Fitnah Berbuah Karma

Fitnah Berbuah Karma
Berakhir Sudah


__ADS_3

Part 109


"Pergilah, aku sudah muak dengan kebohongan."


Irwan meraih tubuh istrinya, memeluk erat Novia sambil terus memohon.


"Maafkan aku Vi, ini sungguh tidak adil," ujar Irwan


"Sudahlah, mungkin dengan begini kita bisa introspeksi diri masing-masing. Lagi pula, aku tidak bisa mengimbangi pola pikir dan gaya hidup keluargamu."


Irwan tertegun, kehabisan kata dan usahanya pun kini sia-sia karena Novia memilih tetap pada pendiriannya ingin berpisah dari suaminya.


Dengan langkah gontai Irwan masuk ke dalam kamar, mengambil beberapa lembar pakaiannya. Dia sengaja meninggalkan banyak barang dan pakaiannya di rumah agar ketika anaknya rindu mereka bisa melihat baju dan barangnya yang lain.


Irwan menghampiri ketiga anaknya, pandangan mereka beradu seolah bertanya apa yang sedang terjadi


"Millah, Diba, Emir, sini. Peluk papa," panggil Irwan


Lelaki itu berjongkok sambil merentangkan tangannya, menyambut ketiga anaknya yang berlari masuk ke dalam pelukannya.


"Papa mau kemana?"


Pertanyaan Camillah bagai pisau tajam yang mengiris hati Irwan, lelaki itu menahan air matanya agar tidak menetes.


"Papa mau cari kerja, baik-baik di rumah ya. Jangan menyusahkan mama." luruh juga air mata Irwan setelah mengucapkan kalimat perpisahan pada ketiga anaknya.


"Tapi, kan ada mobil kita yang papa pakai kerja," sambung Camillah yang belum mengerti apa yang terjadi.


"Mobil itu punya kalian, papa cari kerja yang lain," balas Irwan sembari mengusap air matanya.

__ADS_1


"Sudah ya, jangan nakal dan nurut sama mama. Papa pergi dulu."


Irwan mencium wajah ketiga anaknya, perih rasanya ketika harus menanggung akibat perbuatan ibu dan adiknya.


Irwan berjalan menghampiri Novia yang duduk mematung di kursi, ingin menyampaikan permintaan maaf dan ucapan selamat tinggal pada istrinya.


"Vi, sebenarnya aku tidak mau pergi meninggalkan kalian.Tapi, apalah dayaku keputusanmu sudah final dan tak bisa kamu rubah."


"Mewakili keluarga, aku mau minta maaf sedalam-dalamnya padamu juga anak-anak. Sungguh aku menyesal karena tidak bisa menjaga amanah," lanjut Irwan


Novia terdiam, sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak terpengaruh dengan semua ucapan Irwan


Egois? Mungkin ini langkah tepat yang harus dia lakukan sekarang, keluarga Irwan sudah menginjak-injak harga dirinya dia tidak bisa diam lagi dan harus melawan.


"Vi, sampai kapan pun, aku akan tetap sayang padamu. Jujur, aku tidak bisa jauh dari kalian namun, keadaanlah yang memaksa kita harus begini," ucap Irwan menatap teduh wajah Novia


Novia memberontak. Namun, Irwan justru mengeratkan pelukannya.


"Biarkan seperti ini dulu, jangan menolak," bisik Irwan lirih


Ketiga anak Novia yang belum mengerti apa-apa, hanya bisa melihat pemandangan mengharukan di depan mereka.


Irwan melepas pelukannya lalu melangkah pergi, tanpa menoleh. Sedangkan Novia membuang mukanya ke sembarang arah, bulir bening jatuh menetes di pipinya.


"Mamaa, ayo, kita ikut papa," celetuk Emir putra bungsunya


Novia hanya menggelengkan kepala, tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangisnya. Kemudian wanita itu menarik tubuh putranya lalu memeluk erat tubuh mungil itu.


"Pap ..pa kerja, kita tidak boleh ikut," jawab Novia tergagap.

__ADS_1


Camillah menatap nanar punggung ayahnya hingga menghilang dari pandangan, anak itu seperti sedang menyimpan kesedihan yang mendalam di hatinya.


"Ya Allah, jika ini adalah taqdirku. Maka, beri aku kekuatan untuk menjalaninya," batin Novia diselingi isak tangis.


Sementara itu, Irwan yang keluar dari rumah, berjalan tak tentu arah dan bingung mau kemana. Dalam hatinya sudah berjanji, apapun yang terjadi dia tidak akan datang ke rumah orang tuanya.


Semua yang dia alami saat ini adalah ulah keluarganya yang tidak bisa dimaafkan, hanya dengan berbekal uang seadanya Irwan mencari tempat untuk berteduh sementara waktu.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Irwan, tempat yang aman dan bisa menerima kehadirannya.


"Fahrul, sepertinya dia bisa membantuku untuk saat ini. Aku akan coba kesana," gumam Irwan.


Dari kejauhan, tampak sebuah mobil angkutan umum mendekat ke arah Irwan, lelaki itu berdiri dan menghentikannya, Irwan naik lalu mobil kembali melaju di jalanan.


Irwan meminta sopir mengantarnya ke tempat Fahrul, sekalipun mereka pernah berselisih paham, Irwan tahu betul bagaimana sosok sahabatnya itu yang selalu menolong ketika dia dalam kesulitan.


Irwan sudah sampai di tempat sahabatnya, Fahrul menautkan kedua alisnya saat melihat Irwan masuk dengan wajah lesu dan tampak tidak bersemangat.


"Kenapa lagi denganmu Wan?" tanya Fahrul kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Irwan.


"Novia mengusirku, aku sekarang tidak punya siapa-siapa lagi Rul," jawab Irwan.


"Eh, tunggu. Masalahnya apa?"


"Ini semua ulah mama dan Romi, Novia mengusirku dan meminta bercerai," lanjut Irwan dengan suara bergetar.


"Astagaa Wan, sudah aku katakan dari dulu. Jaga sikapmu pada Novia kalau kamu tidak ingin kehilangan dia. Tapi, kamu malah mengulangi lagi," omel Fahrul.


Irwan diam, tak ingin membahas masalah yang dialamainya saat ini. Kepalanya terasa mau pecah dan dia ingin beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2