
Part 26.
" Pah banguun, papaahh " jerit bu Mini panik dan terus menepuk wajah suaminya berharap pak Wahyu sadar.
Irwan yang mendengar jeritan ibunya bergegas keluar.
" Apa yang terjadi, kenapa dengan papa ?? meminta penjelasan ibunya.
Bu Mini hanya menggeleng tak bisa menjawab bibirnya keluh karena kaget.
Irwan bergerak cepat, tanpa basa - basi lagi langsung membopong tubuh ayahnya berjalan ke arah mobil dan di ikuti bu Mini.
" Mama masuk duluan " Irwan meminta ibunya masuk ke dalam mobil, lalu perlahan meletakkan tubuh ayahnya di samping ibunya.
Kemudian Irwan masuk dan duduk di belakang kemudi, dia menoleh ke arah ibunya memastikan posisi ayahnya, setelah yakin semuanya sdh aman dia pun menyalakan mesin dan mobil perlahan bergerak menuju rumah sakit terdekat.
Tiba di rumah sakit Irwan turun dan masuk ke ruang unit gawat darurat, beberapa orang perawat langsung mendekat " tolong pasien masih di dalam mobil " Irwan menunjuk ke arah mobilnya para perawat pun sigap melakukan tindakan.
" Bapak dan ibu tunggu di sini kami akan memeriksa pasien di dalam " ucap seorang perawat pada bu Mini dan Irwan, mereka pun mengangguk dan duduk di kursi yang ada ruang tunggu lalu perawat itu masuk kembali ke dalam.
Salah seorang Dokter menghampiri pak Ahmad yang terbaring di atas ranjang untuk melakukan pemeriksaan.
Tampak kelopak mata pak Ahmad mulai bergerak dan perlahan terbuka.
" Alhamdulillah bapak sudah siuman " Dokter mencoba mengajak pak Ahmad berinteraksi. Namun anggota tubuh pak Ahmad yang lain masih sulit di gerakkan.
Karena tak ada reaksi, Dokter pun menoleh ke arah perawat dan di balas anggukkan sepertinya mereka sudah tahu apa yang terjadi dengan pak Ahmad sekarang.
Setelah melakukan tindakan, Dokter lalu keluar menemui Bu Mini dan Irwan.
" Mana keluarga pasien ? " tanya Dokter.
Mendengar pertanyaan itu mereka segera berdiri " saya istrinya dan ini anak saya " jawab bu Mini yang melirik Irwan.
" Dari hasil pemeriksaan kami, sepertinya suami ibu mengalami stroke dan sekarang masih di tangani perawat di dalam."
Tubuh bu Mini terkulai lemas, untung saja Irwan cepat menahannya lalu menyandarkan tubuh bu Mini di bahunya kemudian Irwan perlahan duduk kembali.
" Lalu apa yang harus kami lakukan Dok ?" tanya Irwan.
" Biar kami tangani dulu, dan pasien harus di rawat di sini dalam beberapa hari untuk melihat perkembangannya."
" Baiklah Dok, kami serahkan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit." balas Irwan.
__ADS_1
Dokter pun berpamitan masuk meninggalkan mereka.
" Mah, yang sabar kita doakan semoga papa cepat pulih dan bisa pulang ke rumah ".
Tiba - tiba Irwan teringat sesuatu dan melirik jam di tangannya, sudah jam sepuluh.
" Astaga Camillah masih di sekolah siapa yang jemput ?" gumamnya dalam hati.
" Mah, aku pulang dulu mau jemput Camillah di sekolahnya, Romi yang kesini menemani mama."
Romi adalah adik lelaki Irwan.
" Iya, suruh Romi kesini jangan lupa bawa pakaian ganti untuk mama dan kebutuhan lainnya " jawab bu Mini.
Setelah berpamitan Irwan beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah parkiran masuk ke dalam mobil menyalakan mesin dan meninggalkan area parkiran rumah sakit menuju sekolah Camillah.
Tiba di sana, anak - anak berhamburan keluar kelas menemui orang tua masing - masing yang sudah menunggu di luar.
Sama halnya dengan Camillah, begitu melihat sosok ayahnya dia pun berlari menghampiri.
" Halo anak papa " sapa Irwan.
" Papah yang jemput Camillah, mana mama ?"
" Ayo kita pulang " Irwan menggandeng tangannya anaknya berjalan menuju mobil.
Mereka akhirnya tiba di rumah, Camillah turun dari mobil lalu berjalan menuju rumah di ikuti Irwan dari belakang.
Ketika sampai di depan pintu, Irwan melihat pintu rumahnya terbuka lebar " hmm Novia sudah pulang rupanya" pikirnya karena pintu sudah terbuka.
Dia lalu masuk ke dalam dan mencari istrinya, tapi tak ada satu orang pun di dalam, bahkan berkali - kali memanggil Novia yang mungkin ada di belakang tapi tak ada juga sahutan.
Camillah terus mengekori ayahnya di belakang hingga Irwan duduk, Camillah pun duduk di sebelahnya.
Irwan mencoba memgingat - ingat, kenapa bisa pintu rumahnya terbuka dan akhirnya dia menepuk keningnya.
" huuft, tadi kan terburu - buru karena panik jadi lupa menutup pintu," gumamnya.
" Millah, ganti dulu seragamnya " titah Irwan.
"Iya " sahut Camillah, dan masuk ke kamar. Rupanya Novia sudah menyiapkan baju ganti untuk anaknya dan meletakkan di atas tempat tidur agar Camillah mudah menjangkaunya.
Lalu Irwan menemui Romi menyampaikan pesan dan meminta Romi menemani ibunya di Rumah sakit.
__ADS_1
Smentara itu, Novia di sekolah belum mengetahui kejadian yang menimpa ayah mertuanya.
Dia hanya terbayang keadaan suaminya yang mabuk dan tertidur di depan pintu, rasa kesalnya tiba - tiba muncul.
" Dasarr, seandainya tidak ada Camillah ingin ku remas - remas jantungmu itu Wan " gerutunya mengingat kejadian tadi pagi.
" Kamu belum pulang bu Novia ?"
Seketika lamunan Novia buyar karena terkejut mendengar suara Pak Rizal.
" Eh anu, ini juga mau pulang pak masih merapikan beberapa buku " jawabnya gugup.
" Ya sudah, saya duluan ya teman - teman yang lain juga sudah pulang duluan " ucap pak Rizal sambil berlalu pergi.
Novia pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar dari kelas dan langsung pulang.
Tiba di rumah, Novia langsung masuk ke kamar tak ingin bertegur sapa dengan suaminya.
Irwan hanya menatap Novia yang berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Dia menyadari istrinya pasti marah padanya.
" Millah sini sayang, siapa yang jemput Millah di sekolah ?"
" Papa, pulang naik mobil " jawabnya polos.
" Kita makan siang yuk " ajak Novia.
" Millah sudah makan mah, tadi di suap papa nasi sama telur. "
" Oh baiklah, sekarang kita tidur mama ngantuk " ucapnya lalu naik ke tempat tidur dan berbaring kemudian di susul Camillah hingga akhirnya mereka terlelap, begitu pun dengan Irwan yang juga tertidur di kursi tamu.
Sore hari, bangun tidur Novia mandi lalu shalat Ashar kemudian membersihkan rumah dan mencuci piring bekas sarapan.
Dia masih mendiamkan suaminya tak mau peduli sebab masih kesal dengan kejadian tadi pagi.
Irwan yang sedari tadi bangun masih duduk termenung dan hanya bisa pasrah tak mau menambah keruh suasana, pikirannya saat ini terbagi mengingat kondisi ayahnya dan kemarahan Novia.
Irwan masuk ke kamar mengambil handuk lalu mandi, setelah itu dia mengganti pakaiannya.
" Aku ke rumah sakit dulu " pamit Irwan.
Namun tak ada jawaban dari Novia, dia hanya diam tapi dalam hati bertanya ada apa dan siapa di rumah sakit.
Karena tak mendapat jawaban, Irwan memutuskan berlalu meninggalkan rumah memacu mobilnya menuju rumah sakit.
__ADS_1
Tiba di rumah sakit dia bertanya pada resepsionis tempat ayahnya di rawat, setelah mengatahui ruangannya Irwan pun mencari di mana letak kamar tersebut.