
Part 88
Pemakaman Pak Wahyu sudah selesai, para pelayat kembali ke rumah masing-masing hanya keluarga inti yang masih berkumpul.
Novia memilih menyendiri di kamarnya, dukanya terlalu dalam hingga membuatnya belum bisa menerima kepergian ayahnya.
Berbeda halnya dengan Bu Ratih, meskipun terlihat rapuh tapi dia masih berusaha menunjukkan pada anak-anaknya bahwa dirinya baik-baik saja.
Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, saling menghibur dan menguatkan satu sama lain.
"Mah, mama baik-baik saja kan?" tanya Riska dengan mimik khawatir.
"Iya, mama baik-baik saja, tapi adikmu Novia tampaknya sangat terpukul."
Bu Ratih justru mengkhawatirkan keadaan Novia, anak bungsunya itu memang sangat dekat dengan ayahnya sudah pasti Novia merasa begitu kehilangan.
"Iya, sepertinya Novia memang sangat terpuruk mah, biarkan dia tenang dulu," ujar Riska
Mereka kemudian membicarakan rencana ta'ziah untuk Pak Wahyu, hasil keputusan mereka akan dilaksanakan genap empat puluh harinya.
Hingga tiga hari berturut-turut, anak-anak Pak Wahyu meningap di rumah tersebut menemani ibu mereka.
Selama tiga hari itu pula Irwan bertugas mengurus ketiga anaknya, lelaki tersebut menggantikan peran istrinya untuk sementara waktu karena kondisi Novia sedang tidak baik-baik saja.
Riska mendatangi Irwan bersama ketiga anaknya di kebun belakang, tak jauh beda dengan Novia ketiga anak itu juga merasa sangat kehilangan sosok Pak Wahyu yang setiap harinya menemani mereka.
"Wan, bagaimana keadaan Novia?" tanya Riska
"Masih sama kak, belum mau bicara dan masih terus menangis."
Irwan mulai khawatir dengan kondisi istrinya, Novia menolak diajak berkomunikasi bahkan lebih parah lagi terkadang tiba-tiba menjerit histeris.
"Aku titip adikku padamu, jaga dia baik-baik Wan," pinta Riska
Riska prihatin dengan keadaan adiknya itu, sekuat-kuatnya Novia akhirnya dia tidak bisa bertahan ketika kehilangan sosok ayah.
Irwan mengangguk, kakak iparnya memberi sinyal padanya seolah tahu perilaku Irwan selama ini.
"Iya, baik kak, aku akan Novia dengan seluruh jiwaku," sahut Irwan
"Terima kasih, jangan sia-siakan kepercayaanku padamu," balas Riska
Setelah mengucapkan permintaannya, Riska kembali masuk ke dalam rumah menemui keluarga yang lain.
"Dari mana?" Bu Ratih bertanya pada Riska saat mereka berpapasan di ruang keluarga.
"Dari belakang mah, ngobrol sama Irwan."
"Adikmu belum juga keluar dari kamarnya, mama jadi khawatir padanya."
__ADS_1
"Aku juga khawatir mah, tapi biarkan dulu Novia menenangkan dirinya nanti juga kesedihannya berangsur hilang." Riska menghibur ibunya dengan berkata bahwa Novia akan baik-baik saja.
"Kasihan anak-anaknya."
"Tenang mah, ada Irwan yang akan mengurus mereka," balas Riska lagi.
"Mama ingin bertemu dengannya," ucap Bu Ratih lalu berjalan menuju kamar Novia.
Pintu kamar Novia tertutup rapat, Bu Ratih berdiri di depan pintu lalu mengetuknya.
"Vi, buka pintu mama mau masuk," teriak Bu Ratih dari luar.
Mendengar suara ibunya, Novia bangkit dari tidurnya turun dari ranjang.
"Iya, sebentar mah," sahutnya dari dalam.
Bu Ratih mengusap dadanya merasa lega, akhirnya Novia mau diajak bicara setelah tiga hari mengurung dirinya di dalam kamar.
Novia muncul di balik pintu, Bu Ratih melangkah masuk lalu menutup kembali pintu kamar Novia memgikuti ibunya yang berjalan menuju ranjang.
"Vi, sini duduk dekat mama." Bu Ratih menepuk ruang kosong di sampingnya saat duduk di ranjang Novia.
Novia kemudian melangkah menuruti permintaan ibunya, keduanya duduk bersebelahan.
Hening ....
"Sudah makan?" tanya Bu Ratih
"Sudah."
"Mama mengerti perasaanmu saat ini, tapi mama mohon jangan terlalu larut dalam kesedihan."
Novia menoleh pada ibunya, tatapannya kosong dan sulit untuk diartikan bahkan Novia masih membisu.
Bu Ratih meraih tangan Novia, menarik dan menggenggam dengan erat memautkan jemari mereka mengalirkan kekuatan pada anak bungsunya itu.
"Papa membutuhkan doa dari kita, bukan tangisan dan air mata lemah yang akan membebani papa," sambung Bu Ratih lagi
"Aku sungguh kehilangan papa."
Akhirnya sebaris kalimat meluncur dari bibir Novia, wanita muda tersebut merasa dunianya benar-benar telah hancur dan dia ingin menyerah.
Bu Ratih memgeratkan genggaman tangannya, menyalurkan kembali kekuatan pada Novia lalu menangkup wajah Novia dengan kedua tangannya.
"Vi, dengarkan mama, kamu perempuan kuat dan tangguh. Mama dan papa bangga padamu."
Novia terisak lalu menghambur ke dalam pelukan ibunya, pelukan seorang ibu mampu meredakan badai.
Bu Ratih mengusap lembut punggung Novia sambil berkata, "kematian itu hal yang mutlak, tak ada seorangpun bisa menolak dan menghindarinya termasuk kita."
__ADS_1
"Bukannya selama ini, kamu yang selalu memberi semangat pada suamimu ketika dia berduka, lalu kenapa sekarang kamu yang menjadi lemah?"
Bu Ratih terus berusaha menyemangati Novia, tak ada yang tahu hatinya sendiri juga sedang bergemuruh merindukan suaminya.
"Mama keluar dulu ya, Vi, kasihan anak-anakmu mereka butuh perhatian." Bu Ratih mengurai pelukannya kemudian bangkit dan berjalan keluar meninggalkan Novia di dalam kamar.
Novia merenung, memikirkan semua ucapan ibunya lalu dia teringat ketiga anaknya. Novia beranjak dari tempatnya berniat mencari dimana keberadaan anak dan suaminya.
"Camillah di mana?" tanya Novia pada Riska saat keluar dari kamar.
"Anak-anakmu bersama papanya, mereka main di belakang," jawab Riska.
Novia bergegas berjalan menuju kebun belakang, tampak Irwan sedang menemani ketiga anaknya yang bermain di gazebo.
Irwan belum menyadari kehadiran istrinya, karena posisi Novia ada di belakang Irwan.
Novia berdehem, sontak membuat Irwan terkejut dan berbalik.
"Astaga Vi, kamu membuatku kaget," ucap irwan sambil mengelus dadanya.
"Maaf, habisnya kalian terlalu asyik hingga tidak melihat kedatanganku," sahut Novia.
"Mamaa sini!" seru Camillah memanggil ibunya sambil menepuk lantai gazebo.
Senyum Novia mengembang, perlahan dia berjalan memutar lalu baik ke atas gazebo tersebut.
"Kalian sedang apa, hmm?" tanya Novia berbasa-basi
"Main mah, ini punya Dek Diba, ini punya Dek Emir," sahut Camillah sambil menunjukkan beberapa mainan pada ibunya.
"Ini mobil-mobilan baru, dapat dari mana?" Novia memicingkan matanya karena penasaran
"Papa yang beli mah," jawab Camillah
"Oh, ini punya Emir kan?"
"Iya." bocah lelaki itu menjawab sambil meloncat kegirangan.
Irwan memandang istrinya dengan tatapan yang begitu dalam, rasa syukurnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Akhirnya, kamu sudah kembali Vi, kami merindukanmu."
Irwan begitu terharu menyaksikan perubahan yang terjadi pada istrinya, tadinya Irwan berpikir Novia tak mau lagi peduli padanya dan ketiga anak mereka.
"Sehancur itukah kamu kehilangan ayah Vi? Sampai berhari-hari kami terabaikan," gumam Irwan Dalam hati.
Sementara itu, senyum Novia terus mengembang mendengar ocehan anak-anaknya yang lugu dan lucu.
Untuk sesaat Novia bisa melupakan kesedihannya, kepolosan dan tingkah lucu anaknya membuatnya sedikit terhibur.
__ADS_1