duniawi biarka papa tenang." Riska menarik paksa tubuh Novia hingga dekapannya terlepas.


Novia menjerit histeris, tangisnya pecah dia tak kuasa lagi menahannya.


"Papaa, aku ingin ikut denganmuu!" jeritan pilu Novia seakan membius suasana hati pelayat yang hadir merekapun ikut berlinang air mati.


Irwan membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar, membaringkannya di atas ranjang.


Irwan mengatur napasnya yang terengah-engah, cukup melelahkan sebab Novia meronta saat dibopong masuk ke dalam kamar.


"Vi, jangan seperti ini kasihan papa," ucap Irwan lirih.


"Papa meninggal dalam keadaan baik Vi, jarang orang bisa seperti papa bahkan kepergiannya membuat orang lain iri."


"Kamu tidak mengerti perasaanku Wan, aku benar-benar kehilangan," balas Novia sambil terisak.


"Aku mengerti sayaang, tapi jangan sampai meraung-raung seperti tadi Vi. Papa pasti akan sedih mendengarnya."


Perlahan tangis Novia reda, kepalanya terasa berat dan sekujur tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.


Selesai dishalatkan, jenazah Pak Wahyu siap diantar ke peristirahatan terakhirnya. Novia ikut melepas jenazah ayahnya.

__ADS_1


Irwan mendampingi istrinya, Novia menyandarkan tubuhnya pada bahu suaminya.


"Selamat jalan Pah, sampai jumpa dikehidupan selanjutnya. Aku pasti akan merindukan papa," lirih Novia hingga kesadarannya hilang dan ambruk dalam dekapan suaminya.


__ADS_2