
Part 38
Bangun pagi Novia merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya membuat dia susah bergerak. Novia membuka mata dan melihat tangan suaminya yang melingkar sempurna.
" Oh ini pelakunya, padahal semalam di suruh tidur di lantai rupanya curi kesempatan kamu ya."
Novia berusaha melepas tangan suaminya namun gagal, terpaksa dia harus membangunkannya.
" Wan bangun iiih beratt tahu."
Tetapi tak ada reaksi sama sekali, sampai ketiga kalinya barulah Irwan bergerak dan melepas pelukannya.
Novia tak tahu, rupanya Irwan yang lebih dulu bangun namun sengaja menjahili istrinya, bahkan ketika Novia membangunkannya dia hanya tersenyum tipis namun Novia tak menyadari.
" Aku mau turun " Novia menggeser tubuhnya.
" Pelan-pelan Vi, jangan kasar begitu sama suami" jurus maut Irwan keluar lagi untuk menggoda istrinya.
" Heh dasarr, kamu pikir aku akan termakan rayuanmu ?"
Bukannya marah, Irwan justru tergelak mendengar omelan istrinya.
Novia bangkit berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu membangunkan Camillah.
" Millah bangun sayang, sudah pagi nanti kamu terlambat ke sekolah." Camillah menggeliat dan membuka matanya.
" Papa ?" memandangi Irwan seolah tak percaya.
Irwan segera mendekat " Iya ini papa, ayo bangun nanti papa yang antar ke sekolah."
Senyum Camillah mengembang, bagaimanapun dia merindukan ayahnya hanya saja dia masih terlalu kecil untuk memahami pikiran orang dewasa.
Novia masih terus berdiri di samping tempat tidur menunggu Camillah.
" Millah mau mandi sendiri mah, kan sudah besar " dia bergegas turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, Novia menyusul anaknya meskipun begitu dia akan tetap mendampinginya.
Selesai Camillah mandi, giliran Irwan yang masuk membersihkan diri sedangkan Novia membantu camillah memakai seragam lalu keluar kamar berjalan menuju dapur.
Di dapur, bu Ratih sibuk menyiapkan sarapan dan menyeduh teh ke dalam teko. Menyadari kehadiran Novia bu Ratih menoleh dan memintanya membantu.
" Nasi gorengnya bawa ke meja makan Vi, jangan lupa piring dan gelas " sambil mengaduk minuman dalam teko tersebut.
" Iya mah " dengan cekatan Novia menyiapkan semuanya ke atas meja.
" Sana, panggil mereka makan " titah bu Ratih sembari meletakkan teko ke atas meja.
__ADS_1
Novia berjalan ke kamar ayahnya dan mengetuk pintu " Pah, sarapannya sudah siap ditunggu di meja makan " kemudian dia berjalan menuju kamarnya.
Dia membuka pintu, tampak Irwan sedang berbaring di samping bayinya yang masih terlelap sedangkan Camillah duduk memegang tas sekolahnya.
" Ayo sarapan dulu, mama dan papa sudah menunggu " ucapnya dan berbalik melangkah menuju ruang makan Irwan dan Camillah menyusul di belakang.
Mereka makan dengan tenang dan lahap tanpa ada percakapan, hanya Novia yang sesekali menawari anaknya beberapa lauk yang ada di meja.
Setelah selesai makan, mereka berjalan beriringan keluar Irwan dan Camillah berpamitan sedangkan Novia dan orang tuanya duduk di teras rumah.
" Vi, kamu kamu masuk kerja ?" bu Ratih memulai percakapan.
" Minggu depan mah, aku cuma izin dua minggu."
Bu Ratih dan pak Wahyu hanya mengangguk. " Boleh kami tinggal di sini dulu untuk sementara ? Aku sedikit kerepotan mah mengurus bayi dan juga Camillah." Lanjutnya lagi.
" Tentu saja boleh, kami dengan senang hati menerima kalian di sini rumah jadi ramai seperti dulu." Wajah bu Ratih berubah sendu, mengenang masa-masa saat anak-anaknya belum menikah dan memiliki keluarga sendiri rumah mereka selalu ramai dengan suara canda dan tawa.
Bi Ratih kembali dengan wajah serius " apa mertuamu tahu rencanamu ini ?" dia tak ingin menimbulkan masalah di kemudian hari.
" Aku akan meminta Irwan bicara pada orang tuanya, dan mereka pasti mengerti " jawab Novia.
Lama mereka berbincang dan terhenti saat terdengar suara tangisan bayi, Novia langsung berlari menuju kamar.
Novia keluar sambil menggendong bayi lalu menyerahkan pada ibunya, " mah, tolong gendong Diba aku mau menyiapkan air hangat untuknya mandi."
Tak lama Novia datang dan mengambil bayinya lalu masuk kembali.
Sementara pak Wahyu bersiap-siap menjemput Camillah karena waktu sudah menunjukkan jam sepuluh pagi.
Malam harinya, setelah makan malam mereka masuk ke kamar masing-masing. Novia melirik jam di atas nakas, " jam delapan lebih, mungkin Irwan tidak akan datang " gumamnya.
"Tidurlah nak, semoga kelak kalian jadi anak yang shalihah " sambil membelai dan menciumi anak-anaknya yang sudah terlelap, perlahan dia memejamkan matanya dan akhirnya ikut terlelap.
Tiga jam kemudian samar-samar Novia mendengar suara ketukan pintu dan namanya yang di panggil, posisi kamar Novia memang berada di depan tentunya lebih dekat dengan pintu utama.
Dia bergegas keluar, sebelum membuka pintu dia memastikan dulu siapa di luar.
" Siapa ?" sembari mengintip di balik tirai.
" Aku Irwan, buka pintunya Vi "
Novia membuka pintu, Irwan masuk menutup dan mengunci kembali pintu. Sementara Novia berbalik lalu melangkah masuk ke kamar dan Irwan menyusul di belakang.
Sampai di kamar Irwan melepas bajunya hanya memakai celana pendek kemudian masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi dia mendekat ke ranjang, tampak Camillah tertidur sedangkan bayi Adiba terlelap di dalam ayunan.
Dia menghampiri Novia yang duduk di lantai beralaskan karpet.
" Hmm sepertinya kamu sudah menyiapkan tempat istimewa untuk suamimu Novia " gumamnya dalam hati.
Kemudian duduk tepat di sebelah Novia. " Anak-anak sudah lama tidur ?" ucapnya berbasa-basi.
" Sudah, kelelahan menunggu papanya pulang " jawab Novia ketus.
" Hehe kan tahu papanya lagi kerja " balas Irwan sambil tersenyum.
" Vi, waktu nifas itu berapa lama ?" sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Enam bulan " jawab Novia asal, dia paham betul maksud pertanyaan suaminya itu.
" Waduuh, perasaan dulu Camillah tidak selama itu kenapa sekarang jadi enam bulan ?"
Novia menunduk menyembunyikan senyumnya melihat reaksi suaminya.
Irwan tiba-tiba bangkit dan berdiri lalu berjalan kearah pintu.
" Mau kemana ?" tanya Novia yang terkejut dengan tingkah suaminya.
" Ketemu papa, aku mau tanya dulu mama masa nifasnya sampai enam bulan juga atau kurang dari itu " kemudian memegang gagang pintu.
Novia langsung panik dan ikut berdiri lalu menahan tangan suaminya " eh apa-apaan kamu ini, bikin malu " sembari menarik suaminya duduk ketempat semula.
Irwan tertawa cekikikan melihat kepanikan Novia.
" Hihihi, makanya jangan suka bohong sama suami " menyentil pelan kening istrinya.
Novia mengusap keningnya, merasa gagal membohongi suaminya justru yang terjadi malah dia yang terlihat bodoh.
" Vi, temani aku tidur disini sudah lama kita tidurnya pisah " ucap Irwan memelas.
" Tapi kamu jangan macam-macam ya " ancam Novia.
" Hmm, iyaa kecuali terpaksa " balas Irwan
" Batal !! Belum apa-apa pikiranmu sudah aneh "
" Iya...iyaaa tahu aah, masih masa nifas belum boleh itu kecuali peluk cium bisa."
" Tahu aah ngantuk " jawab Novia kesal.
__ADS_1
Dia mengambil dua bantal dan selimut lalu berbaring membelakangi suaminya, sedangkan Irwan dengan gerakan cepat memeluk istrinya dari belakang dan akhirnya keduanya pun tertidur setelah melewati drama nifas yang membuat Novia kesal.