
Part 81
"Ikut aku sekarang mah." Irwan menarik tangan ibunya dan berjalan keluar, sementara Bu Mini kebingungan tapi tetap mengikuti langkah anaknya.
Sampai di luar, Bu Mini menghempas tangan Irwan.
"Apa-apaan kamu ini Wan, mau kamu ajak kemana mama!?" bentak Bu Mini.
"Nanti aku ceritakan di mobil, mama naik saja aku tidak punya banyak waktu," balas Irwan.
Keduanya naik ke dalam mobil, meski kebingungan dan belum tahu apa yang terjadi Bu Mini masih juga mengikuti keinginan anaknya.
"Kamu kenapa Wan? seperti orang kesetanan begini," tanya Bu Mini
Irwan masih fokus pada kemudinya, amarahnya memuncak saat membayangkan wajah Fahrul darahnya seakan mendidih.
"Aku sudah tahu siapa orangnya."
"Maksudnya?" tanya Bu Mini semakin penasaran.
"Iya, aku sudah tahu orang yang menghasut Novia," jawab Irwan.
"Siapa orangnya? bilang sama mama." Bu Mini ikut tersulut emosi setelah tahu apa yang terjadi.
"Nanti mama pasti akan tahu, kita sekarang pergi menemuinya."
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka sampai di tempat tujuan. Irwan memarkir mobilnya dan mengamati dari jauh.
Tak lama, tampak sebuah mobil muncul dan berhenti di depan kantin melihat itu Irwan menyalakan mesin mobil dan mendekat.
Irwan menghentikan mobilnya lalu turun dan berjalan cepat menghampiri Fahrul, Bu Mini bergegas turun menyusul anaknya.
"Eh bro, apa kabar?" sapa Fahrul saat Irwan berdiri di depannya.
Buuuugh ....
Satu pukulan mendarat di wajah Fahrul, refleks Fahrul mundur karena tekejut namun, tak bisa menghindar karena posisi mereka begitu dekat.
Perkelahian tak bisa terhindar, keduanya saling serang Fahrul terus membela diri dan sesekali balik menyerang. Bu Mini menjerit histeris tapi keduanya seakan tuli.
Dari kejauhan Novia melihat dua orang pria yang sedang bertarung, dugaannya tepat pasti Fahrul akan menjadi bulan-bulanan suaminya.
Novia memacu motornya lebih kencang, tanpa mematikan mesin Novia turun dan membiarkan motornya jatuh ke tanah.
"Hentikaaann!!" Novia berteriak sekuat tenaga sambil berlari mendekat.
Tangan Irwan menggantung di udara, perkelahian terhenti wajah keduanya sudah babak belur. Fahrul mundur sembari menyeka darah dari bibirnya.
__ADS_1
Novia mendatangi suaminya.
Plaaakkk ....
Satu tamparan keras mendarat di wajah Irwan.
"Noviaa!! lancang kamu menampar suami di depan umum," hardik Bu Mini.
Novia menoleh, baru menyadari kehadiran mertuanya di situ.
"Jangan ikut campur mah, ini urusan rumah tanggaku," jawab Novia sinis.
"Apa kamu sudah gila Wan? menyerang orang dengan membabi-buta."
"Apa yang kamu lakukan disini? lebih baik kamu pulang Vi ini urusan kami sesama laki-laki," jawab Irwan
Fahrul hendak berbalik dan melangkah, tapi Novia menahannya.
"Tetap di situ Rul, jangan kemana-kemana. Masalah ini harus diselesaikan sekarang," ucap Novia.
Bu Mini mendekati Fahrul, menatap sinis dari ujung kaki hingga kepala. Menerima tatapan seperti itu Fahrul tertunduk.
"Rupanya kamu yang ingin merusak rumah tangga anakku!" jari Bu Mini mengarah persis ke wajah Fahrul namun, Fahrul diam bagaimanapun dia tetap menghargai Bu Mini ibu dari sahabatnya.
"Jangan-jangan, kamu menyukai Novia atau mungkin kalian sudah berselingkuh hah!"
Mendengar ucapan Bu Mini, Fahrul mengangkat wajahnya tak terima dengan tuduhan keji Bu Mini.
"Ibumu jahaat!!" ucap Novia lantang pada suaminya, Irwan hanya mampu mengusap wajahnya.
"Tarik ucapan ibu sekarang juga, jangan menuduh Novia seperti itu," ucap Fahrul
"Heh, kamu kira aku bodoh tidak tahu persekongkolan kalian?" Bu Mini masih teguh pada pendiriannya menuduh Fahrul dan Novia berselingkuh.
Kemarahan Fahrul memuncak, hilang sudah rasa hormatnya pada Bu Mini.
"Novia itu wanita baik-baik, lahir dari keluarga terhormat harusnya ibu malu karena telah gagal mendidik anak menjadi suami yang bertanggung jawab!"
"Sebagai laki-laki aku kasihan melihat Novia, anak ibu sudah berkhianat dan menyakiti istrinya dan sekarang ibu malah menuduh Novia yang selingkuh? dimana hati nurani ibu sebagai wanita."
Kalimat demi kalimat mengalir dari bibir Fahrul, tak peduli lagi dengan hubungannya dengan Irwan setelah kejadian ini.
Bu Mini terdiam, baru kali ini dia dipermalukan sedemikian rupa bahkan dari orang yang tidak dikenalinya.
Teman-teman Irwan yang juga hadir dan bertahan di tempat itu diam, ada beberapa orang memilih pergi setelah melerai perkelahian Irwan dan Fahrul.
Fahrul menatap ke arah Novia, sedari tadi Novia tampak sedih bahkan dia sampai menutup wajahnya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu pulang Novia, tinggalkan tempat ini," ujar Fahrul
"Aku minta maaf Rul, karena kecerobohanku kamu jadi terlibat masalah," ucap Novia
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku yang harusnya minta maaf," jawab Fahrul.
Novia berbalik lalu melangkah menuju motornya yang masih tergelerak di tanah, Novia membangunkan motorya kemudian naik dan memacu motornya meninggalkan tempat tersebut.
"Maafkan aku Rul, ini bukan salahmu Irwan dan ibunya memang keterlaluan!"
Sepanjang jalan Novia terus saja menggumam, rasa penyesalannya teramat dalam karena sudah melibatkan Fahrul.
Sepeninggal Novia, Fahrul berbalik dan berjalan masuk ke dalam kantin meninggalkan Irwan dan ibunya di luar yang masih diam mematung.
Irwan dan Bu Mini saling pandang, dengan langkah pelan Irwan mendekati ibunya.
"Mama sudah keterlaluan menuduh Novia seperti itu, bagaimana kalauborang tuanya tahu mah?"
"Diam Wan, mama pusing semua ini gara-gara kamu!" bentak Bu Mini
"Tapi mama sudah menghina dia di depan orang banyak mah," ucap Irwan lagi.
"Laki-laki itu juga sudah menghina mama!" Bu Mini tak mau kalah tetap membela dirinya.
"Sudah mah, aku malas berdebat lebih baik kita pulang," ajak Irwan.
Keduanya naik ke dalam mobil, Irwan menyalakan mesin dan mobil perlahan bergerak membela jalanan.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satupun yang bersuara mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Demi menutupi kesalahan anaknya, Bu Mini malah menyalahkan orang lain bahkan tega menuduh menantunya sendiri berselingkuh.
Novia sudah tiba di rumah, setelah memarkir motornya dia berlari masuk ke dalam kamarnya. Beruntung kedua orang tuanya ada di kebun belakang bersama dengan anak-anaknya.
Novia mengambil pigura serta album foto penikahannya, dengan tangan bergetar dia membakar semua foto yang ada di dalam album.
Novia melampiaskan kemarahan dengan membakar habis piringan video, pigura, dan album foto pernikahannya tak bersisa.
Setelah puas dan menatap abu sisa pembakarannya, tangis Novia pecah hatinya benar-benar hancur dituduh berselingkuh.
"Akan kuingat sampai mati tuduhanmu ibu mertua, luka ini akan membekas selamanya,"
Air mata Novia luruh, ucapan Bu Mini terus terngiang di telinganya.
Karena terlalu lelah, Novia akhirnya tertidur di lantai tanpa beralaskan apapun.
Sementara itu, Irwan dan ibunya sudah sampai di rumah kali ini kemarahan Irwan berubah menjadi rasa gelisah dan gusar.
__ADS_1
"Semoga Novia baik-baik saja, aku harap dia langsung pulang ke rumah," batin Irwan.
Kegelisahannya semakin menjadi ketika membayangkan pulang ke rumah dan bertemu dengan istrinya.